
Alim sudah siap dengan segala kemungkinan, maka dari itu Alim berusaha untuk menguatkan diri sendiri, entahlah sudah seperti apa hatinya saat ini.
mungkin sudah hancur seperti serpihan kaca dan hanya menyisakan perih dari bekas goresannya.
Alim memandangi Zadan dengan lekat, selama ini memang Alim terkesan jauh pada anak itu, jangankan mengajaknya bermain, gendong aja hampir tidak pernah, namun meskipun begitu, Alim tak bisa membenci anak sekecil itu, dia belum tau apa apa, bahkan tidak paham dengan apa yang terjadi
Bu Dian makan dengan lahapnya, sampai tidak menghiraukan cucunya yang juga sedang lapar, baginya yang penting mengisi perutnya sendiri dulu.
tidak di pedulikannya rengekkan Zadan yang ada dipangkuan Alim.
"Lim suapin Zadan dengan roti dulu, biar dia nggak rewel dan habis dari sini belikan anakmu susu, karena dari kemarin dia hanya minum air putih saja."
Bu Dian bicara dengan mulut yang penuh dengan makanan, Alim hanya menatapnya sekilas, tidak disauti sedikitpun ucapan Bu Dian.
"Ibu selesaikan dulu makannya, aku mau ajak Zadan ke mini market yang ada disebelah sana, mau beli susu dan Snack buat Zadan."
Alim berdiri dengan menggendong Zadan, belum sampai melangkah tangan Alim sudah dicekal sama Bu Dian.
"makanannya belum dibayar?
__ADS_1
enak saja kamu main pergi begitu saja."
Bu Dian melotot ke arah Alim.
Dengan berat hati Alim merogoh dompetnya dan mengambil uang pecahan seratus ribu satu lembar dan diletakkan di meja.
"ibu bayar saja sendiri, seratus ribu sudah lebih dari cukup untuk membayar makanan ibu."
setelah itu Alim melanjutkan langkahnya
Sebenarnya tujuan Alim bukanlah mini market, Alim berpikir, lebih baik dia membawa Zadan untuk melakukan test secepatnya, dari pada nanti kalau Bu Dian ikut, bisa kacau.
Hanya butuh waktu beberapa menit saja untuk melakukan tindakan, dan Alim diminta menunggu hasilnya seminggu kemudian, Alim merasa lega karena semua berjalan lancar sesuai harapannya, dan harus sabar dulu untuk mengetahui hasilnya.
Sementara itu Bu Dian sudah selesai makannya dan hendak menyusul Alim yang katanya pergi ke mini market.
"kebetulan sekali, aku bisa ikut belanja kebutuhan untuk beberapa hari ke depan."
batin Bu Dian penuh semangat, saat ingin melangkahkan kakinya masuk ke pintu mini market, Bu Dian berpapasan dengan Alim yang akan menuju pintu keluar.
__ADS_1
"Untung saja, setelah melakukan test tadi aku langsung pergi ke tempat ini, biar saja ibu menganggap aku nggak jadi melakukan test pada zadan, dan dengan begitu dia nggak akan bikin rusuh apalagi mengancam ku." batin Alim senang.
"Loh, kok sudah keluar?
Beli susunya sudah?"
Tanya Bu Dian gamang, karena rencana untuk belanja besar gagal total, Alim sudah mau pergi saja dari area perbelanjaan .
"Iya, ini mau pulang."
Alim menjawab dengan wajah datarnya tanpa ekspresi.
Bu Dian menghentakkan kakinya, menunjukkan kekesalannya, tapi itu justru membuat Alim merasa geli dengan tingkah seuasia Bu Dian.
"Pulang?
Apakah aku tidak salah dengar, tadi Alim mengajak pulang?
Itu artinya alim tidak jadi melakukan test lagi."
__ADS_1
Bu Dian merasa bahagia dan juga mulai menyusun langkah untuk bisa dapat uang dari Alim.