
Alim sampai di depan pagar rumah Rihana, matanya memicing heran, dan menerka nerka, ada acara apa dirumah Rihana, sepertinya sedang sibuk, dan terlihat rame.
Alim melangkah masuk dengan leluasa karena, memang pintu pagar rumah sedang terbuka, sesampainya di depan pintu masuk, Alim tertegun mendapati bertumpuk tumpuk toples kue dengan beraneka macam kue kering.
Alim membatin apa mungkin Rihana sedang buka usaha pribadi, menjual kue kue kering, dan hari ini sedang ada pesanan banyak.
Alim mengetuk pintu dan mengucap salam, Rihana yang menyadari ada tamu langsung beranjak untuk melihat siapa yang datang.
"Mas, kamu...."
Rihana kaget dengan kedatangan Alim yang tiba tiba, terbesit rasa was was kalau Alim akan membuat keributan lagi.
Rihana pikir kalau hidupnya sudah tenang karena sudah lebih dari seminggu Alim tidak datang untuk mengusiknya, tapi ternyata perkiraan Hana terpatahkan oleh kedatangan Alim kerumahnya hari ini.
"Iya, aku kesini ingin bertemu dengan Alma, aku kangen sama anakku.
boleh aku menemuinya?"
"Alma masih tidur siang, kalau mas mau silahkan tunggu saja, tapi maaf aku akan kembali melanjutkan pekerjaanku."
saat Rihana hendak berbalik, Alim berusaha mencekal pergelangan tangannya, sontak Rihana kaget dan langsung mengibaskan tangannya dari cekalan Alim.
"Ada apa lagi mas?
tolong jangan berulah lagi, karena aku tidak akan segan segan memanggil warga untuk mengusirmu."
Rihana menatap Alim tajam.
"Aku tidak akan macam macam, aku kesini selain ingin bertemu dengan Alma, aku juga ingin bicara denganmu.
tolong beri aku waktu sebentar saja untuk kita bicara." mohon alim.
"Kamu kali mas, bukan kita.
karena bagiku sudah tidak ada lagi yang perlu di bicarakan di antara kita, semua sudah berakhir dan kita sudah punya hidup masing masing.
kamu yang memilih jalanmu sendiri, dan aku pun sudah menemukan jalanku sendiri, jadi apa lagi yang akan dibicarakan?"
"Aku hanya ingin kita bicara baik baik, hanya sebentar."
Alim menelangkupkan kedua tangannya dengan mimik wajah penuh permohonan.
"Baiklah, silahkan masuk."
Alim mengikuti langkah Rihana menuju ruang tamu dan mengambil tempat duduk berhadapan dengan Rihana, saat ini di mata Alim, Rihana nampak terlihat sangat sempurna, setelah berpisah darinya, semakin hari Rihana semakin cantik, dan tubuhnya yang dulu kurus, kini nampak berisi, kulitnya pun putih bersih, wajah yang dulu kusam kini terlihat mengkilap kayak dikasih minyak goreng sekilo, glowing dan mempesona.
semakin membuat Alim ingin segera memilikinya lagi.
__ADS_1
"Apa yang ingin kamu bicarakan mas?
bicaralah tak perlu bertele-tele karena masih banyak pekerjaan yang menungguku."
"Aku kemari ingin mengembalikan ini."
Alim menyodorkan kotak yang berisi perhiasan Rihana yang dibelikan Alim saat masih menjadi istrinya, dan saat berpisah Alim memintanya kembali, kini diberi kannya lagi pada Rihana dengan niat untuk mengajaknya rujuk.
"Apa ini mas? "
Rihana mengerutkan dahinya dan menatap kotak perhiasan yang tak asing baginya, hatinya kembali sakit, teringat bagaimana Alim merendahkannya waktu itu.
🌺 Flashback 🌺
"Sebelum kamu meninggalkan rumah ini, kembalikan semua yang pernah kuberikan, jangan bawa apapun dari rumah ini, kecuali baju yang menempel di tubuhmu.
lepaskan perhiasanmu tanpa terkecuali, itu dibeli dengan uangku jadi kamu tidak punya hak untuk membawanya."
"Tapi mas, kenapa kamu setega ini?
apa kamu tidak memikirkan Alma, dia anakmu juga, beri aku waktu semalam saja, besok pagi pagi aku akan pergi, ini sudah sangat malam.
aku takut Alma sakit, dan aku juga belum tau harus pergi kemana."
Rihana memohon pada Alim dengan linangan air mata, suami yang dia cintai begitu tega mengucap kan kata talaq dan mengusirnya di tengah malam tanpa membawa apapun hanya demi perempuan selingkuhannya.
jangan harap aku iba dengan air matamu itu.
dasar wanita cengeng, benalu, parasit."
Alim mendorong tubuh Rihana untuk keluar, tak perduli kalau ada Alma yang menangis ketakutan.
"ayo sayang kita nikmati malam ini dengan bersenang senang."
Alim menutup pintu sambil memeluk selingkuhannya, Piana janda yang tak tau malu itu.
Rihana hanya bisa menangis sambil memeluk Alma, hatinya sangat sakit namun Rihana tak ingin larut dalam kesedihan, ada Alma yang harus dia perjuangkan.
🌺🌺🌺🌺🌸🌸🌸
"Untuk apa mas, kenapa kamu berikan ini padaku?bukankah dulu kamu sendiri yang memintanya kembali?
aku tidak punya hak atas apa yang kamu beli dengan uangmu."
Rihana menatap tajam ke arah alim.
"Maafkan aku, aku menyesal sudah berbuat dzolim padamu dan Alma, sungguh sekarang aku hanya ingin memperbaiki semua, tolong maafkan aku.
__ADS_1
kembalilah untuk menjadi istriku lagi, aku janji akan berbuat baik pada kalian, aku sudah menceraikan Piana.
dia menghianatiku dan mengambil sertifikat rumah kita untuk di gadaikan di bank, aku menyesal sungguh menyesal."
Alim terus memohon untuk meluluhkan hati Rihana, namun tak sedikitpun Rihana merasa iba, apa yang dialami mantan suaminya itu, adalah akibat dari perbuatannya sendiri.
"Maaf mas, untuk memaafkanmu aku bisa bahkan aku sudah menutup rapat semua kenangan denganmu, namun jika kamu ingin aku kembali, maaf aku tidak bisa dan tidak akan pernah bisa." balas Rihana tegas.
"Kenapa?
Bukankah bertahun tahun kamu masih sendiri, itu artinya kamu masih belum bisa melupakanku kan?
kamu masih mencintaiku.
tak perlu kamu tutupi itu, aku tau kamu masih mengharapkan aku kembali, dan sekarang aku sudah kembali."
dengan pede nya Alim mengatakan itu semua, hingga membuat Rihana merasa muak dengan tingkahnya.
"Kamu salah mas, aku sudah tidak lagi memikirkan mu.
jangankan untuk mencintaimu, mengingatmu saja aku sudah tak Sudi, dan kalaupun selama ini aku masih sendiri, itu bukan karena aku menunggumu, tapi karena aku tak mau salah lagi memilih pendamping hidup.
cukup sekali aku mengenal orang sepertimu, dan aku tak mau melakukan kesalahan yang sama lagi."
"Owh iya, saat ini aku sedang menyiapkan pernikahanku dengan laki laki yang mampu memperlakukanku dengan sangat baik, menghargai ku sebagai perempuan, dan menerimaku apa adanya.
jadi buang semua pikiranmu itu, dan ambil saja perhiasan ini, simpan saja mungkin suatu saat kamu membutuhkannya, karena aku sudah tidak butuh itu lagi."
"Sudah tidak ada lagi yang perlu dibicarakan, aku harap kamu bisa mengerti dan menerimanya.
Kalau masih ingin bertemu Alma, tunggulah disini.
mungkin sebentar lagi dia bangun, karena sudah hampir dua jam lebih dia tidur, permisi."
Rihana beranjak dari duduknya, saat akan melangkah Alim mengahadangnya.
"Kenapa lagi mas, apakah semua yang aku ucapkan belum cukup jelas untukmu? "
"Siapa laki laki itu?"
"Pak Dimas, atasanku dikantor.
Tolong minggir, jangan halangi jalanku."
Rihana menatap Alim dengan tajam, dadanya sudah naik turun menahan emosi, rasa sakit yang dulu pernah digoreskan, belum mampu sepenuhnya ia lupakan, karena luka itu teramat dalam, dan semua itu selalu jadi mimpi buruk untuk Rihana bahkan Alma.
Alim hanya bisa tertunduk lesu, penyesalannya sudah terlambat, dan hanya bisa meratapi semua kebodohannya.
__ADS_1