
"Siapa gadis itu?"Pertanyaan itu penuh di dalam pikiran pria itu.
Begitu juga sebaliknya di dalam pikirannya Rani "Siapa pria tadi?"Keduanya saling memikirkan dan tak tahu siapa yang mereka maksud.
☆☆☆☆☆☆
Tiga ribu tahun lalu,Seorang pria sedang memadu kasih dengan seorang wanita di langit ke Tujuh tetapi entah nasib sial apa yang telah memisahkan kedua insan yang sedang jatuh cinta itu.
Mereka adalah Tristan dan Elaine.
Tristan terus mencari keberadaan Elaine tetapi sudah ribuan tahun ia tak juga menemukan Elaine hingga hari ini ia melihat dengan matanya sendiri kalau Elaine berada di dunia panca tengah ini.
Tetapi ia tak yakin kalau itu adalah Elaine karena terlihat mirip sekali dengan Elaine tetapi ia tak memiliki bekas luka dibagian pelipis kirinya di mana waktu mereka masih bersama, Elaine pernah di lempari batu oleh KanyaDewi rival Elaine yang sangat mencintai Tristan tetapi Tristan tak menyukai KanyaDewi sedikitpun karena mereka masih saudara sepupu.
"Elaine di manakah dirimu?"Gumam pria itu dalam hatinya dan mencoba menelisik keadaan sekitarnya dengan kekuatannya untuk mencari tahu keberadaan cinta pertama sekaligus cinta terakhirnya itu.
Tetapi semakin ia berupaya untuk mencari tahu semakin ia melihat sesosok pria bertubuh tinggi tegap dan berjanggut panjang selalu menghalangi penglihatannya.
"Siapa pria tua itu? Mengapa di belahan bumi lain aku tak melihatnya tapi kenapa disini ada saja penghalang?"Bisiknya dalam hati.
Dengan segala rasa yang masih ada ia pun berhenti memakai cara itu dan mencoba untuk mencarinya langsung saja.
****
Pagi yang cerah,matahari mulai menunjukkan keperkasaanya di ufuk timur pertanda hari mulai pagi dan kegiatan di bumi ini akan segera di mulai.
Rani masih saja berlari beberapa putaran di sekitar taman Kota sambil sesekali menghirup udara segar dan kembali lagi melakukan olahraga paginya itu.
Setelah beberapa saat ia beristirahat,dari arah timur datanglah seorang pria berwajah tampan dan bertubuh atletis menuju ke arah Rani.
Tanpa sadar ia berbasa basi sekedar say hello dengan Rani.
"Hai...!!"Sapa pria itu sambil berlalu dari hadapan Rani.
"Hai juga...!!"Balas Rani dengan acuh saja dan tetap melanjutkan kegiatan olahraganya.
Setelah melakukan pendinginan ia pun bangun dari duduknya dan melangkah pergi.
Ia tak sadar kalau mata pria itu menatapnya dengan tatapan penuh kerinduan.
Pria itu masih saja menatapnya hingga tanpa sadar butiran bening itu menetes dari pelupuk matanya.
__ADS_1
"Hm,aku terharu dengan hubungan kita di masa lalu Elaine,kamu benar benar sangat berubah dan tak mengenali diriku sama sekali,tapi aku ingin sekali berbicara denganmu menumpahkan segala rasa yang menyesakkan dada selama berabad abad lamanya Elaine."Ucap Pria itu pada dirinya sendiri tanpa melepaskan pandangannya dari langkah langkah kecil milik Rani.
Ketika hendak menaiki sepeda motornya ia berpapasan dengan Carla yang baru saja datang untuk berolahraga.
"Hei Ran,udah mau balik aja nih?"Sapa Carla pada Rani dan ucapannya itu menyita perhatian pria tadi.
Pria itu pun menyimak perkataan kedua sahabat itu.
"Iya nih La,aku duluan ya ada kelas pagi soalnya,"jawab Rani sambil melambaikan tangannya dan pergi dari hadapan Carla yang masih bingung dengan sikap Rani.
"Maafkan aku La,aku masih ingin bercerita panjang lebar tetapi aku merasa kalau ada yang menguntitku bahkan mengikuti aku kemanapun aku pergi."Ucap Rani dalam hati.
Pria itu tak mau kehilangan jejak lagi ia pun langsung melesat seperti angin tornado mendekati Rani yang sedang melajukan motornya.
Rani merasa kalau ada sesuatu yang sangat dahsyat bakal menimpanya sehingga ia pun berpikir untuk memanipulasi keadaan yang seang terjadi di belakangnya.
Tanpa sadar ia membuat hujan yang sangat deras turun dan menghantam angin tornado itu dan ia pun dengan leluasa menghilang dari tempat itu.
Dan ketika pria itu mengetahui bahwa hujan telah membuatnya kehilangan jejak ia pun sangat marah dan menghancurkan beberapa bangunan kosong yang terbengkalai di sekitarnya itu.
*****
"Aku tak bisa menunda nunda lagi perasaan ini Villia?"Ucap Kak Andrew saat aku mencoba mendekatkan telingaku untuk mendengar percakapan itu.
"Siapa Vilia?"Tanyaku dalam hati.
"Apakah dia yang akan merampas kebahagiaanku dan mama?"Gumamku lagi.
"Tidak itu tak mungkin terjadi karena aku masih sangat menginginkan kakakku berada di tengah tengah keluargaku aku tak mau kehilangan kakakku."Aku sangat marah dengan keadaan yang akan aku dan mama alami.
Dengan berat hati akhirnya ku urungkan niatku untuk memberitahu hal aneh beberapa hari belakangan ini pada Kak Andrew,aku jadi galau dan merasa tak disayang oleh kakakku sendiri.
Hal itu membuatku menjadi sensitif dan aku menarik diri dari perbincangan apa pun dalam rumahku.
Ketika sarapan pagi pun aku tak banyak tingkah aku berlaku seolah olah aku adalah orang dewasa yang lebih pengertian dengan segala masalah yang dihadapi oleh orang dewasa.
Tapi sebenarnya aku ini sudah beranjak dewasa karena sudah duduk di bangku kuliah.
**
"Adek mau makan apa?Roti isi daging atau isi keju Chedar?"Tawar Kak Andrew saat kita lagi berkumpul di meja makan untuk sarapan pagi.
__ADS_1
"Terima kasih kakak untuk tawarannya Rani bikin sendiri saja ya?"Jawabanku menyita banyak tanya dari hati Kakakku.
Ia pun mengernyitkan keningnya dan menatapku dengan tatapan aneh fan dalam banget.
"Kamu sakit kah Dek?"Tanyanya sambil memegang keningku.
"Nggak aku ingin dianggap dewasa bukan anak kecil lagi yang selalu bergantungan pada orang orang dewasa."Jawabku sedikit ketus membuat Kak Andrew kaget bukan main.
"Ada apa sih Dek,bilang sama Kakak."Ucapnya lembut membuat hatiku ingin rasanya untuk mengeluarkan semua uneg uneg dari dalam hatiku tetapi aku tak mau dianggap adik yang cerewet dan suka ikut campur urusan orang dewasa.
"Santai aja Kak,emang gak boleh ya Rani bikin sendiri?"Tanya Rani pada Kak Andrew yang terlihat tersenyum karena mengira adiknya itu sudah berubah menjadi wanita dewasa..
"Iya baiklah Kakak sangat berterima kasih karena adik perempuan kakak satu satunya sudah berubah menjadi lebih dewasa dari umurnya yang sebenarnya."Ucap Kak Andrew lagi.
"Ya haruslah Kak."Jawab Rani singkat.
Dari arah dapur muncullah mama Elaine membawa Empat gelas susu hangat dan juga beberapa lembar roti tawar dan menghidangkannya diatas meja.
"Anak anak hari ini roti isi dagingnya belum sempat mama buat jadi kita sarapan seadanya aja ya?"Ucap mama Elaine sambil memberikan susu dan roti pada Andrew,Indra dan juga Rani.
"Mam,Kak Adrian kemana aja sih udah lama banget nih Rani gak lihat."Ucapan Rani membuat mama Elaine menatap wajah Rani.
"Nak,apa kamu sudah sangat mwri dukan kakakmu?"Tanya Mama Elaine lagi.
"Iya lah Mam,Rani sangat rindu pada Kak Adrian."Jawab Rani lagi.
"Ayo dimakan rotinya biar kamu gak.telat ke kampus nanti."Ucap Kak Indra yang terlihat kalem kalem saja dalam menghadapi persoalan apapun di rumah itu.
"Mam Rani boleh carita?"Ucap Rani tiba tiba.
"Boleh dong sayang."Jawab mama Elaine.
"Silahkan ceritakan apa yang akan kamu ceritakan ke mama dan juga kakak kakakmu."Ucap Mama Elaine lagi.
"Mam,Rani mengalami beberapa kali hal hal aneh di kampus dan saat berolahraga pagi tadi mam."Cerita Rani sambil menatap wajah sang mama.
"Aku merasa ada yang mengikutiku kemanapun selama beberapa hari ini mam."Ucap Rani lagi.
"Entah siapa orang itu yang pasti dia punya niat tertentu pada Rani,entah niat baik atau buruk."Ucap Rani lagi dan membuat Kak Andrew berhenti mengunyah makanannya dan ia pun langsung memegang kening Rani dan mencoba mencari tahu apa yang dialami oleh sang adik.
Semoga saja Kak Andrew bisa mengetahui orang tersebut ya guys??
__ADS_1