Tekanan Dari Mantan Suami

Tekanan Dari Mantan Suami
Meminta maaf


__ADS_3

Pak Bagas terlihat mondar mandir, menunggu kedatangan pak Roni, berharap pak Roni berhasil membawa perempuan yang membuat nyonya nya menangis karena cemburu.


"Semoga, pak Roni berhasil membawa perempuan itu, agar masalah salah paham ini cepat selesai." gumam pak Bagus dalam hatinya dan terus mondar mandir di depan gerbang yang menjulang tinggi. Sesekali melongok keluar, berharap orang yang di tunggu segera muncul.


"Pak, sebenarnya apa yang terjadi? ada apa dengan pak Dimas sama istrinya? Tadi masih baik baik saja kan?


Duh ibu kok takut, cemas sama kandungan nya Bu Rihana, duh piye to Iki?"


Tiba tiba Bu Erma muncul membawa nampan berisi kopi dan cemilan, dan langsung memberondong pertanyaan kepada suaminya yang masih gelisah menunggu kedatangan Pak Rudi.


"Bapak juga gak tau, Bu! tapi ini cuma salah paham saja kok, maklum Bu Rihana lagi hamil, sensitif jadinya." sahut pak Rudi berusaha bijak, agar istrinya juga tidak terlalu cemas.


Karena orang orang yang ada dirumah Dimas, semua sudah seperti keluarga, saling perduli dan menyayangi, bahkan Dimas dan Rihana, begitu baik juga menghormati para pekerjanya, dan memperlakukan mereka sangat baik selama ini, pantas mereka langsung ikut panik melihatnya menangis.


"Iya, Pak! Ibu juga yakin, pak Dimas tidak mungkin tega menyakiti istrinya, wong dia cinta mati gitu sama Bu Rihana. Semoga saja ini benar salah paham, dan cepat terselesaikan." sahut Bu Erma dengan wajah sedihnya.


"Aamiin, Bu! Kita doakan yang terbaik saja." balas pak Bagus dengan menghembuskan nafasnya dalam, lalu kembali memalingkan kepalanya ke luar gerbang, berharap Roni sudah datang dengan perempuan yang di carinya. Tapi nihil, Roni belum juga muncul.


"Ada apa to pak? kok seperti gelisah gitu? Lagi nunggu siapa?" Bu Erma kembali bertanya mengutarakan rasa penasarannya melihat suaminya yang gelisah, bolak-balik matanya di arahkan ke luar gerbang.


"Nunggu Roni, tadi pak Dimas memintanya mencari perempuan yang jadi penyebab nangisnya Bu Rihana." pak Bagus menjelaskan dan kembali melongok ke luar pagar.


"Alhamdulillah, Bu.

__ADS_1


Lihat itu, Bu." Pak Roni menunjuk ke arah luar gerbang, terlihat Pak Roni sedang berjalan dengan dua perempuan.


"Alhamdulillah, Roni berhasil membawa gadis itu kesini, semoga semua segera jelas dan gak ada huru-hara dirumah ini, karena marahnya nyonya besar." Sambung pak Bagus bahagia dan langsung membukakan pintu kecil yang ada di samping gerbang, yang biasa di gunakan untuk keluar masuk montor dan jalan kaki.


"Bu, ibu sekarang masuk kedalam, dan bilang sama pak Dimas, kalau gadis itu sudah datang dengan pak Roni. Cepat Bu!" Pak Bagus begitu semangat dan terlihat lega dengan kedatangan pak Roni dengan gadis itu. Tanpa lagi banyak bertanya, Bu Erma langsung melakukan apa yang diperintahkan suaminya, dengan langkah sedikit berlari, Bu Erma masuk kedalam rumah dan menyampaikan apa yang tadi di suruh suaminya.


"Alhamdulillah, pak Roni bisa ketemu mbak nya. Sekarang langsung antar masuk ke dalam pak. Pak Dimas sudah menunggu mbak nya. Silahkan, mbak!" sambut pak Bagus ramah dan meminta pak Roni langsung mengantar Reni dan ibunya masuk menemui Dimas yang sibuk membujuk istrinya yang belum berhenti dari tangisnya.


"Pak Roni, silahkan. Pak Dimas sudah menunggu di ruang tamu.


Mbak! Bu! Mari, silahkan masuk." sambut Bu Erma ramah, yang sudah menunggu di pintu masuk setelah menyampaikan kabar kedatangan pak Roni kepada Dimas.


Setelah mengantarkan Bu Endang dan Reni bertemu Dimas. Pak Roni kembali berjaga di pos satpam dan terlihat pak Bagus masih duduk disana, sengaja menunggu kedatangan pak Roni.


"Alhamdulillah ya Pak! Pak Roni bisa menemukan gadis itu. Saya langsung lega ini." Sambut pak Bagas yamg memang sengaja menunggu teman bicaranya saat dia tidak ada pekerjaan, pak Bagus dan pak Roni sering menghabiskan waktu berdua mengobrol di pos, menghabiskan waktu sambil berjaga menjaga keamanan di rumah atasannya.


"Ternyata gadis itu dan ibunya, sebenarnya memang sudah mengenal pak Dimas, sepertinya mereka masih saudara jauh yang jarang ketemu,ya itu, jadi lupa. Gadis tadi namanya mbak Reni.


Mbak Reni, waktu menanyakan namanya pak Dimas, ternyata hanya ingin memastikan apa benar kalau itu Pak Dimas yang dia kenal, sudah itu saja. Itu yang saya tangkap dari pembicaraan nya bersama ibu nya tadi pas masih dirumahnya." sambung pak Roni yang mengatakan apa yang ia tau, tanpa sedikitpun ingin menutupi.


"Alhamdulillah, ini murni salah paham, berarti ya?"


Pak Bagus merasa lega dan menyesap kopi yang tadi di suguhkan oleh istrinya, pun dengan pak Roni yang juga mengambil kopi dalam cangkir serta ikut menikmatinya juga. Lega, itulah yang kini mereka rasakan.

__ADS_1


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


Sedangkan keadaan di diruang tamu, masih hening. Belum ada yang memulai pembicaraan.


Rihana masih terlihat sembab dan matanya menatap gadis di depannya tak berkedip, hatinya merasakan nyeri, karena Rihana beranggapan gadis cantik di hadapannya adalah selingkuhan suaminya, apa lagi datang dengan membawa serta ibunya, pikiran Rihana semakin kacau, takut kalau gadis itu sedang meminta pertanggung jawaban pada suaminya, lantaran hamil.


"Sebelumnya saya minta maaf, kalau sudah merepotkan ibu juga mbak.., maaf mbak siapa namanya?" Dimas membuka obrolan dan terlihat kaku dengan memasang wajah dinginnya, agar istrinya tidak semakin curiga.


"Saya Reni, dan ini ibu saya, Bu Endang." Balas Reni sopan.


"Maafkan saya, kalau karena sikap saya, membuat istrinya Mas Dimas jadi salah paham." Sambung Reni dengan wajah tenang dan dengan sikap sopan nya. Rihana menatapnya tak berkedip.


"Iya, nak Dimas. Maafkan sikap Reni ya. Mungkin nak Dimas juga lupa dengan kami, padahal kita pernah bertemu beberapa kali waktu ada acara di rumah menantu saya, Melati." sambung Bu Endang lembut dan tersenyum penuh arti menatap Rihana yang terpaku.


"Melati? Tante Melati maksudnya, ibu?" Balas Dimas hingga mengernyitkan wajahnya, membuat kedua alisnya saling bertautan.


"Iya, Melati. Tantenya Nak Dimas. Saya ibu suaminya Melati, Rudi!" sambung Bu Endang menjelaskan dengan senyuman ramah.


"Ya Alloh, astagfirullah. Maaf, ibu! Maaf kalau saya tidak mengenali ibu dan siapa tadi?" balas Dimas merasa sungkan.


"Reni, Mas. Adiknya Mas Rudi." sahut Reni sambil tersenyum sopan.


"Maafkan saya ya mbak, kalau tadi membuat mbak jadi salah paham, saya cuma ingin memastikan saja, karena saya juga antara lupa lupa ingat, jadinya memberanikan diri bertanya sama satpam yang berjaga. Tapi Demi Alloh, saya tidak ada niat apa apa, cuma merasa kenal. Itu saja kok. Sekali lagi saya minta maaf." Sambung Reni menjelaskan panjang lebar, agar Rihana tidak lagi salah paham.

__ADS_1


Rihana terpaku, bibirnya Kelu menatap bergantian antara suaminya dan kedua perempuan yang tersenyum melihatnya.


"Maafkan aku, Mas! aku sudah menuduh kamu yang tidak tidak. Sekali lagi maafkan aku ya!" ucap Rihana pada akhirnya, dan dibalas pelukan hangat oleh suaminya.


__ADS_2