
"Gak papa, mama cuma terharu saja dengan kebaikan pak Andi, beliau selalu baik dari dulu pada keluarga kita. Pantas almarhum kakek mu begitu percaya dan hormat padanya." Melati menjawab dengan lembut kecemasan anaknya.
Dan Fajar langsung merasa lega mendengar jawaban mamanya.
"Kita harus hati hati, karena papamu mungkin tidak akan tinggal diam dengan yang sudah mama lakukan."
Fajar menatap mamanya iba, tidak sedikitpun terlintas di pikirannya selama ini, kalau orang tuanya akan bermusuhan seperti ini, tapi apa yang terjadi semua karena tingkah laku papanya yang memang tidak pernah bisa menghargai mamanya.
"Mama yang tenang, dan jangan banyak pikiran ya! Biar ini menjadi urusan Fajar dan kak Riko. Setelah mengantar mama pulang ke rumah, Fajar akan menemui kak Riko di kantor. Dan Fajar berencana akan memperkerjakan dua orang lagi untuk menjaga mama dan rumah, karena Fajar mempunyai filing tidak enak. Takut mama kenapa kenapa. Fajar minta, mama tetap di rumah saja, kalau mau kemana mana bilang ke Fajar, biar Fajar yang antar." Entah apa yang ada di pikiran Fajar, sejak pulang dari tambak perasaannya memang tak karuan, cemas dan seperti ada yang mengganjal.
"Iya, mama percaya sama kalian. Terimakasih sudah menjaga mama dan mengerti perasaan mama." sahut Melati sendu, tak dipungkiri, sekuat apapun dia, tetap saja dia perempuan yang memiliki sisi lemah, mudah menangis jika hatinya terluka, apa lagi, pernikahannya dengan Rudi sudah berjalan puluhan tahun, pasti menyisakan kenangan yang sulit untuk dilupakan sekalipun sudah banyak luka dan air mata yang Melati korbankan.
Setelah mengantarkan mamanya pulang dan masuk ke dalam rumah, Fajar meminta satpam yang berjaga di gerbang rumah untuk tidak membiarkan siapapun tamu yang masuk, tak terkecuali papanya, karena Fajar tidak ingin terjadi sesuatu dengan mamanya.
"Pak, setelah saya pergi tolong jaga rumah dan mama ya, jangan biarkan siapapun tamu yang masuk, meskipun itu papa. Saya percaya sama pak Joko, tolong jaga rumah baik baik." perintah Fajar kepada satpam yang bekerja dirumah.
"Tapi, Den! kalau pak Rudi ngamuk bagaimana? saya takut di pecat." jawab pak Joko cemas.
__ADS_1
"Pak Joko tenang saja, yang berhak memecat pak Joko itu mama, ini rumahnya mama dan gaji pak Joko itu juga mama, jangan takut kalau papa marah bahkan ngamuk. Jangan sekali kali pak Joko membuka gerbangnya, tetap gembok dan abaikan, keselamatan mama saya ada di pak Joko . Jika sampai terjadi sesuatu dengan mama, pak Joko akan tau akibatnya."
"Siap, Den! kalau begini saya kan juga tenang dan akan dengan semangat dan berusaha sekuat tenaga saya menjaga nyonya. Den Fajar percaya saja sama Joko, Joko akan menjaga nyonya dengan baik. Kalau sudah dapat lampu hijau gini ya senang Den, melawan pak Rudi yang sombong itu. Eeh!" Joko langsung membekap mulutnya karena sudah keceplosan bicara, tapi Fajar hanya menggeleng kan kepalanya dengan tingkah satpam yang sudah bekerja dari masih dia bujang sampai sekarang sudah memiliki tiga orang anak.
"Yasudah, titip mama ya, Pak."
Fajar kembali menjalankan mobilnya menemui Riko kakaknya. Dan Joko dengan segera kembali mengunci pagar dengan rapat, dan kembali berjaga di pos yang ada di samping gerbang rumah yang menjulang tinggi.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Dilain tempat, Rudi sedang berada dirumah orang tuanya. Rudi langsung masuk kamarnya yang memang kusus untuk tempat Rudi pas dia pulang kerumah, rumah mewah berlantai dua itu dibeli Melati saat mereka baru saja menikah. Dan setelah Melati membeli rumah yang lebih besar, rumah itu ditempati ibu dan adik adiknya Rudi sampai sekarang. Melati tidak masalah karena menganggap, keluarga suaminya adalah keluarganya juga. Tapi justru mereka hanya memanfaatkan kebaikan Melati selama ini.
Rudi memasukkan semua uang uang itu kedalam koper baju miliknya, sebelum melati mengambil alih kembali rumah, dengan segera Rudi harus menyelamatkan harta yang sudah dia curi, dan berpikir untuk juga membuka usaha toko bangunan seperti milik Melati dengan uang yang ada.
"Jangan kamu pikir, aku bodoh, Melati! bahkan aku selangkah lebih maju dari kamu yang lemah itu. Silahkan saja ambil lagi rumah ini, tapi sebelum kamu mengambilnya, aku akan menjual barang barang yang ada dirumah ini, lumayan buat tambah isi dompet, hahahaa" Rudi tertawa licik dan berniat buruk dengan ingin menjual semua barang yang ada dirumah ibunya yang semuanya milik Melati.
Setelah selesai mengamankan uang dan surat tanahnya ke dalam koper, dan juga tak lupa Rudi menutupi uang tersebut dengan sedikit baju bajunya lalu mengunci koper tersebut. Rudi kembali membuka pintu kamarnya dan turun ke lantai bawah yang ternyata ibu juga adiknya sudah ada disana menunggunya.
__ADS_1
"Ada apa sama kamu, Rud? kok tumben pulang pulang langsung masuk kamar. Apa kamu sedang ada masalah dengan Melati?" cerca Bu Endang ibunya Rudi.
Sebelum menjawab pertanyaan ibunya, Rudi memilih menghempaskan tubuhnya di sofa empuk yang ada di depan Bu Endang, dan menyuruh Reni adik perempuannya untuk membuatkan kopi.
"Buatkan mas Rudi kopi, Ren. Dari pagi belum ngopi sama sekali." perintah Rudi dan langsung di iyakan adiknya.
"Ada masalah kamu, apa soal Melati atau istri sirimu itu?" Bu Endang kembali melontarkan pertanyaan pada Rudi yang terlihat mengusap wajahnya kasar.
"Melati sudah tau semuanya, Bu. Melati tidak terima aku menikahi Piana, dan dia mengusirku juga menggugat cerai, bahkan sekarang dia sudah mengambil alih semua usahanya kembali. Mungkin sebentar lagi rumah ini juga akan diambilnya." sahut Rudi gusar, dan membuat Bu Endang melongo tak percaya.
"Kamu itu bodoh Rud, karena Perempuan kayak Piana kamu sudah membuang tambang emas kamu, sekarang gini kan akibatnya, kesel ibu sama kamu! terus ibu sama adikmu mau tinggal dimana kalau kayak gini?" sungut Bu Endang kesal dengan tingkah anaknya yang dari dulu sangat suka main perempuan dan sudah sekali dinasehati.
"Sudahlah, Bu! ibu tenang saja, nanti ibu sama Reni pindah saja kerumah ku yang lain, aku sudah membeli rumah di perumahan elit tak jauh dari sini, di Ngasem. Ibu tinggal saja dengan Piana disana. Lagian kamarnya disana juga banyak." sahut Rudi enteng tanpa perduli ketidaksukaan ibunya dengan Piana.
"Kamu mau minta ibu serumah sama istri sirimu itu? apa kamu mau ibu kena darah tinggi hah?" sungut Bu Endang kesal.
"Terus gimana lagi, apa ibu mau tinggal di rumah kontrakan lagi, yang engap juga kecil? terserah ibu saja sih mau gimana? Rudi sudah memberikan tawaran. Piana itu istriku Bu, kalian harus rukun dan saling menyayangi."
__ADS_1
balas rudi tenang dan semakin membuat Bu Endang tersulut emosi.