Teleportasi Cintaku

Teleportasi Cintaku
11


__ADS_3

Hai Readers jumpa lagi di episode ke sebelas ya, sedikit cerita dari author.


Author ini aslinya suka berhalusinasi dari waktu kecil, maksudnya halu disini bukan karena faktor kelainan jiwa tetapi suka berkhayal dan khayalan author sungguh sangat tinggi, berkhayal ingin memiliki ilmu Kanuragan, dan pokoknya semua ilmu bela diri dan tetap berpegang teguh pada Kepercayaan pada Tuhan Yang Maha Kuasa.


lanjut ya ➡️


**


Setelah berbelanja akhirnya, akhirnya mereka saling kontak dan menuju ke taman depan Mall itu untuk berkumpul.


" Ran, kamu belanja apa sih " tanya Irna ingin tahu.


" Kepo banget sih lo, gue belanja sesuatu yang mungkin kalian gak paham " ucap Rani sambil tersenyum simpul.


" Ayo kita pulang, " ajak Irna yang baru muncul dari arah depan.


" Ran, kenapa kita gak pulang bareng saja biar kita bisa cepat sampai di rumah " ucap Genoveva sambil tersenyum.


" Iya juga sih tetapi masing masing membayangkan rumahnya ya, biar langsung tiba di rumahnya. " ucap Rani lagi.


" okay siap " ucap Carla langsung memegang tangan Rani dan menutup matanya membayangkan rumahnya.


Tiba tiba Carla menghilang dari hadapan mereka semua.


Irna pun demikian dan akhirnya semua temannya sudah kembali ke rumahnya masing masing, hanya dirinya saja yang belum pergi.


" Aku harus mencari tahu siapa sih pria yang selalu mengikuti aku, " gumam Rani dalam hati.


Rani berjalan menuju ke tempat pakaian wanita dan tas tas branded.


" Wow, cantiknya " gumam Rani sambil memegang sebuah tas warna silver metalik yang sangat elegan.


" Aku akan membelinya tetapi berapa harganya " ucap Rani sambil membolak balik tas itu untuk melihat harganya.


" Lumayan harganya " ucap Rani sambil kembali menyimpan tas itu di Tempatnya.


" Hai cantik, " ucap seorang pria bermata biru berambut gimbal udang mendekati Rani sambil mengulurkan tangannya hendak menjabat tangan Rani.


" Hai juga, maaf tangan saya belum sempat cuci tadi baru saja keluar dari kamar mandi " ucap Rani sambil tersenyum dalam hati.


" Kamu lucu banget deh, gak apa apa kalau kamu gak mau menjabat tanganku aku gak paksa kok " ucap pria itu seakan tahu isi pikiran Rani.


" Sudah malam kok belum pulang ke rumah ? " tanya pria tadi sok perhatian.


" Hmmm iya sih masih pengen jalan jalan dulu di Mall ini, mumpung dapat ijin dari Abang aku " ucap Rani sambil berjalan mendekati peralatan make up yang berada tepat di hadapannya.


Rani masih memilih kosmetik mana yang hendak di belinya.

__ADS_1


" Maaf apa kita boleh kenalan, " ucap pria bermata biru itu.


" Apa? " tanya Rani tak percaya kalau pria itu minta kenalan dengannya.


" Namaku Ericsson " ucap pria itu sambil mengulurkan tangannya ke arah Rani.


" Saya Rani " ucap Rani singkat.


" Nama yang cantik " ucap pria itu sambil tersenyum.


" Masih sekolah ? " tanya pria itu.


" Baru saja tamat SMA dan belum berencana untuk melanjutkan ke perguruan tinggi " ucap Rani sambil memandang ke arah lain.


" Ayo aku temani belanja " ucap pria itu lagi.


" Hmmm, emang gak apa apa ya kamu temani aku belanja? " tanya Rani lagi.


" Iya gak apa apa " ucap Ericsson sambil tersenyum tipis.


" Kamu mau lihat lihat dulu silahkan " ucap Ericsson sambil berusaha sejajar dengan Rani.


Tiba tiba otak Rani mulai mencair, sepertinya dia lagi memikirkan sesuatu.


" Ah, coba saja siapa tahu memang seperti dugaanku " gumam Rani dalam hati.


" Cantik " ucap Rani dalam hati.


Tiba tiba Ericsson sudah berdiri tepat di sampingnya, dan mengagetkan Rani.


" Ah kamu bikin kaget saja " ucap Rani sambil mencoba menenangkan hatinya yang lagi berkecamuk.


" Aku kan pahlawan super, " ucap Ericsson keceplosan.


" Baguslah kalau begitu, " ucap Rani sambil mencoba memicingkan matanya untuk melihat bayangan Ericsson di cermin di hadapannya itu.


Tetapi yang dilihatnya sama sekali tidak ada sedikitpun bayangan yang di pantulkan disana, akan tetapi Ericsson masih berdiri kokoh di sampingnya.


" Bagaimana mungkin bayangannya hilang? " gumam Rani penuh tanda tanya.


" Kenapa kamu sulit ku baca ya ? " tanya Ericsson pada Rani.


" Maksudnya apa Eric ? " tanya Rani.


" Maaf kamu harus janji dulu baru aku beritahu kamu " ujar Ericsson lagi.


" Jujur untuk apa ? " tanya Rani polos.

__ADS_1


" Aku mau mengatakan yang sebenarnya kalau aku sulit membaca pikiranmu Rani " ujar Ericsson lagi.


" Masa iya ? " tanya Rani.


" Memangnya kamu bisa membaca pikiran orang orang di sekitar aku? " tanya Rani penasaran.


" Iya, tunggu aku coba ya " ucap Ericsson sambil berdiri menghadap ke arah orang orang yang lalu lalang di sekitar mereka.


" Nah, ibu yang berjalan membawa keranjang itu tujuannya ke sini bukan untuk belanja tetapi untuk melihat target yang mau dia copet " ucap Ericsson sambil menunjuk ke arah ibu itu.


" Nggak boleh tunjuk tunjuk orang nanti orangnya tersinggung kamu mau di gebukin di sini " tegur Rani pada Eric yang dengan terang terangan menunjuk ke arah wanita setengah baya itu.


" Mau lanjut gak ? " tanya Ericsson pada Rani lagi.


" iya, lanjut " ucap Rani sambil melirik ke arah dua orang wanita yang tak jauh dari mereka.


" Kalau yang dua wanita ini, mereka ibu ibu arisan yang suka gosip kehidupan orang lain, " ucap Ericsson lagi.


" Kemudian pria tua yang menggendong keranjang belanja itu adalah pria yang sebenarnya sudah sangat muak dengan kelakuan istrinya tetapi tetap bertahan tanpa menunjukkan kebenciannya karena dia sangat mencintai istri dan anak anaknya " ucap Ericsson lagi.


" Tetapi kamu benar benar aku sulitembaca pikiranmu Rani, " ucap Ericsson frustasi.


" Apa ada kesalahan pada diriku ? " tanya Rani pada Ericsson.


" No, kamu tidak bersalah tetapi ini adalah sebuah keunikan yang aku temui di dunia ini " ucap Ericsson lagi.


" Eric apa aku boleh bertanya sesuatu ? " ucap Rani pada Ericsson.


" Tentu, silahkan bertanya dengan senang hati aku akan menjawabnya " ucap Ericsson panjang lebar.


" Kenapa kamu gak punya bayangan di cermin? " tanya Rani sambil menunjuk cermin di hadapan mereka.


" Ooo, itu jawaban gampang " ucap Ericsson lagi.


" Gampang bagaiamana maksudnya " tanya Rani lagi.


" Aku datang dari masa depan, tubuh ini terbuat dari berbagai elemen yang tak kasat mata, teknologi kami sangat tinggi sehingga tidak bisa terlihat atau terpantul pada cermin " ucap Ericsson panjang lebar.


" Ooo, begitu tetapi kata kamu kalau kamu orang dari masa depan tetapi kenapa kamu tidak bisa membaca pikiranku sekarang ? " tanya Rani lagi.


" Pertanyaan kamu Sangat memojokkan aku Rani ? " ucap Ericsson lagi.


" Kenapa sampai memojokkan bukankah kamu berasal dari masa depan yang kehidupannya lebih bagus dan teknologi kamu lebih maju ?" ucap Rani lagi.


" Iya tapi aku benar benar frustasi dengan setiap pertanyaan mu Rani " ucap Ericsson lagi.


" Maaf Rani, kamu cepatlah pulang aku harus pergi mendadak aku ingat ada sesuatu yang harus aku kerjakan " ucap Ericsson langsung berlari secepat kilat.

__ADS_1


** Bersambung ya guys tolong tinggalkan jejaknya terimakasih 🙏🥰


__ADS_2