Tekanan Dari Mantan Suami

Tekanan Dari Mantan Suami
Bertemu mantan suami


__ADS_3

"Mas, besok jadi bisa hadir di perlombaan sekolahnya Alma kan?" tanyaku ke suami yang sedang asik bergelut dengan pekerjaannya di laptop. Mas Dimas langsung mengalihkan pandanganya ke arahku yang sedang duduk di depan cermin mengoleskan krim wajah.


"Insyaallah, jadi. Acaranya jam berapa?" respon mas Dimas serius.


"Gak tau, Mas. Nanti aku akan tanyakan ke Alma dulu. Seharian ini belum ketemu anak gadisku, karena pengaruh obat aku jadi tidur pulas. jawabku sambil memandang wajah suamiku dari pantulan kaca di hadapanku. "Iya, apa lagi setelah itu kamu minta main air sekalian dimandiin." jawab mas Dimas menahan senyum. Ya Tuhan, padahal dia yang minta, tapi seolah aku yang mulai, huh dasar laki laki.


"Besok, aku ke kantor dulu Sebentar, ada meeting jam delapan pagi, habis meeting aku akan langsung ke sekolah, kamu besok berangkatnya diantar sama pak Bagus saja ya, pulangnya kita sama sama."


"Iya, Mas." jawabku singkat dan meneruskan aktifitas merawat wajah, agar tetap terlihat cantik dan segar di mata suami, karena istri adalah kenyamanan seorang suami saat dirumah, untuk itulah, aku selalu berusaha merawat diri ini, agar selalu tampil sempurna, agar Mas Dimas merasa nyaman dan selalu jatuh cinta saat melihatku, sehingga tidak ada celah untuk pelakor mengusik hati suami.


"Mas, aku ke kamar Alma dulu ya, kangen pingin ngobrol dengannya." pamit ku sama mas Dimas yang masih berkutat dengan laptopnya. Mas Dimas mengangguk dan tersenyum menanggapinya, akupun langsung melangkahkan kaki keluar kamar menuju kamar anak gadisku.


"Asalamualaikum, anak gadis bunda lagi ngapain?" Alma tersenyum senang saat melihatku memasuki kamarnya, buku di tangannya langsung diletakkan di atas kasur, dan kedua tangannya direntangkan menyambutku untuk minta di peluk. Inilah yang membuatku tak bisa lepas darinya, sikapnya selalu hangat dan penuh kasih sayang, meskipun usianya masih belasan tahun, tapi Alma sangat pandai menghargai perasaan orang lain, selalu bisa menempatkan dirinya di segala situasi.


"Lagi apa sayang, maaf ya seharian ini bunda tidak bisa temani mbak Alma." kataku setelah kami berpelukan dan duduk bersama diatas kasurnya.


"Lagi baca baca saja bund, besok gak ada pelajaran, Kan ada lomba lari." balas anakku antusias.


"Owh iya, tadi papa tanya, besok lombanya jam berapa?"

__ADS_1


"Jam sembilan, tapi lomba larinya paling mulai jam sepuluh, karena lomba pertamanya, lomba basket, habis itu baru lomba lari. Bunda sama papa bisa datang kan?" tanyanya penuh harap.


"Insyaallah, bisa nak. Tapi nanti papa ke kantor dulu, ada rapat soalnya, tapi bunda akan datang tepat waktu kok, karena bunda akan berangkat diantar pak Bagus."


Alma nampak manggut manggut dan tersenyum lega dengan jawaban yang baru saja aku berikan.


"Alma sudah siap nak, ikut lombanya?" tanyaku penasaran karena aku tidak pernah melihatnya berlatih selama ini.


"Insyaallah sudah bund, dan Alma juga sudah beli sepatu baru kusus buat lari, kemarin di belikan sama ayah."


"Owh iya? wah, berarti sudah siap banget ya. jangan lupa, vitaminnya selalu diminum ya nak, biar tubuh sehat dan kuat."


"Yasudah, sekarang Alma tidur. Istirahat, simpan tenaganya buat besok. Biar pas bangun tubuh Alma segar ya sayang." Alma mengangguk dan langsung berbaring, tubuhnya aku tutupi dengan selimut motif hello Kitty kesukaannya. Sebelum keluar dari kamar, aku mematikan lampu utama dan menggantinya dengan lampu tidur. Sebelum kembali ke kamar, aku melangkah menuju dapur, membuatkan secangkir kopi hitam buat mas Dimas dan membuatkan cemilan kesukaannya, pisang goreng juga roti bakar untuk menemani mas Dimas bekerja.


"Wah, memang istri idaman kamu sayang, tau saja kalau suamimu ini sedang lapar." Mas Dimas langsung tersenyum lebar saat melihatku masuk kamar membawa kopi dan cemilan kesukaannya.


"Iya, Mas. ini dimakan dulu, biar fokus ngerjain tugasnya." Mas Dimas langsung mencomot roti bakar isi telor setengah matang dengan lahap, aku mengambil duduk tak jauh darinya dan memakan satu buah pisang goreng. Menemani suami mengerjakan tugasnya sudah menjadi rutinitas ku, bahkan tak jarang aku juga ikut membantunya, hal hal kecil seperti inilah sebenarnya sangat dibutuhkan dalam sebuah hubungan untuk menguatkan ikatan diantara keduanya. Menumbuhkan perasaan nyaman, dan saling membutuhkan akan membuat kita semakin ketergantungan dan saling menjaga. Karena cinta tak cukup untuk dirasa dan sekedar di ucap, tapi butuh pembuktian dan saling menguatkan.


"Masih lama Mas, apa perlu aku membantumu?"

__ADS_1


"Ini sudah mau beres, kalau kamu sudah ngantuk, tidur duluan gih, nanti kamu kecapean."


"Gak kok, kan tadi seharian sudah tidur terus."


"Yasudah, tungguin aku sampai selesai ya, habis itu ganti tugasku yang mengerjai kamu." mas Dimas mengerlingkan matanya nakal, dan pasti dia akan meminta jatahnya lagi, ya Tuhan, padahal tadi sudah berulang kali. Lebih baik aku tidur sekarang, sebelum dia memintanya lagi.


"Yasudah mas, aku tidur duluan ya. Sudah ngantuk." jawabku sambil melangkah lebar menuju kasur kami dan terdengar mas Dimas tertawa lebar melihatku berjalan tergesa-gesa.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


Pukul delapan pagi aku meminta pak Bagus untuk mengantarkan ke sekolah Alma, ingin datang lebih awal, agar bisa membantu anakku bersiap siap dan memberinya semangat, aku gak mau momen momen seperti ini terlewatkan, hal hal kecil yang kita anggap tidak penting justru menjadi hal besar yang mempengaruhi mental anak kita, kehadiran orang tua sangat penting baginya, untuk dia tau seberapa penting dirinya untuk kami orangtuanya.


Saat aku turun dari mobil, terlihat Alma sudah mengganti seragamnya dengan baju oleh raga, senyum lebar langsung merekah dari bibir merah jambu miliknya. "Bunda" jeritnya riang dan langsung berlari menyambutku. "Jangan lari larian sayang, nanti jatuh loh, kan mau ikut lomba."


"Loh bund, kan Alma ikut lomba lari, jadi ya kudu lari dong." Ya ampun, aku sampai lupa kalau putriku ikut lomba lari. Kami pun tertawa dan Alma menggandengku ke kursi yang sudah disediakan oleh sekolah khusus untuk orang tua yang ingin datang melihat anak anaknya lomba.


Saat aku sedang asik ngobrol dengan salah satu guru, terlihat Alma berteriak memanggil ayahnya, ternyata Mas Alim sudah datang juga, dia terlihat lebih segar dari biasanya, kali ini dia memakai baju yang terlihat santai tapi tetap sopan, mas Alim mengenakan celana jins yang di padu dengan kaos warna maron lengan panjang dan memakai sepatu berwarna abu abu. Sedangkan di kepalanya terlihat memakai topi. Seperti anak muda, dan terlihat Alma sangat senang sekali. Dia nampak berlari dan menyambut kedatangan ayahnya sumringah.


"Rihana, kamu sendirian?" sapa mas Alim.

__ADS_1


"Iya, Mas. Suamiku masih ada rapat, tapi sebentar lagi dia nyusul kesini kok." jawabku biasa saja. Dan nampak senyum terukir di bibir mantan suamiku itu. Kali ini dia tak lagi banyak bicara, hanya sekedar menyapa dan langsung mengambil tempat duduk tak jauh dariku.


__ADS_2