
Bu Dian merasa diatas angin, apa yang diharapkannya ternyata menjadi kenyataan, itu artinya dia bisa numpang hidup enak pada mantan mantunya itu dengan alasan Zadan cucunya,
"aah habis ini aku tak perlu lagi susah payah dan ngeluarin uang untuk kebutuhan, karena kalau tinggal dengan Alim itu artinya aku bisa makan gratis, nanti biar aku kabari bapak, kalau aku tidak akan pulang ke kampung dulu, aku akan menjalankan rencana ku yang sudah aku susun, setelah mendapatkan apa yang ku inginkan barulah aku pulang dan menikmati masa tuaku dikampung tanpa harus kerja susah payah.
dasar laki laki bodoh, gampang sekali percaya dengan orang."
Bu Dian menyeringai sambil berjalan cepat mengikuti langkah Alim dari belakang.
"Sekarang ini biarlah aku yang mengalah dulu, sambil menunggu hasil test nya keluar, lumayan kan bisa bermain main sebentar dengan keluarga pembohong."
Alim dengan santainya melangkah masuk ke dalam rumah, dan juga memiliki rencana lain untuk mantan mertuanya itu.
"Owh iya, ibu nanti tidurnya di kamar Zadan saja.
kalau lapar masak aja sendiri di dapur, jangan nyuruh bik Inah, karena bik Inah hanya kusus melayaniku saja.
jadi ibu lakukan sendiri yang menjadi kebutuhan ibu."
"Apa?"
Bu Dian melotot tak percaya, dengan apa yang di dengarnya barusan.
"Nggak bisa gitu donk Lim, gini gini ibu ini nenek dari anakmu, jadi kamu juga harus memenuhi kebutuhannya ibu, ibu juga masih berhak menikmati uang darimu.
kan yang jagain anakmu juga ibu."
Bu Dian ngomel tak terima.
"Kalau ibu keberatan, silahkan keluar dan pergi dari rumah saya, tapi kalau masih mau tetap tinggal disini, ikuti aturan ku Bu, mengerti kan?"
Alim bicara sedikit keras, dan itu membuat Bu Dian semakin meradang kesal.
"Kamu ya, bicara dengan orang tua tidak ada sopan sopannya, pokoknya aku nggak mau tau, aku tetap tinggal disini dan pembantu mu itu harus melayani ibu juga, titik."
"Terserah ibu."
Alim pergi kebelakang mencari keberadaan bik Inah.
"Nah gitu donk"
Bu Dian merasa menang.
"Bik, mulai hari ini, bibik hanya bekerja untuk melayani kebutuhanku saja, dan kalau ibunya Piana menyuruh bibi apapun itu, biarkan saja, cukup abaikan.
bibi nggak punya kewajiban menuruti perintahnya, bik Inah paham kan?" Alim memberi tahu Bu Imah akan tugas nya.
"Iya tuan, tapi nanti kalau ibunya Bu Piana marah marah bagaimana tuan?,
bibi takut.."
Bibik nggak usah takut, yang gaji bibi kan aku, jadi bibik harus ikuti apa yang aku perintahkan."
"Baik tuan, siap laksanakan."
bik Inah tersenyum senang, dengan adanya perintah dari Alim bik Inah nggak perlu takut lagi membantah ibunya Piana.
karena bik Inah juga sudah malas meladeni orang sombong dan sok berkuasa kayak Bu Dian.
ini saatnya untuk membalas perlakuan Bu Dian ke bik Inah, bik Inah senyum senyum sendiri tanpa menyadari kalau Alim tengah memperhatikan tingkahnya itu.
"Bik, kenapa bibik senyum senyum sendirian begitu?"
"Nggak papa tuan, bibi lega saja.
karena tidak harus menuruti perintah Bu Dian."
"Owh....lakukan saja apa yang ingin bibi lakukan pada ibunya Piana.
__ADS_1
terserah bibi mau ngapain, aku nggak perduli, asal jangan bikin ribut dan gaduh yang mengundang tetangga ya bik."
"Hehehehe iya tuan, siap."
Saat Alim akan melangkah pergi dari dapur, suara cempreng Bu Dian terdengar berdenging di telinga.
"Bik, bik Inah, bikinin aku makanan dan tolong siapin air hangat, aku mau mandi, badanku sudah lengket semua."
perintahnya sudah seperti nyonya besar saja.
"Alim hanya menatapnya saja, sambil menunggu jawaban dari bik Inah, Alim penasaran apa yang akan dilakukan pembantunya itu pada mantan mertuanya.
"Maaf Bu, saya lagi sibuk, silahkan siapkan sendiri apa yang ibu butuhkan."
bik Inah menjawab dengan cueknya, sambil terus tangannya mengiris bawang merah untuk nanti digoreng.
"Sudah berani melawan ya kamu, disini kamu itu pembantu, pembantu kerjanya ya disuruh suruh."
Bu Dian berkacak pinggang dengan mata yang mau copot, melotot.
Alim hanya diam menyaksikan adegan yang lumayan menghibur dengan menyenderkan tubuhnya ditembok sambil bersedekap dada.
"Iya Bu, saya tau pekerjaan saya menyiapkan keperluan majikan saya, tapi disini majikan saya itu pak Alim, bukan ibu.
jadi harusnya ibu paham itu."
bik Inah bicara setenang mungkin sambil menunjukkan senyum meremehkan ke arah Bu Dian.
"Heh makin kurang ajar kamu ya, apa kamu lupa siapa aku hah?"
"Saya nggak lupa kok, ibu Dian ini ibunya Bu piana kan?"
"Nah itu kamu tau, sekarang lakukan apa yang aku perintahkan."
"Trus apa hubungannya kalau ibu, ibunya Bu Piana saya harus melakukan perintah dari ibu?"
herdik Bu Dian emosi.
"Bukan istri, tapi mantan istri dan Piana ataupun ibu, tak punya hak apapun di rumah ini, paham."
tiba tiba suara Alim menimpali kesombongan Bu Dian.
Wanita tambun itu melengos kesal, dan pergi meninggalkan dapur dengan menghentakkan kaki, mulutnya terus nyerocos tak terima.
Alim tak perduli, dengan santainya pergi masuk ke dalam kamar utama, merebahkan tubuh yang mulai penat, namun matanya tak mampu terpejam.
dia kembali kepikiran pernikahan Rihana yang sebentar lagi, rasanya sangat sakit, kalau saja bisa memutar waktu, tentu Alim tidak ingin melakukan kesalahan yang akan membuat hidupnya semiris ini, karena lelah akhirnya Alim mulai tertidur.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Sedangkan saat ini ditempat Rihana sedang mengadakan pengajian, banyak kerabat yang datang, dari pihak Dimas juga banyak yang menghadiri, Rihana begitu bersyukur, selama bertahun tahun hidup dalam tekanan dari Alim.
menanggung derita dan berteman air mata, kini hidupnya berubah total, senyum dan kebahagiaan terus menghampiri hari harinya.
dipertemukan dengan laki laki sebaik Dimas, dan di sayangi oleh keluarganya.
takdirNYA tak ada yang mampu menerka, sebagai hamba cukup jalani semua dengan sabar dan ikhlas, karena dalam derita pasti menemukan bahagia, waktulah yang akan membuktikan semua itu.
🌸🌸🌸🌸🌸🌸
Hari ini Alim akan tau hasil dari test DNA itu, dan Alim harus mempersiapkan diri untuk hasil apapun yang akan diterimanya, dengan buru buru Alim berangkat lebih pagi dari biasanya.
dia ingin pergi ke tempat usahanya dulu untuk mengecek keadaan gudangnya, setelah itu langsung menuju rumah sakit untuk mengambil hasil test DNA nya.
"Bik, bibi gak perlu bikinin aku sarapan yaa, karena habis ini aku langsung berangkat, bibi bikinin kopi saja."
perintah alim pada bik Inah.
__ADS_1
"Nggih tuan, siap."
bik Inah menjawab penuh semangat, bikin Alim geleng geleng kepala dengan tingkah wanita tua itu, tapi bagaimanapun Alim begitu menghormati pembantunya itu.
Setelah minum kopi, Alim bergegas untuk pergi
dia sudah tak sabar ingin mengetahui hasilnya.
Segala sesuatu yang menyangkut pekerjaannya hari ini, Alim percayakan pada orang kepercayaannya, dia hanya sekedar mengecek saja, dan kembali pergi untuk mengambil hasil testnya.
Hanya butuh waktu dua puluh menit Alim sampai kerumah sakit, apapun itu aku harus siap dan segera mengambil keputusan.
Tubuh Alim lemas, matanya memerah, kedua tangannya mengepal, hasil yang dibacakan dokter membuatnya ingin menghancurkan apapun yang ada dihadapannya, kalau tidak ingat ini rumah sakit, pasti semua sudah hancur oleh amukannya.
"kurang ajar kamu piana, ternyata selama ini aku menikahi wanita pel***r, dan bodohnya aku.
percaya dan tunduk dengan semua sikap manisnya."
Menyadari raut wajah Alim yang memerah dengan tubuh menegang, dokter paham dengan apa yang dirasakan oleh Alim.
"bapak baik baik saja kan? "
Dokter Ilham bertanya penuh selidik pada Alim.
"Saya baik baik saja dok, hanya shock saja dengan hasil testnya, trimakasih, saya pamit dulu, sekali lagi terimakasih dokter."
Alim menjabat tangan dokter yang kiranya sudah berumur lima puluh tahunan itu dengan hati bergetar.
"iya pak sama sama"
jawab dokter Ilham lugas.
Alim mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, dia ingin segera sampai kerumah dan berniat mengusir Bu Dian dan meluapkan amarahnya pada wanita pembohong itu.
Braaak!
Alim membanting pintu dengan kasar, amarahnya sudah membuatnya hampir gila.
"Bik, dimana wanita tua itu?
tolong bibi bereskan barang barangnya sekarang, saat ini juga aku ingin wanita itu pergi meninggalkan rumahku."
Melihat alim yang sudah dipenuhi emosi, bik Inah tergopoh gopoh segera melakukan perintahnya.
Sedangkan di dalam kamar ternyata Bu Dian sedang tidur ngeloni Zadan, karena ada keributan Bu Dian pun terbangun dan Zadan nangis karena kaget oleh suara pintu yang dibanting.
Bik Inah memasukkan baju baju Bu Dian ke dalam tas, karena wanita itu memang tak membawa banyak barang.
"kenapa kamu masukin bajuku ke dalam tas semua bik, ada apa ini?"
Bu Dian nampak kebingungan dengan masih setengah sadar dari bangun tidurnya, Alim tiba tiba masuk dan melempar kertas ke arah Bu Dian dengan wajah yang penuh amarah.
"Sekarang ibu sudah tidak bisa lagi berkelit dari bukti ini, itu hasil test DNA, dan hasilnya negatif, itu artinya Zadan bukan anakku.
sekarang juga pergi dari rumahku, atau aku akan hilang kendali dan melenyapkan kalian sekarang juga.
pergi ....."
Alim membentak Bu Dian dengan wajah bengisnya, Bu Dian ketakutan dan cepat cepat pergi membawa Zadan keluar dari rumah Alim tanpa ganti baju, rambutnya masih awut awutan.
dan Zadan tak berhenti dari menangis, Alim tak perduli lagi, hatinya sangat terluka oleh kebohongan Piana dan keluarganya.
Alim merutuki kebodohannya, meraung sendirian menyesali semua perbuatannya, dulu dia dengan pongahnya membuang Rihana dan Alma, memilih hidup bersama Piana.
namun ternyata hidupnya justru hancur berantakan oleh semua kebohongan dan kelicikan Piana.
sedangkan saat ini Rihana sedang menyiapkan kebahagiaan bersama pria yang sangat mencintai dan menghargainya, menerima dan menyayangi Alma seperti anak kandungnya.
__ADS_1
Inilah hidup, kita harus siap dengan segala konsekwensinya, apa yang kita tabur, itulah yang akan kita tua nantinya.