
Alim menatap tak suka pada sosok yang berdiri dihadapannya, kembali rasa benci dan muak menyerang ruang dadanya, namun dengan sekuat tenaga Alim menahan emosinya.
Dia tidak mau Alma melihat amarahnya dan membuat anak itu kembali mengecap buruk sosoknya sebagai ayah.
"Alma, boleh ayah minta tolong nak?
Tolong Alma ke bunda dulu yaa, ada yang ingin ayah mau bicarakan, urusan orang dewasa,
nanti kalau urusan ayah sudah selesai, kita lanjutkan lagi yaa makannya."
Alim berkata lembut pada putrinya dan dibalas anggukan oleh Alma.
namun Alma masih menerka nerka siapa wanita yang menemui ayahnya itu, tanpa banyak bicara Alma menuruti perintah ayahnya dan pergi ke dapur menyusul bundanya.
"Ada perlu apa ibu mencariku sampai disini?
apa Piana yang menyuruh ibu untuk menemuiku?"
Alim memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, entahlah rasa bencinya pada Piana dan keluarganya membuat Alim enggan bersikap sopan, sekalipun itu pada orang tua Piana.
"Enak sekali kamu, sudah tau istri mendekam di penjara justru kamu senang senang disini bersama mantan istrimu dan anaknya, jangan kurang aja* kamu Alim.
Cabut tuntutanmu dan bebaskan anakku, dia istrimu.
Harusnya kamu lindungi dia bukan malah membuatnya menderita."
ucap Bu Dian bersungut sungut, wanita tambun itu bukannya tidak tau perbuatan anaknya, tapi karena memang sudah jadi wataknya yang selalu merasa benar dan selalu menutup mata dengan semua kesalahan, hingga tak pernah merasa salah dengan perbuatan anaknya.
"Bukankah ibu sudah tau bahkan bersekongkol dengan Piana untuk melarikan diri dengan membawa kabur hartaku?
tapi sayangnya niat jahat kalian dengan mudah aku patahkan, jadi wajar kalau saat ini Piana mendekam di sel penjara, itu balasan dari perbuatannya yang menjijikan."
Alim menimpali ucapan Bu Dian dengan tak kalah sinisnya.
"Kamu itu, jadi laki laki itu harusnya tau kewajibanmu, lagian anakku juga tidak salah sepenuhnya.
uangmu juga uang anakku, jadi apa yang kamu miliki ada hak piana juga.
jadi anakku bukan maling seperti yang kamu tuduhkan, paham kamu?"
Bu Dian bicara penuh dengan emosi sambil membawa Zadan cucunya dalam gendongan.
Alim tertawa mendengar penuturan Bu Dian.
"apa aku nggak salah dengar Bu?"
Ibu bicara hak dan kewajiban, apakah anak ibu sudah memenuhi kewajibannya sebagai istri dengan baik dan memberikan hakku sebagai suami dengan benar?
harusnya ibu lebih paham dengan kelakuan anak ibu dari pada aku suaminya, eeh mantan suaminya, karena aku sudah menjatuhkan talaq pada putrimu itu."
Alim bicara penuh dengan ejekan.
Dada Bu Dian naik turun menahan emosi yang sudah di ubun ubun.
"pokoknya aku nggak mau tau, sekarang juga bebaskan anakku, Piana hanya mengambil haknya, dia bukan pencuri, ingat anakku bukan pencuri."
"Terserah ibu, yang pasti keputusanku sudah bulat, aku tidak akan pernah mencabut laporanku, biar Piana menikmati dinginnya sel penjara, itu sudah jadi konsekuensi dari perbuatannya."
"Kalau begitu mulai hari ini aku dan Zadan akan tinggal dirumah mu, hidup kami adalah tanggung jawabmu, jadi semua kebutuhan kami harus kamu cukupi."
__ADS_1
Alim sontak langsung membulatkan mulutnya membentuk huruf O, tak habis pikir dengan sikap wanita tua ini, sikapnya sama nggak tau malunya seperti anaknya.
"Tidak.
Aku tidak akan ijinkan ibu tinggal di rumahku, apa lagi mengganggu ketenanganku, karena aku sudah tidak ada lagi kewajiban apapun dengan kalian." balas Alim geram.
"Kamu lupa, kalau ada Zadan, dia anakmu, Zadan berhak atas rumah dan juga nafkah darimu."
Bu Dian mencari cara agar tetap bertahan dengan keinginannya untuk menguasai harta mantan suami anaknya.
"Ibu lupa, atau memang sudah pikun?
Bukankah rumah itu sudah Piana gadaikan, jadi kalau aku tidak mau membayarnya,rumah itu akan di sita oleh bank, silahkan saja tempati kalau ibu mau, karena aku tidak ada niatan untuk membayar tagihannya.
lagipula aku juga sudah mendapatkan uangku kembali yang dicuri oleh putrimu, yaa meskipun aku rugi, tapi sudahlah aku masih punya satu rumah lagi yang memang aku sembunyikan dari kalian dan rumah itu sudah aku atas namakan Alma putriku, putri kandungku."
Alim bicara dengan pongahnya.
Di dalam hatinya merasa puas sudah membuat Bu Dian kaget bahkan hampir jantungan.
"Dasar laki laki tak punya hati kamu yaa, kamu sudah membuat anakku menderita, sekarang kamu ingin menelantarkan cucuku.
harusnya rumah itu jadi milik Zadan bukan Alma anak mantan istrimu."
Bu Dian terus saja bicara dengan nafas ngos ngosan seperti habis lari ratusan kilo meter.
emosinya sudah mencapai ubun ubun, wajahnya merah padam, matanya melotot.
Alim dengan santai menyikapi amarah wanita tua itu,.
"Terserah ibu bilang apa, keputusanku sudah tidak bisa diganggu gugat, dan untuk Zadan, aku akan melakukan test DNA, jika dia benar anakku, aku akan merawatnya sendiri dan menjamin masa depannya, tapi kalau dia terbukti bukan anakku, maka aku akan lepas tanggung jawab atasnya."
kepanikan mulai membuatnya gemetar, Bu Dian paham betul kalau Zadan bukan anak dari Alim tapi anak dari selingkuhan piana.
Alim hanya dijadikan kambing hitam untuk menutupi kehamilan Piana, karena Alim lebih kaya dibanding Ardi selingkuhan Piana.
"Kenapa Bu?
ibu kenapa ketakutan begitu?
Apa ibu sudah tau jawabannya?"
Alim menatap penuh selidik dengan perubahan dari ekspresi mantan mertuanya itu, pucat dan keringat dingin mulai membasahi tubuhnya.
Bu Dian berusaha mengendalikan dirinya dengan memasang senyum masam.
"Enak saja kamu ngomong.
Zadan anakmu kenapa harus melakukan test DNA?
Kamu sudah keterlaluan Alim, kamu sudah benar benar merendahkan anakku."
Bu Dian mencoba menghalangi niat alim.
"Bukan aku yang merendahkan anakmu, tapi anakmu sendirilah yang sudah merendahkan dirinya sendiri, wajar kan aku curiga, toh dengan mata kepalaku sendiri aku melihatnya sedang selingkuh dengan pria lain tanpa rasa bersalah sedikitpun.
jadi untuk itu aku harus memastikan jati diri Zadan sebenarnya, agar aku tidak menyesal nantinya.
berikan Zadan padaku, sekarang juga aku akan melakukan test itu.
__ADS_1
Alim meraih tubuh Zadan dari gendongan neneknya.
dengan sekuat tenaga Bu Dian menghalangi Alim.
Bu Dian nggak ingin Alim mengetahui kebenarannya,bisa bisa dia tidak mendapatkan sumber uangnya lagi, saat ini hanya Zadan satu satunya alat untuk menguras uang Alim.
Sedari tadi Rihana hanya berdiri melihat cek Cok mantan suami dengan mantan mertuanya, dalam hati Rihana hanya mampu ber istighfar dan sesekali mengelus dadanya tak percaya,
ada rasa kasihan untuk Alim.
mungkin inilah karma yang harus dia alami.
"semoga dengan apa yang menimpanya, Mas Alim bisa menjadi orang yang lebih baik lagi."
batin Rihana bergumam, sedang budhe tin terus aja menyenggol nyenggol tubuh Rihana dengan sikunya.
wanita saparuh baya itu terus mencebik melihat perdebatan Alim, tak jarang mulutnya sekali mengucap kata syukurin, rasain, kapok, itulah budhe tin yang sudah gemas dengan sikap semena mena Alim selama ini kepada Rihana.
Sudah tak tahan lagi melihat gaduh dirumahnya, Rihana datang untuk menengahi.
Rihana nggak mau kalau sampai kegaduhan yang dibuat mereka mengganggu kenyamanan tetangganya.
"Sudah, sudah hentikan, ini rumahku, jangan buat keributan disini
aku nggak mau anakku melihat pertengkaran kalian, selesaikan masalah kalian diluar, jangan dirumahku."
Rihana berkata tegas sambil menatap tajam bergantian ke arah Alim dan Bu Dian.
Alim langsung bergeming dan menatap Rihana iba memohon pengertian, sedangkan Bu Dian mencebik menatap Rihana penuh kebencian,
"akhirnya kamu keluar juga, sudah puas kamu mengambil kembali Alim dari hidup anakku hah?"
Rihana tercengang sambil melotot tak percaya dengan ucapan wanita tambun itu.
"Ibu bicara apa?
maksud ibu gimana ya?
Apa hubunganku dengan masalah kalian?"
Rihana mulai gregetan dengan situasi yang membuatnya makin pusing.
"Heleh jangan pura pura, kamu seneng kan sekarang Alim kembali lagi sama kamu,
kamu sudah memakai jasa dukun mana?
kok peletmu ampuh sekali,.
cantikkan anakku kemana mana, lha kamu penampilan aja sudah kayak orang udik, baju kedodoran gitu, jilbab sudah kayak taplak meja.'
mata alim sudah sakit kalau milih kamu."
dengan angkuhnya Bu Dian menghina Rihana.
Rihana hanya tersenyum masam dengan tingkah mantan mertua dari mantan suaminya itu,
"mas tolong jangan buat keributan di rumahku.
selesaikan masalahmu diluar, jangan bikin Alma takut, dan katakan pada ibumu ini, aku tidak ada kaitan apapun dengan masalah mu,dan bilang sama ibu ini juga,kalau aku akan menikah dengan laki laki yang jauh lebih baik darimu,Rihana bicara penuh dengan penekanan sambil meririk ke arah bu Dian."
__ADS_1
Jadi....