Tekanan Dari Mantan Suami

Tekanan Dari Mantan Suami
Melamar


__ADS_3

Safitri langsung melangkah masuk kedalam rumah, sebelum menemui ibunya, Safitri mempersilahkan Alim duduk di kursi ruang tamu. Rumahnya terlihat sangat sederhana, tapi itu bukan jadi soal untuk Alim, yang terpenting Safitri bisa tulus menerimanya dan Alma, dan menjadi istri yang baik untuknya, tidak hanya mengejar hartanya seperti Piana dulu.


Melihat ibunya Safitri melangkah ke arahnya, Alim langsung berdiri dan menyalaminya dengan takzim, sebagai bentuk hormatnya pada orang yang lebih tua.


"Maaf, rumahnya berantakan dan ya, begini, jauh dari kata bagus. Tapi Alhamdulillah, masih bisa untuk kami berteduh dengan nyaman dari panas dan hujan." sapa wanita cantik yang sebentar lagi akan jadi calon mertuanya dengan gurat ramah nan teduh. Alim tersenyum dan terlihat sungkan, bingung mau berkata apa, karena memang sejatinya, Alim tidak pernah lagi melihat seseorang dari hartanya, tapi dari hati dan perilakunya.


"Alhamdulillah, Bu. Masih Alloh kasih rejeki dan tempat yang nyaman untuk berteduh." balas Alim pada akhirnya, setelah beberapa saat terdiam. Safitri datang dengan membawa nampan berisi secangkir kopi dan teh panas, untuk calon suaminya juga untuk ibunya.


"Di minum, Mas. kopinya!" Safitri meletakkan cangkir kopi dihadapan Alim dan teh panas di hadapan ibunya. Lalu ikut duduk menemani ngobrol calon suaminya.


"Maaf, kedatangan saya kesini, karena saya ingin mengatakan sesuatu pada mbak juga Safitri." sambung Alim membuka obrolan setelah beberapa saat saling diam dan canggung.


Mendengar Alim bicara dengan nada serius, membuat jantung Safitri berdetak kencang, dan seketika langsung gugup, menerka nerka apa yang hendak Alim katakan, karena saat di mobil tadi, Alim tidak sedikitpun membahas tujuannya untuk bertemu dengan ibunya. "Apa yang akan Mas Alim bicarakan, apa dia akan memilih mundur? tetapi tadi, Mas Alim justru memintaku untuk sama sama berjuang dan saking menerima. Tapi, apapun itu aku akan berusaha menerimanya dengan iklas.

__ADS_1


"Silahkan, apa yang ingin kamu omongin, gak perlu sungkan." balas ibunya Safitri tenang.


"Begini, maksud saya kemari, ingin meminta Safitri untuk jadi pendamping saya, memulai lembaran baru dalam ikatan halal, umur saya sudah tak muda lagi, pacaran dan pendekatan terlalu lama juga tak baik bahkan saru. Untuk itu, hari ini saya ingin meminta Safitri untuk menjadi istri saya, hari ini saya memintanya sendiri sebagai lelaki dewasa. Kalau di terima, insyaallah minggu depan saya akan meminta kakak saya datang melamar secara resmi." Ucap Alim tegas dan sedikitpun tak ada lagi keraguan, Alim sudah benar-benar memantapkan hatinya untuk membuka lembaran baru. Safitri dan ibunya saling pandang, karena tidak menyangka kalau akan secepat ini akan dilamar.


"Alhamdulillah, mbak senang dan bahagia sekali dan tentunya juga merestui, tapi semua tetap akan kembali pada Safitri, gimana nduk, di terima?" Ditanya tiba-tiba oleh ibunya, seketika Safitri menunduk, malu sekaligus senang, karena memang hati Safitri sudah benar-benar terpaut pada Alim yang semakin terlihat tampan dan gagah. Alim mengalihkan pandangannya pada perempuan muda dan cantik di hadapannya.


"Bagaimana, Fit? apa kamu keberatan dengan niat ini?" sambung Alim pada Safitri yang masih terlihat menunduk, bingung, malu dan senang bercampur menjadi satu. "Bismillah, iya, Mas. Aku mau." jawab Safitri tersipu malu.


"Alhamdulillah." ucapan syukur, keluar dari mulut Alim dan juga ibunya Safitri.


"Insyaallah, Mas. Bismillah." balas Safitri lembut dan terlihat rona merah di wajah putihnya. Alim mengangguk dan tersenyum penuh arti. Lantas tangannya merogoh kotak kecil berwarna merah dari saku celananya. "Pakailah, anggap ini bukti keseriusan ku." kotak berisi cincin yang sangat indah itu, mampu membuat Safitri meneteskan air mata haru. "Terimakasih, Mas. Aku akan memakainya." Safitri mengambil kotak merah dan mengambil cincinnya lalu disematkannya di jari manisnya. "Indah, cantik. Semoga hubungan kita juga seindah cincin pemberian kamu ini ya, Mas."


"Aamiin." Alim tersenyum tipis dan mulai menyeruput kopi buatan Safitri untuk pertama kalinya. Pas dan enak, itulah kesan pertama yang Alim dapatkan dari calon istrinya.

__ADS_1


"Kalau begitu, saya mohon pamit, karena sudah mau magrib." Alim berpamitan untuk kembali pulang, karena hari sudah menjelang magrib dan tidak etis jika bertamu lama lama. "Kenapa buru buru, makan dulu." balas Safitri lembut, namun ditolak Alim dengan lembut dan Safitri pun hanya bisa pasrah.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


"Bund, kok rumahnya sepi, pada kemana semua?" tanya Alma menyelidik karena dari tadi tidak satu pun pegawai yang ada di rumah ini terlihat. "Owh, tadi sengaja papa Dimas memberi bibi dan semuanya waktu liburan dan uang bonus, biar nanti kerjanya tambah semangat." jawab Rihana lembut sambil merangkul pundak sang anak.


"Wah, papa baik ya bund, suka berbagi dan sayang sama semua orang, gak sombong juga gak riya'." sahut Alma antusias, bangga dengan sikap papa sambungnya. "Alhamdulillah." jawab Rihana tersenyum dan menatap penuh sayang pada anak gadisnya. "Tadi, jalan jalan kemana saja? padahal papa niatnya mau ajak jalan buat beli hadiah sama Alma, karena ayah Alim sudah duluan yang ngajak, yasudah, besok aja jalan jalannya sama bunda juga papa ya, Alma boleh minta apa saja yang Alma mau." sahut Dimas menimpali dan disambut senyuman manis sama istri dan anak sambungnya.


"Tadi cuma jalan ke mall saja sebentar, Ayah meminta Alma pilih hadiahnya sendiri, apa yang Alma suka dan mau. Trus Alma minta di belikan gamis kembaran gitu, bagus banget gamisnya loh bund." seru Salma dengan mimik ceria, membuat Dimas dan Rihana saling melempar pandang dan sama sama mengerutkan dahinya bingung. "gamis? kembaran? maksudnya gimana to nak?" balas Rihana sedikit cemas, jangan jangan Alma meminta gamis kembaran dengannya, bisa gawat, karena Dimas pasti akan sangat tak suka bahkan cemburu.


"Iya, gamis kembaran bund, kayak punya Alma dan bunda gitulah, masak bunda gak paham sih."


"Tapi kenapa kok minta kembaran, kan bisa buat Alma saja, gamis bunda dari papa Dimas sudah sangat banyak loh sayang."

__ADS_1


"Bukan buat bunda kali bund. Gamisnya buat Tante Safitri calon istri barunya ayah Alim. Tante Safitri baik orangnya, cantik dan juga ceria, Alma suka dan kasih ijin ke ayah buat nikah sama Tante Safitri." Rihana dan Dimas masih saling melempar pandang, masih belum percaya dengan apa yang di dengarnya.


__ADS_2