
"Belum, Bu. Piana kalau belum jam sepuluh belum beranjak dari tidurnya." sahut Rudi tenang, meskipun hatinya juga kesal dengan kelakuan Piana yang tidak mau berubah.
Bu Endang menatap anaknya iba. "Kamu sudah salah pilih, Le! kamu sudah membuang permata hanya demi batu kerikil seperti itu, semoga kamu segera sadar dan memperbaiki rumah tanggamu dengan Melati, ibu sedih melihat hidupmu yang berantakan seperti ini. Ya Alloh bukakanlah pintu hati anakku dan kembalikan dia pada keluarganya, anak dan istrinya." Jerit bu endang di dalam hatinya.
Setelah selesai sarapan, Rudi juga Reni berangkat bareng, Rudi akan mengantarkan adik perempuan nya lebih dulu sebelum berangkat ke kantor.
Bu Endang, menatap sendu pada kedua anaknya. Rudi sebenarnya baik, dia sangat perduli dan sayang sama keluarganya, tapi caranya salah dan sifat suka gonta-ganti perempuan tak bisa hilang dari dirinya. Bu endang menarik nafasnya dalam-dalam. Kembali masuk kedalam rumah, berniat mau bersih bersih dan mencuci.
Saat kakinya mau melangkah ke dapur, Bu Endang berpapasan dengan Piana yang baru saja bangun dari tidurnya, pukul delapan lewat. Rambutnya juga masih terlihat acak acakan. Piana menuruni tangga dengan gontai, seolah tidak perduli jika ada ibu mertuanya yang tengah menatapnya tak suka.
Piana melewati Bu Endang begitu saja, dan terus berlalu menuju dapur, mengambil segelas air lantas meminumnya, dan memilih merebahkan tubuhnya di atas sofa panjang depan televisi.
"Kamu itu, perempuan bersuami. Harusnya bangun lebih pagi, siapkan segala sesuatu keperluan suamimu sebelum dia berangkat kerja, bukannya suami sudah berangkat, kamu nya baru bangun. Gak punya etika sama sekali, kena guna guna apa anakku sama perempuan seperti kamu, amit-amit!" Bu Endang sengaja menegur Piana, agar paham kewajibannya sebagai istri, biar tidak terus bersikap seenaknya.
"Disini ibu itu cuma numpang, jadi jangan banyak bicara dan sok ngatur aku. Tau diri dikit lah jadi orang tua itu! gak malu apa?" balas Piana tak kalah sinis dan bahkan tidak ada hormatnya sama sekali.
"Aku numpang dirumahnya anakku sendiri loh, sedangkan kamu itu siapa? Sadar diri kenapa?
kamu cuma perempuan yang dinikahi anakku secara siri, jadi kapanpun Rudi mau membuang mu, kamu bisa apa? dan apa yang bisa kamu dapatkan dari harta anakku, wong cuma istri simpanan saja belagu!
__ADS_1
gak terhormat sama sekali, jadi wanita kok murah banget." sahut Bu Endang meremehkan, sengaja memancing emosi menantunya, dan biar bisa tau diri siapa dia dirumah anaknya.
Piana mengepalkan kedua tangannya, matanya tajam menatap perempuan yang kini tengah tersenyum sinis ke arahnya, Bu Endang sedikitpun tidak gentar menghadapi kemarahan Piana, meskipun sudah tua, tapi tenaga Bu Endang masih kuat kalau tiba tiba Piana menyerangnya.
"Jaga bicaramu ya, Bu! jangan salahkan aku kalau aku berbuat nekad menyakitimu karena ulah mulutmu itu. Kita lihat saja, apakah setelah ini mas Rudi masih memihak mu. Dasar tua Bangka tidak tau di untung, sudah numpang, sok lagi." Sungut Piana kesal, dan memilih pergi meninggalkan Bu Endang yang sudah merah padam, karena sikap tak sopan nya sang menantu.
"Dasar perempuan tidak tau sopan santun, lihat saja, aku tidak akan tinggal diam, akan aku buat Rudi meninggalkannya, biar tau rasa." geram Bu Endang merutuki kepergian Piana.
"Lebih baik aku mencuci dulu, setelah itu mau bersih bersih rumah, karena perempuan itu tidak akan mungkin melakukan pekerjaan rumah, dasar wanita gila." Bu Endang masih terus merutuki Piana, hatinya sangat kesal oleh sikapnya Piana.
Dengan langkah lebar, Bu Endang menuju halaman belakang, memasukkan baju baju kotor miliknya, Rudi juga Reni saja, sedangkan punya Piana ia biarkan tergelatak begitu saja. "Ora Sudi aku, mencuci baju perempuan gak waras itu, kok enak banget, emang aku pembantunya apa!" Bu Endang masih saja terus mengomel, kebenciannya pada Piana sudah sampai di ubun ubun.
"Sepertinya aku pernah melihat laki laki itu, siapa ya?" Bu Endang mencoba mengingat ingat, karena memang Bu Endang hanya beberapa kali saja bertemu Dimas, itupun saat ada acara keluarganya Melati. Dimas masih keponakannya Melati, pantas saja Bu Endang merasa mengenalnya, tapi karena usia, Bu Endang jadi sulit mengingatnya.
"Aah sudahlah, lebih baik aku beli sabun saja dulu, biar cepat bisa mencuci, nanti aku akan coba ingat ingat lagi, siapa tau nanti bisa ketemu lagi, kan kita tetangga." batin Bu Endang dan kembali meneruskan langkahnya menuju toko yang jadi tempat tujuannya dengan berjalan kaki.
"Bu, saya mau beli sabun cuci yang satu kiloan dua ya, sekalian sama sabun cuci piring ya yang besar dua, juga sama pembersih lantainya satu botol saja." minta Bu Endang pada penjaga toko yang masih terlihat muda dan cantik. Bu Salma, janda muda kaya raya pemilik toko, suaminya meninggal karena kecelakaan beberapa bulan yang lalu, dan masih belum mempunyai anak dari pernikahannya, Bu Salma masih berusia dua puluh tujuh tahun, cantik dan juga seksi, kulitnya putih dengan bibir yang selalu tersenyum ramah, banyak bapak bapak di komplek ini yang ingin menjadikan dia istri simpanannya, tapi Bu Salma samasekali tidak ingin menanggapi.
"Sebentar ya Bu, saya ambilkan dulu pesanannya. Ibu orang baru ya disini?" tanya Bu Salma ramah dan tangannya sambil menyiapkan semua pesanan Bu Endang dengan cekatan.
__ADS_1
"Iya, saya tinggal di rumah nomor tujuh belas, pagar coklat." jawab Bu Endang ramah dan juga dengan senyuman hangat.
"Owh rumah baru itu, sepertinya juga baru pindahan ya itu? Ibu ini ibunya?" balas Bu Salma sedikit kepo, mencari bahan obrolan agar pembeli betah dan mau menjadi langganan di tokonya.
"Iya saya ibunya, anak saya yang lakinya." bakas Bu Endang lagi masih dengan sikap ramah.
"Kenalin Bu, nama saya Salma. Ini dengan ibu siapa?" balas Bu Salma masih dengan memasang wajah ramahnya.
"Saya Endang, panggil saja Bu Endang, kalau anak saya namanya Rudi, kerja di pemerintahan, sudah PNS loh dia." sambung Bu Endang dengan membanggakan anaknya.
Salma hanya tersenyum menanggapi, dan menyerahkan semua belanjaannya Bu Endang juga dengan semua total yang harus dibayar.
"Berapa semuanya?" sambung Bu Endang dengan tangan mengambil kantong kresek yang berisi barang pesanannya.
"Semuanya seratus tiga puluh ribu Bu." balas Bu Salma yang masih dengan senyum ramahnya.
Bu Endang menyodorkan uang dua lembar ratusan ribu pada Bu Salma.
Setelah menerima kembalian, Bu Endang kembali pulang dan meneruskan pekerjaan rumahnya. Tidak memperdulikan sama sekali keberadaan Piana yang ada dirumah itu, bahkan Bu Endang sengaja menyembunyikan masakan yang ada di dapur. "Biar saja dia masak sendiri, emang dia itu ratu, apa apa minta dilayani." sungut Bu Endang dan dengan santainya kembali meneruskan pekerjaannya, tak perduli dengan teriakan Piana yang bertanya mencari makanan, karena meja makan sudah kosong, hanya ada kerupuk di atas meja.
__ADS_1
"Rasain." batin Bu Endang puas.