
Dan bahkan, Melati juga sudah meminta orang suruhannya untuk mengambil alih rumah yang sekarang di tempati keluarga Rudi. Meskipun terkesan kejam, tapi Melati harus melakukan itu, agar Rudi tidak lagi memandangnya lemah. Kalau saja, ibu dan adiknya tidak ikut campur dalam pernikahan siri yang dilangsungkan Rudi dirumah ibunya, dan mendapat restu serta dukungan keluarganya, mungkin Melati tidak akan tega mengusir mereka. Sudah cukup kesabaran Melati, dan pengorbanannya yang tidak pernah dihargai.
Sekarang biar mereka tau dan merasakan hidup tanpa bantuan lagi dari Melati.
"Kenapa, Mas? apa kamu tidak terima dengan semua ucapanku?
Lalu, kenapa kamu memintaku untuk menerima perbuatan kamu yang hanya bisa membuatku sakit hati? Kamu selalu menganggap sepele setiap kesalahan yang kamu buat, selalu memaksaku untuk mengerti posisi kamu, sedangkan, kamu sendiri tidak sedikitpun mau memahami perasaanku, bahkan abai dengan luka yang sering kamu ciptakan. Dan perlu kamu tau, aku punya batas dalam bersabar, aku bisa lelah dan inilah titik dimana aku sudah benar benar tidak sanggup lagi, kamu sudah melukai hidup dan juga hati ini." Melati mengungkapkan apa yang selama ini hanya dia pendam dengan rasa sakit yang bahkan tak lagi mampu meneteskan air mata, sangking sakitnya.
"Kamu saja yang terlalu berlebihan dalam menyikapi semua, aku menikahi perempuan itu, karena aku juga butuh memuaskan diriku yang selama ini kamu sudah tidak bisa lagi memenuhi. Dan perlu kamu tahu, aku juga butuh istri yang bisa menyenangkan mataku, sedangkan itu sudah tidak bisa kamu lakukan, kamu sakit sakitan, dan terlihat tua, laki laki itu menyukai keindahan, bukan dipaksa untuk menerima yang membuat dirinya tersiksa lahir batin, sudah gak bisa memuaskan tapi kamu selalu saja menuntut. Dasar perempuan egois!"
Melati tertegun dengan kalimat demi kalimat yang terlontar dari mulut Rudi, ternyata sikap lembut dan perhatian yang diberikannya selama ini, hanyalah pura pura saja, demi bisa menguasai harta dan kekayaan Melati. Luka yang masih basah kini semakin menganga dengan pengakuan laki laki di hadapannya. Tekad melati semakin besar untuk membuat hidup Rudi menderita. Kebencian yang ada justru semakin besar dan memercik dendam.
"Ternyata selama ini aku sudah bodoh, mempercayai kamu hanya karena sikap pura-pura dan sok lembut mu itu, ternyata itu hanya caramu agar bisa menguasai semua uangku sesukamu, kamu dan keluargamu hidup mewah tanpa kekurangan apapun dengan memanfaatkan kepercayaan yang aku berikan. Baiklah! Akan aku tunjukkan siapa Melati yang sesungguhnya padamu, Mas!"
__ADS_1
Melati mengukir senyum sinis dan terus menyorot Rudi dengan tatapan tajamnya, tak ada lagi rasa hormat dan patuh pada diri Melati, kebencian dan kekecewaan sudah menghancurkan segalanya.
"Memangnya kamu bisa apa? menarik semua uang di ATM, memberikan semua hartamu pada anak anak, dan menguasai tambak ini lagi? Hahahaaaa, kamu bisa apa dengan semua itu, tanpa persetujuan dariku kamu tidak bisa melakukan apapun, ingat Melati! Aku lah yang selama ini mengurus semuanya, tanpa campur tanganku, semua usaha kamu tidak akan sebesar ini. Jadi jangan sombong kamu dan jangan serakah dengan menguasai semua sendiri, aku punya hak dan pantas mendapatkan separuh dari harta yang kamu miliki, ingat itu!"
Rudi dengan pedenya merasa memiliki semua harta Melati, sedangkan sedikitpun tidak ada jasanya disana, yang ada Rudi hanya bisa menghamburkan uang untuk bersenang senang dengan wanita lain di luar sana, Memalukan!
"Terserah, silahkan kamu berpikir begitu, tapi yang pasti, akan aku pastikan kamu tidak akan menerima sepeserpun hartaku. Bahkan hasil dari tambak tambak ini, tidak akan aku biarkan sepeserpun untuk kamu menikmatinya. Cukup! selama ini kamu sudah mengambil banyak keuntungan dari usaha usahaku demi memenuhi gaya hidup kamu dan keluarga kamu yang wah itu. Jadi lebih baik kamu pergi dari sini, karena tidak ada yang kamu dapatkan dari sini." Melati menyeringai dan memandang penuh cemooh pada Rudi, terlihat Rudi mengepalkan kedua tangannya, rahangnya mulai mengeras, api amarah sudah mulai menguasai dirinya, merasa tak dihargai dan di injak harga dirinya.
"Kurang ajar! dasar perempuan serakah! aku menyesal menikahi perempuan sepertimu, sombong, angkuh dan tak punya hati. Awas saja, sampai kamu berani mengusik keluargaku, aku pastikan hidupmu akan menderita!" Rudi tak lagi mampu menahan kemarahannya, amarahnya justru semakin membuat Melati kian menertawakan sikapnya itu, ancaman yang dilontarkan Rudi, sedikitpun tidak membuat nyali Melati menciut, justru dia semakin tertantang untuk mempermainkan emosi Rudi dan keluarganya, permainan baru dimulai, batin Melati bermonolog.
"Jangan bersikap kurang ajar kamu! tanya sama mama kamu, apa yang sudah dia perbuat, sampai papa semarah ini. Tak sepantasnya seorang istri bersikap kurang ajar kepada suaminya. Jangan pernah halangi aku untuk mengambil uang hasil penjualan ikan, aku masih punya hak disini." Rudi menatap sengit ke arah putranya, wibawanya sebagai seorang ayah sudah hancur karena ulahnya sendiri.
Fajar terdiam, berusaha mengontrol emosinya, rasa kesal dan kecewa mulai tumbuh di hatinya, melihat sikap arogan dan tak tau dirinya sang papa, sudah nyata nyata semua tambak milik mamanya, tapi dengan sok kuasa Rudi ingin mengambil hak mamanya hanya demi menyenangkan perempuan selingkuhannya.
__ADS_1
"Cukup, Pa!
papa sedikitpun tidak punya hak mengambil uang mama, tambak ini murni miliknya mama, wajar kalau mama mendapatkan semua hasil penjualan ikan ikan disini, jadi lebih baik papa pergi dan jangan ikut campur lagi urusan di tambak, karena mulai hari ini, aku yang akan mengurusnya, atas permintaan mama!" Fajar menekan kata katanya di setiap kalimat yang ia lontarkan, kekecewaannya terhadap Rudi membuatnya lupa bagaimana cara menghormati laki laki itu, hatinya sudah benar benar dibutakan oleh cinta pada perempuan selingkuhannya, karena Fajar yakin, jika uang yang diminta Rudi akan di gunakan untuk menyenangkan istri sirinya.
"Apa?"
Rudi kaget dengan ucapan putranya yang akan mengambil alih bisnis tambaknya, padahal omsetnya paling besar diantara usaha Melati yang lain.
"Apa aku tidak salah dengar?
Kamu sudah gila ya, menyerahkan tambak seluas ini untuk dikelola anak ingusan. Mau hancur usaha kamu, hah?" Rudi semakin emosi, dan seolah tidak terima dengan keputusan yang diambil Melati. Tapi sedikitpun Melati tidak perduli, justru Melati sangat menikmati kekalutan pria dihadapannya yang terlihat frustasi.
"Aku tidak akan pernah salah mengambil keputusan, Fajar anakku, dan dia sudah cukup dewasa untuk memikul tanggung jawab, karena kamu juga tau kan, kalau anak kita ini anak yang sangat cerdas dan pekerja keras, justru aku sangat yakin, kalau tambak dipegang Fajar akan lebih maju, karena aku yakin, Fajar akan benar benar membesarkan tambak ini dengan jujur, tidak hanya bisa mengambil untungnya saja. Lebih baik kamu simpan tenaga mu, jangan marah marah, sudah tua, takutnya kena serangan jantung!" Setelah berucap demikian, Melati menarik tangan putranya dan memilih meninggalkan Rudi yang mematung, dengan kedua tangan yang mengepal erat, hancur! hidupnya sudah benar benar dibuat hancur oleh Melati.
__ADS_1
"Sialan! Awas kalian!"
Teriak Rudi tidak terima. Namun diabaikan oleh Melati dan Fajar, mereka tetap meneruskan langkah, menemui pak Andi lalu memutuskan pulang, setelah menyelesaikan semua urusan jual beli.