Tekanan Dari Mantan Suami

Tekanan Dari Mantan Suami
pembalasan Melati


__ADS_3

"Kemana mobil Mas Rudi? kenapa dia membawa mobil lain yang bukan menjadi seleranya? apakah dia sudah menjualnya, karena sangat membutuhkan uang? kalau memang benar, keterlaluan kamu, Mas. Mobil itu aku yang membelinya, tapi dengan tanpa rasa bersalah kamu sudah menjualnya, dasar licik!" geram Melati yang menatap tajam penuh kebencian ke arah laki laki yang terlihat mematung menatap ke arah keberadaan Melati dan juga Fajar.


Rudi dengan santainya berusaha untuk tetap bersikap seperti biasanya. Menyapa semua pekerja yang ada disana, lalu mulai mendekat ke arah dimana ikan ikan itu mulai ditimbang, di sana sudah ada Fajar yang mengawasi. Melati tersenyum sinis menatap laki laki yang masih berstatus suaminya. Ingin tau apa yang akan dilakukan Rudi, Melati hanya diam mematung, sambil menunggu reaksi suaminya itu.


"Kamu ada disini, nak? gak masuk kuliah?" sapa Rudi ke Fajar yang langsung menyalimi Rudi sopan , karena bagaimanapun Rudi tetaplah orang tuanya yang wajib di hormati. Sekalipun Rudi sudah melakukan sebuah kesalahan yang ibunya tidak bisa memaafkan. Sebagai anak, Fajar akan tetap berlaku sopan dan menjaga adab terlebih pada orangtuanya sendiri.


"Iya, pa. Nemenin mama dan sekalian belajar. Kebetulan di kampus sedang tidak ada jam kuliah." sahut Fajar jujur, menjawab pertanyaan papanya tetap dengan nada baik dan bersikap sopan. Melati sudah berhasil mendidik ke tiga anaknya dengan sangat baik, mereka memiliki sikap rendah hati dan menjaga etika kesopanan pada orang yang lebih tua. Saling menyayangi dan saling suport satu dengan yang lain. Bahkan ke tiga anak Melati dan Rudi telah terbiasa di didik dengan kesederhanaan, meskipun hidup dengan harta yang melimpah. Riko, Ayu dan juga Fajar, tidak pernah menyombongkan harta orang tuanya, justru mereka hidup selayaknya anak anak biasa, jarang memakai kemewahan agar terlihat wah di mata orang lain.


"Tumben, mama kamu datang kesini. Biasanya sangat anti menginjakkan kakinya di tempat kotor seperti ini. Apa mama kamu sudah benar benar tidak mempercayai papa lagi?" sambung Rudi menatap putranya dengan memasang wajah dibuat sesedih mungkin, berharap Fajar iba dan mau membujuk Melati untuk mengurungkan niatnya bercerai.

__ADS_1


"Papa langsung saja tanya ke mama, itu, mama ada disana." Fajar tidak ingin banyak ikut campur perihal masalah kedua orang tuanya, dan lebih memilih diam tapi selalu berusaha menjadi pelindung sang mama. Karena di usia Fajar yang sudah dewasa, sudah bisa melihat siapa yang salah dan siapa yang benar, papa nya memang sudah bersalah karena dengan sengaja menyakiti hati mamanya yang bahkan begitu tulus mencintai papanya, tapi Fajar juga tidak bisa membenci dan memusuhi sang papa, karena bagaimanapun papa nya juga sudah begitu menyayanginya dan sangat perduli dengan semua yang berkaitan dengan dirinya. 'Papa hanya perlu disadarkan, bukan di benci dan dimusuhi.' sebaris kalimat yang sempat dilontarkan Fajar, saat adu mulut dengan kakak kakaknya yang memilih memusuhi sang papa, karena sudah dianggap salah dan keterlaluan, dengan tega membuat mamanya terluka dan direndahkan martabatnya sebagai perempuan dengan perselingkuhan.


Rudi menepuk bahu sang anak, lantas melangkahkan kakinya menghampiri Melati yang sedari tadi seolah enggan untuk melihat padanya.


"Ma, apa kabar?" sapa Rudi memulai percakapan. Tanpa mau menjawab, Melati hanya membisu dengan pandangan yang diarahkan ke para pekerja, melihat kesibukan mereka sedikit membantu Melati menepis rasa sakitnya.


"Ma!"


"Aku tau, kamu pasti sangat kecewa denganku. Tapi tidakkah ada sisa rasa cintamu untukku? kita sudah menjalani hidup bersama lebih dari tiga puluh tahun, apakah tidak sedikitpun kenangan itu membuat hatimu luluh dan memaafkan secuil kesalahanku. Aku mohon pikirkan sekali lagi dengan niatmu menggugat cerai, kita bisa bicarakan ini baik baik, sikapi lah dengan kepala dingin, jangan menuruti emosimu, Ma. Kita sudah tua, ada baiknya kita tidak saling mengedepankan ego kita. Aku minta maaf sudah membuatmu kecewa, maafkan aku." Rudi bicara panjang lebar, berharap Melati merubah keputusannya untuk berpisah, tapi jangankan merespon ucapannya, justru Melati nampak abai dan lebih memilih memperhatikan lalu lalang para pekerja yang ada di tambak. Bagi Melati apapun yang dikatakan Rudi, sudah tidak bisa merubah apapun, kecewa dan rasa sakit hatinya, sudah tak bisa memaafkan perbuatan Rudi. Cukup Melati diam selama ini, untuk saat ini, Melati sudah memutuskan untuk melawan semua sikap seenaknya Rudi yang seringkali menyakiti hatinya karena ulahnya yang suka berganti wanita.

__ADS_1


"Ma! Kamu dengarkan aku ngomong apa?


aku masih suamimu, hargai aku. Bagaimana aku betah sama kamu, kalau sikapmu aja abai padaku, kamu memang egois dan keras kepala, hanya bisa memikirkan dirimu sendiri, tanpa perduli dengan hatiku, tanpa mau tau pengorbananku selama ini pada kalian, egois kamu, Melati!" Herdik Rudi kesal, karena apapun yang dia katakan tidak mendapat respon Melati.


Melihat Rudi terbakar emosi, Melati hanya tersenyum sinis, matanya tajam menyorot ke arah Rudi yang sudah memerah wajahnya, menahan amarah dan juga kekesalan, penghianatan yang dilakukan, katanya hanya secuil kesalahan. 'Keterlaluan.' geram Melati.


"Tidak perlu banyak bicara, karena sedikitpun itu tidak akan merubah keputusanku. Simpan tenaga mu, siap siap berjuang untuk memenuhi gaya hidup gundik mu dengan kemampuan kamu sendiri. Karena mulai saat ini, aku sudah memberikan semua wewenang usahaku pada anak anak dan aku juga sudah mengurus surat kepemilikan untuk mereka, jadi kamu tidak perlu lagi datang kesini, dan ke tempat usahaku yang lain, kamu sudah tidak dibutuhkan disana, karena banyak sekali kecurangan yang kamu lakukan. Kamu memang benar benar keterlaluan, Mas. Bisa bisanya kamu mengambil uang dari toko, butik dan tambak dengan sesukamu. Banyak kerugian yang aku tanggung, dan aku tidak ingin tambah rugi lagi." Melati menatap tajam Rudi yang terlihat salah tingkah, sudah tidak ada lagi kata maaf dan kesempatan.


Bagi Melati, sudah cukup selama ini Rudi berfoya foya dengan uangnya, sekarang biar Rudi tau bagaimana dirinya tanpa seorang Melati. Apakah masih bisa hidup mewah dan kecukupan atau justru sebaliknya?

__ADS_1


Dan bahkan Melati juga sudah meminta orang suruhannya untuk mengambil alih rumah yang sekarang di tempati keluarga Rudi. Meskipun terkesan kejam, tapi Melati harus melakukan itu, agar Rudi tidak lagi memandangnya lemah. Kalau saja, ibu dan adiknya tidak ikut campur dalam pernikahan siri yang dilangsungkan Rudi dirumah ibunya dan mendapat restu serta dukungan keluarganya, mungkin Melati tidak akan tega mengusir mereka. Sudah cukup kesabaran Melati, dan pengorbanannya yang tidak pernah dihargai.


Sekarang biar mereka tau dan merasakan hidup tanpa bantuan lagi dari Melati.


__ADS_2