Tekanan Dari Mantan Suami

Tekanan Dari Mantan Suami
Aksi pembalasan Piana untuk Rudi


__ADS_3

Sedang di lain tempat, Piana baru saja keluar dari perkantoran. Niatnya untuk melaporkan Rudi pada atasannya sudah terlaksana. Dengan membawa bukti bukti hubungan mereka yang nikah siri, bukti perselingkuhan Rudi, bukti masalah Rudi dengan istri pertamanya.


Atasannya berjanji akan memberi sanksi terhadap Rudi atas laporan Piana, Dan Rudi baru di panggil besok saat masuk kantor, karena hari ini Rudi ijin tidak masuk karena ada urusan keluarga.


"Rasain kamu, Mas!


Makanya jangan main main denganku, kamu membuang aku dengan cara yang menyakitkan seolah aku ini sampah yang tak berguna, setelah tak kau butuhkan kau lempar begitu saja. Aku akan membuatmu hancur dengan kehilangan pekerjaan yang selama ini kamu banggakan."


Piana bergumam lirih dengan senyuman licik terukir di bibirnya, membuka kaca mata hitam miliknya lalu mengusap sisa air mata buayanya yang tadi digunakan untuk meyakinkan atasan Rudi.


Piana berakting seolah dia adalah korban yang teraniaya oleh Rudi, dengan air mata yang mengalir deras, khas wanita tersakiti.


Piana berjalan menuju taksi yang sudah sedari tadi menunggunya.


"Jalan, Pak! kembali ke rumah yang tadi ya."


Piana memberi perintah pada sopir yang sudah menunggu di belakang kemudinya.


"Baik mbak!" lantas sang sopir melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, jalanan cukup rame kalau siang, dan Piana terlihat duduk manis menikmati keberhasilannya . Angannya sudah melayang, membayangkan Rudi dipecat tidak hormat dari kantornya. "Menyenangkan." gumamnya senang.


"Pak! Tolong berhenti di depan sebentar ya, saya mau belanja dulu, sebentar kok gak lama."


Piana meminta sopir menghentikan mobilnya di depan supermarket. Dengan langkah santai Piana keluar dari mobil dan memasuki supermarket.


Membeli beberapa makanan siap saji, buah dan cemilan. juga membeli ayam, daging, telor juga bermacam sayur.


Setelah selesai dan cukup dengan apa yang dia butuhkan, Piana bejalan menuju kasir, memilih antrian yang sepi biar cepat di layani.

__ADS_1


Tak memerlukan waktu lama Piana menunggu giliran, karena hanya menunggu dua orang yang antri di depannya. Setelah membayar, Piana langsung kembali ke dalam taksi. Memberikan minuman dingin sama pak sopir yang sudah rela menunggunya.


"Terimakasih, mbak!" ucap sopir dengan sopan dan kembali melanjutkan perjalanan.


Perumahan yang terletak di pinggir kota, rumah minimalis dua lantai, tidak mewah tapi cukup nyaman dan terlihat sangat bersih. Rumah milik Pak Seno, duda cerai mati dan memiliki tiga orang anak yang sudah dewasa. Laki laki yang saat ini menampung Piana. Pria berumur empat puluh sembilan tahun itu, tertarik dengan kemolekan tubuh Piana dan memintanya untuk tinggal dengannya dirumah yang hanya ditempati olehnya sendiri. Sedangkan anak anaknya berada dirumah utama, lebih tepatnya rumah istrinya.


Pak Seno seorang pengusaha rumah makan yang memiliki tiga cabang yang ada di kota berbeda, dan usahanya juga cukup sukses, sehingga Piana tanpa ragu mau memenuhi permintaan laki laki itu.


Dengan Seno, Piana merubah sikapnya, tidak malas dan penurut. Agar Seno semakin betah dan menjadikan dia ratu. Benar saja, baru dua hari hidup serumah dengan Seno, Piana sudah mengantongi uang berjuta juta, karena Seno sangat loyal padanya.


"Sudah sampai, mbak!" suara sopir menghentikan lamunan Piana.


"Oh iya pak, berapa semuanya?" sahut Piana.


"Dua ratus tiga puluh delapan ribu, mbak!" sahut sang sopir.


Piana mengeluarkan uang lembaran merah sebanyak tiga lembar dari dompetnya, dan menyerahkannya pada sopir. "Kembaliannya ambil buat bapak saja, terimakasih!"


Rumah terlihat masih sepi, karena tadi Seno berpamitan akan mengunjungi rumah makannya dan akan kembali sore hari. Piana melenggang memasuki rumah dan memasukan sebagian belanjaannya ke dalam lemari pendingin. Mengambil satu buah apel dan minuman dingin.


"Cukup untuk mengganjal perut, aku harus tetap menjaga tubuhku agar tetap terlihat seksi." gumam Piana bangga menatap dirinya dari pantulan kaca yang ada di depan kamar mandi yang tak jauh dari dapur.


Piana mengunci pintunya rapat dan memilih tidur setelah menghabiskan satu buah apel yang tadi diambilnya dari kulkas.


"Aku akan tetap bisa menikmati hidupku, sepertinya aku lebih nyaman dengan Mas Seno, Tinimbang dengan tua Bangka Rudi yang kejam itu. Sudah perhitungan, kasar lagi. Beda dengan Seno, lebih kalem dan tidak banyak bicara tapi sangat loyal. Lagian aku cantik, masih muda. Siapa yang bisa menolak dengan pesonaku ini. Kamu salah besar Rudi. Tunggu saja pembalasanku selanjutnya. Untuk saat ini cukup dulu, aku yakin kamu akan dipecat dan kamu pasti kalang kabut, karena satu satunya sumber uang kamu hanya itu. Selamat menikmati hidup sengsara dengan keluarga kamu yang menyebalkan itu." hahahaaa, Piana tertawa senang, membayangkan hidup Rudi sengsara Tanpa punya pekerjaan, belum lagi istrinya sebentar lagi akan menceraikannya. "Lengkap sudah penderitaan laki laki itu." tawa Piana penuh kemenangan.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️

__ADS_1


Sedangkan dirumah Rudi, Bu Endang sedang sendirian, menunggu anak anaknya pulang.


Setelah selesai memasak, Bu Endang memilih duduk di teras depan sambil minum teh hangat.


Tidak ada Piana, membuat rumah sepi dan Bu Endang merasa nyaman, hatinya tidak lagi penuh kebencian karena ulah Piana yang selalu mengundang emosi.


Terlihat ada ojek berhenti tepat didepan rumah, nampak Beni turun dan melepas helmnya.


"Itu kan Beni, kok naik ojek. Emang kemana Rudi dan mobilnya?" batin Bu Endang dengan mata tak beralih dari anaknya yang berjalan santai menuju ke arahnya.


"Asalamualaikum, Bu." Beni menyalami tangan ibunya, dan ikut duduk di kursi samping Bu Endang.


"Waalaikumsallm, Kok naik ojek, kemana Mas mu, Le?" sapa Bu Endang mengawali obrolan dengan anak lelakinya.


"Tadi mobilnya dibawa mas Rudi, Bu. Katanya ada urusan mendadak. Jadi ya Beni pulang naik ojek saja, lagian urusan dengan teman Beni juga sudah beres.


Tadi Beni sama Mas Rudi jadi mengontrak di tempat milik temannya Beni yang ada di sekitar kampus. Doain ya Bu. Insya Alloh besok Beni akan mulai bersih bersih dan mengecet ulang rukonya, sesuai dengan warna yang Beni inginkan."


Beni menjelaskan pada ibunya apa yang hari ini sudah dikerjakan, kecuali dengan masalah Rudi dengan keluarganya, istri dan anak anaknya. Beni memilih diam, karena Rudi melarangnya untuk bicara dengan ibunya. Selain itu Beni juga gak mau ibunya banyak pikiran dan sedih memikirkan masalah rumah tangga kakaknya yang rumit itu.


"Yasudah, yuk masuk kedalam, kamu belum makan kan? Makan dulu, ibu sudah memasak makanan kesukaan kalian. Sebentar lagi, Reni pasti juga pulang."


Bu Endang berdiri dan mengajak anak laki-lakinya masuk ke dalam rumah.


"Beni bersih bersih dulu ya Bu, sholat, terus baru makan, sambil nunggu Reni pulang. lebih enak makan bareng bareng."


"Iya, Le! biar ibu siapkan dulu makanannya, tinggal taruh di meja saja. Kamu mau dibuatkan kopi atau es teh buat minumnya? biar ibu buatkan sekalian." sahut Bu Endang penuh perhatian. Beni tersenyum dan mengecup tangan ibunya manja.

__ADS_1


"Air putih saja, ibu. Ibu jangan capek capek! Beni sudah besar, nanti minumnya bisa buat sendiri ya!" balas Beni sopan dan begitu sayang pada ibunya.


Bu Endang mengusap kepala anaknya lembut, bersyukur masih ada anaknya yang memiliki hati baik seperti Beni dan Reni, tidak seperti Rudi yang sangat keras dan susah di atur.


__ADS_2