Tekanan Dari Mantan Suami

Tekanan Dari Mantan Suami
membuang permata hanya demi batu kali


__ADS_3

Berada dalam satu kamar, membuat Melati merasa asing dengan Rudi, padahal dulu kamar adalah tempat paling menyenangkan untuk menghabiskan waktu berdua dengan suaminya, canda tawa, saling bertukar cerita dan saling menyalurkan hasrat, tapi semua sudah berubah dan tak lagi sama. Kini tinggal kenangan yang mungkin tidak lagi bisa terulang. Melati melakukan rutinitasnya memakai krim malam, mengoleskan rata pada wajah ayunya, mulus dan licin bahkan kerutan juga tak begitu kentara, karena krim yang di pakai Melati juga bukan krim abal-abal, melainkan krim mahal yang tak semua bisa membelinya. Melati menatap kecut wajah sang suami dari pantulan kaca di depannya. Rudi terlihat senyum-senyum sendirian, mungkin hatinya sedang bahagia karena mengira kalau cincin yang dia ambil asli berlian. "Kasian kamu, Mas. Harusnya kamu bisa membedakan berlian asli dan palsu, lantaran istrimu ini sangat senang mengoleksinya, tapi sayang kamu selalu abai dengan apa yang menjadi kesukaan istrimu, hingga kamu tidak tau cincin yang kamu ambil itu palsu. Untung aku sudah memindahkan semua dokumen, uang dan perhiasan di tempat yang aman, brankas yang ada di kamar sudah aku ganti dengan semua perhiasan imitasi, karena kamu mengetahui sandinya, itulah kenapa aku ingin membuatmu malu karena perbuatannya sendiri. Kamu sudah salah karena telah membangunkan seorang Melati untuk membalas sakit hatinya." Gumam Melati di dalam hatinya, sambil tangannya terus memijat lembut pipinya.


"Kenapa kamu melakukan ini padaku, Ma?" tiba tiba Rudi membuka suaranya, matanya menatap tajam ke arah sang istri yang justru sedikitpun tak mau merespon ucapannya, terus melakukan kegiatannya merawat wajah cantiknya.


"Kamu dengar gak sih aku ngomong? jangan keterlaluan kamu ya." suara Rudi meninggi dan membuat Melati menghentikan aktivitasnya, lalu menoleh dan menatap tajam ke arah suaminya yang kini sudah berdiri berkacak pinggang tepat di belakangnya.


"Keterlaluan bagaimana maksudmu? Bukankah kamu yang sudah keterlaluan, berani beraninya menggunakan uangku untuk menyenangkan perempuan ****** itu."


Plak! Plak!

__ADS_1


Dua kali tamparan yang dilayangkan tangan Rudi mendarat di pipi mulusnya Melati, sakit tentu saja, perih langsung menjalar di setiap inci wajahnya, bahkan menempel bekas tangan Rudi disana. Tak ada air mata meskipun hati begitu sakit, sekuat tenaga menahan rasa kebas yang diciptakan Rudi di wajahnya. "Hebat kamu Mas, sudah berani bersikap kasar padaku, kamu lupa, rumah yang kamu tempati ini rumah siapa? kamu lupa, mobil yang kamu pakai itu mobil siapa? dan kamu juga lupa, rumah yang ditempati keluargamu itu juga rumah siapa? ingat baik baik Rudi Rahardjo, semua itu milikku, ya milikku!


Dan kalau aku mau, sekarang juga aku akan mengambil itu semua, jadi jaga sikapmu!" Melati tak lagi bisa menahan amarahnya, rasa sakit penghianatan belum juga hilang, kini ditambah dengan sikap arogan sang suami yang tak tau diri. Dengan langkah cepat, Melati menuruni tangga berniat untuk memanggil pengacara pribadinya untuk mengurus semuanya, perceraian dan juga harta gono-gini.


Fajar yang baru pulang dari kampusnya, menatap heran ke arah wajah sang mama yang memerah dan terlihat ada air mata yang membasahi wajah putih wanita kesayangannya. "Ma! ada apa sama mama? siapa yang sudah melakukan ini sama mama? bilang sama Fajar, Ma!" belum sempat Melati menjawab pertanyaan sang anak, suara Rudi yang panik terdengar mengikuti langkah Melati yang sedikit berlari dengan wajah pias.


Fajar menatap nyalang ke arah papanya. "Jadi ini perbuatan papa, Ma?" Fajar sudah tak tahan untuk tidak ikut campur, tangannya mengepal dan dengan emosi mau memukul sang papa, tapi secepat kilat di cegah Melati. "Sudah, Nak! Cukup, jangan kotori tangan kamu untuk menyentuh manusia tak punya hati itu, mama tau apa yang harus mama lakukan tanpa harus bersikap rendahan sepertinya. Ikut mama, panggil semua kakakmu untuk datang kemari, mama akan telpon pak David. Mama akan selesaikan semuanya." Fajar menuruti perintah mamanya tanpa banyak perlawanan, meskipun emosinya belum juga surut akibat ulah papanya yang sudah keterlaluan.


Pukul delapan malam, semua berkumpul di ruang keluarga, Riko, Ayu dan Fajar. Rudi hanya terdiam duduk di ujung sofa tak jauh dari istrinya. Menunggu kedatangan David pengacara keluarga. Melati tak sanggup lagi jika harus bertahan dan menekan semua rasa sakit hatinya, Karena bukannya menyesal tapi justru Rudi semakin tak tau diri.

__ADS_1


"Maaf nyonya, Pak David sudah datang." mbok Yem memberitahukan kedatangan pengacara keluarga pada semua orang, dan Melati memintanya untuk membawa pak David langsung menuju ke ruang keluarga, dimana dia dan anak anaknya sedang menunggu. "Langsung saja antar kesini, mbok. Dan tolong buatkan minuman untuk beliau." perintah Melati dengan ekspresi datar, sedangkan Ayu yang duduk di samping ibunya mencoba memberi kekuatan dengan mengusap lembut pundak sang mama penuh kasih sayang.


"Asalamualaikum. Maaf saya sedikit terlambat, karena jalanan cukup ramai." sapa pak David sopan dan mengatupkan kedua tangannya di dada sebagai rasa hormat untuk semua orang yang ada disana. "Gak papa, pak. Justru saya yang minta maaf karena sudah merepotkan bapak malam malam kayak gini." sahut Melati sungkan dengan wajah yang masih memerah, bekas tamparan itu masih terlihat jelas di pipi nya yang putih. Melihat itu, membuat pak David mengernyitkan dahi dan menatap iba pada wanita yang sudah dia anggap anaknya sendiri, karena dulu papanya Melati adalah teman dekatnya semasa muda.


"Sepertinya ada yang sangat penting, sehingga kamu meminta bapak datang malam malam gini, ada apa?" pak David memang sudah sangat akrab dengan keluarga melati, sehingga dia tidak terlalu formal dan canggung dalam bersikap, apa lagi saat ini, David melihat sesuatu yang buruk terjadi pada Melati, egonya sebagai orang tua tidak terima, dan matanya langsung menatap tajam ke arah Rudi yang terlihat salah tingkah dan langsung menunduk dalam.


"Saya ingin, pak David mengurus semua surat surat pembagian harta saya untuk anak anak berpindah atas nama mereka sesuai aturan yang ada, dan juga mengurus perceraian saya dengan mas Rudi. Saya serahkan semua sama bapak. Dan satu lagi, rumah yang ditempati keluarga mas Rudi, itu rumah saya dan sertifikat juga atas nama saya, tolong di urus karena saya akan membuat panti asuhan disana. Untuk pembagian harta gono-gini silahkan pak David urus juga sesuai harta yang dimiliki saya dan suami, karena semua usaha yang saya miliki semua masih menggunakan nama orang tua saya, jadi itu tidak termasuk dalam pembagian Gono-gini. Saya kira pak David sudah paham tanpa saya harus menjelaskan lagi." Melati bicara dengan ekspresi datar dan tegas, tak ada gurat kesedihan di wajahnya, meskipun kecewanya teramat dalam akan tingkah suaminya.


Mendengar penuturan Melati, Seketika Rudi langsung meradang tak terima, namun dengan tegas Fajar juga Riko langsung berdiri memberi perlindungan pada mamanya.

__ADS_1


"Jangan pernah papa menyentuh mama lagi, sekali saja tangan papa menyakiti mama, papa akan berhadapan dengan kami, dan kamu juga tidak akan segan memberi pelajaran sama papa. Harusnya papa Sadar dengan kesalahan papa, bukan malah menyakiti dan memperlakukan diri papa sendiri." ucap Riko tegas dengan penuh penekanan di setiap kalimatnya.


Dengan penuh amarah, Rudi meninggalkan rumah dan melajukan mobilnya kencang menuju tempat istri mudanya. Dan inilah awal kehancuran hidupnya. Membuang permata hanya demi batu kali.


__ADS_2