
Rudi mengangguk, dan memeluk anak lelakinya yang paling kecil, meskipun terlihat paling pendiam dan cuek, Fajar itu manja dan perasa. Usia dewasa tidak menjadikan seorang anak hilang sifat manjanya kepada orang tuanya. Karena sampai kapanpun orang tua adalah tempat ternyaman untuk mereka bersandar dan bermanja.
"Kita mau ajak papa, makan siang bareng sama kita, lama kita gak ngumpul dan menghabiskan waktu bersama. Papa mau kan?"
Sahut Riko menatap papanya lekat.
"Baiklah, papa gak bisa menolak kan?" balas Rudi dengan gaya dinginnya, namun dihiasi senyum haru di wajahnya.
Ayu memeluk papanya, bagaimanapun memang Ayu yang paling dekat dengan Rudi sebagai anak perempuan satu satunya, Rudi memang sangat memanjakan Ayu sejak kecil, kemana mana selalu dengan Rudi, apalagi saat mamanya mengandung adik adiknya, Rudi lah yang selalu mengasuh Ayu dan menemani Ayu bermain, sekolah dan tidur.
Karena bagi anak perempuan, cinta pertamanya adalah sosok ayahnya, pun saat dia mengalami patah hati, patah terhebatnya adalah saat dia kecewa dengan ayahnya. Dan itu sudah dialami Ayu pada sosok Rudi.
Riko satu mobil dengan papanya bersama Ayu kakaknya, sedangkan Beni membawa mobilnya sendiri, dan Fajar lebih memilih naik motor sportnya. Mereka menuju restoran yang sudah jadi langganan keluarga dan menikmati waktu bersama yang sempat hilang setelah papa dan mamanya punya masalah.
"Pa! Papa yakin dengan ucapan papa waktu itu?
Papa mau, gugat mama masalah harta Gono gini?"
Tiba tiba Fajar mempertanyakan apa yang pernah papanya ucapkan pada mamanya, saat mereka sedang adu mulut.
Riko dan Ayu langsung saling pandang dan menatap ke arah papanya dengan ekspresi yang tidak bisa di artikan, pun dengan Beni yang langsung kaget dengan apa yang di lontarkan keponakannya.
"Mas? Mas mau gugat mbak Melati?"
__ADS_1
Sahut Beni dengan tatapan menyelidik, menatap kakaknya lekat yang langsung salah tingkah.
"Mungkin!
Karena aku punya hak dan ikut andil dalam mengembangkan usaha Melati. Aku yang mengurus sampai berkembang seperti sekarang, apa ada yang salah?"
Rudi menatap satu persatu anaknya dan juga adiknya yang terlihat menggelengkan kepalanya tak percaya.
"Apa harus papa lakukan itu ke mama?"
Riko ikut menimpali dengan sorot kecewa yang terpancar dikedua mata elangnya, pun dengan Ayu yang memilih bungkam, namun hatinya kembali menelan kecewa, karena papanya masih saja egois dan belum juga berubah dan menyadari kesalahannya.
"Iya, papa akan lakukan itu. Karena mama kalian sudah sangat keterlaluan, membuang papa seenaknya dan sudah mempermalukan papa ke seluruh karyawan, sehingga mereka berani menentang papa tanpa hormat sedikitpun." Sahut Rudi dengan rahang mengeras, sakit hatinya kembali muncul saat mengingat bagaimana para karyawannya telah menolak dan mengusir dirinya secara tak hormat.
"Mas! harusnya Mas Rudi memahami sakit hatinya mbak Melati, dia korban karena mas sudah mengkhianatinya, dan selama ini bukankah mbak Melati sudah mempercayakan semua bisnisnya untuk Mas pegang, dan Mbak Melati juga gak pernah protes Mas menggunakan uangnya, tapi ketika hatinya merasa lelah dan benar benar sakit, hanya itu yang bisa mbak Melati lakukan, menyadarkan kesalahan mas Rudi dengan menarik semua kemewahan yang dia berikan, agar mas sadar, bisa apa mas tanpa uang darinya?
Pikirkan ini mas! Karena aku takut semakin mas melawan dan menuntutnya, Mas akan mempermalukan diri mas Rudi sendiri, karena harta yang akan mas tuntut itu, semua murni milik mbak Melati. Ayolah Mas, berdamai itu lebih indah. Lihat anak anak mas Rudi, mereka sudah pada dewasa, malu sama mereka."
Beni bicara panjang lebar, berharap kakaknya menyadari kesalahannya dan tidak berbuat sesuatu yang justru akan mempermalukan dirinya sendiri.
"Tau apa kamu dengan masalah ini, jaga batasan kamu, Beni! Aku gak suka kamu terlalu ikut campur urusan pribadiku!
Diam dan lakukan saja apa yang menjadi urusanmu! Aku lebih tau apa yang harus aku lakukan!" sahut Rudi tak terima dan terlihat rahangnya mengeras dengan tatapan tak suka dihujamkan kepada adiknya itu.
__ADS_1
Beni memilih diam dan mengusap wajahnya kasar, tak menyangka kalau kakaknya memiliki sifat keras kepala yang begitu sulit dinasehati.
"Pa, pikirkan lagi! karena mama juga tidak akan tinggal diam, dan kami juga tidak mau, kalau papa kembali menyakiti mama. Tolong jangan mempersulit keadaan, Pa!" Ayu ikut bersuara setelah hanya memilih diam, karena sudah gak tahan dengan sikap keras kepalanya papanya.
"Apa kalian mengajak papa kesini, hanya ingin menekan papa, agar tidak melawan mama kalian yang angkuh itu?
Papa punya harga diri yang harus papa selamatkan, dan Mama kalian sudah menghancurkan harga diri papa di depan banyak orang, tapi kenapa kalian terus membela mama kalian?
Apa papa miskin tidak punya banyak uang seperti mama, hingga kalian semua berada di pihak mama, bukan ke papa?" balas Rudi dengan wajah memerah dengan amarah yang sudah menguasai hatinya, kecewa dan sedih karena merasa anak anaknya tidak ada satupun yang berada di pihaknya.
"Pa! kenapa papa punya pikiran picik begini?
Kami tidak membela siapapun, mama atau papa! Kami hanya tidak ingin kalian terus bersitegang dan saling benci cuma karena uang. Dan disini, posisi papa itu salah! Ngerti gak sih?" sahut Fajar meninggi, sudah tidak tahan dengan pikiran papanya yang seolah tak pernah bisa menyadari kesalahannya dan selalu menyalahkan orang lain dan terus menyalahkan mamanya, yang nyata nyata selama ini sudah begitu baik padanya.
"Ternyata ini didikan mama kamu, kalian sudah berani bicara kasar sama orang tua bahkan tidak lagi punya rasa hormat padaku. Baiklah, bela saja mama kalian."
Rudi langsung beranjak dari duduknya dan pergi begitu saja dengan membawa kemarahan yang membuatnya semakin frustasi. Anak anaknya ternyata lebih memilih ibunya dan memilih memusuhinya, menyakitkan. Itulah yang kini ada dipikiran Rudi.
Riko, Ayu dan Fajar terdiam, hening dan tak tau harus bicara apa. Papanya memang keras kepala dan sulit diajak bicara baik baik, padahal mereka ingin bisa kompak dan penuh kasih sayang seperti dulu, tidak saling tuding dan berebut harta.
"Aku akan jadi perisai buat mama, karena aku yakin papa akan berbuat nekad untuk mencapai ambisinya, aku tidak akan biarkan mama disakiti sama papa lagi!" Fajar mengeluarkan suaranya setelah beberapa saat terdiam dan kedua kakaknya langsung mengalihkan pandangan pada adik bungsunya.
Sedangkan Beni sudah pergi duluan menyusul Rudi, Beni takut Rudi akan melakukan hal bodoh lantaran emosinya.
__ADS_1