
"Sial, wanita tua ini, benar benar sudah menghancurkan kesenanganku." Piana merutuki kebodohannya yang sudah ceroboh.
"Kita tunggu apa yang sebentar lagi akan terjadi, siap siap gih, masukin baju baju kamu ke koper, karena sebentar lagi, anakku akan menyeret kamu keluar dari rumah ini. Selamat menikmati."
Bu Endang sangat puas melihat Piana ketakutan dengan wajah memucat penuh kecemasan. "Rasain." batin Bu Endang merasa menang.
Selepas kepergian Bu Endang, mertuanya. Piana dilanda gelisah, cemas dan takut, kalau Rudi akan menendangnya keluar dari rumah ini. Mau kemana lagi dia, sedangkan saat ini Piana sudah tidak punya tempat tinggal di kota ini, mau numpang di tempat temannya juga gak mungkin, kembali ke apartemen juga sudah tidak mungkin, karena apartemen sudah terlanjur di jual, pulang ke kampung, lebih tak mungkin lagi, karena disana Piana tidak akan betah, kehidupannya sudah sangat berbeda antara di kampung dan kota.
Piana mondar mandir, memikirkan cara mengatasi kemarahan Rudi kalau sampai dia mengetahui kelakuannya. Tapi sampai kepalanya pusing tak juga menemukan alasan yang pas untuk menyanggahnya.
"Huh, apes banget sih hidupku! Baru saja ngerasa nyaman, ada saja yang mengganggu, kenapa juga wanita tua itu ikut campur dan lancang merekam kegiatanku, aah bodoh! Sial!"
Piana terus mengumpat dan merutuki kebodohannya, kebenciannya pada Bu Endang semakin menjadi, lantaran ikut campur nya wanita itu, semua jadi berantakan, dan Piana terancam di usir dari rumah ini.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Sedangkan di lantai bawah, nampak Rudi memasuki rumah dengan wajah lelahnya, tempat pertama kali yang Rudi singgahi adalah dapur, untuk mengambil segelas air untuk menghilangkan dahaganya. Karena selama menjadi istri, Piana belum pernah sekalipun menyambut kepulangan Rudi dari lelahnya bekerja. Piana selalu cuek dan asik dengan dunianya sendiri. Dulu Rudi tidak perduli dan tidak mempermasalahkan, karena masih sangat mencintainya bahkan begitu mengagumi Piana. Tapi saat ini, rasa itu sudah berlahan hilang, dan rasanya pada Piana biasa saja, hanya sekedar butuh untuk menyalurkan hasrat saja, tidak lebih. Itukah kenapa Rudi selalu bersikap cuek kala Piana merajuk dan mulai menuntut.
"Mas! Baru pulang?" sapa Reni yang juga ada di dapur, sedang menyiapkan menu makan malam, menaruhnya di atas meja, lengkap dengan kopi juga teh hangat.
"Iya, tadi ada lembur, jadi pulang agak terlambat. Lumayan bisa dapat uang tambahan. Ibu dimana?" sahut Rudi datar, dan kembali meneguk air putih di dalam gelas yang ada di genggamannya.
"Ibu, ada di lantai atas. Bikin perhitungan sama istri Mas Rudi, yang amit amit!" balas Reni dengan wajah kesal menatap kakaknya yang mengerutkan wajahnya, tidak mengerti.
__ADS_1
"Ada apa lagi? Kenapa lagi dengan Piana? Dia bikin ulah apa ke ibu?" todong Rudi dengan sederet pertanyaan yang di tujukan pada adiknya, yang memasang wajah tak suka.
Rudi mengurungkan niatnya untuk naik ke atas, memilih duduk di kursi dapur, dan mengobrol dengan adiknya, sambil mengistirahatkan tubuhnya yang masih terasa lelah.
Meraih cangkir yang berisi kopi, lalu mulai menyesapnya sedikit.
"Ada apa sama ibu dan Piana, Ren?" sekali lagi Rudi mengulangi pertanyaannya.
"Piana sudah menghabiskan makanan yang dimasak ibu dengan susah payah untuk menyambut kepulangan Mas Rudi juga Mas Beni.
Padahal, Piana seharian ini, tidak turun sama sekali, jangankan bantu ibu memasak, ibu bersih bersih rumah saja dia gak ada niat membantu, dan malah menyuruh ibu untuk mencucikan bajunya. Kesel kan?" Sahut Reni tak suka, agar kakaknya tau, seperti apa perempuan yang dinikahinya itu.
Rudi menghembuskan nafasnya dalam, matanya menatap kosong ke depan, ada rasa sesak sudah mengkhianati dan meninggalkan Melati, istrinya. Tapi dendam dan sakit hatinya jauh lebih besar dari penyesalannya, sehingga Rudi tetap memilih angkuh dan pergi dari kehidupan anak dan istrinya.
Sahut Rudi santai dan membuat Reni melebarkan matanya seketika, mulutnya menganga, dengan apa yang di dengar dari mulut kakaknya.
"Ibu guyur sama air satu gayung, biar tau rasa."
tiba tiba Bu Endang muncul dan langsung menyahut obrolan anak anaknya di dapur.
Rudi dan Reni langsung menoleh ke arah ibunya bersamaan. jelas sekali Bu Endang merasa puas karena sudah menyalurkan kekesalannya pada menantunya yang gak bener itu, apa lagi saat mendengar anak lelakinya membebaskan untuk Piana diberi pelajaran, itu artinya Rudi sudah tidak lagi begitu membutuhkan perempuan itu. Kesempatan baik untuk mempengaruhi Rudi biar meninggalkan Piana dan mengusirnya dari rumah, juga menceraikan perempuan itu lalu meminta maaf dan kembali dengan istrinya, Melati. Itu yang ada di benak Bu Endang saat ini.
"Baguslah kamu ada disini, ibu mau kasih lihat kamu sesuatu, ibu yakin setelah kamu melihatnya, kamu akan membuang perempuan itu dari hidupmu." sambung Bu Endang semangat dah langsung mengambil tempat duduk tak jauh dari anaknya.
__ADS_1
"Ren, berikan hapenya, biar Mas mu tau, seperti apa kelakuan istrinya." perintah Bu Endang tegas dan menatap Rudi tajam, sedangkan Rudi bingung apa yang dimaksud dengan ibunya.
"Ada apa Bu?" sahut Rudi bingung dan tangannya menerima ponsel yang disodorkan oleh adiknya.
"Mas, buka saja dan lihat Vidio di galeri yang paling atas. Nanti Mas Rudi akan tau sendiri. Dan, Iya, hari ini mas Beni bilang akan pulang, setelah pulang kerja di bengkel temannya."
Sahut Reni menimpali dengan gaya cueknya, matanya melirik keberadaan Piana yang mengintip di atas sana, tapi Reni pura pura tidak melihatnya.
"Ini?"
Rudi tergagap, matanya memerah dan terlihat rahangnya mengeras, kemarahan langsung menyambangi pria arogan itu. Tidak terima karena dengan perbuatan Piana itu, sudah menginjak injak harga dirinya sebagai seorang suami. "Menjijikkan!" suara Rudi menggelegar, kedua tangannya terkepal dengan dada yang naik turun menahan emosi.
Melihat Rudi murka, Piana langsung memilih kembali masuk ke kamar dan menguncinya rapat, takut kalau Rudi akan melakukan sesuatu yang menyakitinya. Melihat Piana ketakutan, Reni tersenyum miring dengan tatapan mengejek.
"Sekarang kamu sudah tau kan, siapa wanita itu di belakang kamu?" sahut Bu Endang puas dan berharap anaknya akan bertindak tegas pada Piana.
"Usir dia dan ceraikan! kembali sama anak dan istrimu, belum terlambat kalau kamu menyesali dan meminta maaf atas kesalahan kamu." sambung Bu Endang yakin, kalau anaknya kali ini akan mendengarkan ucapannya.
"Aku akan membuat Piana menyesal, sudah berani menginjak harga diriku, akan aku pastikan setiap hari dia akan menangis merasakan perih."
Rudi bergumam penuh kebencian, tak memperdulikan apa yang ibunya katakan.
"Apa yang akan kamu lakukan? usir dan ceraikan!" Bu Endang mengulang kalimatnya sekali lagi. Rudi menggeleng dengan ekspresi yang sulit di artikan, seringainya terlihat mengerikan.
__ADS_1
"Tidak Bu, aku akan menyiksanya dulu, baru akan aku buang dia ke jalanan." sahut Rudi dingin penuh dengan penekanan di setiap kalimatnya.