Tekanan Dari Mantan Suami

Tekanan Dari Mantan Suami
Tidak bisa berubah


__ADS_3

"Apa kalian tidak ingin keluarga ini kembali rukun? Apa kalian tidak sadar kalau kalian sudah memiliki cucu? Dan apa kalian lupa, kalau ada anak anak kalian yang mengharapkan kalian tetap baik baik saja di usia yang sudah tak muda lagi?


Aku capek lihat orang tuaku berebut harta seperti ini. Malu, Pa! Malu, Ma!


Alloh, astagfirullah." Ayu terisak sangking tidak tau harus berbuat apa untuk menyadarkan kedua orang tuanya, terutama sang papa yang jelas jelas salah dan membuat keadaan semakin rumit.


"Aku capek dengan sikap kalian yang seperti ini, tolong sudahi ini, cukup!" Ayu menangis histeris dan membuat Rudi maupun Melati langsung terpaku menatap putri mereka yang terisak sebegitu mirisnya.


"Apakah, papa yakin akan meneruskan ini semua?


Meskipun itu akan menyakiti hati kami, apa papa akan terus membuka jalan permusuhan dengan sesuatu yang sudah jelas, kalau harta yang akan papa gugat adalah murni miliknya mama, hasil dari jerih payahnya mama yang diwariskan orang tua mama untuk mama, apa papa gak malu dengan semua ini?" tekan Riko yang sudah tidak mampu menahan sesak di dadanya, Riko mengira papanya akan mengerti dan menyadari kekeliruannya serta mau berubah. Nyatanya Rudi semakin menunjukkan keegoisannya.


"Keterlaluan!


Sejak kapan kamu bicara kasar sama orang tua seperti ini, Riko?" bentak Rudi tak terima, sedangkan Melati memilih diam dan berusaha menenangkan dirinya, Melati sudah benar benar muak dengan sikapnya Rudi yang tidak pernah bisa berubah.


"Aku belajar dari papa! Dari cara papa bersikap dan tak pernah mau perduli dengan perasaan orang lain, dari papa yang egois dan tidak pernah mengakui kesalahan. Apa papa lupa kalau aku ini anak papa? aku bisa meniru dari apa yang Papa tunjukkan padaku." Riko sudah tidak perduli dengan kemarahan papa nya, bahkan sudah lupa bagaimana caranya menghormati papa nya, meskipun sadar kalau sikapnya ini tidak dibenarkan, tapi papanya harus di ingatkan dan tidak bisa dibiarkan berbuat seenaknya.


"Apa ini hasil didikan kamu?


mengajarkan mereka untuk membenci papanya sendiri, untuk melawan papa nya, keterlaluan kamu, Melati!


Jangan karena kamu merasa banyak harta, dengan seenaknya kamu mempengaruhi anak anak untuk mendukungmu dengan mengimingi harta pada mereka. Cerdik kamu Melati! Hebat! Kamu berhasil membuat mereka memihak kamu!"

__ADS_1


prok! prok! Rudi bertepuk tangan lalu pergi meninggalkan ruangan tanpa mau menoleh lagi.


Melati hanya diam, tak ingin menanggapi tuduhan suaminya yang memang tidak benar sama sekali.


Mungkin Rudi lupa, jika anak-anaknya sudah dewasa dan bisa menilai mana yang baik dan mana yang buruk.


"Ma! Mama baik-baik saja kan?"


Fajar menatap mamanya lekat, kecewa dengan sikap yang Rudi tunjukkan. Sepertinya Rudi memang belum bisa berubah, masih dengan ke arogannya, dan tidak mau mengakui kesalahannya.


"Mama gak papa, kalian tidak usah hawatir." Melati membalas pertanyaan Fajar lembut.


"Ayu, sudah! jangan tangisi sikap papa kamu, biarkan saja, itu sudah jadi pilihannya.


"Mama tidak perlu hawatir, kita sudah dewasa. Kita tau mana yang harus kita bela, dan mana yang benar dan mana yang salah. Sikap papa memang salah, tapi kita hanya tidak suka dengan sikap papa, dan kita tetap akan menjadi anaknya papa." Balas Fajar dengan wajah dingin.


"Mama tidak pernah meminta kalian memusuhi papa dan tidak pernah melarang kalian untuk menemui dia. Hanya mama mohon, jangan minta mama untuk kembali dengan papa kalian. Karena hati mama sudah terlanjur sakit. Maafkan mama!" sahut Melati sendu, menatap anaknya satu persatu.


"Kami paham, Ma. Mama baik baik ya, jangan terlalu memikirkan sikap papa, kalau memang harus bercerai dan itu membuat mama nyaman, lakukanlah Ma. Kami tidak mau melihat mama sedih dan nangis karena ulah papa." Ayu menjawab ucapan mamanya dan mendekat ke mamanya, lalu memeluknya erat.


"Makasih sayang, makasih anak anak mama!"


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️

__ADS_1


Rudi terus mengumpat di sepanjang jalan. Kecewa dengan sikap anak anaknya yang lebih membela ibunya. Padahal dia juga ikut andil dalam mengembangkan usaha milik Melati. Jadi wajar kalau menuntut pembagian harta Gono gini. Lalu dimana salahnya?


"Akan aku buktikan kalau aku juga bisa hidup tanpa uang dari Melati. Meskipun saat ini tabunganku sudah tinggal sedikit, setidaknya aku masih menyimpan uang ratusan juta yang bisa aku Cairkan kapan saja, jadi aku tidak khawatir lagi, Namun aku juga harus bisa memenangkan gugatan tentang harta Gono gini, aku tidak rela kalau Melati menikmatinya sendiri.


Rudi melajukan mobilnya kencang, bukan arah pulang yang ia tuju, tapi berhenti di pelataran hotel yang lumayan nyaman di pinggiran kota. Dengan langkah tegap, Rudi menuju hotel dan langsung masuk mencari nomor yang tadi dikirim lewat ponselnya dari seorang wanita yang sudah jadi langganan Rudi.


Anak kuliahan yang memang bekerja menjadi pemuas nafsu para pria hidung belang, tak terkecuali Rudi yang bahkan rela membayar mahal wanita tersebut demi memuaskan dirinya.


Rudi berhenti di depan kamar nomor 234, lalu memencet bel nya, tak lama setelah itu, ada perempuan cantik yang membukakan pintu dengan pakaian minim bahan, dan langsung membuat Rudi menelan saliva nya susah payah.


Wanita yang masih berusia dua puluh empat tahun itu sering kali di panggil Rudi untuk melayaninya.


Seperti hari ini, saat Rudi sedang banyak beban pikiran, dalam satu kali pencet, Diana langsung mengiyakan dan menunggu di dalam kamar hotel yang sudah dibooking nya, atas permintaan Rudi.


"Masuk, om! Tumben kok kacau gitu wajahnya, ada masalah?" sapa Diana saat melihat Rudi dalam keadaan tidak seperti biasanya.


"Biasa, urusan keluarga." sahut Rudi malas dan mulai melancarkan aksinya, Namun Diana menolak dan meminta Rudi untuk membersihkan diri lebih dulu.


"Om mandi dulu gih, biar fresh dan wangi." sergah Diana mengelak dan langsung diiyakan Rudi yang langsung memasuki kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Saat Rudi pergi ke kamar mandi, Diana membuka dompet Rudi yang isinya lumayan banyak. Diana tersenyum senang, karena setiap kali melayani Rudi, Diana selalu mendapat bayaran yang lebih, apa lagi tadi Rudi bilang kalau memintanya untuk menemani sampai besok pagi. Pasti Rudi akan memberinya banyak uang.


Membayangkan saja Diana sudah senang duluan.

__ADS_1


__ADS_2