Tekanan Dari Mantan Suami

Tekanan Dari Mantan Suami
pergulatan Piana dg Rokayah


__ADS_3

"Sudah dengarkan? kalau adikku sudah tidak Sudi lagi denganmu, pergilah, dari pada kamu sakit hati melihat mereka bermesraan di sini." sambung kakakku dengan tersenyum sinis ke arah Piana.


"Apa kalian pikir aku percaya begitu saja, aku tau siapa Mas Alim, dan sangat tau seperti apa seleranya dalam memilih perempuan, dan perempuan itu bukan tipenya. Masih bau kencur, kulit juga gak putih amat, apa lagi wajahnya juga biasa saja, gak ada cantik cantiknya." omel Piana dengan gaya angkuhnya, tapi apa yang dikatakan Piana memang benar, meskipun Safitri cantik, tapi dia bukan tipeku. Tapi juga tidak ada salahnya aku membuka hati buat wanita lain, asal dia bisa tulus menerimaku dan anakku.


"Heh, jaga mulutmu. Kayak sudah paling sempurna saja kalau ngomong, ngaca sana loh, orang sudah mulai keriput gitu kok masih saja mulutmu pedas. Tapi terserah kamu saja, mau percaya, mau tidak. Yang pasti, Alim sudah tidak lagi mau sama kamu, dan Safitri yang akan menjadi istrinya. Alim hanya mau perempuan baik baik untuk dijadikan istri, bukan perempuan murahan kayak kamu, yang suka obral sana-sini. Ih menjijikkan!" sambung kakakku tak kalah sadisnya. Lama lama aku bosan juga mendengar perdebatan mereka, lebih baik aku pergi saja dari pada pusing dengan dua perempuan yang sama sama gak mau mengalah. Piana biar jadi urusan kakakku.


"Loh, Mas. Kamu mau kemana? kok kamu pergi gitu aja, padahal kakakmu sudah menghinaku seperti ini." teriak Piana tak terima saat melihat Alim pergi meninggalkan perdebatan mereka.


"Aku tidak perduli, silahkan berdebat sampai mulut kalian mengeluarkan busa." dengan langkah lebar, Alim melangkahkan kakinya pergi meninggalkan ruang tamu dan menuju kamarnya, memilih untuk merebahkan tubuh, mengistirahatkan diri dan pikirannya. Sedangkan diluar masih saja adu mulut antara Rokayah dan Piana bahkan semakin panas.


"Pergilah dari rumahku perempuan murahan, dan jangan pernah menginjakkan kakimu di rumahku lagi. Tak Sudi aku, rumahku dijajah sama perempuan gila kayak kamu, sudah gak tau malu, eeh bar bar juga, dih amit-amit." Piana seperti dihantam ribuan belati dengan ucapan yang dilontarkan mantan kakak iparnya itu. Tak lagi bisa menahan emosi, Piana memilih menyerang Rokayah dengan bringas, dengan cekatan Piana mencengkram tangan Rokayah dan menjambak rambutnya, merasakan sakit, Rokayah berteriak histeris dan tak mau tinggal diam. Rokayah membalas Piana dengan menjambak rambutnya juga, hingga terjadi tarik menarik pada kedua orang wanita itu. Melihat keadaan sudah tidak stabil lagi, Safitri dan ibunya berusaha untuk melerai tapi tenaga mereka tidak cukup kuat untuk memisahkan dua orang perempuan yang sama-sama dikuasai amarah.


"Safitri, lebih baik kamu minta tolong sama Alim, untuk memisahkan mereka, cepat panggil dia kesini." suruh ibunya pada Safitri yang kelelahan.

__ADS_1


"Baik Bu. Tunggu sebentar, aku akan memanggil mas Alim kesini." dengan langkah cepat, Safitri mencari Alim dan berteriak memanggil namanya.


"Itukan suaranya Safitri, ada apa dia teriak teriak begitu, ada masalah apa?" Aku keluar kamar dan melihat Safitri kebingungan, dia berjalan ke arahku dan terlihat wajahnya bingungnya diliputi kecemasan. "Ada apa fit, kenapa kamu kayak bingung begitu?" sapaku setelah Safitri mendekat.


"Itu, mbak Rokayah sama perempuan tadi sedang berantem, mereka saling Jambak, aku dan ibuku tidak sanggup memisahkan, tenaga mereka kuat sekali Mas " Safitri menjelaskan dengan suaranya yang gugup. Ya Tuhan, kenapa sih, Piana selalu membuat ulah dimanapun dia berada, menjengkelkan memang perempuan itu.


"Baiklah, aku akan melerai mereka." melangkahkan kaki ini cepat, dan astaga, aku sampai kaget melihat penampilan kakakku dan juga Piana yang sudah berantakan, bahkan mereka saling tindih dan Jambak. Duh pusing aku dibuatnya.


"Piana, lebih baik kamu segera keluar dari rumah kakakku, jangan bikin ulah disini. Pergi!" entahlah, emosiku sudah tidak bisa lagi dibendung, Piana selalu saja sulit untuk di ajak bicara.


"Tapi, Mas. kakakmu sudah menyerang ku, tubuhku sakit semua ini." rengek nya dengan memasang wajah kesakitan. tapi sedikitpun aku tidak iba melihatnya, semua terjadi juga karena dia sendiri yang bikin ulah. "Itu semua juga akibat ulah kamu sendiri, kalau kamu tidak nekad dan ngeyel pasti tidak akan terjadi, lebih baik kamu pergi, jangan sampai aku memanggil ketua RT dan warga untuk mengusirmu dari sini." bentak ku kesal.


"Tega kamu Mas! tega kamu! aku kesakitan kayak gini masih kamu suruh pergi, dimana nuranimu itu?" Isak Piana dengan linangan air mata andalannya, dan sedikitpun aku tak ingin perduli,karena aku tau dia pasti akan berusaha untuk menarik simpati dariku dengan berpura pura kesakitan.

__ADS_1


"Sudah, tidak usah banyak drama kamu! pergilah sebelum aku yang menyeret kamu keluar dari sini, jangan melebihi batasan mu Piana. Aku sudah capek dengan semua ulahmu itu." tekanku tegas, berharap Piana tak lagi datang menganggu setelah ini.


"Jahat kamu Mas! aku tidak terima kalian perlakukan seperti ini, aku akan kembali dan membuatmu menyesal, Mas! ingat, aku akan membalas perbuatan kalian " balas Piana dengan sorot mata tajam penuh amarah, tapi masa bodoh, yang penting dia pergi dari sini, biar tidak semakin rumit keadaan.


"Terserah kamu, aku bahkan tidak perduli. Pergilah dan jangan pernah kembali." Piana pergi dengan tertatih menahan sakit di badannya, kalau saja dia tidak berulah ini pasti tidak akan terjadi. Tapi yasudah semua sudah terjadi, dan untuk ancamannya aku sama sekali tidak takut, paling dia juga akan terus merengek meminta untuk kembali padaku.


"Mbak duduk saja disini, biar aku ambilin air es untuk mengompres wajah mbak " aku menuntun kakakku duduk di sofa, kasihan sepertinya kakakku sangat kesakitan karena ulah berantem dengan Piana. Saat aku mau melangkah mengambilkan es batu, Safitri sudah lebih dulu membawa es batu yang ditaruh di baskom dengan sapu tangan. "Biar aku saja yang mengompres mbak kayah." katanya sopan dan disambut senyuman manis oleh kakakku.


"Kenapa sih mbak, kok kalian sampai berkelahi seperti itu, yang rugi mbak sendiri, jadi sakit kan? aturan mbak usir saja dan biarkan dia bicara sesukanya, nanti juga capek sendiri." omelku pada kakakku satu-satunya yang sedang meringis kesakitan dikompres sama Safitri.


"Dibiarkan gimana, wong dia semakin nglunjak, bicaranya nyakitin banget di telinga, orang seperti dia itu harus dikasih pelajaran biar kapok, biar mikir dua kali kalau mau berbuat sesuatu." balas kakakku tak terima.


"Yoweslah, juga sudah terjadi, mau gimana lagi. Nanti kalau suamimu pulang, jawab saja baru kena amukan orang gila." jawabku santai, lha gimana kakakku juga sangat susah diberi tau, sikap kerasnya bikin geleng kepala. Tapi dia hanya akan melakukan itu pada orang yang sudah melebihi batasan nya saja.

__ADS_1


__ADS_2