
"Biar dia menahan lapar di dalam kamar, aku ingin tau, sampai kapan dia sanggup bertahan. Hari ini aku sengaja ijin cuti kerja untuk memberinya pelajaran dan juga akan melihat tempat buat buka usaha bengkelnya Beni. Kita akan bermain main Piana, bersiap siaplah." Batin Rudi penuh rencana di dalam otaknya.
Sedangkan di dalam kamar, Piana gelisah. Semalaman dia gak bisa memejamkan matanya, pikirannya kacau, apa lagi Rudi sama sekali belum menemuinya. Pikirannya pun jadi menerka-nerka apa yang akan di lakukan Rudi padanya.
Dari semalam kerjaannya hanya mondar mandir dan membongkar isi lemarinya, berharap ada harta atau uang yang di simpan Rudi sembunyi sembunyi di dalam lemari, seperti yang di lakukan Alim waktu itu. Tapi nihil, Piana tidak menemukan apapun kecuali baju miliknya dan milik Rudi.
"Duh, perutku lapar sekali. Apa aku turun saja ya?
Tapi bagaimana kalau Mas Rudi murka melihatku?
Ah benar-benar sialan!"
Piana terus mondar-mandir, antara takut dan lapar.
"Aku tunggu sebentar lagi saja, bukankah Mas Rudi akan berangkat kerja, dan juga si Reni akan pergi kuliah, tinggal nenek lampir itu saja yang dirumah ini, aku akan membuat perhitungan dengannya, gara-gara dia, hidupku jadi sulit begini!"
Piana terus bicara sendiri, gelisah, marah dan perut yang sudah sangat lapar jadi satu. Hidupnya benar benar berantakan hari ini.
Pukul delapan lewat sepuluh menit, Piana melihat ke lantai bawah sudah nampak sepi. Pikirnya tidak ada orang, karena sudah pada berangkat. Padahal mereka sedang ngobrol di teras depan. Hanya Reni saja yang sudah keluar rumah, dan itupun pergi kuliah. Sedangkan Bu Endang, dan kedua anak lelakinya sedang ngobrol di depan rumah, membahas banyak hal dengan begitu akrab.
Dengan sangat hati hati, Piana menuruni tangga satu demi satu agar tidak menimbulkan suara langkahnya.
"Sepi, syukurlah. Setidaknya aku makan dulu, untuk mengisi perut yang dari semalam tidak terisi apapun." batin Piana sedikit lega, karena dia tidak melihat satupun keberadaan orang dirumah ini.
Dengan langkah biasa, Piana langsung berjalan menuju ke dapur, meja makan sudah terlihat kosong dan bersih. Lalu Piana membuka tutup panci yang ada di atas kompor, masih ada sisa sedikit rendang yang habis di panasi.
__ADS_1
Dengan segera Piana mengambil nasi dan menaruh sisa rendang ke piringnya, dengan lahap Piana menyantap makanannya, seperti orang kelaparan yang sudah tidak makan berhari hari.
Satu piring penuh habis dalam waktu sekejap, dan satu gelas besar air putih, Piana langsung kekenyangan dengan perasaan lega.
"Akhirnya kenyang juga, untung saja gak sampai mati karena kelaparan." Piana bergumam dengan perasan lega.
Setelah kenyang, tanpa mau membereskan bekas makannya, Piana berniat kembali naik ke atas dan akan bersiap siap pergi. Piana berniat akan kembali menemui sahabatnya dan mulai mencari pekerjaan, karena dia harus berjaga jaga kalau sewaktu waktu Rudi akan mengusirnya dia sudah siap untuk keluar. Apa lagi, saat dia mengeluh pada laki laki yang kemarin Vidio call dengannya, laki laki berusia lima puluh lima tahun itu, menjanjikan Piana rumah dan dia juga sudah mentransfer uang ke rekening Piana sebesar sepuluh juta, dan memintanya untuk melayani secara langsung. Terang saja Piana tidak keberatan, karena di otaknya Piana hanyalah uang, tidak ada yang lain.
"Mau kemana kamu?"
tiba tiba suara bariton Rudi mengagetkan Piana yang sedang melangkah menaiki tangga.
Piana menoleh, ternyata sudah ada Rudi, Bu Endang dan pemuda tampan yang masih berumur dua puluhan di belakangnya, mereka menatapnya tak suka, apa lagi Rudi, matanya sudah memerah dengan rahang mengeras, sedangkan Bu Endang hanya menatap sinis dengan senyum mengejek.
Beni terlihat cuek, karena memang dia gak begitu perduli dengan istri baru kakaknya itu, Beni sudah tau Piana dari cerita Reni, membuat Beni enggan mengenal atau sekedar bertegur sapa dengan Piana.
"Tidak usah pura pura kamu, kamu pasti dari dapur dan makan. Enak banget kamu! bangun bangun langsung makan tanpa mau susah payah memasaknya. Emang kamu siapa dirumah ini hah?
Ibuku bukan pembantu, jadi jaga sikapmu!
Aku tau pasti kamu membiarkan piring kamu bekas makan mu tergeletak di meja kan? Siapa yang kamu suruh mencuci, hah? Ibuku?" suara Rudi naik beberapa oktaf, tangan kanannya menarik rambut Piana kebelakang hingga perempuan itu meringis kesakitan. Tanpa ampun Rudi menarik rambut Piana dan menyeretnya ke dapur.
"Cuci piring mu!" Rudi menghempaskan tubuh Piana di samping meja makan dan memintanya untuk membersihkan bekas makannya tadi, Tanpa banyak protes, Piana melakukan apa yang disuruh Rudi sambil menahan perih di kepalanya akibat jambakan Rudi.
Setelah selesai mencuci piring dan gelasnya, Piana akan kembali ke kamarnya, tapi Rudi langsung menghadangnya.
__ADS_1
Tangan Piana diseret menuju halaman belakang.
"Cuci!
Cuci baju baju ini tanpa terkecuali hingga bersih, lalu kamu juga harus menyetrika baju yang sudah kering yang ada di ranjang. Setelah itu bersihkan rumah, nyapu dan ngepel.
Mulai hari ini semua pekerjaan rumah, kamu yang harus mengerjakan, kalau kamu masih mau tetap tinggal di sini. Dan satu lagi, setelah kerjaanmu selesai, ambil barang barang kamu di kamar atas lalu pindah ke kamar belakang, aku tak Sudi tidur satu kamar dengan wanita murahan kayak kamu!" Bentak Rudi dengan amarah yang sudah menguasai dirinya. Beni dan Bu Endang hanya melihat saja dan memilih duduk di ruang tamu, tak perduli apa yang dilakukan Rudi ke istri sirinya itu.
"Keterlaluan kamu, Mas!
Kamu mau menyiksaku, hah?" Piana sudah berani melawan, dia tidak terima di perlakukan layaknya pembantu, lebih baik pergi daripada melayani orang orang dirumah ini.
"Kalau kamu gak mau, gampang saja, pergi dari sini dan jangan bawa apapun barang di rumah ini, kecuali baju baju kamu.
Mobil sudah aku tarik lagi, akan aku berikan pada adikku." balas Rudi tenang dan menatap tajam ke arah Piana yang shock mendengar kalimat demi kalimat yang Rudi lontarkan.
"Terserah kamu, aku tak perduli. Ambil saja mobil rongsokan itu, dasar laki laki kere saja belagu!"
Piana sudah tidak bisa menahan kebenciannya pada Rudi, awalnya dia takut karena bingung harus kemana, tapi setelah mendapat janji dan uang dari omnya yang lain Piana jadi berani melawan Rudi, dan memilih meninggalkan rumah ini dengan percaya diri.
Mendengar Piana menghinanya, Rudi semakin kalap dan murka, tangannya langsung menampar wajah Piana dan meninggalkan bekas disana.
Piana menjerit kesakitan, tidak terima dan memercikkan dendam di hati wanita itu.
"Aku akan melaporkanmu ya, Mas. Awas kamu!"
__ADS_1
Piana langsung berlari menuju kamar atas, memasukkan baju miliknya ke dalam koper, mengganti pakaian tidurnya dengan baju yang lebih bagus. Dendamnya pada Rudi membuatnya bertekad untuk membalasnya suatu saat nanti.