
"Ayah, itu bukannya Tante Piana kan?" saat aku sudah masuk ke dalam mobil, tanpa kuduga Alma melontarkan pertanyaan yang tidak aku inginkan sama sekali.
"Iya nak, tapi lebih baik tidak usah kita bahas dia. Ayah sangat tidak ingin membicarakannya, Hidup ayah sempat hancur karena wanita itu. Alma mengerti maksud ayah kan sayang?"
"Iya ayah, ayah yang sabar ya. Insya Alloh semua akan baik baik saja."
"Terimakasih nak, selama Alma terus bersama ayah, insyaallah ayah juga akan baik baik saja. Saat ini kebahagiaan ayah hanya ada pada anak cantik ayah, yaitu kamu sayang." aku pun mengusap pucuk kepala anakku, dan nampak Alma tersenyum manis, cantik sekali, senyumnya mengingatkan aku dengan senyuman Rihana. Ah rasanya nyeri sekali, pasti saat ini mereka sedang bermesraan dirumah. Sulit sekali membuang rasa yang semakin tumbuh subur disaat aku sudah tak mungkin lagi memilikinya. Semoga iman ini kuat sehingga tidak lagi melakukan hal hal bodoh seperti dulu.
☘️☘️☘️☘️
Pagi-pagi sekali anak semata wayang ku sudah heboh dengan Bi Darsih di dapur. Iya, sejak aku berpisah dengan Piana dan mengetahui kebusukannya, tak ingin lagi mempertahankan rumah yang kami tempati dulu, karena rumah itu menyimpan kenangan buruk yang hampir membuatku gila. Sekarang aku menempati rumahku yang lain, di salah satu perumahan elit yang ada di kawasan pondok terkenal di Kediri. Dan jika Piana mencari ku, dia tidak akan bisa menemukan, bahkan jika dia tau pun, tidak akan bisa masuk ke sini dengan mudah, karena penjagaan disini sangatlah ketat, setiap pengunjung yang ingin bertamu semua atas persetujuan si pemilik rumah dulu, jika pemilik rumah tidak mengijinkan maka scurity di pos depan sana tidak akan membiarkan orang tersebut memasuki area perumahan ini. Jadi aku akan aman dari gangguan perempuan itu.
Bi Darsih, adalah pembantu yang aku bayar untuk membantu membereskan rumah dan menyiapkan kebutuhanku, wanita baya berumur hampir lima puluh tahun itu begitu cekatan dan sangat sopan, kejujurannya yang membuatku percaya mempekerjakannya dirumah, apa lagi Bu Darsih juga butuh biaya untuk menyekolahkan anak laki laki satu satunya, yang saat ini sedang menempuh pendidikan di angkatan darat, Anak Bi Darsih juga memiliki kepribadian yang baik, dulu sebelum masuk di pendidikan TNI, Anggara juga tinggal disini dengan ibunya, dia sangat rajin, tiap pagi sebelum berangkat sekolah, pasti akan mencuci mobilku, dan memotong rumput di halaman. Aku suka dengan sikapnya yang rajin dan tak malu harus membantu ibunya bekerja. Itulah yang membuatku iklas membiayai pendidikannya masuk menjadi TNI, mereka sudah ku anggap seperti keluarga.
"Lagi bikin apa sih anak ayah? sepertinya heboh banget dari tadi." Alma langsung tersenyum menyambut kedatanganku di dapur, melihatnya belajar memasak dengan Bi Darsih. Alma memang anak yang rajin dan cerdas, Rihana sudah berhasil mendidiknya menjadi anak yang luar biasa.
__ADS_1
"Bikin nasi goreng spesial buat ayah sarapan. Dan Alma juga minta dibantuin bikin semur daging sama Bi Darsih, buat nanti di bawa bekal ke air terjun." aku ketawa melihat anakku yang sudah mulai tumbuh dewasa, meskipun dia tau, aku maupun Rihana mampu memberikan kehidupan mewah, dia lebih memilih mandiri dan sederhana. Semoga kelak dia mendapatkan jodoh yang Sholeh, Aamiin.
"Wah, pasti nanti ayah makannya bisa nambah nambah dong, masakan tuan putrinya ayah sudah pasti enak banget."
"Harus dihabiskan pokoknya, biar ayah sehat dan gemuk, biar makin cakep." Alma membawa satu piring nasi goreng ke hadapanku, dan untuk rasanya tidak perlu diragukan, karena tiap kali Alma menginap disini, pasti aku akan dibuatkan sarapan nasi goreng andalannya. Setelah menaruh nasi, putriku kembali dengan satu cangkir kopi hitam dan segelas air putih yang ditaruh di meja. "Selamat sarapan pagi ayah, jangan lupa, nanti kasih nilai masakan aku ya yah, kalau gak enak gak boleh bilang enak, bohong itu dosa, dan dibohongi itu menyakitkan." Aku pun ketawa dengan ekspresi lucu gadis kecilku.
pukul delapan kami berangkat pergi ke wisata air terjun Dolo yang ada di daerah pegunungan yang terletak di desa semen. jalannya cukup menanjak tapi seru dan yang pasti aku sangat bahagia, karena bisa menghabiskan waktu liburku dengan sang buah hati tercinta.
"Ayah, itu kan Tante Piana." Alma menunjuk ke arah wanita yang sedang berjalan menuju ke arah kami, ternyata perempuan itu masih belum mengerti dengan peringatan yang aku berikan kemarin, liburan yang tadinya membuatku merasa bahagia, berubah menjadi kesal dan hilang selera setelah kemunculan perempuan yang sama sekali tidak aku inginkan. Entah apa yang di inginkan perempuan itu.
"Oke ayah, lagian tadi sudah dapat foto banyak, bagus bagus lagi. Kita pulang saja, tapi nanti mampir beli buah buahan dulu ya, buat oleh oleh bunda."
"Iya sayang." Aku dan anakku bangkit, dan berniat meninggalkan tempat yang sebenarnya masih betah kami singgahi, tapi mau gimana lagi, ada pengganggu yang tiba tiba muncul, bikin sakit mata juga hati.
"Mau kemana Mas? kenapa kamu sepertinya menghindari ku? padahal, aku kesini kusus buat menemani kamu loh." tiba tiba Piana menghentikan langkah kami dengan ocehannya yang terdengar memalukan.
__ADS_1
"Maaf, aku tidak butuh. Sudah ada anakku yang lebih pantas menemaniku, permisi."
"Tunggu." cegah perempuan itu dengan tangannya yang mulai berani menyentuh tubuh ini.
"Lepaskan tanganmu Piana, aku tidak mau tubuhku terkena kuman darimu. Dan jangan pernah ikuti dan mengganggu aku lagi."
"Aku masih mencintaimu Mas, aku ingin kita kembali seperti dulu. Aku janji akan berubah dan nurut sama kamu."
"Sudah, hentikan omong kosong mu itu. Aku tidak pernah Sudi, berurusan dengan orang sepertimu lagi, cukup sekali saja aku menjadi orang bodoh, karena percaya dengan tipu muslihat mu."
"Mas, tolong dengarkan aku. Aku memang bersalah, tolong maafin aku. Aku masih sayang sama kamu."
"Sudahlah, simpan sandiwara mu itu, aku tidak perduli. Ada anakku, tolong jangan banyak drama kamu, atau aku akan hilang kendali."
Tanpa mau berdebat lagi, aku pun melanjutkan langkah dengan tangan yang menggandeng putri ku yang terlihat bingung dengan perdebatan ku dengan Piana. Tak seharusnya Alma melihat semua ini. Memalukan.
__ADS_1
"Mas! Mas! tunggu!" Piana mengejar langkah kami, tapi sayang, tak sedikitpun aku ingin perduli dan menghiraukannya. Tapi tiba-tiba terdengar suaranya yang mengaduh. "Ayah, Tante Piana jatuh tuh! yuk kita bantuin, kasihan!" Alma terlihat cemas, aku tau anakku adalah anak yang baik dan punya keperdulian yang tinggi pada sesama, tapi, aku tidak bodoh, hingga harus percaya dengan aktingnya itu. Aku sangat mengenal sifat Piana, jadi aku lebih memilih tidak menolongnya, toh sebentar lagi dia pasti bangun sendiri dan berjalan seperti biasa, karena memang jatuhnya hanya di buat buat. "Sudah, biarkan saja! Kita lihat saja, sebentar lagi, pasti Tante Piana bangun sendiri, karena jatuhnya pura-pura agar kita tolongin, percaya sama ayah." Alma terlihat mengangguk tapi dengan wajah yang masih menunjukkan rasa tak enak. Sifat anakku tak jauh dari ibunya, berhati lembut dan baik sama semua orang. Dan benar saja, Piana sudah kembali berdiri dan menghentak hentakkan kakinya, sambil matanya menatap tajam ke arah kami yang sudah ada di dalam mobil dan siap untuk tancap gas. "Benar kan yang ayah bilang, tuh Tante Piana baik baik saja." sambil menunjuk ke arah Piana yang mulai berjalan meninggalkan tempat entah mau menuju kemana.