Tekanan Dari Mantan Suami

Tekanan Dari Mantan Suami
kerasnya hati


__ADS_3

"Buka pintunya, aku masih punya hak dirumah ini. Jangan buat aku makin murka Melati! Aku muak dengan sikap angkuh kamu itu!" sahut Rudi penuh dengan kebencian.


Namun Melati tampak acuh dan tak bergeming sedikitpun dari tempatnya berdiri, menatap Rudi miris, bukannya minta maaf dan menyadari kesalahannya, tapi semakin memperlihatkan sifatnya yang arogan dan sok berkuasa. Memalukan.


"Kamu masih bisa mendengarkan? Buka pintunya!


Dasar perempuan Sialan!" Umpat Rudi, tak terima diperlakukan seperti ini, tak dianggap dirumahnya sendiri, rumah yang sudah bertahun tahun ia tempati, hingga lupa, kalau rumah ini milik Melati. Dibeli dan di bangun dengan menggunakan uang Melati.


"Apakah ini sifat aslimu, Mas? bicara kasar seperti orang yang tak berpendidikan, hingga kamu pun lupa kalau kamu seorang PNS dan bergelar sarjana magister. Tapi caramu bicara seperti orang tak pernah sekolah sehingga tidak tau adab dan tata Krama!


Atau jangan jangan karena sudah hidup dengan perempuan liar itu, kamu sekarang juga ketularan liar dan bersikap rendah seperti ini?.


Memalukan!" Balas Melati tajam dan tentunya dengan kata kata pedas yang semakin membuat Rudi dibakar amarah.


"Joko! Buka pintunya!


Biar aku kasih pelajaran mulut perempuan itu! Buka!" Rudi semakin bertindak tak terkendali, suaranya meninggi dan tak perduli jika aksinya sudah jadi tontonan warga sekitar.


"Joko! kenapa kamu diam saja?


Buka pintunya! apa kamu juga ikut budek dan mau melawanku?" Rudi masih tak terima dengan perlakuan yang Melati tunjukan, bahkan masuk dirumahnya sendiri juga tak lagi di ijinkan.


"Maaf, pak Rudi! Saya hanya menjalankan perintah." Sahut pak Joko tegas meskipun terlihat bimbang diraut wajahnya.


Saat keadaan semakin menegang, segala umpatan dan kata kata kasar Rudi lontarkan untuk mengungkapkan kemarahannya. Fajar muncul dengan motor sport miliknya dan di ikuti mobil Riko dibelakangnya. Fajar turun dari motornya, dan menatap orang orang yang menatap ke arah rumahnya dengan tatapan tak biasa. Tak perduli, itu yang ada dipikiran Fajar. Lalu dengan santainya berjalan menemui ayahnya yang tengah menatapnya penuh kemarahan.


"Apakah ini cara kalian memperlakukan papa kalian?

__ADS_1


Keterlaluan!" Sambut Rudi pada Fajar yang sudah berada tepat di hadapannya dengan ekspresi yang sulit di artikan.


"Kita bicara di dalam, jangan sampai aksi papa jadi tontonan gratis warga sekitar. Papa mau Vidio marah marah papa tersebar di sosmed dan jadi viral? imbasnya pada pekerjaan papa. Malu pa!" Fajar memperingatkan papanya dingin dan Rudi langsung terkesiap mendengar kata kata anaknya, Rudi baru menyadari kekeliruannya. Kalau sampai itu terjadi, pasti dia akan terkena masalah dari atasannya.


Rudi meraup wajahnya kasar, Rudi tidak kepikiran semua itu sama sekali.


"Pak Joko! buka pintunya!" Fajar meminta scurity untuk membukakan pagar, dan pak Joko langsung melaksanakan perintah dengan cekatan.


"Masuk, Pa! kita bicara baik baik di dalam."


Fajar menghampiri papanya dan menepuk pundaknya ringan, lalu kembali berjalan menuju motor sport miliknya dan menaikinya, membawanya masuk kedalam halaman rumahnya yang mewah. Lalu Rudi mengikutinya dari belakang dengan membawa Brio merahnya, sangat tidak sepadan dengan mobil mobil mewah yang berjejer di garasi rumah ini, sedangkan Riko Masuk dengan urutan terakhir, memarkir mobilnya tepat di samping papanya.


Melati hanya diam dan masuk kerumahnya lebih dulu, lalu menunggu anak anaknya diruang keluarga.


Satu persatu anak anaknya masuk dan memberi salam padanya, mencium dan menyalimi punggung tangannya bergantian.


Rudi juga ada dibelakang mereka dan langsung memilih duduk tak jauh dari Melati dengan wajah memerah, penuh bara kebencian dan amarah.


"Apakah ini cara kalian memperlakukan aku sekarang? tak menghargai aku sama sekali sebagai kepala keluarga. Apakah ini yang kamu ajarkan pada anak anak ini, Melati?


membenciku dan memusuhi aku papanya." Rudi bicara dengan dada tersengal sangking kecewa dan sakitnya.


Melati bergeming, tidak menyahut sama sekali.


"Biar saya yang jawab pertanyaan papa!"


Fajar mejeda ucapannya dan mengambil nafasnya dalam-dalam, sebelum melanjutkan ucapannya.

__ADS_1


"Sedikitpun kami tidak bermaksud merendahkan harga diri papa, apa lagi tidak menghargai papa sebagai papa kami. Kami hanya ingin menjaga mama dari amarah papa yang bisa saja menyakiti mama. Dan dengan sikap papa yang seperti tadi, itu sudah mempermalukan diri papa sendiri.


Harusnya papa bisa bicara baik baik, datang baik baik dengan cara yang lebih baik.


Maaf, Fajar hanya ingin mengatakan apa yang ada dipikiran Fajar. Dan Fajar rasa kak Riko maupun mbak Ayu juga sepakat." Fajar menatap satu persatu kakaknya dan kembali mengalihkan pandangannya pada Rudi yang sedikit tenang, tidak semarah tadi.


Mbok Jum membawakan minuman juga cemilan dan disuguhkan di atas meja, lalu kembali lagi ke dapur setelah mempersilahkan pada semua orang.


Riko langsung mengambil teh hangat dalam cangkir lalu menyesapnya pelan. Aroma khas melati memberi kenyamanan dan membuat rileks pikiran.


"Silahkan diminum, Pa!"


Riko meminta papanya untuk mencicipi teh. jatah mbok Jum, pembantunya.


"Rudi dengan ragu, mengambil cangkir yang berisi teh hangat aroma Melati, minuman favorit di keluarga ini. Menyesapnya perlahan yang langsung membuat nya sedikit rileks dan menghangatkan.


"Aku akan tetap maju untuk menuntut keadilan, aku berhak mendapatkan bagian dari rumah ini dan usaha kamu yang lain, Melati. Jangan halangi aku masuk dirumah ini lagi, aku masih punya hak disini, ini juga rumahku!"


Rudi memberi penekan di setiap kalimatnya, membuat Melati menyunggingkan senyum sinis dan menatap sepele ke arah laki laki yang pernah ia cinta begitu dalamnya.


"Silahkan! Lakukan saja apa yang ingin kamu lakukan, aku gak perduli! Tapi aku harap kamu juga siapkan dirimu untuk menerima kekalahan, jangan kecewa ataupun marah kalau tuntutan kamu tidak berlaku sama sekali nantinya." Sahut Melati santai. Membuat Rudi semakin merasa disepelekan.


"Aku tidak sebodoh yang kamu pikir Melati! Aku cukup tau apa yang akan aku lakukan, kita selesaikan saja ini di pengadilan, Biar hakim yang menentukan." sergah Rudi percaya diri dan melihat Melati dengan tatapan penuh benci.


"Apa kalian tidak ingin keluarga ini kembali rukun? Apa kalian tidak sadar kalau kalian sudah memiliki cucu? Dan apa kalian lupa, kalau ada anak anak kalian yang mengharapkan kalian tetap baik baik saja di usia yang sudah tak muda lagi?


Aku capek lihat orang tuaku berebut harta seperti ini. Malu, Pa! Malu, Ma!

__ADS_1


Alloh, astagfirullah." Ayu terisak sangking tidak tau harus berbuat apa untuk menyadarkan kedua orang tuanya, terutama sang papa yang jelas jelas salah dan membuat keadaan semakin rumit.


"Aku capek dengan sikap kalian yang seperti ini, tolong sudahi ini, cukup!" Ayu menangis histeris dan membuat Rudi maupun Melati langsung terpaku menatap putri mereka yang terisak sebegitu mirisnya.


__ADS_2