Tekanan Dari Mantan Suami

Tekanan Dari Mantan Suami
Ayura putri Seno


__ADS_3

Piana merasa hidupnya selalu beruntung, karena selalu bertemu dengan pria pria kaya, meskipun pada akhirnya dia akan kembali terbuang dan selalu berakhir dengan masalah. Namun seolah Piana tidak pernah jera. Pindah dari lelaki satu ke lelaki yang lain. Asal kaya dan bisa memenuhi keinginannya, tua pun tak jadi soal.


Seperti saat ini, Piana rela jadi simpanan Pak Seno, mereka tinggal dalam satu rumah tapi tidak ada ikatan apapun. Justru Piana seperti sangat menikmati jalan hidupnya itu.


Setelah pulang dari kantor dimana Rudi bekerja, Piana pergi berbelanja dan melanjutkan langkah kembali pulang ke rumah Seno, pria selingkuhannya. Meskipun duda, Seno memiliki tiga orang anak yang sudah dewasa, anak pertamanya laki laki dan sudah menikah, anak keduanya perempuan masih kuliah semester akhir, dan anak ketiganya juga perempuan masih kelas tiga SMU.


Selama tinggal beberapa hari dirumahnya Seno, Piana merasa sudah seperti nyonya rumah, melakukan apa saja dengan bebas, seperti rumahnya sendiri. Karena memang Seno mengijinkan Piana melakukan apapun yang Piana suka. Asal pas Seno menginginkan Piana untuk melayaninya, Piana harus siap dan patuh kapanpun Seno mau.


Buat Piana itu bukan hal yang sulit karena memang dia sudah terbiasa melakukannya. Demi uang Piana rela melakukan apapun, sekalipun itu harus menjual harga dirinya.


Saat Piana sedang asik asiknya nonton drakor dengan menikmati cemilan, tiba tiba Ayura, anak kedua Seno datang.


"Siapa kamu? Kenapa kamu bisa ada dirumah papaku?" tegur Ayura dengan wajah sinis.


Piana kaget dan langsung menoleh, menatap gadis usia dua puluhan dan langsung paham siapa gadis itu. Dengan tenang Piana menjawab pertanyaan Ayura yang membuat Ayura langsung dilanda kesal.


"Aku calon istri papa kamu, juga calon ibu buat kamu, jadi bicaralah yang sopan. Kenalkan, namaku Piana, calon istri papa kamu!" dengan percaya diri Piana menyebut dirinya calon istrinya Seno, padahal Seno tidak pernah berniat untuk menikahi dirinya, Seno hanya sekedar ingin bermain main dengan Piana untuk memenuhi hasrat biologisnya.


"Masa?


Gak percaya tuh, papa selalu bilang sama kami kalau mau memutuskan sesuatu, jadi gak percaya aja sih, kalau kamu akan jadi istrinya papa." balas Ayura dengan nada meledek, dan membuat Piana terbakar emosi.

__ADS_1


"Kalau aku tidak ada hubungan sama papa kamu, buat apa aku ada di sini. Dan gak mungkin kan, aku bisa masuk kalau tidak memiliki akses?" sahut Piana dengan percaya diri dan dengan muka menahan kesal. Kalau saja Ayura bukan anak dari Seno, pasti Piana akan memberinya pelajaran karena sudah berani merendahkan dirinya.


"Terserah deh, paling juga kalau papa sudah bosan, kamu juga ditendang, seperti perempuan perempuan sebelumnya. Bay!" Ayura melenggang pergi masuk ke salah satu kamar yang ada di lantai bawah, kamar yang selalu jadi tempatnya beristirahat saat berkunjung kerumah papa nya, dan merebahkan dirinya disana, tak perduli dengan Piana yang nampak gusar dengan tingkahnya.


"Dasar bocah, mulutnya gak bisa di jaga apa?


Tapi, apa benar yang di katakan anak itu, kalau benar, aku akan kemana lagi, masak kembali kerja di karaoke itu lagi, males banget." Piana jadi kepikiran dengan apa yang diucapkan Ayura, dan akal licik Piana langsung bekerja, mencari ide agar tetap bisa tinggal bersama Rudi dan menikmati hidup enak tanpa harus susah payah bekerja. Piana akan mencari cara agar Rudi mau menikahinya.


Sepanjang hari, Piana merasa gelisah. Cemas kalau Seno akan mengusirnya seperti yang Rudi lakukan beberapa hari yang lalu.


Piana memutuskan untuk menarik perhatian Seno, dengan cara membuat Seno nyaman dan kagum dengannya. Piana berusaha tampil cantik dan sangat rajin melayani semua kebutuhan Seno, layaknya istri yang sangat perduli dengan suaminya.


Sebelum Seno pulang, Piana memasak makanan yang enak enak untuk menarik hati Seno.


"Pa, baru pulang? Yura sudah nungguin dari tadi." Ayura menyambut papanya dengan senyum mengembang, dia sudah bersiap akan pergi lagi, niatnya datang hanya ingin meminta uang jatah dari papa nya.


"Iya, papa tadi ke rumah makan yang ada di ujung, dan disana ternyata sedang ramai, jadi ya papa bantuin sekalian. Kenapa? Mau minta uang jajan?" balas Seno yang langsung paham dengan maksud kedatangan anaknya.


"itu papa tau." Yura tersenyum genit dan memeluk pinggang papanya manja. Membuat Piana merasa muak dan iri dengan kedekatan anak dan bapak yang ada di hadapannya.


"Mau cash apa transfer nih uangnya?" sambung Seno dengan mengusap pucuk kepala anak gadisnya.

__ADS_1


"Cash saja, Pa. Mau buat bensin juga beli kado, ada temen yang ulang tahun. Kalau transfer males ke ATM nya." sahut Ayura jujur dan masih bersikap manja pada papanya. Meskipun papa dan mama nya sudah cerai, tapi Ayura dan saudaranya tidak pernah kekurangan kasih sayang, mereka bisa bebas datang kapan aja menemui orang tuanya, mau ikut papa boleh, mau sana mama juga boleh. Dan sama sama memberikan limpahan materi.


Seno mengeluarkan dompet dan mengambil uang pecahan seratus ribuan lima belas lembar dan diserahkan pada anak gadisnya.


"Ini papa kasih satu juta lima ratus cash nya, nanti akan papa transfer lagi ya, papa gak punya banyak uang cash. Kalau pulang jangan malam malam. Nanti di omelin sama mama."


Ayura tertawa dengan ucapan papanya, meskipun berpisah mama dan papanya sama sama masih perhatian dan saling memahami. Entah masalah apa yang menyebabkan mereka berpisah, karena tidak pernah ada yang tau kalau mereka bertengkar.


"Yasudah, Ayura pamit ya Pa, terimakasih papa!" Ayura mencium takzim punggung tangan papanya dan berlari keluar menuju mobilnya.


"Pa, saranku, kalau mau nikah cari perempuan baik baik, bukan mantan penghibur di karaoke. Love you Lala!" Sebelum memasuki mobilnya, kembali Ayura menoleh dan bicara yang membuat Piana emosi karena merasa tersindir dengan ucapan Azura.


"Mas, anakmu kenapa sih, kayak gak suka gitu sama aku?" Piana memanyunkan bibirnya, pura pura marah dengan ucapan Ayura.


"Sudah, abaikan saja. Dia memang gitu anaknya." Sahut Seno cuek dan kembali melangkah memasuki rumahnya.


"Aku sudah masak buat kamu Mas, mau mandi apa makan dulu?" Piana berusaha menjadi perempuan baik yang penuh perhatian.


"Mandi dulu saja, sudah lengket semua badanku." Sahut Seno biasa saja, dan langsung menuju kamarnya dan segera mandi untuk membersihkan diri dari keringat yang terasa melekat di kulitnya.


Piana mematung, hatinya terus dilanda cemas. Apalagi melihat sikap Seno yang cuek dengan dirinya, Seno hanya akan manis kalau minta dilayani dalam urusan ranjang saja.

__ADS_1


"Sepertinya aku harus usaha lebih keras lagi untuk mendapatkan simpatinya pria tua itu. Kalau saja aku banyak uang, gak akan mau aku jadi babu dirumah ini." Piana merutuki dirinya sendiri.


__ADS_2