
Dengan kepala yang berdenyut dan tubuh lemas Alim di papah Rudi kakak iparnya ke dokter.
"Saya sakit apa dok, kenapa tubuh saya lemas begini seperti tak ada tenaga sama sekali dan kepala saya juga sangat sakit."
Alim bertanya pada dokter setelah dokter selesai memeriksanya.
"Tensi darah bapak tinggi, hampir dua ratus, hati hati ya pak karna ini bisa menyebabkan struk, saya akan kasih resep obat, nanti bisa di ambil di apotik yang saya rekomkan,
dan untuk tubuh bapak yang lemas, itu juga pengaruh dari tekanan darah yang tidak stabil, dan perut bapak sepertinya juga belum terisi, sebaiknya nanti bapak segera makan, untuk mengisi perut yang kosong."
Dokter menjelaskan panjang lebar, dan setelah memberikan resep, Alim yang di temani kakak iparnya pamitan untuk pulang.
Di perjalanan Alim hanya tertidur di kursi samping Rudi, kepalanya rasanya sudah mau pecah, Rudi yang merasa hawatir dengan keadaan adiknya, melajukan mobilnya lumayan kencang biar cepat sampai rumah dan adiknya segera minum obat dan istirahat.
"Gimana pah, dokter bilang apa? "
Rokayah bertanya pada suaminya.
"tensi darahnya tinggi dan Alim juga belum makan dari pagi, sekarang mama bikinin Alim bubur gih, biar Alim makan dan segera minum obatnya."
perintah Rudi ke istrinya.
Rokayah segera melakukan apa yang diperintahkan suaminya, setelah buburnya jadi rokayah segera membawa buburnya ke kamar Alim.
"Lim makan dulu ya, ini mbak sudah buatkan bubur, habis ini minum obatnya."
Alim hanya mengangguk dan berusaha untuk duduk dengan menyenderkan punggungnya, dengan telaten Rokayah menyuapi adiknya, baru tiga kali suapan Alim sudah tidak mau lagi.
__ADS_1
"sudah mbak, rasanya lidahku gak enak makan, tolong ambilin obatnya, biar aku minum dan aku buat tidur aja, biar cepat sembuh.
kepalaku ini, rasanya sangat sakit sekali."
"Untuk sementara kamu harus tenang dan jangan banyak pikiran dulu, untuk gudang yang terbakar, anggap aja itu musibah, legowo dan setelah kamu sehat perbaiki cara hidupmu, dan jangan abaikan kewajiban pada Alma, sudah buat istirahat, kalau ada apa apa panggil mbak."
Rokayah keluar dari kamar adiknya.
Alim termenung memikirkan perkataan kakaknya, apa yang dikatakan mbak kayah memang benar, 'selama ini aku sudah dzolim pada anakku sendiri, mungkin ini teguran dari Alloh untukku, setelah sembuh aku akan meminta maaf pada mereka, Alma dan Rihana, aku akan memberikan apa yang menjadi hak mereka.'
Untuk gudang yang terbakar, aku masih punya tabungan tersembunyi, sengaja aku sisihkan untuk berjaga jaga kalau terjadi sesuatu denganku, dan perhiasan milik Rihana yang sudah ku rampas saat kita berpisah dulu, akan aku kembalikan, itu miliknya dia berhak mendapatkannya lagi.
Tuhan ampunilah aku, Alim menangis dalam tidurnya, menyesali apa yang sudah ia lakukan di masa lalu.
☘️☘️☘️☘️☘️
'yang penting aku bisa bersenang senang dan tidak kekurangan uang, urusan amarah mas Alim tentang tagihannya nanti, biar aku pikir nanti saja, toh itu sudah tanggung jawabnya mencukupi kebutuhan istri, salahnya sendiri tidak memberiku uang lagi, dan aku harus menyembunyikan uang ini, dengan membuka rekening baru yang tanpa mas Alim ketahui, biar aman.'
'pintar kan istrimu ini mas?'
Piana menyeringai jahat sambil menikmati pijatan di punggungnya oleh pegawai salon.
Dua hari Alim, tergeletak tak berdaya dan tak sekalipun Piana ada menelpon untuk mencari tau keadaannya, dasar istri kurang ajar, bisa bisanya tak perduli dengan keadaan suaminya, harusnya dia itu berusaha mencariku dan meminta maaf tapi ini kabarnya pun tak ada sama sekali, lihat saja nanti kalau aku sudah pulih, kamu akan merasakan akibatnya, Alim merutuki kebodohannya yang sudah memperistri wanita seperti Piana.
"Mbak, selama aku sakit apa mbak tidak ada menghubungi Piana atau Piana menghubungi mbak untuk mencari tau keberadaan ku?"
"Nggak ada sama sekali, lagian mbak juga malas kalau harus berurusan dengan istrimu itu, nggak ada sopan sopannya sama sekali, kenapa?
__ADS_1
Apa dia tidak menghubungimu sama sekali?" Rokayah balik bertanya .
"Nggak ada mbak, hatiku sudah sakit oleh pengkhianatan nya dan sekarang di tambah lagi oleh sikapnya yang tak mau tau dengan keadaanku, besok aku akan pulang, akan ku kasih pelajaran pada wanita itu, agar dia sadar posisinya sebagai seorang istri, dan sudah aku putuskan untuk menceraikannya karena untuk apa bertahan dengan perempuan pembohong dan tukang selingkuh yang hanya inginkan uangku saja."
Alim bicara penuh dengan emosi.
"Apa kamu sudah yakin Lim dengan keputusan yang kamu ambil ini?
dan apa kamu sudah benar benar sehat?
mbak nggak mau kamu kenapa kenapa, karena Piana pasti tidak akan tinggal diam, dia tipe perempuan nekat dan tak punya malu."
"Aku yakin mbk, dan sangat yakin dengan keputusanku, dan aku ingin rujuk dengan Rihana, apapun caranya aku akan membuat Rihana mau kembali padaku lagi, mbak mau kan bantu aku?"
"Apa kamu yakin Rihana mau kembali denganmu?"rokayah bertanya ragu
"Yakin mbk, buktinya sampai sekarang dia juga belum nikahkan, itu artinya dia masih mencintaiku, mungkin dia hanya masih gengsi saja untuk mengakui perasaannya padaku.
makanya mbak bantu aku untuk meyakinkan Rihana, bukankah mbak ingin aku baik sama Rihana dan Alma ?"
Rokayah hanya diam mendengarkan ocehan adiknya, namun di dalam hatinya ada ragu kalau Rihana tidak akan mau rujuk, dengan begitu banyak derita yang selama ini sudah dialami karena perbuatan adiknya.
"Alim alim, kenapa kamu masih belum sadar juga dengan semua perbuatan mu terhadap anak dan istrimu.
bukan penyesalan yang mbak lihat tapi keegoisanmu lah yang semakin menjadi, jangan sampai kamu melakukan kesalahan untuk kedua kalinya, karena nanti kamu akan lebih menyesal lagi, aku harus bicarakan ini dengan Rihana, lagian juga sudah lama aku tidak menemui ponakanku, pasti sekarang sudah besar.
besok kan hari Minggu, pasti Rihana libur, waktu yang pas untuk bicara dengannya."
__ADS_1