
"Ayah, nanti Alma boleh kan pilih sepatu yang Alma suka?" tanya putriku dengan wajah memohon, begitulah dia, tiap kali meminta sesuatu selalu ijin terlebih dahulu. Dan bahkan tidak sungkan untuk meminta saran. "Boleh, memang sepatunya yang seperti apa yang Alma suka nak?" balasku lembut, mencoba untuk menjadi teman saat berbicara dengannya. Aku ingin Alma merasa nyaman denganku, hingga dia akan merasa nyaman bertukar cerita apapun tentangnya. Aku harus tau apa dan seperti apa putriku agar bisa mengontrol bagaimana dia jika sudah berada diluar rumah tanpa pengawasan kami orang tuanya. Meskipun aku percaya, anakku tipe anak penurut dan taat, tapi sebagai orang tua aku wajib berjaga jaga, dengan sering ngobrol tentang kesehariannya, mengenal satu persatu siapa saja yang menjadi temannya. Itulah yang selama ini aku lakukan pada anakku. Dan Alhamdulillah nya, Alma maupun teman temannya adalah tipe anak yang baik, dan dari golongan keluarga baik baik.
Setelah keluar dari bioskop, kami melanjutkan jalan jalan ke mall yang ada diseberang gedung bioskop, orang-orang menyebutnya dengan KM.
Langsung ke tujuan, mencari toko sepatu yang terdapat di lantai tiga. Dengan lincah, putriku mulai mencari sepatu seperti yang di inginkan, dan aku hanya mengawasinya sambil duduk di salah satu kursi panjang yang ada di pinggir toko. Nanti kalau dia sudah menemukan pilihannya, pasti akan meminta ijin dan pendapatku terlebih dahulu.
"Mas." tiba tiba ada perempuan yang sudah berdiri di hadapanku, dan suara itu sungguh aku masih mengenalnya. Saat mata ini mengarah pada sosok yang sedang berdiri di hadapan, jantungku kembali merasakan nyeri, bahkan rasa sakit itu belum mau pergi. Piana dengan wajah tanpa dosanya tersenyum manis menatapku. Perempuan itu, sudah keluar dari penjara ternyata, bahkan sepertinya dia sudah hidup enak. Dari penampilannya bisa terlihat, kalau Piana merawat dirinya kembali. Pakaian yang di pakai pun terlihat dari merk terkenal. "Masih ingat aku mas?" sambungnya dengan senyum menggoda, bahkan tak sungkan tangannya terulur ingin menyentuh bibir ini, tapi dengan cepat aku menepisnya. Jijik sekali setelah apa yang dia lakukan padaku.
"Pergilah dari hadapanku, Piana. Sebelum kesabaran ku habis. Aku tak Sudi melihatmu lagi." bukannya pergi, tapi justru Piana duduk di sampingku dengan tanpa malu. " kenapa Mas? kamu takut, jatuh cinta lagi padaku? Aku makin cantik kan Mas? aku perawatan loh, dan itu ku juga masih kenceng. Mau coba?" Ingin muntah rasanya mendengar wanita gila itu berbicara, sungguh menjijikkan. Jangan sampai anakku melihatku dengan perempuan sialan ini. Tanpa mau menjawab aku memilih pergi meninggalkan perempuan itu, meskipun berkali kali dia memanggil namaku, persetan dengan tatapan semua orang.
"Ayah! aku mau yang ini." tiba tiba Alma muncul dengan membawa sepasang sepatu warna biru laut dengan senyumnya yang ceria. "Iya nak, yuk kita langsung ke kasir buat bayar sepatunya." tanpa banyak tanya lagi, Alma mengikuti ucapanku, saat ku lirik Piana dengan ekor mata ini, ternyata dia masih duduk disana dengan tatapan yang memperhatikan kami. Semoga dia tidak bikin ulah setelah ini, muak sekali berurusan dengan perempuan sepertinya.
__ADS_1
"Alma, mau beli apa lagi? mumpung masih disini."
"Alma lapar Yah, mau makan disana."
"oke tuan putri." kami pun berjalan menuju restoran yang ada di mall ini, dua cup es susu coklat, sushi, nasi goreng cumi, dan juga sosis bakar, menjadi pilihan kami. Sialnya ternyata Piana sedang mengikuti kami, buktinya dia sedang duduk tak jauh dari meja tempatku dan Alma sedang makan, wanita itu terus menatap ke arah kami dengan senyuman yang menjijikkkan. Apa dia pikir aku akan tergoda lagi dengannya. Cukup waktu itu saja, aku sudah bodoh tertipu dengan bujuk rayunya, kali ini tidak akan aku beri kesempatan sedikitpun untuknya masuk dalam kehidupanku. Hidupku sudah kembali tenang dan bahagia. Tidak akan kubiarkan wanita sepertinya datang untuk menghancurkan kebahagiaanku ini.
"Ayah kenapa? kok dari tadi diam saja." pertanyaan Alma mengagetkan aku yang sedang melamun ke masa lalu. "Gak papa nak, ayah mungkin sedang capek saja. Apalagi jam segini belum mandi. Terasa lengket semua, Alma juga kan?" aku berusaha untuk mengalihkan kecurigaan putriku, karena Alma tipe anak yang sangat peka, sifat ingin tahunya sangat tinggi.
"Iya sayang." Hal hal kecil seperti inilah yang selalu membuatku rindu akan kebersamaan dengan anakku. Padahal Alma anak yang manis dan menggemaskan, hanya karena hasutan Piana aku sudah tega mencampakkannya selama bertahun tahun. Dan kini aku akan berusaha menebus semua kesalahan di masa lalu dengan cara melindungi dan memberikan apa yang Alma inginkan.
Piana terus mengikuti langkah kami, bahkan saat aku mau masuk ke dalam mobil, perempuan itu justru akan ikut masuk, dengan cepat aku langsung menyeretnya untuk tidak masuki mobilku, terlihat Alma kebingungan melihatku menyeret Piana menjauh dari mobilku.
__ADS_1
"Jangan melewati batasan mu Piana! Kamu anggap dirimu siapa sampai berani beraninya masuk ke dalam mobilku tanpa ijinku terlebih dahulu hah?"
"Lepaskan tanganmu, Alim. Sakit!"
"Akan aku lepaskan, tapi setelah ini pergilah menjauh dari hidupku. Tak Sudi aku melihatmu lagi Perempuan gila." aku menatap nyalang ke arah ****** di hadapanku. Biar dia tidak lagi berniat mengganggu ketenangan ku. Dengan kasar aku hempaskan cekalan tanganku, lalu kembali menuju mobil dan segera tancap gas pergi dari tempat dimana ada perempuan murahan yang masih sangat aku benci.
"Ayah, itu bukannya Tante Piana kan?" saat aku sudah masuk ke dalam mobil, tanpa kuduga Alma melontarkan pertanyaan yang tidak aku inginkan sama sekali.
"Iya nak, tapi lebih baik tidak usah kita bahas dia. Ayah sangat tidak ingin membicarakannya, Hidup ayah sempat hancur karena wanita itu. Alma mengerti maksud ayah kan sayang?"
"Iya ayah, ayah yang sabar ya. Insya Alloh semua akan baik baik saja."
__ADS_1
"Terimakasih nak, selama Alma terus bersama ayah, insyaallah ayah juga akan baik baik saja. Saat ini kebahagiaan ayah hanya ada pada anak cantik ayah, yaitu kamu sayang." aku pun mengusap pucuk kepala anakku, dan nampak Alma tersenyum manis, cantik sekali, senyumnya mengingatkan aku dengan senyuman Rihana. Ah rasanya nyeri sekali, pasti saat ini mereka sedang bermesraan dirumah. Sulit sekali membuang rasa yang semakin tumbuh subur disaat aku sudah tak mungkin lagi memilikinya. Semoga iman ini kuat sehingga tidak lagi melakukan hal hal bodoh seperti dulu.