
"Dibiarkan gimana, wong dia semakin nglunjak, bicaranya nyakitin banget di telinga, orang seperti dia itu harus dikasih pelajaran biar kapok, biar mikir dua kali kalau mau berbuat sesuatu." balas kakakku tak terima.
"Yoweslah, juga sudah terjadi, mau gimana lagi. Nanti kalau suamimu pulang, jawab saja baru kena amukan orang gila." jawabku santai, lha gimana kakakku juga sangat susah diberi tau, sikap kerasnya bikin geleng kepala. Tapi dia hanya akan melakukan itu pada orang yang sudah melebihi batasan nya saja.
"Paling juga Mas Rudi akan ngomel bahkan ketawa kalau tau aku babak belur karena menghajar Piana. Awas saja kamu, kalau sampai kembali dengan perempuan gila itu lagi, gak Sudi aku mengakui kamu adikku." cerocos kakakku semakin ngawur saja, bisa bisanya menuduhku akan balikan dengan Piana, aku masih waras, tidak mau menderita dan sengsara karena ulah orang yang sama.
"Siapa juga yang mau balikan dengan dia, aku masih sehat mbak, masih ingin hidup enak dan nyaman, kembali sama Piana sama saja seperti menggali kuburan ku sendiri. amit amit." jawabku sedikit ketus.
"Syukurlah kalau begitu, aku seneng dengarnya. Tapi ngomong ngomong, kamu tadi bilang kalau mau menikahi Safitri, benar begitu Lim?" tanya kakakku penuh selidik dan langsung mengundang perhatian dua wanita yang ada di depanku, Safitri dan ibunya. Aah sialan, kenapa kakakku membahas ini disaat masih ada mereka, aku jadi gak enak jawabnya, padahal tadi hanya spontan saja, agar Piana tidak lagi mendekatiku. Aku sudah muak dengan perempuan itu.
"Eemm, kita lihat saja nanti mbak, lagian kita juga baru ketemu dan belum tau satu sama lain, semua butuh waktu, tidak bisa buru buru, apa lagi menyangkut tentang hati." jawabku beralasan, dan di jawab anggukan oleh kakakku. Terlihat Safitri tersenyum memperhatikan.
"Ya, kamu juga harus sering sering komunikasi, bangun kedekatan kalian, mulai mengenal satu sama lain, mbak yakin, Safitri gadis yang baik, cocok untuk kamu jadikan pendamping, mbak dan ibunya Safitri sudah berteman lama sekali, Safitri dibesarkan dan di didik oleh perempuan hebat, percayalah, mbak mu ini tidak akan memberikan pilihan yang salah untuk kebaikan adik mbak sendiri." jelas kakakku panjang lebar, dan aku berusaha untuk mengiyakan dan mencoba menjalin hubungan dengan perempuan pilihan kakakku, karena aku yakin, kakakku juga ingin yang terbaik untukku.
__ADS_1
"Iya mbak, Alim akan berusaha untuk membuka hati, semoga Safitri berjodoh denganku, asal dia mau menerima Alma dengan tulus, maka aku akan berusaha untuk membuka hatiku. Apakah kamu siap Safitri?" aku langsung mengalihkan pandanganku pada perempuan yang dari tadi hanya menyimak pembicaraanku dengan mbak kayah, dia langsung gelagapan karena kaget dengan pertanyaan ku yang tiba tiba.
"Insya Allah, Mas! Aku akan menerima mas Alim dan anak mas, karena akupun sadar, jika aku masih banyak kekurangan, bahkan mungkin belum pantas mendampingi Mas Alim, jujur aku minder." terlihat Safitri sangat gugup, bahkan terlihat bibirnya bergetar waktu menjawab pertanyaan dariku, aku mulai yakin, jika wanita yang di pilih kakakku benar benar baik dan aku akan mulai belajar untuk menerimanya, tapi tetap akan menyelidikinya dulu, aku gak mau, salah lagi dalam memilih pendamping hidup, terutama untuk anakku, meskipun Alma tinggal dengan ibunya, tapi nanti dia juga akan bergantian ikut denganku, dan disitulah aku harus membuatnya nyaman dengan orang baru yang hadir diantara kami.
"Mari sama sama kita jalani ini, aku harap kamu benar benar iklas menerimaku dan juga anakku, insya Alloh aku pun juga begitu, karena bagiku saat ini, kenyamanan dan kebahagiaan putriku yang utama." aku pun mengatakan apa yang menjadi pemikiran dan keinginanku dalam mencari pendamping hidup, dan Alhamdulillah sepertinya Safitri dan ibunya tidak keberatan.
"Insya Allah, Mas. Tolong tegur dan bimbing Safitri jika ada sikap dan ucap Safitri yang nantinya membuat mas Alim tidak nyaman, karena Fitri mendamba imam yang bisa membawa Safitri menjadi lebih baik, insya Allah Safitri akan patuh dan taat pada suami selama tidak melanggar syari'at." balasnya yang membuatku langsung terpana.
Mbak rokayah dan ibunya Safitri saling melempar senyum, dan aku jujur masih gamang dengan apa yang aku putuskan. Semoga saja pilihanku kali ini tidak salah. Mengharap Rihana sepertinya sudah tidak mungkin lagi, dia sudah punya kehidupan baru yang lebih baik, ada suami yang begitu menyayanginya dan bahkan memanjakannya dengan hartanya yang melimpah, aku masih kalah jauh dari Dimas. Inilah mungkin saatnya aku kembali menata hati dengan orang baru untuk membuka lembaran baru.
"Alhamdulillah, mbak seneng dengarnya. Semoga kalian cocok dan saling cinta, semua cuma butuh waktu, insyaallah seiring waktu, rasa itu akan hadir diantara kalian, cukup saat ini kalian saling mengenal dan mendekatkan diri agar bisa mengenal pribadi masing masing." nasehat kakakku yang dihiasai dengan wajah penuh binar.
"Asalamualaikum." terdengar suara mas Rudi yang mulai masuk dengan kedua anaknya, dan benar saja, kakak ipar ku itu langsung terlihat melongo menatap wajah istrinya yang bonyok.
__ADS_1
"Astagfirullah, kamu kenapa itu, Ma? kok wajahmu lebam begitu?" tanyanya cemas, dan kedua anaknya pun langsung menghampiri ibu nya, menatap dengan heran dan cemas.
"Gak papa kok pa, tadi aku cuma kasih pelajaran saja sama seseorang, barusan ada orang gila masuk kerumah, ngamuk, ya ganti aku ladeni dengan amukkan juga." jawab kakakku sambil terkekeh, dan membuat suaminya berkerut heran.
"Maksudnya ini giman, Lim? orang gila siapa?" tanya mas Rudi bingung.
"Tadi ada Piana, Mas. Dia buat keributan disini, dan istri mas meladeninya dengan garang, ya gitu deh ada adegan adu jotos antara mereka, dan ini hasilnya, bonyok semua." jelas ku sambil menahan tawa melihat kakakku yang merengut tak suka.
"Ya ampun, Ma. Kok bisanya kamu ladenin orang kayak Piana, nanti cuekin saja kalau dia kesini, langsung tutup pintu, kalau gak mau pergi, panggil warga, minta tolong buat usir dia. Jangan malah meladeni dan sampai bonyok kayak gini, kayak kurang kerjaan saja.". omel mas Rudi pada kakakku yang langsung mecucu tak terima.
"Kamu ini ya, Pa. Istri sakit bukannya diobatin, di elus kek, eh malah di omeli." sungut mbak kayah tak terima, tapi justru mas Rudi memilih pergi meninggalkannya, dan langsung saja membuatku ingin tertawa, juga terlihat bila dan Roy menahan tawa melihat ibunya di omelin sang bapak.
"Ini lagi, kalian malah ketawa, senang lihat mama Kena omel gitu?" mbak kayah ganti melotot ke arah anak anaknya yang justru makin meledak tawanya. "Ampun mah, ampun! habisnya mama lucu sih, sudah tau Tante Piana kayak apa, masih saja di ladeni, ya iya papa ngomel mah." jawab bila tak bersalah.
__ADS_1