
Sudah tiga hari tapi Alim belum juga mendapatkan kabar dari Kabin sahabatnya, Alim mondar mandir di dalam kamarnya sambil menggenggam ponsel menunggu kabar dari sang sahabat.
"kenapa Kabin belum mengabariku?
ini sudah hari ketiga, apakah sesulit itu mencari keberadaan Piana?
Dari pada aku pusing memikirkannya lebih baik aku kerumah Rihana untuk bertemu dengan Alma putriku.
aku juga sudah rindu ingin melihat senyumnya, aku akan membawakan makanan kesukaannya, jam segini pasti Alma sudah pulang dari sekolah.
baiklah aku temui saja putriku dulu."
Alim pun melangkah keluar dan mengambil kunci mobilnya.
Baru saja menyalakan mesin mobilnya, ponsel Alim berdering, diraihnya ponsel yang tergeletak di atas dasboard, tertera nama Kabin, Alim segera memencet tombol hijau berlogo telepon, dengan perasaan was was.
{Halo,asalamualaikum brow} suara di sebrang sana menyapa dengan suara baritonnya.
{Waalaikumsallm, gimana brow, apa sudah ada kabar?}
{Iya, makanya aku menghubungimu, datanglah ke kantor sekarang, target sudah tertangkap}
{Alhamdulillah, oke aku langsung meluncur kesana, thanks brow}
{Oke, aku tunggu yaa}
{Siap, komandan}
{Hahahaaa, kamu yaa
masih aja begitu, yasudah hati hati, asalamualaikum }
{Waalaikumsallm }
Alim bernafas lega, akhirnya Piana bisa tertangkap oleh anak buah sahabatnya itu.
'lihat saja kamu Ana, pasti kamu menyesal karena sudah berani bermain main denganku, lagi pula kita hanya menikah di bawah tangan, dan aku pun sudah menceraikannya, sudah tidak ada ikatan apapun diantara kita, setelah semua beres, aku akan melakukan tes DNA pada Zadan, agar aku bisa memutuskan apa yang harus aku lakukan untuk kalian."
Alim tersenyum miring membayangkan kelicikan mantan istrinya.
Hanya butuh sepuluh menit Alim sudah sampai di kantor polisi tampat Piana di tahan.
namun saat ini Piana sedang ada diruang penyelidikan untuk di interogasi
Alim langsung masuk menuju pintu utama dan di sana kabin sudah berdiri menyambutnya.
__ADS_1
"Hay brow, apa kabar?"
Kabin meraih pundak sahabatnya itu.
"Seperti yang kamu lihat, berantakan."
hahahaaaa mereka tertawa bersama karena celotehan Alim.
"Yuk ikut aku, kamu juga harus di mintai keterangan, siap kan?"
"Siap lahir batin ini."
Alim menjawab sambil menepuk pundak sahabatnya.
Kabin hanya tersenyum menanggapi kelakarnya Alim.
Diruang penyidik, Piana terus saja berkelit dari pertanyaan petugas, dan tiba tiba Piana di kagetkan dengan kedatangan Alim.
Dengan memasang wajah memelas Piana berusaha meyakinkan Alim jika bukan dia yang mencuri uang dan perhiasannya, namun dengan senyuman mengejek Alim tak menanggapi drama dari mantan istrinya itu.
"Sudahlah jangan lagi drama, karena meskipun kamu mengeluarkan air mata darah, aku sudah tidak akan lagi percaya dengan ucapanmu.
sekarang lebih baik kamu mengakui perbuatanmu itu agar hukumanmu tidak terlalu berat."
lagi pula bisa kan bik Inah atau ada pencuri yang menyatroni rumah kita, tapi kenapa kamu menuduhku?
tuduhan mu tanpa bukti, aku ini istrimu loh.
bisa bisanya kamu menuduhku sehina itu."
Piana mencoba meyakinkan Alim dengan tangisan palsunya.
"Istri?
Istri kamu bilang, kamu lupa ya, kalau kita itu sekarang hanyalah mantan, hubungan kita sudah berakhir dan untuk uang dan perhiasan yang hilang, aku yakin bik inah bukan pencurinya.
tapi kamu, polisi sudah menyelidikinya dan semua sudah sesuai dengan prosedurnya, jadi kamu tak bisa mengelak lagi.
lebih baik kamu simpan tangisanmu itu untuk menangisi nasibmu selama dalam sel penjara."
Alim berkata dengan wajah datarnya tanpa sedikitpun Sudi melihat ke arah mantan istrinya.
"Tega kamu mas, apa kamu tidak kasihan dengan Zadan kalau aku dipenjara?"
Piana masih belum kehilangan akal untuk membuat Alim simpati padanya.
__ADS_1
"Kamu sendiri yang sudah membuatku muak dengan semua tingkahmu, dan untuk Zadan, setelah ini aku akan melakukan test DNA, karena aku tidak yakin dia anakku."
Piana menoleh tak percaya, tubuhnya gemetar, tak percaya kalau Alim akan punya pikiran sejauh itu.
"gawat kalau mas Alim benar benar mekakukan test DNA, dia akan tau kalau Zadan bukanlah anaknya, bisa makin kacau kalau seperti ini." batin Piana cemas.
"Kenapa?
kenapa kamu diam?
Takut yaa, kalau ke bohongan mu terbongkar dan akan aku pastikan kamu menyesal karena sudah melakukan ini padaku."
Setelah hampir dua jam penyidik melakukan interogasi pada Piana dan Alim akhirnya penyelidikan pun selesai.
Piana sudah tidak bisa lagi mengelak, karena semua bukti menjurus padanya, dan sejumlah uang juga perhiasan yang berhasil diamankan saat penangkapan, dikembalikan pada Alim.
meskipun jumlah uangnya sudah tidak utuh lagi, karena Piana mengaku sudah menggunakan sebagian uangnya untuk menyewa kontrakan dan berfoya-foya.
tapi setidaknya perhiasan milik Rihana masih utuh dan Alim berniat untuk mengembalikannya dan meminta maaf pada Rihana.
Alim berharap dengan begitu Rihana mau diajaknya rujuk.
Setelah berpamitan pada sahabatnya, Alim kembali meluncur dengan mobil kesayangannya menuju kediaman Rihana
sepanjang jalan Alim sudah membayangkan jika Rihana maupun Alma mau menerimanya kembali dan menjalani kehidupan bersama seperti dulu lagi.
Alim juga berjanji, kalau akan berbuat baik dan lebih perhatian pada Alma dan Rihana, karena Alim sadar, kalau mereka adalah kebahagiaan yang sesungguhnya.
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌺
Persiapan pernikahan Rihana dan Dimas sudah hampir beres, surat surat pun sudah lengkap tinggal menunggu hari H nya saja, kurang seminggu lagi pernikahan mewah yang dirancang kedua orang tua Dimas akan digelar, dan Rihana sudah mulai tidak dibolehkan masuk kerja lagi oleh calon suaminya.
Dimas ingin Rihana fokus mengurusnya dan anak anaknya nanti, urusan mencari uang itu adalah bagiannya, selaku kepala rumah tangga.
Dimas begitu mencintai Rihana, hingga membuat Rihana merasa sangat dihargai sebagai wanita.
saat ini Rihana sedang berada di rumah, dia membuat kue kue kering untuk nanti dijadikan oleh oleh saat pernikahannya,
pasti akan banyak keluarga Dimas yang datang, dan kue kue ini untuk oleh oleh kusus buat mereka.
dari pada gak tau harus melakukan apa dan bengong dirumah sendirian,
Rihana menghabiskan waktu membuat kue kue dengan dibantu tetangga sebelah rumahnya Bu Romlah, wanita tambun yang sangat baik dan juga sama budhe tin, jadi tak terasa selama tiga hari saja sudah ada ratusan toples yang sudah terbungkus rapi.
#terkadang kita tidak pernah mau tau tentang hati orang lain hanya karena keegoisan diri,namun tanpa kita sadari ke egoisan itulah yang nantinya menghancurkan diri kita sendiri.
__ADS_1