Tekanan Dari Mantan Suami

Tekanan Dari Mantan Suami
Rokayah vs Piana


__ADS_3

"Wah masih muda ya, kalau aku sudah tua, umurku sekarang sudah tiga puluh enam tahun. Sudah punya anak gadis." balasku jujur, sekaligus memancing responnya, ingin tau seperti apa tanggapannya.


Karena, saat ini yang aku cari bukan cuma perempuan yang mau menerimaku, tapi perempuan yang sudah bisa berpikir dewasa dan mencintai anakku. Usiaku tak lagi hanya untuk bersenang senang, tapi waktunya menata masa depan. Tak ingin kembali seperti waktu itu, hanya karena nafsu, akhirnya semau hancur dan membuatku menyesal sampai saat ini.


"Mas Alim, anaknya umur berapa?" terlihat Safitri mulai menanggapi ucapanku. "Umur sepuluh tahun."


"Wah, sudah besar, pasti cantik anaknya." sahut Safitri terlihat antusias membahas Alma, anakku.


"Iya, sangat cantik dan shalihah. Ibunya sangat luar biasa dalam mendidik dan mendampingi putri kami, hingga kini dia tumbuh jadi anak yang sangat cerdas dan penurut." Entahlah, saat membicarakan tentang mantan istri, aku selalu saja baper, dan terasa dada ini kembali nyeri, bayangan masa lalu selalu menumbuhkan penyesalan yang entah sampai kapan akan hilang.

__ADS_1


"Sepertinya, Mas Alim sangat mencintai istrinya, beruntung sekali wanita yang jadi istri mas." balas Safitri dengan tersenyum tipis, terlihat ada gurat kecewa dari sorot matanya. Apakah dia belum tau kalau aku adalah seorang duda.


"Mantan istri lebih tepatnya, Kami berpisah karena kebodohan ku yang dulu lebih percaya dan memilih perempuan yang ternyata hanya mengincar uangku saja, Rihana aku usir di tengah malam tanpa membawa apapun, bahkan dulu aku sedikitpun tidak punya rasa iba dengan anakku yang masih kecil, mereka menangis memohon belas kasihan, tapi aku justru mendorong mereka dan mengusirnya dari rumah hanya karena hasutan dari Piana, padahal wanita itu hamil anak dari kaki laki lain. Hidupku sempat hancur gara-gara dia, usahaku hampir saja gulung tikar, Dan disaat aku sudah bangkit dan kembali menata hidupku, Piana muncul dan sekarang dia berusaha untuk masuk dalam hidupku lagi. Eh kenapa aku jadinya curhat gini ya, maaf." Aku jadi salah tingkah karena secara gamblang justru sudah mengeluarkan isi hati pada orang yang baru saja di kenal, kenapa aku bisa terbawa perasaan hingga tidak bisa mengontrol emosi, malu kan jadinya.


"Mbak dengar kamu sebut nama Piana, ada apa lagi dengan perempuan itu?" tiba tiba mbak kayah muncul dari arah dapur dan langsung ikut bergabung, matanya menatapku penuh selidik, kakakku itu menunggu aku menjawab pertanyaannya. " Iya mbak, Piana sudah keluar dari penjara, kemarin aku bertemu dengan dia di mall, pas waktu mengantar Alma membeli sepatu, dan tadi dia juga mengikuti ku ke air terjun, tapi aku berusaha untuk menghindarinya. Tapi justru dia datang ke rumah Rihana dan hampir membuat onar disana." aku menceritakan semuanya pada kakakku dan tidak ada satupun yang ingin aku tutupi, lagi pula aku juga butuh untuk mencurahkan kecemasanku ini agar bisa menghadapi kenekatan Piana yang mungkin akan melakukan lebih dari tadi, karena aku tau Piana wanita yang bisa menghalalkan segala cara demi keinginannya tercapai.


"Kamu harus hati-hati, Lim! Dia itu perempuan yang nekad dan gak tau malu, jangan sampai kamu jatuh di lubang yang sama lagi, dia bukan perempuan baik-baik yang tak pantas untuk di jadikan pendamping, yang ada hidupmu akan hancur oleh ulahnya yang hanya bisa menghamburkan uang saja." terlihat mbak kayah begitu tak suka saat membicarakan Piana, aku tau, kakakku itu tidak suka sama sekali dengan mantan istri siriku.


"Jaga mulutmu mbak, aku tidak seperti yang kamu katakan, lagian kalau Alim masih mencintai dan mau kembali denganku, kamu tidak punya hak untuk melarangnya."

__ADS_1


Hahahaaaaaa, kakakku ketawa mendengar balasan dari Piana, aku pun memilih untuk menjadi penonton saja, karena yakin kalau mbak kayah akan sanggup menghadapi Piana dan membuatnya meninggalkan rumah ini.


"Kamu itu bodoh atau memang sudah gak bisa berpikir sih? orang sudah jelas jelas Alim menghindari kamu, tapi kamu masih saja mengikutinya, kalau gak murahan apa coba? ****** gatal gitu ya?" ya ampun ternyata, mulut kakakku kalau sudah benci pedas juga, tapi memang Piana pantas di gitukan, agar dia sadar dan tidak terus terusan menggangguku.


Terlihat Piana melotot dengan mulut mangap, dadanya kembang kempis, pasti dia geram banget dengan ucapan yang di lontarkan kakakku padanya. Bodoh amat, memang itu kenyataannya.


"Aku yakin, Mas Alim, masih ingin kembali padaku, tapi dia menghindar karena ulahmu itu yang melarang Alim untuk merajut mimpinya lagi denganku. Aku cantik, masih seksi, dan wangi. Cuma laki laki bodoh yang menolak ku.


Mas! bilang sama kakak kamu itu, kalau kamu masih menginginkan kita seperti dulu. Kamu tau kan? aku masih sangat mencintaimu, aku sudah berubah, percayalah!" Piana dengan pedenya terus berusaha untuk memaksaku kembali padanya, entah dengan bahasa apa aku membuatnya diam dari mulut lancangnya itu.

__ADS_1


"Cukup! jaga bicara kamu, Piana, mbak Rokayah itu kakakku, orang yang sudah kuanggap orang tuaku, bagaimana aku menerima perempuan sepertimu, sedangkan kamu menghargai kakakku saja tidak bisa. Dan sekali lagi, aku tekankan sama kamu, jangan ganggu aku lagi, aku sudah muak melihatmu bertingkah seperti ini, bahkan aku sudah tidak ada lagi perasaan apapun sama kamu, pergilah dan Jangan lagi pernah kembali dalam hidupku. Sebentar lagi aku akan menikah dengan Safitri, wanita yang jauh lebih baik darimu, tentunya perempuan yang bisa menghargai dan bersikap sopan pada keluargaku, tidak kasar sepertimu." Aku sudah tidak perduli lagi, bicara ngawur dengan menyebut Safitri sebagai calon istriku, hanya semata ingin Piana menjauh dari hidupku, Safitri terlihat menunduk dan bahkan kakakku langsung tersenyum lebar dengan apa yang barusan aku katakan, sedangkan Piana menatap tak percaya ke arahku.


"Sudah dengar kan, kalau adikku sudah tidak Sudi lagi denganmu, pergilah dari pada kamu sakit hati melihat mereka bermesraan di sini." sambung kakakku dengan tersenyum sinis ke arah Piana yang masih terlihat shock.


__ADS_2