
"Kamu mau minta ibu serumah sama istri siri kamu itu? apa kamu mau ibu kena darah tinggi hah?" sungut Bu Endang kesal.
"Terus gimana lagi, apa ibu mau tinggal di rumah kontrakan lagi, yang engap juga kecil? terserah ibu saja sih mau gimana? Rudi sudah memberikan tawaran. Piana itu istriku Bu, kalian harus rukun dan saling menyayangi."
balas rudi tenang dan semakin membuat Bu Endang tersulut emosi.
"Ternyata kamu lebih berat pada istrimu yang cuma modal ************ saja itu, dari pada ibu kamu sendiri. Kalau bukan karena terpaksa, ibu gak akan Sudi tinggal satu rumah dengannya, tapi kamu juga harus ingat, jangan pikir ibu merestui kalian, ibu menerima Piana. Ibu hanya tidak punya pilihan lain saja waktu itu."
"Sudahlah, Bu! Semua sudah berlalu. Lagian mantu kesayangan ibu juga sebentar lagi mau mengusir ibu dari sini. Melati itu licik dan angkuh, beda dengan Piana yang selalu bisa menyenangkan ku, nurut juga gak pernah neko-neko, dia itu masih muda dan lebih cantik dari Melati yang sakit-sakitan itu, kayak nenek-nenek saja!" sungut Rudi kesal, setiap kali mengingat Melati yang ada dalam dirinya hanyalah sebuah kebencian dan dendam.
"Melati seperti itu, ya karena dari ulahmu itu, kamu yang membuatnya bersikap seperti itu, wong kamu sudah menyakitinya. Kalau saja kamu tidak banyak tingkah, mungkin dia akan tetap baik dan membiarkanmu bebas menikmati hartanya, kamu saja yang bodoh!" Sahut Bu Endang sangat kesal dengan sikap anak lelakinya.
"Kalau ibu, terus membela Melati dan memojokkan Rudi seperti ini, lebih baik ibu hidup sendiri, Rudi akan lepas tangan sama kalian semua." balas Rudi emosi, lantaran ibunya terus menyalahkannya dan terkesan memojokkan Rudi.
Bu Endang melengos menahan kesalnya. Tak ada pilihan lagi selain memilih diam, seperti waktu memaksa untuk menikahi Piana di rumah ini, itu juga Bu Endang ijinkan dengan hati terpaksa, lantaran Rudi selalu mengancam tidak lagi mau memenuhi kebutuhannya juga dua adiknya yang masih kuliah.
__ADS_1
"Ini, Mas. Kopinya!" Reni meletakkan secangkir kopi dan bolu kukus di atas meja.
"Ren, lebih baik kamu beres beres sekarang, kita akan pindah ke rumah baru Mas, karena rumah ini akan di ambil lagi sama Melati, aku gak ingin melihat kalian terusir, jadi lebih baik kita pindah sekarang. Segera kemasi barang-barang kamu dan Beni." perintah Rudi pada adik perempuannya, dan membuat Reni mengernyitkan kedua alisnya menatap kakaknya, meminta penjelasan.
"Kenapa kita pindah, Mas? Ada apa sih sebenarnya?" Reni menatap ibu juga kakaknya secara bergantian, bingung apa yang sebenarnya terjadi.
"Sudah! jangan banyak bertanya, ikuti saja perintahku, nanti kamu juga tau sendiri. Masih untung aku tetap perduli dengan kalian, jadi lebih baik segera berkemas, bawa aja yang penting dulu, yang lainnya bisa menyusul nanti." Sahut Rudi tak suka. Dan Reni menatap ibunya meminta penjelasan, tapi Bu Endang hanya mengangguk kecil seolah meminta Reni untuk mengikuti apa kata Rudi.
Tanpa lagi banyak bertanya, Reni langsung pergi untuk berkemas, memasukkan barang-barangnya ke dalam koper, dan juga barang milik Beni adiknya. Meskipun begitu banyak pertanyaan di dalam hatinya.
Rudi dengan gaya pongahnya menelpon salah satu temannya untuk menyewakan truk, mengangkut barang barang yang akan di bawa pindah, dan Rudi juga menelpon salah satu kenalannya menjual barang barang yang ada dirumah ini dengan segera.
Dua truk besar parkir di depan rumah ibunya Rudi, satu untuk mengangkut barang barang yang akan di bawa pindah kerumah Rudi yang baru dibelinya secara kredit tak jauh dari rumah Rihana. Dan truk satunya mengangkut barang barang yang sudah dijual Rudi pada kenalannya dengan harga tinggi, karena memang semua barang milik Melati dirumah itu mempunyai kwalitas terbaik dan tentunya barang-barang mahal. Lumayan, dari penjualan barang tersebut Rudi bisa mengantongi uang hampir lima puluh jutaan, Rudi langsung tertawa senang, tidak bisa mengambil bagian dari tambak, Rudi ganti menjual barang-barang Melati dirumah yang di tempati ibunya. Licik!
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
__ADS_1
"Bu, di depan rumah ada dua truk besar yang sedang mengangkut barang, sepertinya mereka akan pindah hari ini, apakah semua barang barang itu milik ibu atau milik ibunya pak Rudi?" telpon dari orang kepercayaan Melati yang Melati tugaskan untuk mengintai di rumah mertuanya, membuat Melati terhenyak tapi segera mungkin Melati menguasai rasa terkejutnya.
"Semua barang di dalam rumah itu milikku, tapi biarlah mereka membawanya, karena aku sudah tidak perduli, lagian juga tidak seberapa. Masih lebih perih dari balasanku nantinya. Jadi biarkan saja. Setelah mereka semua keluar, kamu masuk menggunakan kunci cadangan yang sudah aku berikan, dan akan ada seseorang yang nanti datang ke sana untuk melihat rumah itu, mereka aku suruh untuk segera merenovasi tempat itu untuk aku jadikan panti asuhan."
balas Melati santai dan seolah tak perduli dengan apa yang diperbuat suaminya, seolah barang yang dibawa Rudi tidak ada artinya sama sekali buat seorang Melati yang memang memiliki kekayaan yang tak tanggung tanggung.
"Baik, Bu. Kalau begitu saya akan melanjutkan kembali tugas saya." sahut Irwan tegas, laki laki muda yang masih berusia dua puluh tujuh tahun itu memang menjadi orang yang di percaya Melati karena ketegasan dan kejujurannya, Irwan adalah anak pembantu orang tua Melati dulu, dia disekolahkan oleh orang tua Melati hingga sarjana, dan bekerja di salah satu kantor cabang milik ayahnya Melati sebagai manajer. Dan saat ini sedang diminta Melati buat membantunya untuk menyelidiki Rudi, urusan kantor masih ada Riko yang menghandle dan di bantu oleh suaminya Ayu, menantu Melati.
"Kasihan Bu Melati, padahal dia orang baik, tapi suaminya sungguh keterlaluan, lihat saja, aku akan membalas sakit hati ibu, karena keluarga Bu Melati sudah terlalu baik padaku, dan inilah saatnya aku membalas kebaikan itu, jujur aku juga tidak terima kalau Bu Melati di perlakukan buruk seperti ini.
Akan aku cari tau, kemana mereka pindah rumah, dan menyelidiki seluk beluk rumah itu, lihat saja, kalian akan merasakan pedih dari perbuatan kalian yang sudah menyakiti orang yang begitu aku hormati." Gumam Irwan tak terima dengan sikap Rudi yang sudah berbuat sesukanya terhadap Melati yang sudah dianggapnya sebagai kakaknya sendiri.
Irwan menatap tajam ke arah rumah yang kini menjadi intaiannya. Kemarahannya terhadap Rudi membuatnya ingin membalaskan sakit hatinya seorang Melati, Irwan memiliki sikap tegas tapi dingin, dia selalu bertindak dengan sesuatu yang tidak terduga. Kalau ada yang mengusik orang yang dia sayangi, Irwan tidak segan segan untuk menghancurkan orang tersebut dengan tindakannya yang sulit untuk di lacak, selalu bersih tak pernah meninggalkan jejak, pun rencana yang sudah di susunnya untuk Rudi juga pelakor itu. Irwan sudah menyiapkan kejutan untuk mereka yang tentunya nya akan membuat keduanya menyesali perbuatannya. Dan menjadi bumerang untuk rumah tangga mereka, yang memang dibangun di atas luka seorang wanita baik seperti Melati.
"Tunggu saja, kehancuran kalian!
__ADS_1
Dan kamu, Rudi. Kamu akan menyesal karena sudah memilih perempuan itu, setelah kamu sadar siapa perempuan yang kamu nikahi itu, dia tak lebih hanya perempuan murahan yang tidak ada apa apanya dibandingkan dengan Bu Melati yang memang seorang wanita terhormat dan memiliki hati yang begitu baik, tapi kamu sudah menghancurkan hatinya itu." gumam Irwan penuh dengan sorot kebencian.