Tekanan Dari Mantan Suami

Tekanan Dari Mantan Suami
cinta karena terbiasa


__ADS_3

"Bu! Dengar gak sih aku bertanya apa? aku lapar, tapi kenapa tidak ada makanan sama sekali di meja? Bukankah ibu sudah masak tadi pagi?" Piana mendatangi Bu Endang yang sedang sibuk memasukkan sabun cuci ke penggilingan, lalu menutupnya dan menyetelnya dengan tombol tombol yang sudah ada.


"Kamu lapar?" sahut Bu Endang datar dan tetap acuh dengan keberadaan Piana yang berkacak pinggang di tengah pintu yang terhubung dengan dapur.


"Iya, aku sudah lapar, dimana ibu taruh makanannya?" sahut Piana angkuh.


Bu Endang menatap datar menantunya dan menghembuskan nafasnya dalam. "Habis." jawab Bu Endang dingin.


"Apa? memang ibu masaknya seberapa? aku belum makan loh Bu." sahut Piana tidak terima.


"Kan kamu bisa masak sendiri, kewajiban ku hanya pada anakku, bukan kewajiban ku memenuhi kebutuhanmu." balas Bu Endang sinis dan kembali melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah, melewati tubuh Piana dan sedikit menabraknya.


Piana menghentakkan kedua kakinya, rasa bencinya semakin menjadi jadi pada ibu mertuanya, Piana pikir akan mudah memberi pelajaran pada sang mertua, ternyata dia salah, justru Piana sendiri yang dibuat geram dengan sikap tegas mertuanya yang tak punya rasa takut sedikitpun.


Dengan terpaksa, akhirnya Piana menggoreng telur juga sosis buat menu sarapannya. Piana terus merutuki dirinya yang bodoh sampai kalah langkah dengan sang mertua, apa lagi karena aksi ngambeknya semalam, Piana lupa belum meminta uang sama suaminya, padahal rencananya dia akan pergi senang senang dan mentraktir temannya nanti siang. Biar dikira Piana sudah banyak duit.


"Awas saja kalian, karena kehadiran kalian, mas Rudi jadi berubah sikapnya." batin Piana kesal menatap punggung mertuanya yang sedang menyapu.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


Sedangkan di lain tempat, Alim sedang bercengkrama dengan istrinya, hari ini Alim memutuskan untuk tidak masuk kerja, mau mengantar Safitri periksa ke dokter, karena dari semalam Safitri terus muntah dan tubuhnya juga sudah terlihat sangat lemah.


"Mas, apa aku hamil ya? kenapa tubuhku bisa lemas begini, dan kepalaku pusing banget, kayak mau muntah muntah terus." Safitri mengungkapkan isi hatinya pada Alim yang tengah sibuk membuatkannya susu.


"Bismillah ya, semoga saja benar, biar Alma punya teman bermain, pasti dia akan senang banget kalau kamu beneran hamil." sahut Alim semangat dan menyodorkan segelas susu pada istrinya.


"Habisin susunya, biar perut kamu ada isinya, habis ini kita pergi ke dokter, pukul sembilan baru buka kliniknya." Sambung Alim dan melihat istrinya dengan senyuman, gelas ditangannya sudah kosong, Safitri menghabiskan susunya tanpa sisa, tapi tak lama setelah itu, Safitri kembali memuntahkannya, dan begitu terus, sampai tubuh Safitri lemas dan terlihat pucat.


"Kita ke rumah sakit saja, aku gak mau terjadi apa apa sama kamu, kita berangkat sekarang saja ya." Alim dengan berlari kecil mengambil kunci mobil dan dompetnya, lalu memapah istrinya keluar rumah dan memasuki mobil yang sudah terparkir di depan.

__ADS_1


Sepanjang jalan Safitri hanya menyenderkan tubuhnya di kursi, tubuhnya sangat terasa lemas, belum lagi kepalanya sangat pusing, Alim sempat merasa khawatir dengan keadaan sang istri.


Setelah sampai di rumah sakit, Safitri langsung dituntun menuju IGD dan dokter pun datang untuk memeriksanya.


"Sepertinya ibu sedang hamil, untuk memastikan lebih jelasnya, silahkan mendaftar ke dokter kandungan ya Bu, biar saya buatkan surat pengantarnya."


terang dokter yang memeriksanya, membuat senyum Alim langsung mengembang, pun dengan Safitri yang terlihat berkaca kaca matanya, haru juga bahagia. Safitri berharap kehamilannya bisa membuat sang suami semakin mencintainya dan benar benar melupakan wanita masa lalunya.


"Positif ya Bu, usia kehamilan ibu baru menginjak dua Minggu, masih rawan. Jaga diri baik baik. Biar nanti saya resep kan vitamin untuk menguatkan rahim dan janin. Tapi Bu Safitri dirawat dulu disini sampai infusnya habis, karena ibu masih lemas akibat kekurangan cairan. Insya Allah ibu dan bayinya baik baik saja." terang dokter panjang lebar dan di iyakan oleh Alim maupun Safitri.


Entahlah, tiba tiba ada rasa hangat di hati Alim, saat mendengar kehamilan istrinya, wanita yang memang belum sepenuhnya dia cintai, namun Alim selalu memperlakukannya dengan baik dan memenuhi kewajibannya sebagai suami seutuhnya.


Alim terus berusaha menempatkan Safitri di hatinya, menumbuhkan rasa cinta yang mungkin akan datang karena terbiasa, dan semoga kehamilan Safitri bisa membuka hatinya untuk benar benar merasakan kehidupan rumah tangga saling mencintai.


"Alhamdulillah, Mas." Ucap Safitri lirih, ada titik bening yang sudah jatuh membasahi pipinya, haru juga bahagia kini menyelimuti hati Safitri.


"Iya, Alhamdulillah. Mulai sekarang kamu jangan capek capek, jaga baik-baik kandungan kamu, aku sangat menantikan kehadiran malaikat kecil di perutmu itu, agar rumah kita rame dengan tangis dan canda tawanya." balas Alim senang, mengusap lembut pipi istrinya, dan duduk di sisi ranjang menunggu sang istri yang terbaring lemah sampai infusnya habis.


"Kenapa, Mas? kamu kok sedih gitu?"


Safitri, menatap suaminya heran, karena tiba tiba Alim terlihat sedih dan murung, bahkan matanya berkaca kaca.


"Aku ingat dengan Alma dan Rihana, bagaimana aku memperlakukannya waktu itu. Dan kini aku tidak ingin mengulanginya sama kamu Fit, aku janji akan memberikan yang terbaik buat kamu dan bayi dalam kandungan mu. Maafkan aku ya, masa lalu itu selalu membayangi dan menghadirkan penyesalan tak berkesudahan. Aku juga mohon sama kamu, tolong terima Alma, sayangi dia seperti anak kamu, meskipun nanti anak di kandunganku itu sudah lahir, aku mohon pengertian kamu, karena antara Alma dan calon bayi kita, aku tidak akan membedakan mereka, aku akan bersikap adil pada anak anakku." Jelas Alim panjang lebar, dan terlihat jelas gurat sedih di sorot matanya yang sudah menampakkan mendung.


Safitri tersenyum, meraih telapak tangan suaminya lembut, menggenggam nya erat, ingin membuatnya yakin, tentang perasaannya yang begitu memahami keadaan suaminya.


"Mas! Aku juga sangat menyayangi Alma, tulus. Bahkan aku menyimpan kagum pada gadis kecilmu itu, Mbak Rihana perempuan hebat, hingga bisa mendidik Alma tumbuh menjadi anak baik dan cerdas. Percayalah, sedikitpun aku tidak keberatan kamu melakukan kewajiban kamu pada Alma, dia anak kandungmu, putrimu dan juga putriku, sampai kapanpun aku tidak akan berubah, mari kita jalani rumah tangga ini dengan saling menjaga, menyayangi dan jujur. Insya Allah semua akan baik baik saja. Yang aku harapkan saat ini hanya satu, kamu bisa menerimaku seutuhnya." sahut Safitri lembut dan di balas anggukan ringan oleh Alim yang membalas genggaman tangan istrinya.


Hening...

__ADS_1


'Terkadang, ada ingin untuk kembali menyapa seseorang yang sudah jauh sekali berlalu, namun, melihat betapa indahnya senyumnya setelah aku tiada, rasanya semakin sadar bahwa hadirku tak pernah diharapkan.


Hanya, ada semoga, untuknya, di sana;


Kau tahu, di saat kau melangkahkan kaki dan memutuskan semuanya berakhir, di saat itu pula lah aku merasa bahagiaku juga berakhir.


Aku selalu dipenuhi rasa cemas akan kabarmu, padahal aku tahu kau sedang baik-baik saja bersama seseorang yang kau pilih setelah menyingkirkan aku karena luka yang pernah aku torehkan.


Aku selalu merindukanmu, padahal aku tahu, memikirkan ku saja kamu sudah tidak.


Aku selalu mendoakan mu, padahal aku tahu, doaku dan doamu tidak bermuara lagi pada satu amin yang sama; aku ingin di dekatkan denganmu, kau ingin dijauhkan dariku.


Betapa aku sadar bahwa aku adalah manusia bodoh; Menjadi lilin penerang tidur untuk seseorang yang lebih menyukai terlelap di dalam gelap. Aku relakan diriku terbakar, meleleh, bahkan hancur. Namun, kau padamkan aku, lalu memilih memejamkan matamu.


Betapa aku sadar bahwa aku adalah manusia menyedihkan; Menjadi payung untuk seseorang yang lebih menyukai tetesan hujan. Aku rentangkan diriku, aku lindungi tubuhmu. Namun, kau lemparkan aku jauh ke tepi, lalu memilih basah oleh air yang tanpa kau ketahui, dapat membuatmu sakit.


Betapa aku sadar, bahwa, aku adalah manusia tidak tahu diri; Menjadi awan untuk seseorang yang lebih menyukai mentari. Aku tebal kan diriku, aku naungi dirimu. Namun, kau menghindari, lalu memilih berpindah ke tempat terik yang tanpa kau ketahui hangatnya dapat menggores lembutnya kulitmu.


Tapi, aku abaikan tentang itu. Begitulah kerasnya hatiku menyayangimu.


Kepadamu, aku titipkan hatiku, meskipun kini ada hati lain yang ingin menitipkan hatinya padaku, menggantikan mu.


Dan kau tahu;


Siapapun yang bertanya perihal sudah seikhlas apa aku, aku katakan “Aku ikhlas” Aku bohongi mereka, aku bohongi diriku sendiri. Sungguh, jika ikhlas itu dapat terlihat dengan nyata oleh sepasang mata, maka, di hatiku, tidak ada siapapun yang bisa menemukannya. Karena, kata “Ikhlas” itu memang tak pernah ada. Sampai saat ini, hingga kini. Meskipun aku tau kau pun telah lebih dulu mengiklaskan ku.


Maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku.


Ribuan kata yang aku rangkai menjadi kalimat-kalimat, ratusan kalimat yang aku rangkai menjadi puisi-puisi, semua hanya angan ku untuk sampai di titik itu. Pada kenyataannya, aku tidak mampu.

__ADS_1


Maafkan, maafkan aku Safitri, jika hatiku masih menyimpan nama Rihana disana. Karena pada dasarnya semua tidaklah semudah kata dalam melewatinya.'


Alim terpaku dalam angan di pikirannya, berusaha melebur rasa yang ada, padahal dia tau, itu akan sia sia. Namun Alim berjanji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Karena menyayangi tak harus mencintai bukan?


__ADS_2