Tekanan Dari Mantan Suami

Tekanan Dari Mantan Suami
TDMS 2 Di jodohkan


__ADS_3

"Mas! Mas! buka pintunya, jangan tinggalin aku disini sendirian, Mas!" teriaknya sambil terus mengetuk kaca mobil. Persetan dengannya, perempuan sepertinya tidak akan hilang ditempat seperti ini, tancap gas dan Selamat menikmati kekesalan mu Piana. Siapa suruh kamu terus mengikuti padahal jelas-jelas aku tidak suka.


Tidak langsung pulang, membelokkan arah mobil menuju rumah kakakku. Sepertinya aku butuh tempat untuk mengeluarkan semua rasa sesak ini, jika di tahan aku bisa gila karena memikirkan apa yang harusnya tidak aku pikirkan. Bukankah, jika kita sedang dalam keadaan tertekan lebih baik cari orang untuk mengeluarkan semua uneg uneg, mencurahkan beban yang mengganjal di hati. Hingga beban yang kita tanggung sedikit berkurang, Dan selama ini, mbak kayah lah orang satu satunya yang bisa aku percaya menyimpan semua rahasia dan luka yang satupun orang tidak tau.


Hanya membutuhkan waktu kurang dari dua puluh menit, aku sudah sampai di halaman depan rumah kakakku, jam segini, pasti kakakku itu akan santai duduk di depan televisi, itu sudah kebiasaannya selama ini. "Asalamualaikum." Memberi salam terlebih dahulu, dan melangkah masuk tanpa sungkan, tapi kok seperti ada tamu, ada suara ramai dari arah dalam, tapi kenapa diluar tidak ada kelihatan kendaraan ataupun sepatunya. Akupun terus melangkah masuk sambil membawa rasa penasaran di hati.


"Loh, Alim! tumben kamu kesini tidak telpon mbak dulu." sapa kakakku saat dia melihat kedatanganku, dan tunggu dulu. Ada dua perempuan cantik bersama kakakku, yang satu seusia kakakku dan yang satu sepertinya masih dibawah ku usianya, Cantik dan terlihat anggun.


"Iya, Mbak! tadi barusan dari mengantarkan Alma pulang ke rumah, terus langsung mampir kesini. Kemana anak anak?" jawabku biasa saja dengan kedua tangan kumasukkan ke dalam saku celana.

__ADS_1


"Anak-anak ikut sama papa nya, paling juga nonton film di bioskop. Owh iya, kenalin ini temannya mbak, mbak Linda dan itu anaknya Safitri." mbak kayah memperkenalkan kedua tamunya padaku. Akupun dengan santun menyalimi kedua perempuan itu, mbak Linda dan anaknya Safitri. Sepertinya gadis itu baru berusia dua puluh tahunan. "Yasudah, aku masuk kedalam dulu ya mbak." sebelum melangkah mbak kayah menghentikan langkah ini dengan kembali menarik tanganku. "Di sini saja, temani Safitri ngobrol, siapa tau kalian cocok dan bisa melanjutkan ke hubungan yang lebih serius." aku mengernyit kan dahi, mencoba mencerna maksud ucapan kakakku satu-satunya itu. "Sudah, jangan bengong. Kamu duduk sini, temani Safitri ngobrol, kalian bicara saja, ngobrol apa saja. Yuk Lin, temani aku menyiapkan makan malam, kita masak spesial untuk acara dinner keluarga kita, gimana?" lanjut kakakku, sepertinya memang sengaja ingin meninggalkanku berdua dengan Safitri saja. Apakah ini salah satu caranya untuk mencarikan aku istri. Ya Tuhan, kenapa aku baru menyadari sekarang, kakakku itu memang selalu ada saja ulahnya.


Saling diam dan hanya memandangi ponsel Masing masing, canggung. Bingung harus bicara apa, karena memang sama sama balum mengenal, apa lagi perempuan yang sekarang duduk di hadapanku, sepertinya masih sangat muda, cantik sih, tapi aku juga tidak tau gimana kepribadiannya, tapi biasanya kalau usia muda begini, pasti ego nya masih meletup letup, untuk dijadikan istri kurasa masih belum pantas bagiku. Karena aku butuh wanita yang nantinya siap dengan keadaanku yang sudah memiliki tanggung jawab anak gadis, dan mau menerimaku yang usianya sudah tidak muda lagi, bukan hanya untuk saling cinta dan memaksa mengerti karena usia lebih tua, aku tidak mau itu, karena aku tidak akan betah jika harus berumah tangga yang seperti itu.


"Mas Alim kerja dimana?" Suara Safitri mengagetkan aku yang sedang melamun. "Kerja serabutan, asal halal." jawabku seenaknya, ya mau gimana lagi, memang kerjaku serabutan kan? Bukan orang kantoran yang harus berpakaian rapi dan berjas. Safitri kembali diam setelah mendengar jawaban dariku yang mungkin terkesan cuek.


"Sudah kerja Mas, aku kerja di Kediri Mall sebagai SPG. Maklumlah cuma lulusan SMK." jawabnya jujur dan terlihat lesung pipinya saat dia tersenyum. Aku mulai tertarik untuk bicara dengannya, karena memang aku suka dengan perempuan yang apa adanya, berani bicara jujur tentang keadaannya tanpa harus ditutup tutupi demi sebuah gengsi. Tapi sepertinya itu tidak berlaku bagi Safitri, dia berani bicara jujur tentang pekerjaan dan pendidikannya, dan aku yakin, sebenarnya dia tau apa pekerjaanku, karena tidak mungkin mbak Rokayah tidak cerita tentang diriku, kalau memang dia berniat untuk mendekatkan kami.


"Gak papa, yang penting halal dan kamu nya nyaman." jawabku sok bijak, tapi ya benar seperti itu, pekerjaan yang kita jalani akan terkesan berat jika kita terpaksa menjalaninya, tapi ketika kita merasa nyaman dalam suatu pekerjaan yang kita tekuni, semua akan menjadi ringan dan kita pun senang tak terbebani dengan pekerjaan tersebut.

__ADS_1


"Iya Mas. Alhamdulillah. Bisa buat jajan dan sedikit membantu ibu. " Balasnya kemudian, akupun tersenyum menanggapi keluguan perempuan dihadapan ku, mengingatkan pertama kali aku bertemu dengan Rihana. Dia sangat jujur dan percaya diri dengan keadaannya yang seba sulit waktu itu, harus menopang beban hidupnya sendirian tanpa kedua orang tua. Rihana yatim piatu saat dia masih sekolah di SMA, tapi berkat kegigihannya dia sanggup menyelesaikan pendidikannya hingga tamat dan mendapatkan pekerjaan untuk menyambung hidupnya. Rihana memang wanita luar biasa, tapi aku yang sudah bodoh karena terhasut nafsu dan kelicikan Piana, penyesalan sudah tidak lagi bisa membuat Rihana kembali padaku. Bahkan saat ini dia sudah bahagia dengan laki laki yang dia cintai, Aku juga harus bisa bangkit dan menata hidupku kembali, memang tidak mudah melupakan orang yang masih kuat mengisi ruang hati, tapi aku akan berusaha untuk terus mengiklaskan cinta yang tak mungkin lagi aku raih. Mungkin dengan sedikit membuka hati untuk perempuan lain.


"Lakukan yang terbaik selagi kita bisa memberikan bakti kita pada orang tua, aku salut sama kamu. Masih muda tapi sudah mau berjuang untuk keluarga. Memang usia kamu sekarang berapa tahun? maaf aku jadi banyak tanya."


"Gak papa kok Mas. umurku baru dua puluh tiga tahun, kalau mas Alim sendiri berapa?"


"Wah masih muda ya, kalau aku sudah tua, umurku sekarang sudah tiga puluh enam tahun. Sudah punya anak gadis." balasku jujur, sekaligus memancing responnya, ingin tau seperti apa tanggapannya.


Karena, saat ini yang aku cari bukan cuma perempuan yang mau menerimaku, tapi perempuan yang sudah bisa berpikir dewasa dan mencintai anakku. Usiaku tak lagi hanya untuk bersenang senang, tapi waktunya menata masa depan. Tak ingin kembali seperti waktu itu, hanya karena nafsu, akhirnya semau hancur dan membuatku menyesal sampai saat ini.

__ADS_1


__ADS_2