Tekanan Dari Mantan Suami

Tekanan Dari Mantan Suami
Tidak dianggap


__ADS_3

"Sudah jam berapa ini?" Bu Endang terbangun dari tidurnya, langsung mengedarkan pandangan ke seluruh kamar, terlihat putrinya masih meringkuk di atas sofa dengan menyandarkan kepalanya.


Pukul Lima lebih sepuluh menit, jarum jam di dinding menjawab pertanyaan yang ada di benak wanita paruh baya itu.


"Sudah hampir magrib ternyata, pantesan perutku sudah merasakan lapar. Biar aku bangunkan Reni lebih dulu, sebelum aku membersihkan diri, biar tubuh ini kembali segar." gumam Bu Endang menatap kearah putrinya yang terlelap.


Dengan langkah gontai, Bu Endang menghampiri Reni dan menepuk bahunya pelan.


"Ren, bangun nduk! Sudah mau Magrib, yuk mandi dulu." Bu Endang membangunkan anak perempuannya dengan lembut, dan tanpa menunggu dua kali, Reni langsung membuka matanya, langsung mengarah pada ibunya yang tersenyum.


"Bu! jam berapa sekarang?"


"Sudah mau magrib, Nduk. Sana mandi dulu, terus bantu ibu menyiapkan makanan buat kita makan malam. Ibu akan mandi di kamar mandi dekat dapur saja, kamu mandilah di kamar ini." setelah mengucapkan niatnya, Bu Endang keluar kamar, tapi sebelumnya, beliau mengambil handuk dan baju ganti, daster selutut yang jadi pilihannya.


Setelah selesai acara mandinya, Bu Endang langsung menuju dapur, membuka kulkas dan melihat isinya, hanya ada telor dan ikan, cabe dan kornet, serta makanan siap saji lainnya. Melihat itu, Bu Endang menggelengkan kepalanya, karena perempuan yang hampir berusia lima puluh lima tahun itu, tidak doyan, dan sama sekali tidak menyukai makanan-makanan jaman sekarang yang kebanyakan instan, menurutnya rasanya aneh, tidak sesuai dengan lidah ndesonya.


"Ibu mau bikin apa?" Reni tiba tiba muncul dan langsung mengambil gelas, menuangkan air putih yang ada di teko kaca di atas meja makan, lantas meneguknya rakus, Reni benar benar haus.


"Ada telor sama ikan, enaknya dimasak apa ya? ibu bingung." sahut Bu Endang lesu, sambil kedua tangannya memegang telur juga ikan.


"Dibuat bumbu Bali saja, Bu. Kan mas Bima juga suka masakan itu." balas Reni menyarankan dan langsung di iyakan oleh ibunya. Tanpa banyak bicara, anak dan ibu langsung bergerak cepat, Reni membersihkan beras dan memasaknya di majigcom. Lantas membantu ibunya mengupas bumbu, seperti bawang merah dan bawang putih, hanya cukup lima belas menit, makanan sudah terhidang di atas meja, tinggal menunggu nasinya matang, tunggu sebentar lagi. Sambil menunggu, Reni membuat teh hangat juga kopi buat ibu dan kakaknya.


"Gak ada kerupuk ya Bu?" padahal enak kalau dimakan ada kerupuknya." Reni mengutarakan keinginannya pada sang ibu, yang langsung memicingkan matanya, bingung harus beli dimana, karena Bu Endang belum tau seluk beluk di tempat ini.

__ADS_1


"Kerupuk? beli dimana? ibu gak tau, coba kamu tanya mas mu, kalau sudah bangun." sahut Bu Endang sambil meminum teh hangat yang tadi di buat oleh Reni.


"Itu, mas Rudi turun. Biar aku tanya dulu." sambung Reni sumringah, melihat kakaknya menuruni tangga.


"Mas! Di sini tokonya disebelah mana? aku mau membeli kerupuk, ibu masak bumbu Bali telor dan ikan, tidak ada kerupuk, kayaknya kurang afdol."


"Kamu jalan saja lurus ke arah timur, agak ujung ada toko warna catnya hijau muda, beli saja disana, sepertinya toko itu lengkap, menjual segala macam kebutuhan dapur." balas Rudi biasa saja, sambil terus melangkahkan kakinya menuju dapur.


"Yasudah aku mau beli kerupuk dulu." sahut Reni sumringah dan berjalan dengan semangat, sambil melihat lihat keadaan komplek yang kini ia tempati.


"Sudah bawa uangnya, Ren?" kembali Rudi menyahut dan menoleh ke arah adiknya yang sudah sampai di depan pintu keluar.


"Sudah, Mas!" sahut Reni sedikit keras dan kembali melangkahkan kakinya, pergi membeli kerupuk.


"Gak tau, dia marah, gak terima ibu dan Reni tinggal disini." sahut Rudi tenang, dan acuh.


Bu Endang menarik nafasnya panjang, kembali mengalihkan tatapannya pada Rudi yang terlihat cuek.


"Apa kamu bahagia, menikahi perempuan yang bahkan tidak bisa menghormati ibumu dan tidak menghargai kamu sebagai suaminya?


Melati jauh lebih baik dari perempuan yang tidak tau caranya menghormati orang lain itu." sahut Bu Endang dingin, mencari jawaban dari sorot mata anaknya. Hanya cuek dan tidak perduli yang ada di sorot matanya.


"Sudahkah Bu, Rudi tau apa yang harus Rudi lakukan, urusan Piana biarlah menjadi urusan Rudi, untuk sementara ini, Rudi masih membutuhkan dia. Dan ibu jangan pernah bahas Melati di hadapan ku lagi, aku tidak suka." sambung Rudi dengan wajah datarnya, dan kembali menyesap kopi di dalam cangkirnya.

__ADS_1


"Terserah kamu saja, ibu sudah mengingatkan. Jangan sampai kamu kecewa dan menyesal lantaran lebih memilih mempertahankan perempuan yang sama sekali tidak pantas untuk di pertahankan." sahut Bu Endang kesal, dan hanya di sambut senyuman miring di bibir Rudi.


Bu Endang, sudah tidak mau lagi membahas soal Piana, pasrah dengan sifat keras kepala anaknya, di nasehati seperti apapun, Rudi tidak akan mempan. Jadi lebih baik diam saja, batin Bu Endang kecewa.


Tangan keriputnya mulai memindahkan nasi di dalam majigcom ke dalam wadah mangkuk kaca, lalu meletakkannya di atas meja yang disandingkan dengan bumbu Bali telur dan ikan balado, lalu mengambil tiga buah piring dan mengisinya dengan nasi putih.


"Ternyata, penghuni komplek ini, kebanyakan orang kaya ya, tadi pas aku berjalan ke toko, tidak ada satupun rumah yang sederhana, semuanya bagus dan mewah, bahkan mobil yang ada di garasi juga terlihat mobil mahal mahal, pasti penghuninya kebanyakan pengusaha."


tiba tiba Reni muncul dengan menenteng dua plastik kerupuk berukuran besar. Lalu menaruhnya kedalam toples dan di suguhkan di atas meja, sebagai teman makan malam.


"Iya, namanya juga perumahan elit. Pasti penghuninya orang orang kaya yang punya penghasilan besar. Makanya kamu kuliah yang bener, biar bisa bekerja di perusahan besar dan punya gaji tinggi. Dan nanti biar bisa beli rumah lebih bagus dari ini, juga biar hidupmu juga tidak di pandang remeh orang lain, jangan sia siakan pengorbanan Mas mu ini." sahut Rudi menatap dingin pada adiknya yang terpaku mendengarkan setiap kalimat kakaknya.


"Iya, Reni juga sudah berusaha kok, dan Reni janji akan lulus dengan nilai terbaik, Mas Rudi gak perlu hawatir, karena Reni juga ingin membahagiakan ibu dan membalas kebaikan mas Rudi." sahut Reni datar. Dan dibalas anggukan ringan oleh Rudi.


"Yasudah kita makan dulu, habisin, ibu sudah masak dengan sepenuh hati buat anak anak ibu." sahut Bu Endang lembut dan mulai menyendok kan sayur ke piring Rudi, lalu saling diam menikmati masing masing makanan yang ada di piringnya.


"Wah! Wah! enak banget ya, makan tidak menunggu aku, disini yang punya rumah siapa? kok aku semakin tidak dihargai." tiba tiba Piana muncul dengan gaya angkuhnya, Rudi hanya diam seolah tak perduli dengan apa yang Piana lontarkan, sedangkan Bu Endang terus meneruskan kegiatan makannya tanpa perduli dengan kehadiran menantunya. Pun dengan Reni, memilih masa bodoh, karena rumah yang kini ditempatinya, murni milik kakaknya, Piana saja yang Sok berkuasa, gak penting!


Piana geram, kehadirannya tidak dianggap sama sekali, bahkan Rudi tidak sedikitpun melihatnya, menawari ikut makan pun tidak.


"Awas saja kalian." Sungut Piana kesal dan menghentakkan kakinya, pergi begitu saja dan memasuki kamarnya lantas menutupnya dengan keras.


"Dasar perempuan minim adab." Rutuk Reni lirih, yang masih bisa terdengar oleh telinga Rudi dan ibunya yang memilih tak menanggapi, diam dan terus menghabiskan makanannya.

__ADS_1


__ADS_2