Tekanan Dari Mantan Suami

Tekanan Dari Mantan Suami
Sakit hati Piana


__ADS_3

Rudi seolah tak perduli dengan ancaman Piana, Rudi menganggap itu hanya gertakan saja.


Rudi mengikuti langkah Piana yang menaiki tangga, Rudi tidak mau Piana sampai membawa barang miliknya.


Dengan wajah dingin dan jijik, Rudi terus mengawasi gerak gerik Piana yang membereskan barangnya, memasukkannya dalam koper. Saat Piana akan memasukkan kotak perhiasan, Rudi dengan cepat menyahutnya.


"Ini dibeli dengan uangku, kamu tidak berhak membawanya. Bawa saja baju baju kamu. Perhiasan ini milikku." Dengan angkuh Rudi merampas kotak perhiasan yang memang dibeli olehnya, dan kini Rudi memintanya kembali setelah Piana berulah mengkhianatinya.


Piana diam dan memilih pasrah, meskipun amarah di dadanya sudah berada di ujung batas, Piana benar benar tidak terima dengan perlakuan Rudi yang dianggapnya Keterlaluan tanpa mau menyadari kesalahannya.


Tanpa satupun terucap kalimat di mulutnya, Piana dengan cepat memasukkan baju nya ke dalam koper, lalu menyeretnya keluar. Tak perduli dengan tatapan sinis mertuanya yang menyunggingkan senyum penuh ejekkan.


"Awas kalian, aku akan membalas semua ini, kalian akan menyesal sudah menendang ku dari rumah ini." Piana tersenyum miring, di kepalanya sudah tersusun rencana untuk menghancurkan karir Rudi dan membalaskan sakit hatinya.


Piana terus melangkah dan tidak lagi mau menoleh, taksi yang dipesannya lewat aplikasi sudah menunggunya di depan rumah. Dengan di bantu sang sopir Piana memasukkan koper dan tas nya ke dalam bagasi.


Rudi terdiam dan mematung dengan kepergian Piana. Ada penyesalan karena telah tergoda sama perempuan yang hanya terlihat cantik dan seksi, tapi perilakunya sangat menjijikkan.


Rudi teringat dengan Melati dan semua kelembutannya. Melati begitu menjaga harga dirinya dan sangat mencintainya, Melati tidak pernah membantah dan berkata kasar sama sekali selama mereka berumah tangga. Namun dengan seenaknya Rudi sudah menghancurkan kepercayaan istrinya itu, sehingga amarah dari luka kecewanya, membuat Melati menunjukkan siapa dirinya, angkuh dan tak lagi perduli.


"Kalau saja, aku bisa menahan diri dan tidak di perbudak oleh nafsuku, mungkin saat ini, rumah tanggaku akan baik baik saja. Tapi semua sudah terjadi, tidak perlu ada yang di sesali, Melati sudah berubah, dia sudah begitu merendahkan harga diriku, aku akan membalas dan menuntut harta bagian ku, tidak akan aku biarkan dia menikmati semuanya sendirian." Rudi menatap kosong ke arah luar, pikirannya menerawang jauh, antara sesak dan juga dendam. Harta sudah membutakan hati seseorang.

__ADS_1


Melihat anaknya melamun, Bu Endang menghampiri dan mengusap bahunya lembut.


"Sudahlah, ini jauh lebih baik. Dan ibu suka dengan keputusanmu. Wanita itu membawa pengaruh buruk untuk hidupmu, ikhlaskan dan bertaubatlah. Minta maaf sama istri dan anakmu. Diterima atau tidak, setidaknya kamu sudah berusaha mengakui kesalahan. Meskipun pada akhirnya nanti, kalian benar-benar berpisah, setidaknya tetaplah menyambung hubungan baik dengan anak anakmu, bagaimanapun itu darah dagingku, keluargamu, harta berharga setiap orang tua.


Pikirkan baik-baik ucapan ibumu ini, Rudi!" Bu Endang mengusap bahu Rudi, dan pergi meninggalkannya sendiri, Bu Endang berharap anak pertamanya itu mau mendengarkan nasehatnya. Agar tidak semakin salah jalan.


"Dimana Mas Rudi, Bu?" tiba tiba Beni muncul, dan mencari keberadaan kakaknya, bagaimanapun cueknya Beni, di hatinya masih ada rasa perduli dan iba akan masalah yang menimpa kakaknya.


Bu Endang mengusap sudut matanya.


"Ada di depan, kamu temani gih, alihkan kesedihannya dengan bahas bisnis yang semalam kalian rencanakan, biar kakakmu kembali fokus menata hidupnya dan kembali pada dirinya yang dulu. Bantu kakakmu menjadi pribadi yang lebih baik, Le! Ibu percaya sama kamu."


Bu Endang menatap putra keduanya penuh harap, air mata yang sedari tadi ditahannya kini berjatuhan, membasahi wajahnya yang sudah keriput.


"Ibu lebih baik istirahat, biar Beni yang akan bicara dengan mas Rudi." sambung Beni yakin dan mengusap lengan ibunya yang masih terisak.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


"Mas!"


Beni berdiri di samping kakaknya dengan kedua tangan di masukkan di saku celananya, pandangannya lurus ke depan, menatap pemandangan di luar halaman rumah yang lumayan luas.

__ADS_1


"Aku sudah tau semua, masalah rumah tangga mas dengan mbak Melati dan juga perempuan tadi. Saran ku, jadikan ini pelajaran, kembali lah sama anak dan istri Mas." Beni berusaha menyadarkan Rudi dengan sedikit mengutarakan pikirannya.


"Melati sudah mengajukan gugatan ya ke pengadilan, dan sepertinya sudah tidak mungkin dia menerimaku lagi, sakit hati dan kebenciannya sudah membuatnya berubah, dia bukan lagi Melati yang aku kenal." sahut Rudi dingin dengan pandangan kosong.


"Minta maaflah, setidaknya ada itikad baik Mas untuk memperbaiki semua, dan Akuilah semua kesalahan Mas Rudi, karena bagaimanapun mereka keluarga Mas, meskipun pada akhirnya tetap perpisahan yang ada, setidaknya tidak ada dendam dan kebencian. Berpisah lah secara baik baik." Beni masih tetap berusaha membujuk kakaknya, karena Beni tau kakaknya punya ego yang tinggi, sulit sekali mengakui kesalahan dan meminta maaf. Beni tidak mau, keluarga kakaknya menjadi hancur dan bermusuhan karena sikap kerasnya Rudi.


"Nanti aku akan pikirkan.


Lebih baik kita pergi lihat lokasi yang kamu bilang semalam, lebih cepat lebih baik." sahut Rudi datar dan melangkah pergi ke dalam rumah, mengambil kontak mobilnya,juga kontak mobil milik Piana uang tadi dia rebut dari tangan Piana.


"Kamu bisa pakai mobil merah itu, motor kamu biar di pakai Reni kuliah, kasihan kalau dia terus naik ojek."


Rudi menyerahkan kunci mobil Honda Brio pada Beni yang langsung terlihat melongo, gak menyangka kalau kakaknya akan memberikan mobil itu padanya.


"Serius, mobil itu Beni pakai? Mas Rudi gak sedang bercanda kan?" Sekali lagi Beni memastikan, Rudi hanya mengangguk ringan dengan wajah datarnya.


"Alhamdulillah, terimakasih Mas, Beni janji, tidak akan mengecewakan Mas." sahut Beni pada akhirnya dengan senyum mengembang di bibirnya. Motor Honda Vario warna putih kesayangannya di ikhlaskan untuk di pakai adik perempuannya.


Rudi dan Beni berpamitan dengan ibunya sebelum pergi. Mereka memakai mobil Brio merah yang di bawa sama Beni, Rudi juga ingin tau apakah adiknya sudah benar benar lihai membawa mobil, karena selama ini, kemana mana Beni selalu menggunakan motor.


Tanpa Rudi tau, beni sering menjadi sopir buat teman temannya, tiap kali bepergian Beni yang selalu diminta menyopiri, dan itu menguntungkan buat Beni, karena bisa untuk mengasah kemampuan nya menyopir meskipun belum punya mobil sendiri, dan sekarang impiannya terwujud, kakaknya menyerahkan mobil bekas istri mudanya pada Beni.

__ADS_1


"Kita sudah sampai, Mas! itu tempatnya. Strategis kan?" Beni menunjuk ruko dengan lantai dua dan terlihat agak luas, cocok buat buka usaha bengkelnya, selain strategis, lahannya juga memilki halaman yang luas, jadi bisa menampung beberapa motor nantinya.


Tapi ada yang membuat Rudi gak nyaman, keberadaan toko bangunan yang ada tak jauh dari tempat itu.


__ADS_2