
"Apa yang akan kamu lakukan? Usir dan ceraikan!"
Bu Endang mengulang kalimatnya sekali lagi. Rudi menggeleng dengan ekspresi yang sulit di artikan, seringainya terlihat mengerikan.
"Tidak Bu, aku akan menyiksanya dulu, baru akan aku buang dia ke jalanan." sahut Rudi dingin penuh dengan penekanan di setiap kalimatnya.
"Ibu terserah kamu saja, asal jangan pernah kamu mempertahankan perempuan murahan itu. Tidak punya harga diri sama sekali jadi perempuan, bisa bisanya melakukan hal menjijikkan seperti itu. Bagaimana ceritanya, kamu bisa menikahi perempuan model begitu, gak ada apa apanya dibandingkan dengan Melati."
Bu Endang semakin gencar mengompori putranya, agar sadar dan mau meminta maaf menyelamatkan rumah tangganya sebelum ketuk palu. Tapi semua sudah terlambat, Melati sudah terlanjur sakit hati, kecewa begitu dalam dengan ulah anaknya. Penyesalan Rudi tidak akan berarti apa apa buat Melati.
"Sudah Bu, berhenti menyebut nama Melati di hadapanku. Dia sudah menginjak harga diriku dan membuatku terhina di hadapan orang banyak dengan dia menunjukkan kekuasaannya, tanpa menghargai posisiku lagi." Sahut Rudi tak terima dan tidak suka ibunya mengungkit tentang Melati lagi.
Bu Endang langsung diam dan menyesap teh hangat miliknya, sedangkan Reni memilih tak ikut campur, karena kakaknya sedang di bakar amarah, memilih berbalas pesan dengan kakaknya yang lain, yang sedang di perjalanan menuju pulang.
"Beni mau pulang jam berapa?" tanya Rudi mengalihkan obrolan, tubuhnya sudah lelah, tidak mau hatinya juga ikut lelah.
"Sudah hampir sampai, paling sepuluh menitan sudah sampai sini." balas Reni menjawab pertanyaan kakaknya dan kembali melihat ke layar ponselnya.
"Aku akan mandi dulu, sambil nunggu Beni sampai rumah, biar kita makan sama sama." Rudi menimpali ucapan adiknya dan bangkit dari duduknya menuju kamar mandi yang ada di dekat dapur.
"Kamu mandi di bawah, Rud? mau ibu siapin baju gantinya? di meja setrikaan ada, tadi sudah ibu setrika tapi belum ibu bawa ke kamar kamu." Sahut Bu Endang perhatian, dalam hati Bu Endang tidak tega melihat kehidupan anaknya yang berantakan. Sejak pisah dengan Melati, hidup Rudi kacau dan tak terurus.
"Iya, Bu. Asal tidak membuat ibu repot." balas Rudi seperti tak ada semangat, rasa marah dan kecewanya pada Piana, membuat Rudi enggan banyak bicara dulu, pikirannya sedang menyusun balasan untuk istri mudanya itu.
__ADS_1
Bu Endang mau berdiri dan mengambil baju ganti anak laki lakinya, tapi di cegah sama Reni.
"Ibu duduk saja disini, biar Reni yang mengambilkan baju gantinya Mas Rudi, ibu istirahat saja." Reni melangkah ke ruang gosok dan mengambil kaos lengan lengan pendek dan celana selutut milik kakaknya, lalu mengantarkannya ke kamar mandi, mengetuk pintu dan menyerahkan baju milik Rudi dari celah pintu yang terbuka sedikit.
"Asalamualaikum."
terdengar suara laki laki dan itu tak asing di telinga Bu Endang juga Reni. Mereka langsung tau siapa yang datang. Dengan senyum sumringah, Bu Endang menyambut kedatangan anak keduanya penuh haru. Lantaran Beni sudah hampir tiga bulan tidak pulang, alasan sudah mendapatkan pekerjaan, jadi waktunya digunakan untuk mencari uang agar bisa membeli sepeda motor yang di impikannya.
"Waalaikumsallm. Ibu kangen loh sama kamu, Le!"
Bu Endang langsung memeluk putranya penuh kerinduan, pun dengan Beni yang tampak juga sudah merindukan ibunya.
"Beni juga kangen sama ibu, ibu sehat?" balas Beni sopan dan mengusap punggung ibunya lembut, penuh dengan kasih sayang dan cinta.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Semua sudah kumpul di meja makan, tak ada obrolan selama masih menikmati makanan yang ada di hadapannya, lebih memilih menikmati masakan ibunya yang super enak, menurut lidah mereka.
Setelah selesai acara makannya, Rudi, Beni dan Bu Endang memilih duduk di ruang keluarga, melepas rindu dan ada banyak hal yang di bicarakan.
Sedangkan Reni, masih berkutat di dapur, membersihkan piring dan gelas kotor serta barang yang digunakan memasak tadi, dengan telaten dan cekatan Reni mencuci semua dan mengelap meja serta kembali menatanya di rak piring yang ada.
Setelah selesai dan dapur kembali bersih, Reni ikut bergabung dengan ibu dan kakaknya ngobrol panjang lebar melepas rindu.
__ADS_1
"Ben, aku dengar sekarang kamu kerja di bengkel teman kamu, benar begitu?" Rudi memulai obrolannya dengan Beni yang memang terkesan pendiam, kalau tidak di ajak bicara lebih dulu, beni pasti diam dan cuek.
"Iya, mas. Lumayan uangnya bisa ditabung buat tambah beli motor, Beni pingin beli motor sport."
Sahut Beni bicara jujur dan dijawab anggukan oleh Rudi, Bu Endang mengusap pundak Beni lembut, bangga dengan cara berpikir anaknya, yang sudah mulai bisa bersikap dewasa.
"Umpama, Mas, buka usaha bengkel kayak temanmu itu, apa kamu mau mengurusnya? Karena terus terang, Mas gak paham dengan yang begituan. Tapi kalau kamu sanggup dan bisa berjanji untuk mengelolanya dengan baik dan menguntungkan, Mas akan kasih modalnya." Rudi jadi berminat buka usaha bengkel setelah tau adiknya punya bidang di situ, dari pada buka toko bangunan yang mungkin tidak sebesar milik Melati, karena keterbatasan modal, yang ada dia akan jadi bahan ejekkan wanita itu.
Jadi mending buka bengkel, siapa tau omsetnya jauh lebih menjanjikan.
"Mas Rudi, serius?"
Beni memastikan ucapan kakaknya, yang membuat dia hampir gak percaya sekaligus senang, karena kalau memang benar Rudi memberinya modal buat buka usaha bengkel, itu artinya Beni bisa mengasah kemampuannya dan berusaha untuk kerja sebaik mungkin, karena disinilah hobi yang Beni miliki. Apa lagi Beni punya banyak teman yang suka motor, jadi bisa di pastikan bengkelnya akan rame.
"Iya. Mas serius asal kamu benar benar bekerja dan sungguh sungguh jalani bisnis ini, kuliah kamu juga kurang sedikit lagi lulus kan?
fokus kuliah dan kerja, Mas yakin kamu anak cerdas, pasti bisa." sahut Rudi datar dengan mimik muka yang terlihat serius.
"Iya Mas, Beni janji, tidak akan mengecewakan Mas Rudi." balas Beni dengan semangat.
"Bu doakan Beni ya, karena dengan doa ibu, Beni yakin mimpi Beni akan terwujud. Aamiin. Alhamdulillah ya Alloh." Sambung Beni menatap ibunya dan minta doanya.
Beni terlihat semangat dan senang sekali, membuat Rudi yakin untuk memberi modal adiknya yang memang dasarnya suka bekerja keras dan cerdas, sedangkan Bu Endang tidak bisa menahan tangisnya, terharu dengan kedekatan anak anaknya yang saling perduli dan menyayangi. Inilah yang selalu di minta Bu Endang dalam setiap doa doanya, anak anaknya rukun dan saling menyayangi.
__ADS_1