Tekanan Dari Mantan Suami

Tekanan Dari Mantan Suami
TDMS 2 Bikin Ulah


__ADS_3

Sepanjang perjalanan, kami lebih banyak diam, Alma sibuk mengotak Atik hapenya, melihat lihat foto yang tadi berhasil aku jepret dengan bermacam gaya, sesekali dia akan menunjukkan mana saja foto yang dia sukai.


Tiga puluh lima menit perjalanan, akhirnya kita sampai dirumah Rihana, terlihat dia sedang duduk di teras rumahnya, perutnya belum terlihat besar, tapi perubahan dirinya sudah nampak, tubuh Rihana makin berisi, dan wajahnya semakin cerah, seandainya dia masih jadi istriku, pasti dia akan tersenyum menyambutku datang seperti ini, tapi kenyataanya dia sudah menjadi istri laki-laki lain, dan jangan kan untuk senyumnya, bahkan melihatku saja hampir tidak pernah Rihana lakukan. Wanita itu selalu menundukkan wajahnya saat bicara denganku. Wanita sebaik dia sudah aku abaikan demi perempuan seperti Piana. Ya Tuhan sampai kapan penyesalan ini akan terus menghinggapi hatiku?"


"Asalamualaikum." Alma turun dari mobil dan mengambil buah buahan yang tadi sempat di beli sewaktu perjalanan pulang. "Waalaikumsallam. Nak, sudah pulang?" Rihana menyambut kedatangan Alma dengan senyuman manis, bahkan matanya hanya melirikku sekilas setelah sekilas menyapaku.


"Yasudah, Alma masuk gih. Bersih-bersih dulu." dengan wajah ceria putriku itu mengikuti perintah ibunya tanpa membantah sedikitpun. "Ayah! Alma masuk dulu ya, mau bersih bersih, bau keringat." sebelum kaki kecilnya masuk ke dalam rumah, Alma berpamitan dulu padaku. " Iya nak! sekalian ayah pamit ya, insyaallah nanti kita ketemu lagi."


"Ayah mau langsung pulang?" tanyanya dengan dahi yang di kerutkan. "Iya sayang, sudah sore dan ayah juga harus menyiapkan berkas-berkas buat besok ayah kerja."


"Yasudah, terimakasih ya ayah! hari ini sudah temani Alma jalan-jalan, Alma senang sekali." sambung anakku dengan memamerkan deretan giginya yang putih. 'Seandainya kamu tau nak, ayahmu ini sangat tersiksa tiap kali melihat wajah ibumu, penyesalan dan sakit di hati selalu datang bersamaan kala seperti ini.'


Alma mencium punggung tanganku takzim dan kembali meneruskan niatnya masuk kedalam rumah. Tanpa putriku sadari, tadi aku sudah menyelipkan uang lembaran biru sebanyak satu juta di dalam tasnya, buat jatah uang jajannya. Meskipun tiap bulan aku sudah mentransfer uang bulanan ke rekeningnya Alma, tapi tiap kali aku dapat untung banyak dari Bisnisku, selalu memberikan uang saku tambahan buat gadis kecilku. Dia berhak menikmati kesuksesan ayahnya. Benar kata mbak kayah, kakak Perempuanku itu bilang, anak adalah magnet rezeki. Saat kita membahagiakan nya pasti Tuhan akan membuka jalan rezeki kita selebar lebarnya. Buktinya sudah nyata aku alami, setelah aku punya niat memperbaiki hubunganku dengan anakku dan mulai kembali memberikan apa yang menjadi haknya, sejak itulah, usahaku kembali seperti semula, bahkan lebih maju dan mendapatkan keuntungan yang tidak sedikit.

__ADS_1


"Mas!" suara teguran Rihanna mengagetkan aku yang sedang terbuai dengan pikiranku sendiri.


"Iya, maaf!" jawabku gelagapan. Rihana tak lagi banyak bicara, terlihat dia sangat menjaga jarak denganku.


"Kalau begitu aku pamit dulu. Terimakasih sudah memberi ijin Alma bersamaku, titip salam sama suamimu juga, Asalamualaikum." pamit ku, yang hanya dijawabnya dengan wajah biasa saja. Sepertinya aku sudah benar benar-benar hilang dari hati mantan istriku itu, kenapa rasanya bisa sesakit ini. Move on Alim, move on. Ucapku pada diriku sendiri.


Saat aku mau meninggalkan rumah mantan istriku, terlihat Piana sedang berjalan kemari, sepertinya perempuan itu sengaja mengikuti ku dengan naik ojek, apa lagi yang akan diperbuat perempuan itu disini, jangan sampai dia membuat keributan.


"Wah, ternyata ini toh yang membuatmu tidak lagi mau perduli denganku Mas? kamu kembali pada mantan istrimu yang sok shaleha ini, huh sama sama munafik." cerca nya tiba-tiba, sedangkan Rihana hanya diam tak merespon sedikitpun, wajahnya nampak tenang dengan senyum tipis di bibirnya. "Piana! jangan bikin onar dirumah orang, perlu kamu tau, Rihana sudah punya suami, dan dia tidak ada hubungannya sama sekali denganku yang tidak lagi mau meresponmu. Aku hanya tidak mau salah melangkah untuk kedua kalinya, hidupku sudah kamu buat hancur dan sekarang kamu ingin mengulangi itu lagi padaku. Tidak! aku tidak akan membiarkan itu terjadi." aku berkata penuh dengan penekanan agar Piana sadar, jika karena perbuatannya banyak yang tersakiti.


"Apakah kamu lupa, kalau rumah itu sudah kamu gadaikan di bank, hmm?" jawabku sinis dan kesal dengan tingkahnya yang tanpa dosa itu. Mendengar apa yang barusan aku ucapkan , Piana langsung gelagapan dan terlihat salah tingkah.


"Lebih baik, lanjutkan debat kalian di tempat lain, jangan disini! aku tidak mau rumahku jadi ajang debat yang tidak bermutu seperti ini, memalukan!" herdik Rihana yang mulai terlihat kesal dengan perdebatan antara aku dengan Piana. "Mas! ajak mantan istrimu pergi dari rumahku, aku gak mau jadi tontonan ibu ibu disini nantinya." lanjut Rihana tegas dengan sorot matanya yang tajam.

__ADS_1


"Heleh, sombong banget jadi orang. Sudah punya suami juga masih gatel dengan mantan." sambung Piana dengan suara penuh cemooh, mendengar itu, aku yakin Rihana tersulut emosinya, tapi mantan istri ku itu berusaha untuk tetap tenang meskipun wajahnya sudah memerah menahan amarah di hatinya.


"Cukup! Piana! Jaga mulutmu! jangan sekali kali bicara buruk pada ibu dari anakku, lebih baik kamu berkaca pada dirimu sendiri. Bukan Rihana yang mengejar ku, tapi kamu sendiri. Sudah tau aku tidak sudi lagi melihatmu, kamu tetap saja terus mengejar tanpa tau malu." entahlah menghadapi Piana membuatku memiliki mulut seperti perempuan, tapi kalau didiamkan, dia akan semakin melonjak.


"Kalau kalian tidak ada apa-apa, kenapa kamu kesini Mas? bahkan jelas sekali tatapan matamu itu masih menyimpan perasaan pada mantan istrimu itu. Apa sih istimewanya dia? untuk bodi masih unggul aku kemana mana, wajah juga cantik kan aku, cuma aku gak munafik aja kayak dia." Rasanya dadaku sudah sesak dengan ucapan Piana, mulutnya sama sekali tidak bisa dikendalikan, jangan sampai karena ulahnya ini, Rihana jadi membatasi hubunganku dengan Alma.


"Cukup Piana! ikut aku, kita bicara di tempat lain." tanpa basa basi lagi, aku langsung menarik Piana meninggalkan halaman rumah Rihana. Terlihat Rihana masih diam membeku, aku tau wanita itu sedang menahan emosinya, dia pasti menjaga untuk tidak meladeni mulut comberan Piana. Lebih baik memang aku harus membawa Piana pergi dari sini, untuk menghindari sesuatu yang tak seharusnya. "Rihana, aku pamit dan maaf sudah membuatmu tidak nyaman dengan semua ini, Assalamualaikum."


Dengan kasar aku menyeret Piana masuk ke dalam mobil, bukannya berontak, justru dia senyum senyum tak jelas, semakin membuatku muak melihatnya. Kenapa hidupku harus dibuat ribet dengan perempuan sepertinya.


"Kamu berubah pikiran Mas?" Piana membuka mulutnya dengan senyum lebar saat kami sudah berada di dalam mobil. Mungkin dia pikir aku kembali luluh dan mau menerimanya kembali, cih tidak Sudi! aku hanya ingin menjauhkannya dari Rihana, agar dia tidak bikin ribut disana, kasihan Rihana jika nanti jadi tontonan tetangganya, apa lagi dia sedang mengandung, wanita hamil rawan stres dan aku tidak ingin itu terjadi.


Aku sama sekali tidak ingin menanggapi ocehan Piana, terus tancap gas dengan kecepatan yang lumayan tinggi, hingga sampai di jalanan yang cukup sepi baru aku menghentikan mobilku, terlihat Piana menatapku heran. Wanita itu terus mengawasi gerak-gerik ku dengan matanya, aku mulai turun dan memutari mobil untuk membuka pintu yang di duduki Piana.

__ADS_1


"Turun!" dengan sedikit kasar, aku menyuruh paksa Piana turun dari mobil lantas langsung menutup pintunya. "Setelah ini, jangan pernah lagi kamu mengusik hidupku! Aku sudah tidak sudi lagi melihat wajahmu itu, paham?" dengan sedikit penekanan aku memberi peringatan pada Piana, agar dia tidak lagi menggangguku. Nampak Piana membuka mulutnya membentuk huruf O.


"Mas! Mas! buka pintunya, jangan tinggalin aku disini sendirian, Mas!" teriaknya sambil terus mengetuk kaca mobil. Persetan dengannya, perempuan sepertinya tidak akan hilang ditempat seperti ini, tancap gas dan Selamat menikmati kekesalan mu Piana. Siapa suruh kamu terus mengikuti padahal jelas-jelas aku tidak suka.


__ADS_2