Tekanan Dari Mantan Suami

Tekanan Dari Mantan Suami
Vidio


__ADS_3

"Ada apa, Sayang?"


tiba tiba Dimas muncul di belakang istrinya, karena penasaran melihat istrinya yang bicara dengan satpam yang berjaga di rumahnya itu.


"Itu, tadi aku melihat ada wanita yang bicara sama pak Roni di balik pagar. Dan katanya pak Roni, dia nanyain kamu. Siapa dia Mas? apa kamu sedang menyembunyikan sesuatu dariku? Kamu selingkuh, Mas?" tuding Rihana yang langsung menangis begitu saja.


Dimas yang tidak tau apa apa langsung dibuat panik dengan sikap istrinya. "Oh wanita, unik memang."


"Hay sayang! aku gak tau, Rihana! dengarkan suamimu bicara dulu, jangan nangis gini, bingung akunya. Plis sayang, dengarkan penjelasan ku, oke?


Stop nangisnya, kita bicarakan baik baik, aku mau tanya pak Roni dulu." Dimas dibuat kalang kabut dengan sikap istrinya yang tak biasa, mungkin efek hamil jadi emosinya jadi tidak stabil. Dimas berusaha memahami dan memberi pengertian agar Rihana tidak merasa tertekan dengan cemburunya yang tidak beralasan.


"Pak, Rudi! tolong jelaskan, sebenarnya ada apa ini?


Wanita? Wanita siapa?" Dimas beralih menatap pak Rudi yang nampak menganggukkan kepalanya, terlihat raut wajahnya yang berubah cemas, karena Rihana yang tiba tiba menangis setelah Dimas menghampiri, padahal saat bicara berdua, Rihana terlihat sangat tenang dan sedikitpun tidak terlihat cemburu.


"Itu, pak! Tadi ada perempuan muda yang tiba tiba berhenti, dan bertanya sama saya menanyakan nama bapak.


'Apa benar itu namanya pak Dimas?'


begitu, sambil menunjuk ke arah bapak.


Terus saya jawab, "Iya benar, itu pak Dimas bersama istri dan anaknya. Lalu perempuan muda itu mengangguk dan mengucapkan terimakasih terus pergi ke arah sana, sepertinya berbelok di rumah itu, tetangga baru kayaknya." Pak Roni berusaha menjelaskan semampunya dan berkata jujur tanpa mengurangi dan melebihkan.


"Mungkin dia merasa kenal dengan saya, ciri cirinya bapak hafal? siapa tau saya juga mengenal dia, biar bisa menjelaskan pada istri, agar tidak terjadi salah paham." balas Dimas dengan menarik nafasnya dalam.

__ADS_1


"Dia masih muda pak, masih bocah, kayaknya anak kuliahan, cantik, sopan, pakai jilbab, tingginya kira kira seratus enam puluhan, kulitnya putih." pak Roni mengatakan apa yang dilihat dari perempuan yang baru saja bertanya pada dirinya.


"Bingung pak, saya juga gak merasa kenal, barangkali nanti kalau pak Roni melihatnya lagi, tolong bapak panggil gadis itu kesini ya, saya jadi penasaran, dan agar istri tidak curiga kalau saya selingkuh, bisa pusing saya kalau dia terus ngambek." Dimas mengusap wajahnya kasar, bingung bagaimana menjelaskan pada Rihana yang sedang di bakar cemburu, padahal masalahnya saja belum jelas.


"Kan benar, kamu mulai ada main dengan perempuan lain, Mas!


Jahat kamu, Mas! Istrimu lagi hamil anakmu, kamu malah cari perempuan yang lebih muda di belakangku." Tiba-tiba Rihana menyahut, semakin menangis histeris dengan pikiran buruknya, membuat Alma berlari mendekati ibunya dan langsung memeluknya.


Sedangkan Dimas makin stres gak tau harus berbuat apa.


"Papa, bunda kenapa?" tanya Alma dengan raut kebingungan karena bundanya menangis.


"Bunda lagi salah paham saja sayang, papa juga bingung harus bagaimana menjelaskan sama bunda kamu. Tolong papa ya nak, bantu papa buat bunda biar gak nangis lagi, kasihan adik bayi di perutnya bunda, kalau bunda nangis terus, pasti dede nya juga ikut nangis di dalam." Dimas berusaha memberi pengertian pada Alma sesuai dengan bahasa anak usianya, Alma anak yang cerdas, sehingga mudah paham dan langsung mengerti apa yang terjadi.


"Bund, yuk masuk kedalam, kita ngobrol di dalam, jangan nangis lagi, Alma sedih lihat bunda nangis." Alma menggandeng bunda nya masuk ke dalam rumah, sedangkan Dimas meminta pak Roni untuk mencari perempuan muda yang bikin Rihana cemburu.


Dan kalau pak Roni bisa membawa perempuan itu kesini, saya akan memberi bonus satu juta ke bapak, sekarang cepat Carikan perempuan itu dan bawa dia kemari, biar pos yang jaga pak Bagus." perintah Dimas dengan wajah frustasi, hal sepele akan jadi besar kalau sudah sampai di telinga sang ratu.


Tanpa menunggu lagi, pak Roni langsung bertindak cepat mencari keberadaan perempuan misterius yang bikin majikannya kalang kabut karena kecemburuan istri tercinta. Apalagi membayangkan bonus sebesar satu juta hanya untuk mencari satu wanita, membuat pak Roni lebih semangat dengan misinya.


"Lebih baik pak Dimas masuk ke dalam, dan bersikap tenang, karena memang bapak tidak melakukan apa yang ibu tuduhkan, biar saya yang menunggu pak Roni disini, semoga pak Roni bisa segera menemukan perempuan itu, agar salah paham ini tidak berlanjut, yang sabar ya pak! Perempuan hamil memang sulit ditebak emosinya. Maklumi saja, anggap saja ini ujian kita sebagai laki laki " ungkap pak Bagus panjang lebar dan membuat Dimas sedikit tenang dan membenarkan apa yang di ucapkan sopir pribadinya itu, pak Bagus sudah bertahun tahun mengabdi di keluarga Dimas, jadi hubungan mereka begitu dekat, seperti keluarga.


"Yasudah, saya kedalam dulu ya pak, semoga pak Roni segera kembali dan membawa kabar baik, Aamiin." sahut Dimas dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah menemui Rihana yang masih terisak.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️

__ADS_1


Di lain tempat, Reni terkejut melihat ibunya menangis sendirian diruang tamu, dipikirannya hanya satu, Piana. "Pasti ini ulah perempuan ular itu." batin Reni emosi.


"Bu, kenapa ibu nangis? ada apa? katakan sama Reni? Pasti perempuan itu yang bikin ibu seperti ini, iya kan?" todong Reni dengan pertanyaan beruntun pada ibunya yang masih terisak.


"Kurang ajar! akan aku beri pelajaran dia, berani beraninya bikin ibu nangis!" Reni begitu geram dan ingin melangkah menemui Piana, tapi dengan cepat bu Endang mencegahnya.


"Jangan, Ren! tidak perlu. Kita tunggu mas mu pulang saja, karena mas mu harus tau kekakuan istri gilanya itu." Bu Endang mencegah Reni berbuat bar bar saat ini, karena bisa saja Piana akan mengelak dan kabur, Bu Endang tidak mau itu terjadi, karena Bu Endang ingin, anak lelakinya saja yang memberi Piana pelajaran, dan berharap Rudi sadar dengan kesalahannya.


"Maksud ibu gimana? Reni gak paham!" sahut Reni dengan wajah mengerut.


"Kamu lihat saja Vidio di ponsel ibu, kamu akan tau sendiri dan paham maksud ibumu ini, Nak!


wanita itu benar benar murahan dan menjijikkan, ibu mengambil Vidio itu diam diam, karena penasaran apa yang dia lakukan seharian di kamarnya, tidak keluar sama sekali. Ternyata, astagfirullah!"


Bu Endang kembali terisak, air matanya kembali turun, sesak dengan pilihan anaknya.


Reni penasaran, dan langsung mengambil ponsel yang diletakkan di meja, lalu membukanya dengan cepat, Nafasnya langsung sesak, Reni membekap mulutnya tak percaya dengan apa yang dilihatnya, matanya memerah menahan geram, emosinya benar benar di uji kali ini.


"Dasar perempuan biadab, Mas Rudi harus tau ini, Bu! Kita harus memperlihatkan bukti Vidio ini. Ini tidak boleh dibiarkan. Benar benar keterlaluan!" Reni terus mengumpat dengan amarah yang sudah di ubun-ubun.


"Iya, ibu tau. Makanya ibu melarang kamu bertindak saat ini, kita tunggu mas mu pulang. Simpan baik baik Vidio itu, kita bersikap biasa saja, jangan sampai dia curiga, karena perempuan seperti dia bisa melakukan apa saja demi menyelamatkan dirinya."


"Iya, Bu! Reni paham."


Bisu, Reni dan ibunya kembali larut dalam keheningan, berada dalam pikiran masing masing.

__ADS_1


Tak menyangka perempuan yang dipilih Rudi serendah itu, lebih rendah dari yang mereka pikirkan.


__ADS_2