
Hampir dua jam lebih Rihana dan Dimas berada di dalam kamar, mereka seolah tak pernah lelah melakukan aktifitas yang sudah menjadi candu bagi mereka. Meskipun terkesan dingin dan angkuh, tapi sebenarnya Dimas memiliki kepribadian yang sangat baik bahkan lembut. Hanya saja itu tidak ditampakkan pada semua orang.
"Sayang, terimakasih ya, kamu selalu bisa membuatku menemukan kenyamanan dan keindahan dunia. Semoga kita selalu bersama sama hingga nanti ke surgaNYA." Dimas memeluk Rihana dalam dekapannya, diantara mereka tidak ada jarak sedikitpun. Sejak menikah dengan Rihana, Dimas menemukan kehidupan baru yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, kebahagiaan, kenyamanan, rindu, dan tanggung jawab yang sebenarnya pada keluarga. Menjadi seorang dan sekaligus ayah, membuat Dimas semakin dewasa dalam berpikir dan bertindak.
"Iya Mas, akupun juga bahagia dan sangat bersyukur memilikimu, terimakasih untuk semua rasa cinta yang kamu berikan dan kasih sayang yang melimpah untukku dan juga Alma, tanpa hadirnya kamu dalam hidupku, mungkin saat ini, aku masih tetap menggenggam Luka yang sama. Sekali lagi aku sangat bersyukur dan bahagia sekali bisa menjadi pendamping mu."
"Kalau begitu, boleh dong satu kali lagi, nanggung kan?"
"Ya ampun, kamu ya Mas. Apa kamu gak capek, sudah tiga kali loh kita mengulang." Rihana tak habis pikir dengan tenaga suaminya yang seolah tak ada habisnya. Bahkan Dimas bisa melakukan itu hingga lima kali dalam semalam dan hampir tiap hari Dimas meminta Rihana untuk melayaninya.
"Kamu itu sudah menjadi candu untukku, jadi gak ada kata bosan ataupun capek. Yang ada mau lagi dan lagi." Dimas langsung melakukan aksinya untuk mengulang permainannya bersama sang istri, hingga akhirnya mereka terkulai lemas setelah menyatu dalam peluh menuju nikmatnya surga dunia dalam ikatan sebuah pernikahan.
"Mas, ini sudah jam berapa? bukankah kita harus pergi ke dokter untuk periksa calon bayi kita."
"Ya ampun, aku sampai lupa. Kamu sih yang bikin aku selalu minta tambah."
__ADS_1
"Ish, Mas kok nyalahin aku, kan Mas sendiri yang terus minta lagi, sebagai istri ya aku nurut saja, dari pada dosa." cebik Rihana pura pura kesal pada suaminya.
"Kalau begitu kita bersih bersih dulu, mandi terus berangkat." balas Dimas lembut sambil matanya berkedip kedip tanda ingin mengulang lagi.
"Tau ah, aku mandi duluan, Mas nanti saja, kalau bareng yang ada gak selesai selesai mandinya." Rihana langsung masuk kedalam kamar mandi dan menutup pintunya rapat, melihat tingkah istrinya, Dimas hanya tertawa dan pasrah, dari pada nanti tidak di beri jatah lagi.
☘️☘️☘️☘️
"Mas, setelah ini kamu mau balik ke kantor?" tanya Rihana saat keluar dari rumah sakit menuju tempat parkir untuk mengambil mobil. "Kenapa, masih mau nambah lagi? aku sih siap aja!" balas Dimas jahil dan langsung mendapat cubitan kecil dari sang istri di pinggangnya. Kemesraan mereka menjadi pusat perhatian orang orang sekitar, apa lagi Dimas sosok yang terlihat sempurna di mata para wanita, tampan, mapan dan kaya, bahkan cara berpakaiannya pun selalu membuat orang berdecak kagum melihatnya, tinggi tegap dengan kulit putih, hidung mancung, bibir tipis, mata sedikit sipit.
Pun dengan Rihana, selain cantik Rihana selalu tampil anggun Dengan gamis syar'i nya. Kulitnya juga putih dengan mata bening, terlihat wajahnya yang teduh menampilkan senyuman yang terlihat begitu memikat. Pasangan serasi Dimata semua orang yang melihatnya.
"Aku mau belanja untuk keperluan dapur, bahan bahan di kulkas sudah banyak yang habis." balas Rihana pada akhirnya, mumpung ada sang suami yang menemani, Rihana ingin belanja kebutuhan rumah tangga, dan sekalian menikmati waktu berduaan yang jarang dapat dilakukan mengingat kesibukan Dimas yang akhir akhir ini semakin padat.
"Boleh sayang, kita belanja ke mall sekalian saja ya, aku mau beliin kamu baju dinas soalnya, suka kamu pakai warna biru dan pink, cantik dan sangat menggoda." Dimas mengerlingkan sebelah matanya menggoda sang istri yang mulai merona.
__ADS_1
"Aku pasrah saja deh, Mas. Asal suamiku suka dan betah di rumah. Karena jaman sekarang pelakor bisa muncul dimana saja." jawab Rihana sengaja memancing reaksi sang suami tentang pelakor.
"Haduh sayang, kenapa juga tiba tiba bahas pelakor segala, lirik wanita lain saja aku sudah malas, istriku terlalu cantik jika disandingkan oleh wanita manapun. Makanya aku selalu mau, istriku berpenampilan tertutup di luar rumah, biar cukup aku saja yang melihat dan menikmati keindahannya."
Rihanna merasa sangat beruntung sudah di cintai oleh laki laki seperti Dimas, yang begitu mencintai dan memujanya.
"Sayang, ini belanjanya sudah cukup belum? gak sekalian beli buah buahan juga?" tanya Dimas pada istrinya yang masih sibuk memilih daging dan ikan. " Sebentar Mas, ini tinggal beli stok daging sama ikan saja, sayurnya itu sudah cukup, kalau buah buahan tidak perlu beli lagi. Kemarin sudah di bawakan sana Alma pas pulang jalan jalan sama Mas Alim." balas Rihana dengan masih fokus memilih ikan di depannya. Dimas menarik nafas dalam, entah kenapa hatinya ada rasa tak rela jika Rihana menyebut nama Alim, apa lagi menerima sesuatu darinya. Meskipun tau, kalau istrinya sudah tidak punya perasaan apapun dengan mantan suaminya itu, semua hanya demi Alma, agar tidak merasa kehilangan kasih sayang orang tuanya.
"Mas, aku sudah selesai belanjanya. Ada yang mas mau beli lagi?" tanya Rihana yang belum menyadari kegundahan suaminya.
"Gak ada sayang, yuk kita langsung ke kasir saja untuk membayar belanjaannya. Setelah itu kita akan cari baju dinas untukmu, nanti malam harus kamu pakai." Rihana langsung membulatkan matanya dengan suara suaminya yang tidak difilter, sehingga menjadi perhatian orang sekitar, bahkan ada yang bisik bisik dan menahan tawa melihat ke arahnya, Rihana merasa sangat malu dengan tingkah suaminya yang kadang masih seperti anak anak.
"Mas, kecilin sedikit dong suaranya, malu dilihatin orang, kita jadi perhatian, malu aah." melihat istrinya kesal, bukannya merasa bersalah justru Dimas begitu santai menanggapinya.
Menggandeng tangan sang istri dengan mesra, membayar belanjaan dan langsung menuju ke tempat dimana baju baju seksi berjejer di dalam salah satu toko. Dan Dimas mulai memilih untuk sang istri.
__ADS_1
"Wah, romantis sekali ya kalian, sampai aku merasa iri melihatnya." saat sedang asik memilih lingerie untuk istrinya, tiba tiba ada suara wanita yang membuat Dimas dan Rihana langsung menoleh bersamaan ke arah suara tersebut.
"Kamu!"