
Pukul dua belas malam, Rudi baru sampai rumah dengan penampilan acak acakan. Beni yang memang sengaja menunggu langsung membukakan pintu. Tak ingin banyak bertanya, Beni hanya melihat kakaknya sekilas. Seolah tau apa yang membuat kakaknya pulang selarut ini.
"Belum tidur kamu, Ben?" sapa Rudi pada adiknya yang kembali mengunci pintunya dan hendak melangkah ke kamar.
"Belum, nungguin kamu, Mas." sahut Beni datar dan di balas anggukan ringan oleh Rudi, lalu kembali melangkah menaiki tangga menuju kamarnya.
Melihat kakaknya yang terlihat begitu banyak beban pikiran, Beni hanya menarik nafasnya dalam.
"Sampai kapan, kamu akan terus seperti ini, Mas?, hidup dalam kubangan dosa dan terus berbuat maksiat, Alloh ampunilah kakakku dan tunjukkan jalan agar Mas Rudi kembali ke jalan yang benar, Aamiin."
Beni bergumam lirih dengan matanya terus tertuju pada punggung kakaknya.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Pukul tujuh pagi, Rudi sudah terlihat rapi dengan seragam kantornya. Semalaman dia tak bisa memejamkan mata, hatinya merasa tidak enak dan pikirannya terus tertuju pada anak dan istrinya.
Kecewa dan angkuh terus mewarnai pikiran Rudi.
Kecewa karena menganggap sang anak lebih berpihak pada ibunya. Angkuh dan egois, yang tak pernah mau mengakui kesalahan dan menyadari kekeliruannya. Meskipun sebenarnya Rudi sadar jika dirinya sudah membuat Melati kecewa dan terluka sebegitu dalamnya.
"Sarapan dulu, Le!" sambut Bu Endang saat melihat Rudi berjalan menuruni tangga.
"Iya, Bu! ini juga mau sarapan dulu, karena hari ini ada rapat ke luar kota, makanya berangkat lebih pagi." balas Rudi datar dan melangkah menuju meja makan, yang sudah ada Reni dan Beni yang juga tengah menikmati sarapan dengan nasi goreng Jawa buatan ibunya.
"Sarapan, Mas. Ibu bikin nasi goreng Jawa, pedas. Enak banget ini!" Reni menawari kakaknya dan mengambilkan piring lalu mengisinya dengan nasi goreng yang masih ada di dalam wajan.
__ADS_1
"Mas Rudi, mau dibuatkan kopi atau teh hangat?" sambung Reni perhatian dan dengan sigap melayani kakaknya.
"Gak usah, minum air putih saja. Mas buru buru soalnya." balas Rudi dengan ekspresi datar dan terlihat kusut.
"Ben, kunci mobilnya kalau mau kamu pakai, ambil aja dikamar ku, biar motor kamu dibawa Reni buat kuliah." sambung Rudi masih dengan ekspresi datarnya.
"Iya, mas. Rencananya beni juga mau belanja alat alat buat bengkel dan juga cat, untuk mengganti cat yang ada di tembok luar, agar lebih terlihat lebih menarik dan enak dilihat." balas Beni menjawab kakaknya.
"Terserah kamu! lakukan apa yang menurut kamu baik, Aku sudah memberikan kepercayaan penuh padamu. Lakukan yang terbaik untuk masa depanmu." balas Rudi serius dan dibalas anggukan oleh Beni.
"Mas yakin, motornya Mas Beni boleh dipakai Reni?" sahut Reni belum percaya .
"Iya, pakai saja. Beni sudah bawa mobil yang dipakai Piana kemarin, dan motor, kamu yang pakai, dari pada harus naik ojek. Uangnya bisa kamu tabung." Sahut Rudi serius menatap adik perempuannya yang terlihat mengangguk dan tersenyum sumringah.
"Makasih ya, Mas!" balas Beni dan Reni bersamaan.
"Aamiin!" balas Rudi dan Reni bersamaan dan tiba tiba Bu Endang muncul dan mengusap bahu Rudi dengan begitu lembut, penuh dengan kasih sayang ibu pada anaknya.
"Terimakasih, Le. Kamu sudah menjadi pengganti ayahmu dan kamu melakukan itu dengan baik, penuh tanggung jawab. Terimakasih." Bu Endang merasa terharu dengan perjuangan Rudi selama ini, sejak ayahnya meninggal, Rudi yang mengambil alih tanggung jawabnya.
Meskipun Rudi memiliki sifat keras kepala dan arogan, tapi Rudi selama ini selalu menjadi kakak yang baik buat adik adiknya.
"Itu sudah jadi kewajiban Rudi, Bu! Ibu doakan semoga kami bisa sukses dan membahagiakan ibu." balas Rudi yang menoleh ke arah ibunya yang kini berada disampingnya yang sedang tersenyum menatap anak anaknya.
"Aamiin, doa ibu selalu yang terbaik buat kalian." balas Bu Endang dengan sungguh sungguh dan mata yang sudah dihiasi mendung.
__ADS_1
Reni dan Beni sudah selesai sarapan dan berpamitan pergi ke kampus, tak lupa menyalami kakak dan ibunya terlebih dahulu sebelum pergi.
Beni pergi dengan mobil Brio merah bekas Piana, sedangkan Reni dengan motor milik Beni.
Rudi juga berpamitan pada ibunya, lalu meluncurkan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju kantor tempatnya bekerja.
"Kenapa dari semalam, perasan ini tidak enak. Seperti ada sesuatu yang mengganjal dan membuat sesak, tapi tidak tau itu apa." Rudi bicara sendiri di dalam mobil dengan gelisah.
Tidak butuh waktu lama, hanya dua puluh lima menit perjalanan yang Rudi tempuh untuk sampai ke kantornya. Memarkirkan mobilnya lalu berjalan ke dalam ruangannya yang disambut dengan tatapan aneh teman sekantornya. Namun Rudi merasa cuek, toh tidak sedang melakukan kesalahan apapun, batin Rudi dengan yakin dan terus melangkah ke meja kerjanya.
"Rud, kemarin kamu kemana? ada perempuan muda yang datang menemui bos, dan sepertinya dia melaporkan sesuatu tentang kamu, karena setelah dia pergi, bos minta sama kita, kalau dia menunggu kamu besok." Dedi teman satu ruangan Rudi langsung menyambut kedatangan Rudi dengan obrolan yang membuat Rudi mengernyitkan wajahnya.
"Wanita, gimana maksud kamu? Melati, istriku?" sahut Rudi memastikan dengan dada berdebar, berharap dugaannya salah.
"Bukan! kalau Melati aku kenal dan tau orangnya, tapi ini wanita lain, masih muda dan pakaiannya uh seksi banget, dapat dari mana kamu perempuan kayak gitu?" balas Dedi bersemangat dan membuat Rudi langsung berpikir pada sosok Piana.
"Rambutnya panjang dan warnanya kecoklatan, apa benar itu?" balas Rudi menatap sahabatnya serius.
"Nah itu, benar banget. Benar kamu kenal dengan perempuan itu?" balas Dedi sedikit menaikkan suaranya satu oktaf yang membuat Rudi mendelik ke arahnya.
"Kecilin suara kamu, gak enak di dengar yang lain! Asem!
Iya aku kenal, dia Piana, mantan istri siriku." sahut Rudi sambil mengusap wajahnya kasar dan terlihat menarik nafasnya dalam dan panjang.
"Hati hati bro, berdoa saja semoga wanita itu gak bicara aneh aneh sama bos, kalau dia melaporkan pernikahannya sama kamu, bahaya itu, bisa bisa kamu dikeluarkan dari kantor ini. Emang kamu ada masalah sana dia?" sahut Rudi menatap dalam pada pada Rudi yang tengah menutup wajah dengan kedua tangannya. Pikirannya langsung kacau, karena sudah tau arah Piana datang menemui atasannya, pasti perempuan itu sudah bicara macam macam dan yakin kalau dirinya akan mendapat masalah karena kedatangan Piana di kantor ini.
__ADS_1
"Ah sialan!" Rudi menggebrak mejanya frustasi, membuat beberapa orang yang berada satu ruangan dengannya kaget dan menoleh ke arahnya, menatapnya prihatin.
Rudi benar benar murka dengan tingkah Piana kali ini, kalau sampai dia dikeluarkan dari pekerjaannya, Rudi bersumpah akan membuat Piana membalas perbuatannya itu, menghancurkan hidup perempuan yang pernah membuatnya kagum sehingga rela meninggalkan anak dan istrinya.