
Piana geram, kehadirannya tidak dianggap sama sekali, bahkan Rudi tidak sedikitpun melihatnya, menawari ikut makan pun tidak.
"Awas saja kalian." Sungut Piana kesal dan menghentakkan kakinya, pergi begitu saja dan memasuki kamarnya lantas menutupnya dengan keras.
"Dasar perempuan minim adab." Rutuk Reni lirih, yang masih bisa terdengar oleh telinga Rudi dan ibunya yang memilih tak menanggapi, diam dan terus menghabiskan makanannya.
Bu Endang dan Reni membersihkan dapur, mencuci piring bekas makan dan alat alat yang tadi digunakan untuk memasak.
Masih ada sedikit sisa sayur, Reni menaruhnya dalam panci kecil lalu memanaskan, agar masih bisa di makan lagi.
Setelah selesai membersihkan dapur, Bu Endang serta Rina memilih menonton televisi, dan terlihat Rudi sudah duduk lebih dulu di sana.
"Kamu tidak menemui istrimu, Rudi? dia sudah makan apa belum? coba kamu tanyain sana, masih ada sayur dan nasi nya di dapur, sama Reni juga sudah di panasi tadi." Bu Endang mengambil tempat duduk tepat di samping anak laki lakinya.
"Biarkan saja, Bu. Kalau dia tidak bisa menghargai ibu, akupun juga tidak akan peduli padanya, nanti kalau dia lapar juga akan makan sendiri." sahut Rudi tenang, sambil tangannya mengotak Atik ponsel yang di pegang nya.
"Yasudah, yang penting ibu sudah mengingatkan." balas Bu Endang tenang dan matanya beralih ke layar datar berukuran empat puluh dua in di depannya.
Rudi hanya melirik sekilas pada ibunya yang kembali memilih bungkam.
"Rina masuk ke kamar dulu ya, Bu! Mas!
mau mengerjakan tugas dari kampus, besok ada kelas pagi akunya." sambung Reni cuek dan berlalu ke kamarnya setelah berpamitan pada ibu juga kakaknya.
"Besok pagi, mau dibuatkan sarapan apa?" sambung Bu Endang kembali bersuara.
"Terserah ibu saja, apapun yang ibu masakin pasti Rudi makan." sahut Rudi santai dan matanya masih fokus ke layar hapenya.
__ADS_1
"Biasanya ada tukang sayur yang mangkal jam berapa, di depan?" kembali Bu Endang melontarkan pertanyaan dan masih dijawab santai oleh Rudi yang tetap fokus ke layar ponselnya.
"Biasanya, pagi jam lima sudah ada. Tapi kalau ibu masih tidur, ya masak aja apa yang ada di stok kulkas, tukang sayur akan lama kok mangkal di depan." sahut Rudi.
"Yasudah, ibu mau tidur dulu. Ibu tiba tiba pusing saja, mungkin efek umur jadi mudah sekali lelah." sambung Bu Endang dan beranjak pergi memasuki kamarnya yang jadi satu dengan Reni.
Rudi hanya diam saja, seolah tak perduli dengan apa yang ibunya bilang. Matanya sedang asik fokus ke layar ponselnya, jari jari Rudi sibuk membalas chat masuk dari perempuan incarannya, janda cantik teman kantornya. Melihat sikap anaknya yang tak bisa berubah.
Bu Endang hanya bisa pasrah dan sedih, tapi tidak ada yang bisa dia lakukan.
Sedangkan dikamar atas, Piana merasa perutnya sudah sangat lapar sekali, dia mengintip keberadaan semua orang.
"Sepi!
Sepertinya ibu dan adiknya mas Rudi sudah masuk ke kamarnya. Tapi dimana mas Rudi? kok tidak ada kelihatan." batin Piana sibuk mencari keberadaan suaminya, matanya menyapu ke seluruh ruangan, dan berhenti saat melihat sosok Rudi yang sedang duduk manis di depan televisi di ruang keluarga, kusus buat bersantai.
Dengan langkah pelan, Piana menuruni tangga dengan sangat hati hati, agar langkahnya tidak terdengar oleh siapapun.
Tanpa tidak merasa malu, Piana menyuapkan nasi. sendok demi sendok ke dalam mulutnya.
"Enak juga masakannya Ibunya mas Rudi. Mau tidak mau aku harus belajar bersikap baik padanya, lumayan bisa buat pembantu gratisan." Piana berbicara sendiri di dalam hatinya.
"Kamu lapar juga akhirnya." tiba tiba suara Rudi mengagetkan Piana yang sedang asik menikmati makanannya.
"Ya lapar lah, mas. Habisnya kamu tadi tidak sedikitpun menawari aku makan bareng, ya kesel dong akunya." sungut Piana tak terima, dan dijawab kekehan kecil oleh Rudi.
"Kamu mau kemana, Mas? ini sudah malam loh" tanya Piana heran melihat sikap suaminya, biasnya dia akan pergi kemanapun dengan Piana.
__ADS_1
"Mau keluar sebentar, ada yang ingin aku bicarakan sama teman, membahas bisnis yang akan aku bangun." sahut Rudi cuek dan matanya melirik ke arah Piana yang juga biasa saja.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Pukul lima pagi, Bu Endang sudah pergi belanja di depan rumah yang memang menjadi tempat mangkal ibu ibu di komplek ini.
Membeli bermacam sayuran, ayam juga daging. Buat stok di kulkas, agar tidak sering belanja diluar.
Setelah selesai berbelanja, Bu Endang segera memasak, karena Rudi maupun Reni harus pergi bekerja hari ini, buat mereka sarapan.
Bu endang memilih menu, tumis sawi dan menggoreng udang tepung juga tempe .
Rudi merasa nyaman dan lebih terjamin, karena ibunya sangat memperhatikan pola makannya. Tidak seperti Piana yang malas, bahkan jarang sekali mau bangun pagi.
sebelum pukul tujuh pagi, Bu Endang sudah selesai memasak, di meja sudah tertata beberapa menu untuk sarapan. Tak lupa juga membuatkan secangkir kopi buat Rudi, dan satu gelas teh hangat buat dirinya sendiri. Untuk Reni memang dia lebih suka minum air putih jadi Bu Endang tidak lagi menyiapkan minuman untuk anak perempuannya itu.
"Sudah siang begini, perempuan itu juga belum bangun, bagaimana Rudi bisa menikahi wanita seperti itu. Pantesan Rudi memintaku untuk ikut tinggal bersamanya, punya istri kok gak ngerti kewajiban." Bu Endang bicara sendiri dengan batin kesal, lantaran menantunya belum juga bangun, padahal sudah jam tujuh lewat.
"Bu maafkan Reni, tadi gak bisa bantu ibu menyiapkan sarapan, Reni masih mengerjakan tugas yang semalam belum selesai, habisnya Reni sudah ngantuk duluan." ucap Reni dengan wajah merasa bersalah.
"Gak papa, ibu mengerti. Cuma ibu kesal saja sama istri mas mu itu, padalah sudah siang, s bentar lagi Rudi juga akan berangkat ke kantor, kok belum juga bangun, Perempuan kok malasnya amit amit begitu " cicit Bu Endang kesal.
"Yasudah kamu sarapan gih, sambil nunggu Mas mu turun." sambung Bu Endang yang memilih duduk di kursi meja makan dan mulai menyesap tehnya.
"Pagi Bu, Rin." sapa Rudi dingin dan langsung duduk di kursi kosong, dengan cekatan tangannya mengambil piring kaku menyendok kan nasi ditaruh di atas piringnya lalu mengisinya dengan sayur juga lauknya.
"Istrimu belum bangun, Rudi?" sahut Bu Endang menatap putranya.
__ADS_1
"Belum, Bu. Piana kalau belum jam sepuluh belum beranjak dari tidurnya." sahut Rudi tenang, meskipun hatinya juga kesal dengan kelakuan Piana yang tidak mau berubah.
Bu Endang menatap anaknya iba. "Kamu sudah salah pilih, Le! kamu sudah membuang permata hanya demi batu kerikil seperti itu, semoga kamu segera sadar dan memperbaiki rumah tanggamu dengan Melati, ibu sedih melihat hidupmu yang berantakan seperti ini. Ya Alloh bukakanlah pintu hati anakku dan kembalikan dia pada keluarganya, anak dan istrinya." Jerit bu endang di dalam hatinya.