
"Yasudah kalau itu memang sudah jadi keputusanmu. Ibu hanya malas saja kalau nanti harus ribut sama istrimu itu, dia itu perempuan yang tidak bisa menghormati orang lain, ibu gak mau malu karena sikapnya yang bar bar seperti orang yang gak berpendidikan." sahut Bu Endang dengan mimik tak suka.
"Sudahlah, Bu! mau berapa kali Rudi ingatkan? sudah, sekarang kita tinggal satu rumah, jangan terus memancing masalah begini." balas Rudi frustasi, karena ibu dan istrinya masih saja tidak bisa akur. Dan Reni lebih memilih diam tidak mau ikut berkomentar, meskipun dalam hatinya membenarkan ucapan ibunya. Bagi Reni, selama Piana tidak mengusiknya, maka dia akan tetap memilih diam dan acuh, tapi jika Piana berani mengusik kenyamanannya, Reni berjanji jika dia tidak akan segan untuk memberi pelajaran pada Piana.
"Aku mau istirahat dulu, tolong nanti malam ibu siapkan makan malam dengan bahan yang ada di kulkas saja. Mulai hari ini, kita harus bisa irit Bu, karena rumah ini juga aku membelinya secara kredit, jadi Rudi harap ibu dan kamu, Ren, mengerti keadaan kita." Rudi beranjak masuk ke kamarnya yang ada di lantai atas, sedangkan Bu Endang dan Reni memilih membereskan barang barangnya, di tata di dalam kamar.
Kamar yang ditempati Bu Endang cukup luas, ranjang yang ada juga dari rumah yang lama, lebih tepatnya, kepunyaan Melati. Besar dan juga empuk.
"Bu, Reni sebenarnya gak nyaman kita tinggal di sini, lihat muka istrinya Mas Rudi sebenarnya Reni itu muak, kayak baju yang gak di setrika saja, lungset." keluh Reni pada ibunya, Bu Endang menarik nafasnya dalam, matanya menatap kosong ke luar jendela yang terhubung langsung ke arah depan rumah.
"Ibu juga sebenarnya tidak suka, Ren. Tapi kita itu bisa apa? selain manut mengikuti apa kata Mas kamu itu. Kita hidup juga masih mengandalkan Mas kamu." Sahut Bu Endang merasa nelangsa, menyesal karena sudah mengikuti kemauan anaknya yang menikahi janda gatel itu.
"Tapi, kita tidak boleh lemah, Bu. Kalau perempuan itu bersikap seenaknya pada kita, dan kita juga harus bisa membuka matanya Mas Rudi, biar dia itu tau, seperti apa perempuan yang dinikahi itu, hanya inginkan uang Mas Rudi saja, bahkan sedikitpun dia tidak bisa menghormati ibu, padahal dia itu tau, kalau ibu adalah orang tua suaminya, dasar wanita tidak punya adab!" sungut Reni geram, dalam hati Reni sudah berjanji akan membuat Piana selalu merasa tidak betah dengan kehadirannya.
__ADS_1
"Yasudah lah, nduk! kita juga gak bisa terlalu menyudutkan mas kamu, tapi kita harus bisa menunjukkan siapa perempuan itu, sikapnya yang buruk juga kelakuannya saat di luar juga sangat memalukan. Sekarang lebih baik kita istirahat dulu saja, biar nanti saja itu bajunya dibereskan, tinggal masukin lemari saja. Ibu capek, nduk!" sambung Bu Endang dengan perasaan yang tidak baik baik saja.
"Ibu istirahat saja, biar Reni yang melanjutkan beres-beresnya, nanggung ini." sahut Reni tenang menatap ibunya iba, sebenarnya gadis itu baik, dia sangat menghormati dan menghargai Melati sebagai kakak iparnya. Lantaran paksaan dan ancaman Rudi, sehingga Reni terpaksa mengikuti kata kakaknya untuk menyembunyikan pernikahannya dengan Piana.
"Maafkan kami, mbak! Mungkin saat ini mbak Melati sangat kecewa denganku juga ibu, tapi seandainya mbak Melati tau, jika kami terpaksa menuruti mau Mas Rudi, lantaran aku masih butuh biaya kuliah yang tinggal sebentar lagi, dan ibu juga hanya mengandalkan uang dari Mas Rudi untuk bertahan hidup, maafkan kami, mbak!" Reni bergumam sendiri, menatap tumpukkan baju yang masih ada di dalam koper, rasa bersalah juga penyesalan selalu menyambangi hati gadis cantik itu, tapi Reni juga tak bisa berbuat banyak, biarlah suatu saat Melati akan mengetahui sendiri apa yang sebenarnya terjadi.
Dengan lesu, Reni kembali menata baju baju itu ke dalam lemari tiga pintu yang ada didalam kamar.
"Aku berjanji, Bu. Setelah Reni menyelesaikan pendidikan, Reni akan berjuang keras untuk mencari pekerjaan, dan Reni akan membawa ibu untuk ikut hidup dengan Reni, Reni janji, akan menjaga dan menyayangimu, Bu!"
Tak terasa air matanya jatuh titik demi titik, hatinya mulai merasakan perih, selama ini Reni dan ibunya selalu di paksa untuk mengikuti kemauan Rudi yang kadang di luar batas, menguras uang Melati dengan alasan yang di buat buat, bahkan Reni juga pernah disuruh Rudi meminta uang yang tidak sedikit jumlahnya pada Melati dengan alasan untuk berobat ibunya yang sedang sakit, padahal ibu dalam keadaan baik baik saja. Kalau ingat semua itu, rasa berdosa selalu membuat dadanya sesak. Suatu saat Reni bahkan berjanji akan mengganti uang tersebut, karena batinnya tidak pernah tenang setiap kali mengingatnya.
Tak terasa, karena terbuai oleh perasaan yang tak baik baik saja, Reni juga memejamkan mata dengan duduk bersandar di atas sofa single yang ada di kamar tersebut, rasa lelah di tubuh dan pikirannya membuat dia akhirnya tertidur.
__ADS_1
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Sedangkan di dalam kamar atas, dimana Rudi dan Piana berada, sedang adu mulut karena Piana merasa tidak terima, jika ibu juga adiknya Rudi ikut tinggal satu rumah dengannya, Piana sudah merasa memiliki rumah yang ia tempati.
"Pokoknya aku tidak suka ya, Mas! kalau ibu juga adikmu itu tinggal disini, aku itu gak bisa bebas melakukan apapun di rumahku sendiri, aku minta kamu membelikan aku rumah itu, karena aku ingin bebas dan nyaman, bukan malah mendatangkan orang orang yang bikin aku tidak merasa nyaman."
Sungut Piana dengan wajah yang sudah memerah lantaran emosi.
"Terserah kamu, suka tidak suka. Ibu dan adikku akan tetap disini. Rumah ini aku yang membelinya, kamu itu nikah sama aku ya harus bisa menerima keluargaku dong, bukannya egois begini!" bentak Rudi tak terima dengan ocehan ocehan Piana yang membuatnya geram.
"Kamu kan bisa Carikan ibu dan adik kamu kontrakan, gak harus tinggal satu rumah seperti ini, pokoknya aku tidak terima. Titik!" balas Piana tak kalah geramnya.
"Kalau kamu tidak suka, ya silahkan kamu pergi dari sini, lagian aku tidak akan biarkan keluarga ku hidup susah di luar sana, aku bukan tipe laki laki yang tega menelantarkan ibu juga adikku, mereka tanggung jawabku." Rudi bicara tegas dengan rahang mengeras, matanya menatap tajam pada Piana yang terlihat kaget dengan apa yang suaminya lontarkan. Ternyata, Rudi belum sepenuhnya bisa dia kendalikan, buktinya Rudi masih jelas jelas membela keluarganya. "Sialan!" batin Piana penuh kebencian. Dan lebih memilih keluar kamar, mengambil kunci mobil dan pergi entah kemana, Rudi masa bodoh dengan sikap istrinya yang pembangkang itu, "Nanti kalau dia butuh uang, juga akan kembali kesini, apa dia pikir, cuma dia perempuan yang bisa aku taklukkan. Dasar perempuan tidak tau di untung!" Rudi bergumam sendiri dengan merebahkan tubuhnya di atas kasur, memilih untuk memejamkan matanya, mengistirahatkan diri, dari pada pusing meladeni sikap Piana yang membuat tambah pusing saja.
__ADS_1