
Piana langsung mencari sertifikat dengan menggeledah semua isi lemari, di bawah lipatan lipatan baju tak luput dari pencariannya, namun nihil, apa yang dicari tidak ditemukannya.
Piana mondar mandir berusaha mengingat ngingat di mana Alim suka menyimpan barang berharganya,' mungkin di laci'.
Piana membuka semua laci yang ada di kamarnya dan juga nihil, sertifikat yang di cari tak juga ditemukan, Piana mengacak rambutnya frustasi, dia hampir putus asa, namun kembali semangat setelah membayangkan tumpukkan uang yang akan di dapat dari sertifikat itu nantinya.
"Jika dikamar ini tidak ditemukan, mungkin mas Alim menaruhnya ditempat lain, tapi dimana ya?"
Piana terus berpikir, menerka nerka kira kira di mana suaminya menyimpan sertifikatnya.
'Apa mungkin dikamar sebelah yaa, karena biasanya mas Alim sering menghabiskan waktu disana saat libur kerja, baiklah aku coba cari di sana, barangkali benar di simpan di sana.'
Piana melangkah keluar dan masuk ke kamar sebelah, dia mulai mencari ke lemari pakaian, lemari itu isinya baju baju yang sudah tidak di pakai, tapi masih sangat bagus bagus.
Piana membongkar dari atas kebawah, nihil tak ada penampakan sertifikatnya, dan tanpa sengaja matanya mengarah pada laci yang ada di lemari tersebut, Piana mencoba membukanya tapi terkunci.
'aaah sialan di kunci lagi, aku harus cari kuncinya.'
Piana menyusuri semua ruangan yang ada di dalam kamar, semua apa yang ada di sana tak luput dari pandangannya, sampai akhirnya dia melihat gelas kecil yang ada di samping pot bunga yang ada di atas meja samping tempat tidur.
Piana melangkah mendekati gelas itu dan benar di dalam gelas ada beberapa anak kunci.
Piana mengambilnya dan mencoba satu persatu kunci itu untuk membuka lacinya dan akhirnya terbuka oleh kunci terakhir yang ada di genggamannya.
Piana mendelik tak percaya melihat apa yang ada dalam laci tersebut, ada setumpuk uang dan perhiasan, di bawahnya tergeletak sertifikat yang Piana cari sedari tadi.
senyum mengembang di bibir Piana, Piana merasa sangat beruntung, apa yang dicari sudah di tangan dan masih ada bonus menemukan tumpukkan uang dan perhiasan.
'Aku akan ambil sebagian uang dan perhiasan ini, agar mas Alim tak curiga kalau ada yang hilang dari harta simpanannya, dan map ini akan ku kembalikan lagi, aku hanya butuh sertifikatnya.'
Piana senyum senyum sambil mengambil beberapa lembar uang dan perhiasan, lalu mengembalikan seperti semula.
'Semoga malam ini mas Alim tidak pulang, agar aku bisa leluasa menjalankan rencanaku.
besok aku akan menemui Reno dan membawa berkas berkas yang dibutuhkan, agar segera diproses dan uangnya cepat cair.'
__ADS_1
'Mas, mas apa kamu pikir aku akan diam saja tanpa melakukan apapun, kamu salah, aku tidak bodoh seperti istrimu yang dulu.'
Piana merebahkan tubuhnya di kasur, dan tak lama tertidur, bebannya seolah hilang, rasa takut tak punya uang seketika sirna, dalam waktu sekejap saja, keadaan sudah berbalik memihaknya.
-------------------
Rihana mematut wajahnya di cermin, dia akan bertemu dengan orang tua Dimas hari ini, jam sudah menunjukkan pukul empat sore, dan itu artinya pertemuan itu tinggal beberapa jam lagi.
'Apa aku pake baju ini?
kalau Dimas mengajak berangkat langsung, itu artinya aku tak sempat mandi dan ganti baju, bagaimana ini?
masak harus berpenampilan seperti ini?
mana sudah bau keringat lagi.'
saat melamun tiba tiba Dimas muncul dan mengajaknya untuk segera berkemas.
"Kita berangkat sekarang ya, biar nanti pulangnya tidak kemalaman.
"Sudah kok, tadi sudah aku telpon dan minta budhe untuk menemani Alma sampai aku pulang.'
Dimas mengangguk dan menggenggam tangan Rihana berjalan keluar, banyak karyawan memandang dengan pandangan heran, dan tak sedikit yang kusak kusuk membicarakan mereka, namun Dimas cuek saja, toh nanti juga mereka akan tau kalau Rihana akan menjadi istrinya.
Rihana berjalan dengan salah tingkah, kepalanya menunduk menghindari tatapan dari teman temannya, malu dan risih sebenarnya, tapi Dimas terlalu erat menggenggam tangannya, sampai saat Rihana mau melepasnya tidak bisa, justru Dimas semakin erat menggenggam tangannya.
Selama perjalanan tak ada obrolan yang berarti, banyak diamnya dan hanya saling melirik, itu semakin membuat Dimas gemas.
Dimas membelokkan mobilnya di salah satu salon ternama di kota ini.
"Mas kok kita kesini, mau ngapain?
Rihana menatap bingung calon suaminya, sedang Dimas hanya tersenyum dan keluar berjalan memutar untuk membukakan pintu ratu hatinya.
"Ayo turun, kita harus masuk kedalam, masa mau bertemu calon mertua dandan kayak gini, bau Acem lagi."
__ADS_1
Dimas tertawa menggoda.
Meski keberatan tapi Rihana tetap menuruti keinginan Dimas.
Penampilan Rihana sangat berbeda, cantik dan nampak anggun, Dimas senyum senyum memandangi Rihana tanpa kedip.
"Mas, aku udah selesai kita berangkat sekarang kan?
jangan senyum senyum kayak begitu."
Rihana mencoba menutupi rasa gugupnya dengan menggoda Dimas.
Hanya butuh waktu sepuluh menit mereka sampai tujuan, rumah mewah bernuansa putih Dangan pagar tinggi menjulang, Rihana semakin tak percaya diri, ia merasa kerdil dengan kemewahan keluarga Dimas, hatinya semakin cemas, takut jika akan menelan kecewa karena kasta, pasti akan lebih menyakitkan dari perlakuan suaminya dahulu.
"Asalamualaikum..."
Dimas mengucap salam dan di sambut oleh wanita cantik berumur lima puluh tahunan dan di sampingnya ada pria yang duduk dikursi roda dengan wajah teduh penuh wibawa, senyuman ramah dan sambutan hangat langsung di rasakan oleh Rihana dari keluarga Dimas.
Berlahan rasa cemas yang tadi sempat membuatnya takut kini menghilang berganti perasaan nyaman.
"Ini pasti yang namanya nak Rihana ya?
akhirnya kita ketemu juga ya pah?
ternyata selera anak kita lumayan tinggi, cantik dan anggun." mamahnya Dimas menggoda anaknya.
"Yuk masuk, bibi sudah siapin makanan sepesial untuk kalian."
Bu dini menggandeng Rihana berjalan masuk menuju ruang makan, dan Dimas mendorong kursi roda papa nya berjalan di belakang mamanya.
Selama di meja makan, pak Wijaya dan Bu dini saling lirik, senyum senyum melihat tingkah putranya yang begitu perhatian dengan Rihana.
Selasai makan mereka ngumpul di ruang keluarga, ngobrol panjang lebar, meski baru pertama kali bertemu , orang tua Dimas sudah merasa cocok dengan pilihan anaknya, Bu dini meminta Dimas dan Rihana untuk tidak pacaran karena usia sudah tidak lagi muda.
"Jangan pacaran karena sudah gak pantas, langsung saja tentuin tanggal pernikahan, dan kamu Dim, segera urus semua persyaratan untuk ke KUA, karena mamah sudah gak sabar ingin gendong cucu."
__ADS_1