
Alim tidak ingin terlalu larut dengan apa yang saat ini dialaminya, ia harus kembali bangkit dan bekerja keras untuk mengembalikan usahanya,
Alim teringat dengan uang simpanannya yang disembunyikan di almari kamar sebelah,
alim beranjak menuju kamar sebelah dan segera mengambil kunci yang di sembunyikan di dalam gelas tak jauh dari pot bunga hias di atas nakas, dengan langkah pasti Alim membuka lemari dan langsung tertuju pada laci yang ada didalamnya.
langsung dibukanya laci tersebut dengan anak kunci yang ada dalam genggaman, Alim shock mendapati isi dalam laci tersebut, tumpukkan uang berwarna merah dan satu kotak perhiasan mantan istrinya sudah tidak ada ditempatnya, Alim pun teringat dengan sertifikat rumah yang ia letakkan satu tempat dengan uang dan perhiasan.
Alim mengambil map dan mengecek isi nya, namun hasilnya kosong, sertifikat rumahnya pun juga sudah lenyap, Alim berteriak memanggil pembantunya dengan nafas naik turun menahan emosi,
biiiiiii biiiiiik.,
suara Alim menggelegar dan mengagetkan bik Inah yang sedang masak di dapur,
"iyaa tuan, ada apa, kenapa tuan teriak teriak begitu?"
Bik Inah datang tergopoh gopoh menghampiri majikannya yang saat sedang frustasi.
"bik siapa yang sudah masuk kamar ini, apa bik Inah melihat Piana masuk kamar ini?"
Cerca alim ke bik Inah pembantunya.
"Iiiyaaaa tuan, kemarin pas tuan tidak pulang, saya melihat nyonya masuk ke kamar ini dan lama baru keluar, ada apa tuan?"
bik Inah bertanya dengan wajah yang ketakutan.
"Uang dan perhiasan yang aku simpan disini hilang bik, apa bibik melihat Piana membawa sesuatu saat keluar dari kamar ini?"
"Bibik tidak begitu merhatiin tuan, karena waktu itu bibik sedang menyuapi Zadan, tapi pas bibi perhatikan nyonya senyum senyum waktu keluar dari kamar ini, dan setelah itu pamitan mau keluar dan menitipkan Zadan ke bibik,
dan nyonya juga bilang kalau akan ngasih bibi uang bonus setelah urusannya selesai, yaa bibi nurut aja apa yang diperintahkan nyonya."
"Dan apa bibik benar dikasih uang bonus sama piana?"
__ADS_1
"Iya tuan kemarin bibi dikasih lima ratus ribu katanya itu uang bonus dari nyonya karena bibi sudah menjaga Zadan.
tapi kalau tuan mau ambil kembali uang itu, bibi masih simpan kok, biar bibi ambilkan."
bik Inah memutar tubuhnya dan bersegera pergi mengambil uangnya untuk diserahkan pada Alim,
bik Inah takut kalau ikut terbawa masalah karena perbuatan Piana, saat mau melangkah, Alim mencegahnya.
"Tidak perlu bik, uangnya ambil aja buat bibik, saya nggak akan bawa bawa bibik ke dalam masalah ini, Piana biar saya yang urus."
"Beneran tuan, tapi bibi takut."
bik Inah menunduk dengan tubuh yang gemetar, wanita tua itu tak pernah melakukan kesalahan selama kerja dengan Alim, jadi Alim tau betul watak dan sikap pembantunya.
"Iyaaa, bibi tenang aja Yaaa, ini urusanku dengan Piana, bibi lanjutkan saja pekerjaan bibik."
Bik Inah kembali ke dapur untuk menyelesaikan masakannya dan sementara itu Alim semakin di buat murka oleh kelakuan Piana.
"aku akan mencarimu dan akan ku buat kamu menyesal, dasar wanita ular, sudah selingkuh dan sekarang berani beraninya mencuri dirumahku sendiri."
tidak bisa dihubungi sama sekali, akhirnya Alim berinisiatif menghubungi orang tua Piana.
namun hasilnya juga nihil, nomer bapak ataupun ibunya juga tidak ada yang bisa dihubungi semua tidak aktif, Alim mengacak rambutnya frustasi.
Piana memang sudah mengabari orang tuanya untuk mengganti nomer ponselnya agar Alim tidak bisa menghubungi, dan saat ini orang tua Piana juga sudah menawarkan rumah mereka untuk dijual, mereka punya rencana untuk pindah dari kampung dan menyusul piana ke Madiun, agar Alim kehilangan jejak, selama rumah belum terjual Piana dan kelurganya tinggal dirumah kontrakan sementara waktu, sambil menunggu rumahnya laku,rencananya mereka akan membeli rumah di Madiun dari hasil penjualan rumah yang ada dikampung.
"Aaah sialan, ternyata tidak hanya licik mereka juga penjahat yang tidak punya nurani, mereka bersekongkol untuk menghancurkan hidupku.
Apa yang harus kulakukan setelah ini, uang simpanan di bank hanya tinggal lima juta, uang yang aku sisihkan bertahun tahun di lemari semua ludes dibawa kabur wanita sialan itu, bahkan perhiasan Rihana yang ingin ku kembalikan pun juga sudah lenyap di bawanya, untuk sertifikat rumah ini,
apa yang Piana lakukan dengan sertifikat itu?
ada dua kemungkinan dia menjual rumah ini, atau menggadaikannya?
__ADS_1
tapi bukankah itu semua butuh tanda tanganku, lalu bagaimana dia melakukan tanpa persetujuanku, aaaach pasti wanita itu sudah memalsukan tanda tanganku, aku akan melaporkanmu biar hukum yang memprosesmu, aku akan minta tolong pada Kabin untuk membantuku mengurus ini semua."
Alim mulai mencari kontak sahabatnya itu, Kabin adalah sahabat sewaktu SMP dan mereka memilki hubungan baik sampai saat ini, Kabin yang saat ini memiliki jabatan yang lumayan tinggi di kepolisian, tentu ini bukan hal yang sulit baginya.
Setelah menemukan kontak sahabatnya itu, Alim segera memencet tombol hijau untuk mekakukan panggilan, baru dering ke tiga panggilan pun tersambung.
*Asalamualaikum bro, tumben nih *
sapaan salam dari kabin memulai percakapan mereka.
*Waalaikumsallm, ada yang ingin aku bicarakan dan aku juga ingin meminta bantuan mu, apa bisa nanti kita ketemu?*
Alim menimpali sapaan sahabatnya dengan serius.
*Sepertinya ada hal yang serius, apa kamu lagi ada masalah?*
*Tidak bisa dijelaskan lewat telepon, lebih baik kita ketemu di suatu tempat, kamu ada waktu?*
*Boleh, boleh, gimana kalau nanti habis magrib kita ketemu di cafe tempat biasa kita nongkrong?*
*Oke, thank you ya bro, sampai ketemu nanti.*
*Siap bro, Asalamualaikum*.
kabin menutup obrolon.
*Waalaikumsallm.*
Alim merasa sedikit lega, sahabatnya yang super sibuk mau meluangkan waktu untuknya.
"aku yakin kamu tidak akan bisa lari jauh Piana, dan akan aku pastikan kalau kamu akan membusuk di penjara, dan sepertinya nanti aku juga harus melakukan tes DNA pada Zadan, entah aku jadi ragu kalau dia anakku.
setelah melihat Piana berselingkuh dan dengan mudahnya merasa tidak bersalah, aku harus pastikan kejelasan anak itu, kalau memang dia anakku, aku akan tanggung jawab dan membesarkannya, tapi kalau dia bukan darah dagingku, aku akan lepas tanggung jawabku untuk menafkahi nya."
__ADS_1
"Kita lihat, siapa yang akan lebih menderita, aku atau kamu?
dasar wanita tidak tau berterima kasih."