
"Kenapa aku bisa kecolongan begini, dalam waktu singkat Mas Alim benar benar memutuskan menikahi perempuan kampung itu, apa sih kelebihan perempuan itu? padahal kalau dilihat, dia biasa saja dan gak ada menariknya.
Sekarang, aku harus benar benar fokus pada tujuanku pindah di komplek ini, mendekati suaminya Rihana dan harus bisa memilikinya, dia lebih segalanya dari Mas Alim, kaya dan tampan." Piana terus bicara sendiri di dalam hatinya, akal liciknya sedang menyusun rencana untuk bisa mewujudkan keinginannya.
Rumah mewah yang ditempatinya saat ini, memang pemberian Rudi, tapi tidak dengan membeli secara cash, Rudi membelinya dengan cara kredit, tanpa sepengetahuan Piana. Karena Piana hanya tau beresnya saja, Rudi berpikir dengan cara kredit adalah jalan satu-satunya untuk mewujudkan keinginan istri keduanya, karena Rudi tak cukup punya uang untuk membeli secara cash. Apalagi untuk saat ini, Rudi cuma bisa mengandalkan uang dari gajinya saja, Melati benar-benar sudah membuangnya dan sudah mengajukan gugatan cerai ke pengadilan. Mobil yang dipakai Rudi adalah milik Melati dan bisa kapan saja diambil kembali sama Melati, untuk itu Rudi berniat untuk menjual dan kembali membeli mobil dengan yang baru, harga dibawah mobil Pajero putih yang dibeli Melati untuknya.
Alasan lain, Rudi mengambil perumahan, bukan semata untuk memenuhi keinginan Piana, tapi untuk berjaga jaga, kalau Melati benar-benar akan mengusir keluarganya dan kembali mengambil rumah yang kini ditempati orang tua dan adik adik Rudi.
"Mas, aku mau ijin pergi sebentar ya. Mau ke kondangan pernikahan temen aku." pamit Piana saat dilihatnya Rudi sudah terbangun dari tidurnya.
"Iya, tapi jangan pulang terlalu malam, aku habis ini mau pergi dulu, ada teman yang mau lihat mobilnya." sahut Rudi biasa saja tanpa menoleh ke arah Piana yang berjalan menujunya.
"Kamu jadi menjual mobil kamu, Mas?" tanya Piana serius, sebenarnya tak rela, tapi karena Rudi bilang mobil itu milik Melati dan akan dimintanya, membuat Piana hanya bisa pasrah, dari pada tidak dapat apa-apa. "Iya, sebelum Melati mengambil mobil itu kembali, aku harus gerak cepat menyelamatkan, lagian kalau terjual, kita bisa beli yang baru, tidak perlu sama yang terpenting ada mobil, dan kamu juga bisa membeli mobil yang biasa, uang hasil penjualan mobil itu cukup membeli dua mobil sekaligus, tapi ya itu, yang biasa." Sahut Rudi santai dan terus melakukan aktifitasnya memakai baju dan bersiap siap pergi.
Mendengar penuturan dari Rudi, membuat senyum Piana mengembang, dia akan punya mobil dan kemana mana tidak perlu lagi naik taksi atau ojek.
"Benar, Mas? aku akan kamu belikan mobil?" tanya Piana memastikan.
__ADS_1
"Iya, doakan mobilnya bisa terjual secepatnya, hari ini akan ada yang melihatnya, semoga orangnya cocok dan kita akan segera membeli mobil baru." jawab Rudi tersenyum melihat istrinya senang.
"Kamu mau me kondangannya siapa? pergi naik apa?" lanjut Rudi kemudian sambil memindai penampilan Piana yang sudah berganti pakaian dengan memakai dress warna merah dan terlihat lekuk tubuh sintalnya.
"Ke acara nikahannya teman, Mas. Gak jauh kok, paling cuma dua puluh menitan dari sini kalau naik taksi. Apa mas mau ikut?" Balas Piana tanpa ragu, meskipun dalam hatinya tidak ingin Rudi ikut, dia tidak benar-benar mau menawari untuk diantar Rudi, hanya sekedar membuat Rudi agar tidak mencurigainya.
"Gak sayang, cuma mau tau saja. Aku kan sudah ada janji sama teman juga, biar mobilnya cepat laku, dan kamu nya biar kemana mana tidak naik taksi atau ojek lagi." balas Rudi tenang dan sepenuhnya percaya dengan apa yang Piana ucapkan.
Mendengar jawaban dari Rudi membuat Piana lega, karena kalau Rudi ikut dengannya, yang ada akan menjadi masalah.
"Yasudah, aku berangkat dulu ya, kamu hati hati.' pamit Rudi sebelum benar benar pergi dari rumah.
Setelah Rudi benar benar pergi dan tak terlihat lagi, Piana bergegas pergi dengan memesan taksi terlebih dahulu, pukul dua siang, 'semoga saja acaranya belum selesai.' gumam Piana lirih.
Diluar sudah ada mobil yang tadi dipesan Piana menunggu, dengan langkah tergesa Piana segera keluar dari rumahnya dan mengunci rapat pintu juga pagar. Saat kakinya akan melangkah masuk ke dalam mobil, terlihat ada mobil Rihana masuk ke dalam halaman rumah Rihana yang jauh lebih mewah dari rumah yang Piana tempati.
"Itu kan mobilnya Rihana, dua sudah kembali, apa pestanya mas Alim sudah selesai ya?" batin Piana bertanya tanya. "Mbak, jadi gak?" suara sopir taksi mengagetkan Piana yang sedang asik dengan pikirannya sendiri. "Maaf pak, jadi." sahut Rihana dan langsung masuk ke dalam mobil di kursi belakang.
__ADS_1
☘️☘️☘️☘️☘️
"Kenapa Mas Alim menggelar pernikahannya sesederhana ini, padahal hartanya banyak, menyewa gedung dan hotel bintang pun bisa, tapi kenapa harus dikampung kayak gini. Mungkin Mas Alim menikahi wanita itu terpaksa, lantaran di paksa oleh kakaknya yang kayak Mak lampir itu." sungut Piana di dalam hatinya, dan matanya terus celingukan memindai suasana pernikahan Alim yang memang di gelar secara sederhana, atas keinginan Safitri maupun Alim sendiri.
Alim berpikir, untuk apa resepsi mewah menghabiskan uang banyak tapi toh yang di harapkan adalah kesakralan dari pernikahan itu sendiri, dari pada membuat pesta mewah yang tujuannya pamer agar dipandang wah, mending uangnya untuk memberikan sesuatu yang bermanfaat untuk istrinya, Alim sudah menyiapkan satu buah mobil baru dan satu set berlian untuk hadiah pernikahan yang akan diberikan Alim untuk Safitri.
"Kenapa kamu datang kemari, bukankah tidak ada yang mengundangmu? Awas saja sampai kamu membuat onar di pernikahan adikku!" sambut Rokayah tak suka melihat kehadiran Piana yang dinilainya hanya akan membuat masalah.
"Mbak tenang saja, aku kesini cuma ingin tau, seperti apa pernikahan seorang pengusaha sukses itu, eh ternyata cuma pernikahan orang kampung, gak ada kesan mewahnya sama sekali. Jangan jangan mas Alim terpaksa menikahi perempuan itu, karena kamu yang memaksanya, benar begitu, mbak?" Piana menyeringai sinis dan mulutnya tak henti menghina, tentu saja itu menyulut amarah Rokayah. Tapi sebisa mungkin Rokayah menahannya, tak ingin mengacaukan hari bahagia sang adik, hanya gara gara perempuan ular di depannya yang memang sengaja ingin memancing api amarahnya.
"Lebih baik kamu pergi dari sini, lagian kamu juga tidak mengundang kamu. Jadi orang itu tau malu lah sedikit, bukan muka badak yang tak punya malu, menjijikkan." balas Rokayah geram dengan mata yang menatap tajam ke arah Piana, yang justru terus berjalan tanpa menghiraukan cercaan darinya. Mengesalkan.
"Sudahlah, Ma. Kamu tenang, kita lihat saja apa yang perempuan itu akan lakukan disini, dia tidak akan berani membuat kacau, paling mulutnya saja yang sengaja memancing emosi kita. Lebih baik kita abaikan dia." dengan lembut suami Rokayah menenangkan istrinya yang mulai tersulut emosi karena mulut pedasnya Piana.
Piana dengan percaya diri berjalan menghampiri dua pengantin yang masih duduk manis di singgah sananya, melihat kehadiran Piana membuat Alim geram, lantaran dia tau, Piana pasti akan membuat ulah dengan sikap tak tau malunya itu.
"Mas, bukankah itu mantan istrimu?" tunjuk Safitri kearah Piana yang sedang berjalan ke arahnya.
__ADS_1
"Iya, itu Piana. Mau apa dia datang kesini, bukankah kita tidak mengundangnya?" balas Alim datar dan sengaja membuang pandangan dari Piana yang mulai menampakkan senyuman ke arahnya. "Apapun yang akan dikatakan wanita itu, sebisa mungkin abaikan, karena dia pasti akan membuat kita marah dengan tingkahnya. Jangan sampai kita malu karena ulahnya." bisik Alim pada Safitri yang mengangguk dan tersenyum penuh arti padanya.
"Wah, romantisnya, jadi membuatku iri."