Tekanan Dari Mantan Suami

Tekanan Dari Mantan Suami
Tak dapat apa apa


__ADS_3

"Sialan! Awas kalian!"


Teriak Rudi tidak terima. Namun diabaikan oleh Melati dan Fajar, mereka tetap meneruskan langkah, menemui pak Andi lalu memutuskan pulang, setelah menyelesaikan semua urusan jual beli.


Rudi sama sekali tidak menyangka, penghianatan ya kali ini akan menghancurkan semuanya. Melati benar benar tidak mau mendengarkannya . Mau tidak mau Rudi harus bertindak, jika dibiarkan dirinya akan semakin di injak-injak, itulah yang kini ada di pikirannya Rudi.


Dengan muka memerah dan kemarahan yang meletup, Rudi memanggil pak Andi, orang yang selama ini menjadi kepercayaan orang tua Melati.


Bertahun tahun pak Andi bekerja dengan setia di tambak orang tuanya Melati, bahkan pak Andi pernah menasehati Melati untuk tidak terlalu percaya dengan Rudi dan lebih baik tambak tidak di percayakan pada Rudi, tapi Melati selalu bilang kalau dia ingin membuat suaminya di hargai orang lain dan dinilai baik dan bertanggung jawab di mata orang orang, Pak Andi hanya bisa pasrah dan mengikuti keputusan Melati, meskipun sangat bertentangan dengan hatinya.


Kalau saja, pak Andi tidak cepat bertindak dan bisa berpikir cerdas, mungkin tambak sudah hancur dan bangkrut, karena Rudi hanya tau bagaimana mengambil uangnya saja, tidak perduli dengan yang lainnya, sehingga pak Andi lah, yang terus berjuang untuk bisa mempertahankan tambak itu tetap bisa berjalan hingga kini.


Tapi hari ini, Melati sudah kembali menyerahkan semuanya pada pak Andi sementara, selama Fajar masih belum benar benar paham, Melati sudah kembali seperti dulu, tegas dan jiwa pemimpinnya sudah membuatnya kembali berdiri tegak melawan ke semenaannya Rudi selama ini.


"Pak Andi! ke marilah!"


Rudi berteriak tanpa tau sopan santun, padahal dia tau, pak Andi lebih tua darinya, dan pak Andi orang yang di percaya oleh keluarga Melati di tambak ini, bahkan semua pekerja begitu menghormatinya. Tapi itu tidak berlaku oleh Rudi yang memang memiliki sikap angkuh dan sok pemimpinnya.


Mendengar namanya di panggil dengan begitu kerasnya, Pak Andi menoleh dan tersenyum kecil, tanpa banyak bicara, pak Andi berjalan ke arah Rudi yang sebelumnya berpamitan dulu dengan orang orang yang tadi jadi pemasok ikan ikannya.


"Iya, Pak. Ada yang bisa saya bantu?" Jawab pak Andi yang sudah berada dekat dengan Rudi yang terlihat berkacak pinggang dengan angkuhnya.


"Dapat berapa semuanya?" Sahut Rudi dengan mimik wajah kesal.

__ADS_1


"Kurang lebih dua ratus tujuh puluh juta, pak! Alhamdulillah." jawab pak Rudi tenang dan bicara apa adanya, toh uangnya sudah masuk semua di rekening Melati.


"Em! Pak Andi sudah tau kan bagaimana dan harus melakukan apa?" sahut Rudi pongah dan bibirnya tertarik ke atas, membayangkan dia akan mendapat bagian yang tidak sedikit seperti biasanya.


"Maaf, Pak! uangnya sudah masuk semua ke rekeningnya Bu Melati, tadi Bu Melati yang meminta langsung sama pengepul nya untuk mentransfer uangnya langsung ke rekening beliau." sahut lak Andi tetap dengan ekspresi setenang mungkin, bahkan pak Andi sempat menyunggingkan senyuman sinis untuk Rudi yang terlihat semakin emosi, dengan kedua tangan yang mengepal, rahangnya mengeras bahkan gigi giginya terdengar bergemlutuk. Menandakan pria itu sangat marah sekali.


"Kurang ajar, Melati sudah Keterlaluan!" Rudi mengumpat penuh dendam pada wanita yang kini masih sah menjadi istrinya, dan itu jujur membuat pak Andi tak suka, karena pak Andi sudah menganggap Melati sudah seperti anaknya sendiri, itulah kenapa pak Andi selalu menjaga tambak agar tetap terus berjalan, meskipun kadang pak Andi mengorbankan uangnya sendiri untuk membeli benih benih ikan yang kadang tak bisa terbeli lantaran Rudi mengambil uangnya.


"Kalau sudah tidak ada lagi yang dibicarakan, saya pamit dulu, pak! karena saya harus membereskan sisa sisa air kolam agar kembali bersih dan bisa segera di isi lagi." pak Rudi dengan tenang dan tak perduli meninggalkan Rudi yang masih terbakar emosi.


"Tunggu!" baru melangkah beberapa jengkal saja, Rudi sudah menghentikan langkah pak Andi.


"Iya, Pak! ada lagi yang bisa saya bantu?" balas pak Andi yang langsung menghentikan langkahnya dan memutar kepalanya untuk menatap ke arah Rudi.


Pak Andi mengernyitkan dahinya, seolah tau apa yang ada dipikiran laki laki angkuh di depannya itu.


"Sudah, sebelum Bu Melati meninggalkan tempat ini." Balas pak Andi berbohong, padahal belum ada satupun pengepul yang sudah mentransfer uangnya ke rekening Melati, baru hanya memberi tahu saja, karena urusan timbang dan menghitung baru saja selesai, dan pengepul akan mentransfer uangnya setelah semua urusan selesai. Tapi semuanya sudah tau, kemana harus mentransfer uangnya.


Mendengar jawaban pak Andi, Rudi memejamkan mata dan mendongakkan kepalanya, nafasnya terdengar di tarik sangat dalam. Rudi sudah benar benar kehilangan sumber mata uangnya. Melihat sikap Rudi yang kacau, membuat pak Andi tersenyum miring, miris menurutnya. Tanpa bicara apapun lagi, pak Andi kembali melangkahkan kakinya dan melanjutkan pekerjaannya yang tadi sempat tertunda.


"Kamu memang harus diberi pelajaran, Melati. Sudah cukup aku bersabar sama kamu, agar kamu tidak semakin menginjak harga diriku. Jangan mimpi kalau kamu sudah merasa menang dengan semua yang kamu lakukan.


Harusnya kamu menyadari ini dari dulu, bukannya baru sekarang kamu bertindak, setelah begitu besar hartamu aku keruk dan baru kamu menyadari, dasar bodoh!" umpat Rudi dengan seringainya yang licik dan penuh kebencian.

__ADS_1


Merasa sudah tidak akan mendapatkan apa apa di tempat ini, Rudi memilih meninggalkan tambak tanpa berucap apapun, sikap angkuhnya membuat para pekerja menatapnya heran, bahkan ada yang melontarkan kata kata cemoohan. Sedangkan pak Andi memilih diam dengan sikap tenangnya, namun hatinya tak henti bersyukur, karena Melati sudah menyadari kesalahannya dan kembali mengambil alih urusan tambak yang seharusnya dia sendiri yang memimpin.


"Hallo, nak Melati!" pak Andi mengawali teleponnya dengan Melati, yang sebelum pergi meminta pak Andi untuk memberi kabar tentang Rudi.


"Iya, Pak Andi! ada kabar apa disana?" sahut Melati tenang dari ujung sana.


"Pak Rudi sudah pergi. Dan saya sudah melaksanakan apa yang nak Melati minta, semua total penjualan ikan ada hampir dua ratus juta lebih, nanti bapak akan memberikan rinciannya, dan uangnya tunggu saja, para pengepul itu pasti akan segera mentransfer ke rekening nak Melati. Makasih ya, nak. Bapak senang, kamu sudah kembali menjadi Melati yang tegas." sahut pak Andi panjang lebar, dan ada senyum haru yang terukir di wajah Melati di ujung sana.


"Alhamdulillah, pak. Maaf kalau Melati terlambat menyadari, tapi semua masih bisa diperbaiki, saya minta tolong nanti pak Andi ajari dan bimbing Fajar, agar dia bisa mengelola tambak itu dengan baik." balas Melati tersenyum yang tak bisa terlihat oleh pak Andi.


"Baik, nak. Dengan senang hati, sepertinya anakmu memang berbakat dan punya jiwa pemimpin seperti bapakmu. Yasudah, bapak kembali bekerja dulu, mau membersihkan air biar bisa kembali di isi lagi, dan hati hati ya, kamu jaga diri baik baik, karena orang seperti Rudi itu nekad, dia pasti akan melakukan apapun demi tujuannya tercapai. Tetap waspada dan jangan lupa terus berdoa, meminta perlindungan Gusti Allah. Bapak hanya bisa berdoa dari sini." lanjut pak Andi memberi wejangan penuh dengan perhatian layaknya bapak pada anaknya.


"Injih, pak. (Terimakasih, Pak.)


Terimakasih banyak. Melati akan hati hati lagi." balas Melati haru, dan tak terasa ada bulir bening yang sudah menetes di wajahnya.


"Mama kenapa? kok nangis? memangnya siapa yang telpon?" Fajar memberondong pertanyaan ke mamanya, lantaran melihat sang mama meneteskan air mata.


"Gak papa, mama cuma terharu saja dengan kebaikan pak Andi, beliau selalu baik dari dulu pada keluarga kita. Pantas almarhum kakek mu begitu percaya dan hormat padanya." Melati menjawab dengan lembut kecemasan anaknya.


Dan Fajar langsung merasa lega mendengar jawaban mamanya.


"Kita harus hati hati, karena papamu mungkin tidak akan tinggal diam dengan yang sudah mama lakukan."

__ADS_1


__ADS_2