
"Rihana, kamu sendirian?" sapa mas Alim.
"Iya, Mas. Suamiku masih ada rapat, tapi sebentar lagi dia nyusul kesini kok." jawabku biasa saja. Dan nampak senyum terukir di bibir mantan suamiku itu. Kali ini dia tak lagi banyak bicara, hanya sekedar menyapa dan langsung mengambil tempat duduk tak jauh dariku.
Mas Alim sepertinya sengaja ingin menghindari ku, aku sih gak masalah dan membuatku lebih nyaman dia seperti itu, karena aku pun harus menjaga perasaan suamiku, meskipun Mas Dimas tak pernah mengungkapkan isi hatinya, tapi aku tau, suamiku itu selalu menyimpan rasa cemburu jika itu berkaitan dengan mantan suamiku, itu terlihat dari matanya yang selalu terlihat tak tenang dan gelisah. Tapi jujur sih aku juga penasaran sebab dia menghindar, apa dia sudah mulai bisa move on dan mencoba membuka hatinya untuk wanita lain, jika benar aku ikut senang, dan semoga saja apa yang aku pikirkan ini benar.
Kami duduk di deretan kursi yang sama, Mas Alim mengambil tempat berjarak tiga kursi dariku, aku meletakkan tas tanganku di kursi yang ada di sampingku, agar nanti saat Mas Dimas datang bisa mendapatkan tempat duduk berdekatan denganku, aku pun cuek dan tidak ingin bertanya ataupun melihat ke arah Mas Alim, meskipun aku tau jika lelaki itu terus diam diam melirikku, aku tau dari ekor mata ini yang tak sengaja melihatnya.
[Sayang, sebentar lagi mas berangkat kesana, Alma sudah mulai lombanya?] Pesan masuk dari mas Dimas yang menanyakan keadaan disini, aku tau dia pasti tidak ingin melewatkan momen lomba yang diikuti anakku, Mas Dimas selalu berusaha untuk memberikan yang terbaik untuk kami. [Iya, Mas. Hati-hati ya. Belum kok, ini masih pertandingan basket.] balasku apa adanya dan bibir ini tersenyum penuh syukur, aku sangat beruntung memiliki suami seperti Mas Dimas.
__ADS_1
[Oke, aku langsung kesana. Love you sayang.] balasnya mesra dan selalu membuatku semakin mencintai laki laki yang selalu tampak sempurna di mataku. [Oke, Mas. Love you to sayang. Hati-hati.] aku membalasnya dengan senyum yang terus terukir di bibir ini, membayangkan wajah suamiku yang juga pasti tengah tersenyum membaca balasan pesan dariku, romantis hingga membuat kita selalu bertingkah seperti anak muda yang sedang jatuh cinta.
Pukul sembilan lewat tiga puluh lima menit, pertandingan basket sudah berakhir. Dan acara lomba lari akan segera dimulai, tapi mas Dimas belum juga terlihat datang, aku melihat ke arah putriku yang selalu mengarahkan pandangannya kesini, mungkin dia sedang mencari keberadaan Mas Dimas, semoga saja, Mas Dimas segera datang kemari. Dan benar saja, saat aku mulai gelisah, laki laki yang sangat ku harapkan kehadirannya itu muncul, Sebelum menuju ke arahku, Mas Dimas lebih dulu berjalan ke arah Alma yang girang datang menyambutnya khas gaya anak anak, terlihat Alma menyalimi papa nya dengan takzim, dan Mas Dimas membelai rambutnya penuh sayang, mereka terlihat tengah bicara, mungkin papanya sedang memberi semangat untuk anak gadis yang mulai akan tumbuh remaja. Pemandangan yang sangat indah dan semoga kebersamaan ini akan terjalin hingga nanti kita menua, Aamiin.
"Sayang, maaf sedikit terlambat, tadi antri beli bensin dulu di pom, untung lombanya belum dimulai." Mas Dimas langsung menuju dan mengambil tempat duduk di sampingku, sekilas matanya melihat ke arah mantan suami dan mengangguk memberikan senyuman tanda dia menyapa. Mas Alim yang juga terlihat tersenyum dan menganggukkan kepala membalas sapaan suamiku.
"Iya Mas, capek?" jawabku perhatian dan menyeka keringat di dahinya dengan tisu.
❤️❤️❤️❤️
__ADS_1
"Alhamdulillah ya, gak nyangka loh aku sayang, Alma bisa lari kenceng kayak gitu, menang lagi. Aku tadi sampai ingin ikut berlari, terbawa suasana karena lihat Alma greget gitu." terdengar Mas Dimas sangat antusias dengan lomba yang tadi di ikuti anakku. "Padahal tadi aku udah punya rencana bawa kalian jalan jalan dan memberikan Alma hadiah sehabis dari lomba, tapi Alma ternyata ikut dengan ayahnya, tapi gak papa, kita jadi bisa bebas lagi seharian di dalam kamar, iya kan sayang?" Mas Dimas lagi lagi akan meminta haknya, dia selalu memanfaatkan waktu berduaan dengan melakukan itu kalau Alma tidak dirumah, bahkan seringkali juga meminta para pembantu dirumah di beri uang untuk jalan jalan agar kita bisa melakukan di mana saja dengan bebas, di dapur, ruang tamu bahkan taman belakang, aah suamiku itu, seolah tak pernah bosan dan lelah kalau sudah menyangkut yang satu ini.
"Nanti biar pak Bagus dan yang lain pergi jalan jalan keluar, aku ingin benar benar menikmati waktu berdua sama kamu dengan bebas dirumah." lanjutnya lagi dengan senyuman merekah. Ya ampun, padahal baru saja aku membatin, eeh ternyata suamiku sudah memikirkannya, siap siap tubuhku lemas dibuatnya, tapi aku senang dan selalu menikmatinya, karena Mas Dimas selalu tau caranya memperlakukan aku dengan lembut disetiap permainannya.
"Terserah kamu saja lah, Mas. Aku sih nyerah dan pasrah saja." balasku sok pasrah dan memalingkan wajah ini ke arah jendela, padahal aku sedang menyembunyikan senyum bahagia.
"Kok gitu, kamu gak suka ya, kamu keberatan sayang, lagi capek?" tanyanya hawatir dan mulai terlihat cemas, justru aku semakin ingin tertawa tak lagi bisa menahan diri untuk tidak tertawa melihat ekspresi cemas campur kecewa di raut wajah suamiku.
"Kok ketawa, kamu ngerjain aku ya. hammmm awas ya nanti, gak ada ampun, kamu harus dihukum, lima kali pokoknya." Ya Tuhan , dipikirannya selalu itu saja, huh.
__ADS_1
Sampai di rumah, Mas Dimas langsung meminta pak Bagus dan yang lain pergi jalan jalan dengan memberinya sejumlah uang, Mas Dimas meminta mereka kembali nanti sehabis isya, padahal sekarang masih jam satu siang, akan ada perjalanan panjang yang kami lalui nanti, ah suamiku, kamu selalu tau caranya mengajak berbulan madu, lebih tepatnya bulan madu di rumah yang sering dia ciptakan untuk membuat hubungan ini semakin kuat.
Selama aku menjadi istri Mas Dimas, selalu saja dia bisa menciptakan suasana yang berbeda, memberikan kenyamanan dan senyuman di bibir ini, meskipun keinginannya tak jauh jauh dari meminta haknya sebagai suami, tapi aku suka dengan caranya dia memperlakukan diriku, penuh kelembutan dan cinta, karena itulah cara untuk membuat hubungan suami istri semakin erat dan cinta semakin dalam di hati kami masing masing, Mas Dimas tidak pernah menuntut ku lebih, dia hanya memintaku untuk kita saling berusaha memahami dan menerima kurang lebihnya masing masing, agar merasakan kenyamanan diantara kami menjalani biduk rumah tangga ini.