
Seusai dari sekolah, Alim mengajak Alma pergi ke suatu tempat yang niatnya untuk mengenalkan Alma pada calon istri barunya, yaitu Safitri. Perempuan yang dijodohkan oleh kakaknya, anak dari sahabat baik Rokayah. Meskipun bukan dari keluarga berada, Safitri terlihat gadis yang baik dan tidak neko-neko, itulah yang membuat Alim yakin untuk kembali melangkah dengan kehidupan barunya. Karena tidak mungkin jika harus terus menunggu dengan sesuatu yang belum pasti bahkan tidak mungkin, karena Rihana sudah memiliki kehidupan baru bersama suaminya, apa lagi mereka terlihat sangat mesra dan bahagia.
"Ayah! kita mau jalan kemana?" tanya Alma pada ayahnya yang fokus menyetir.
"Kita akan cari makan ya nak, Alma lapar kan setelah lari berkilo-kilo? Dan nanti, Alma akan ayah kenalkan sama seseorang." balas Alim hati-hati agar anaknya tidak salah mengartikan ucapannya.
"Dikenalkan sama siapa ayah? perempuan ya? hmmm ayah, ciee!" tanpa Alim duga, justru Alma merespon positif niatnya, memang Alma sudah beranjak dewasa, mulai bisa paham seperti apa keadaan orang tuanya, sudah tau arti perpisahan dan kehidupan antara ayah, bunda nya.
"Aku setuju kok, kalau ayah mau nikah lagi. Lagian ayah juga berhak bahagia, biar ada yang nyiapin kebutuhan ayah, biar ada yang masakin ayah, biar ada yang menyayangi ayah, kayah bunda, papa Dimas sangat sayang sama bunda dan memperlakukan bunda seperti seorang ratu, padahal papa itu kalau sama orang lain sangat jutek, mahal senyum, tapi papa kalau sama kami, selalu hangat dan banyak ketawa. Aku juga ingin ayah begitu, dan semoga nanti istri baru ayah juga menyayangi dan menerima Alma seperti papa Dimas ya. Aamiin." celoteh Alma panjang lebar, yang gak pernah disangka Alim sebelumnya. Ternyata anaknya sudah bisa berpikir dewasa dan menerima perpisahannya dengan dengan Rihana. Alim semakin menyayangi dan kagum pada anak perempuannya yang mulai tumbuh jadi gadis remaja sangat cantik dan mempunyai kulit putih mulus bak pualam.
"Alhamdulillah, terimakasih ya nak, jujur, ayah gak nyangka kalau anak ayah sudah dewasa dan bijak gini, ayah kagum dan semakin sayang sama kamu nak."
__ADS_1
"Ayah mah berlebihan, Alma cuma belajar dari bunda, karena bunda selalu mengajarkan untuk bisa menyikapi dan menerima masalah apapun dalam hidup kita harus sabar, dan dengan pikiran yang jernih, agar tidak terbesit prasangka buruk pada orang lain."
Alim menatap sekolah wajah ayu sang anak dan menerbitkan senyum lepas yang ditujukan untuk putrinya yang sedang menatapnya kagum.
"Ayah, hanya akan menikah jika Alma bisa nyaman dan menerima. Karena yang terpenting dan utama dalam hidup ayah saat ini, hanya kebahagiaan dan kenyamanan anak ayah. Semoga nanti Alma bisa cocok ya sama Tante Safitri." Alim mengelus pucuk kepala Alma lembut.
"Owh, namanya Tante safitri toh? Alma jadi pingin cepat ketemu, soalnya penasaran, siapa sih perempuan yang sudah berhasil membuat ayahnya aku mau membuka hatinya, pasti dia istimewa ya?" celoteh lugu Alma yang membuat Alim tertawa mendengarnya.
"Kita sudah hampir sama, nanti Alma harus makan yang banyak ya, habis makan kita jalan-jalan, ayah mau belikan sesuatu buat Alma, hadiah karena sudah menang lomba lari." Alim membelokkan mobilnya di pelataran parkir sebuah restoran yang terkenal dengan olahan daging sapinya yang super lembut dan enak. Leko pilihan Akim untuk makan siang dengan sang anak dan tempat untuk memulai awal hubungan serius nya dengan Safitri.
"Ayah mau pesan apa, Alma mau iga penyet sama SOP iga, trus minumnya es teh manis saja sana air mineral." Alim langsung menatap anaknya dan ketawa. "Yakin kamu nak, pesen itu, habis?" tanya Alim sambil menahan tawa melihat ekspresi Alma yang langsung mengerucutkan bibirnya, lucu dan menggemaskan. "Iya, iya. Ayah kan cuma bercanda, mau pesen lagi juga gak papa, asal harus dimakan ya."
__ADS_1
"Alma mau kentang goreng sama tahu krispi yah, tadi kan tenaga Alma habis buat lari, jadi sekarang mau makan yang banyak, biar tenaganya kembali.' Alim langsung ketawa mengejar celoteh anak gadisnya yang membuatnya geli hingga tak bisa menahan untuk tidak tertawa.
"Yasudah tulis saja apa yang mau Alma pesan, kalau ayah tolong di tulis juga iga goreng sama Cha kangkung ya, minumnya jeruk hangat saja, kita tunggu Tante Safitri dulu, biar pesan sekalian." Alma menulis s kuat pesannya dan pesanan ayahnya, tak lama berselang Safitri datang dengan mengenakan gamis warna coklat susu dengan kerudung warna senada, terlihat anggun dan cantik sekali. Alma menoleh dan langsung menyalimi Safitri sopan.
"Ini teman ayah ya, Tante Safitri?" sapa Salma ramah dan memarkan giginya yang putih rata.
"Iya sayang. Pasti ini Alma kan?" balas Safitri tak kalah ramahnya dengan senyuman yang mengenang dari bibir tipisnya.
"Tante mau pesan apa, biar sekalian Alma tulis."
"emm, coba Tante lihat buku menunya." bakas Safitri mencoba untuk bisa akrab dengan calon anak sambungnya yang terlihat begitu cantik dan menggemaskan. "Tante pesan ikan mas bakar saja sama minumnya teh hangat, dah itu saja." Safitri tersenyum ke arah Alma yang mulai menulis pesanannya dan langsung memberikannya pada pelayan yang sudah menunggu dengan sopan.
__ADS_1
"Tadi katanya, Alma ikut lomba lari ya? gimana lombanya, menang?" Safitri membuka obrolan untuk menjalin kedekatan pada calon anak tirinya, dan Alim tersenyum senang melihat cara Safitri mengakrabkan diri pada sang anak, dan disambut respon baik oleh Alma yang memang memiliki sifat ramah pada semua orang.
"Alhamdulillah, menang. Kan ada ayah yang kasih semangat, juga ada bunda sama papa yang juga memberi suport ke aku, aku bahagia sekali punya banyak orang tua yang menyayangi, nanti akan tambah satu lagi, yaitu Tante. Tante mau menikah sama ayahku kan?" mendengar celoteh Alma, alim langsung melebarkan matanya gugup, pun dengan Safitri yang langsung mendadak salah tingkah. Tak menyangka, Alma akan merespon dengan baik dan cepat tanggap dengan keadaan canggung ayahnya dan Safitri.