
Sepulangnya dari Masa depan Rani merasa bahwa manusia itu tidak perlu sombong dengan apa yang mereka miliki karena pada akhirnya semua tak ada artinya.
Akibat ulah manusia di jaman hidupnya akhirnya manusia masa depan hidup dengan sangat berat.
Rani kembali melakukan rutinitasnya seperti biasa, ia terlihat seperti lebih waspada dan suka menyendiri, hal itu membuat ibunya penasaran ingin bertanya tetapi ia masih memberikan waktu pada anaknya agar ia bisa beristirahat dulu.
"Nak, kamu kenapa murung seperti itu?" ucap Mama Elaine pada Puteri sematawayangnya itu.
"Mam, ternyata di masa depan itu susah sekali ya, manusia jaman itu mereka tidak makan nasi seperti yang kita makan mama, mereka makan serbuk kayu pohon eik yang mereka olah dengan mesin mesin serta robot yang sangat canggih,"ucap Rani lagi.
"Iya gak apa apa Nak, masing masing zaman ada kelebihan dan kekurangannya kok," ucap Mama Elaine lagi.
"Ayo cepat makan, kemudian mandi dan kita akan berkeliling perkebunan dulu karena banyak sekali buah buahan yang harus dipetik" ucap Mama Elaine lagi.
"Baiklah Mama!" ucap Rani sambil mengunyah makanan dalam mulutnya.
**
Setelah makan ia pun pergi ke arah halaman belakang menemui ibunya dan mereka berdua pun menuju ke perkebunan buah dimana perkebunan itu tumbuh berbagai macam buah buahan dan sangat ranum serta subur.
Mereka kemudian memetik berbagai buah untuk diantar ke langganan mereka yang selalu menunggu kapan buah buahan itu matang.
"Setelah ini, adek tolong Mama ya?" ucap Mama Elaine lagi.
"Iya Mam, mau tolong apa ya?" tanya Rani lagi.
"Tolong antarkan buah apel tiga kilogram ke rumahnya Bu Made, itu loh tetangga kita dulu disini tapi mereka sudah pindah di seberang jalan dekat jembatan mau ke pusat kota itu sayang,'' ucap Mama Elaine lagi.
"Terus antar kemana lagi Mam?" tanya Rani lagi.
"Dua kilogramnya lagi untuk Bu Risma, alamat rumahnya dekat pantai sebelah taman kota." ucap Mama Elaine lagi sambil membungkus buah buahan itu lagi.
"Baik Mam, Rani segera meluncur." ucap Rani sambil mengayuh sepedanya.
"Hati hati dijalan ya Nak," pesan Mama Elaine lagi.
"Hmm, iya Mama sayang" ucap Rani sambil tersenyum tipis.
"Mama pulang dulu ke rumah nanti Rani berangkat, eh Mam bayarannya nanti langsung Rani minta ya Mama?" ujar Rani lagi.
"Iya sayang sekalian adek ambil ya?" ucap Mama Elaine lagi.
Setelah itu Mama Elaine langsung menghilang dari hadapan Rani.
Rani pun mengayuh sepedanya menuju ke jembatan dekat jalan menuju pusat kota, Rani pun hanya perlu beberapa detik dan sudah sampai di depan rumah megah itu.
Tok...tok...tok... "Permisi antar buah!" ucap Rani lagi sambil mengetuk pintu.
Tiba tiba dari arah pagar datang seorang pria berambut ikal panjang dan berkumis tipis mendekati pintu pagar.
Ceklek...pintu terbuka dan keluarlah pria itu.
__ADS_1
"Selamat sore Pak, saya Rani anaknya Bu Elaine mau mengantar pesanannya Bu Made apa benar ini rumahnya Bu Made?" tanya Rani pada pria itu lagi.
"Iya benar, tunggu sebentar ya saya ambilkan uangnya dulu." ucap pria tadi sambil berlalu kembali ke dalam rumahnya lagi.
Rani pun menunggu di depan pagar itu sambil menatap sekelilingnya, ia pun merasakan adanya aura positif seperti Pohon pohon itu sedang menatap ke arahnya dengan tatapan mata yang sendu.
Mereka seakan mengerti apa yang Rani alami saat ini yaitu gundah gulana karena menunggu pria tadi.
"Ini uangnya!" ucap pria itu yang entah muncul dari mana.
"Ini buahnya ya Kak, makasih sudah membeli buah dari kebun Rani!" ucap Rani lagi sambil tersenyum.
"Terima kasih juga ya adik kecil?" ucap Pria tadi dan langsung menghilang dari hadapan Rani.
Seketika Rani tersadar dari lamunannya dan ia pun kembali mengayuh sepedanya meninggalkan rumah Bu Made menuju kepada Bu Risma dekat pantai.
**
Setelah mengantar buah buahan itu, Rani pun kembali mengayuh sepedanya dan pulang Kemabli ke rumahnya.
Sepanjang jalan ia bernyanyi dan tanpa sadar ia bertemu dengan sesosok manusia serigala yang terluka di pinggir jalan, manusia serigala dari kelompok vegetarian yang benar benar hanya memakan buah buahan dan hewan kecil, seperti ayam dan tikus.
"Permisi," ucap Rani.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya Rani pada pria dan wanita itu yang tengah mengerang kesakitan.
"Tolong kami, kami di terkena tembakan dari pemburu di sekitar hutan dekat jembatan itu," ucap pria bermata biru itu lagi.
"Baiklah saya akan membantu kalian ya, tunggu saya ambilkan obat di dalam tas dulu" ucap Rani sambil tersenyum tipis.
"Tahan sedikit ya, agak perih sih tetapi sebelumnya tolong tutup mata dulu biar saya mengeluarkan timah panas yang ada dalam otot kalian dulu, kenapa kalian tidak berhati hati saat berburu?" ucap Rani sambil mengeluarkan sebuah pinset anatomis dan pinset sirurgis dari dalam tas sterilnya.
Kemudian ia dengan sigap mengeluarkan timah timah panas dari paha dan kaki kedua serigala itu.
Rani pun membersihkan luka luka itu dengan air steril yang selalu dibawanya kemana mana sebagai persiapan pertolongan pertama pada kecelakaan kecil baik yang dia alami maupun yang dia temui di jalan.
Setelah mengeluarkan timah panas itu ia pun membungkusnya dengan menggunakan tisu dan menaruhnya di dalam tasnya lagi.
Setelah itu ia pun meminta agar kedua serigala berwujud manusia itu menarik nafas panjang karena ia akan membubuhi luka mereka dengan serbuk peri yang ia miliki.
Kedua serigala itu pun menutup mata mereka dan Rani membubuhi luka luka mereka dengan serbuk peri yang dengan seketika luka itu pun menghilang tanpa bekas.
Sebelum kedua serigala itu membuka mata mereka ia pun menutup kedua bekas luka itu dengan kain kasa dan mengikatnya.
Setelah itu Rani pun pamit untuk pulang kembali kerumahnya.
"Mas dan Mbak sudah bisa pulang ke rumah kok lukanya sudah saya bubuhi serbuk herbal dan dijamin nanti juga sembuh kok," ujar Rani sambil mundur dan pergi dari hadapan mereka.
"Terima kasih ya Nak," ucap kedua serigala itu lagi.
"Gadis yang baik, semoga suatu saat nanti kita bisa bertemu lagi." ucap serigala betina sambil mencoba berdiri dari tempat duduknya.
__ADS_1
Betapa kagetnya ia karena ternyata ia merasa lukanya benar benar sembuh total dan ia mencoba melepaskan balutan yang ada pada pahanya dan ternyata matanya terbelalak karena apa yang dilihatnya sangat ajaib, luka di pahanya benar benar hilang dan ia sempat mengambil sedikit serbuk yang terjatuh di bagian pahanya itu dan mengendusnya.
"Hmm, suamiku ini serbuk peri langit ketujuh, tapi siapa gadis itu bukankah langit ketujuh sudah hilang berabad abad silam lamanya?" ucap serigala betina sambil berdiri dan berjalan di sekitar serigala jantan.
"Coba buka balutan lukaku sayang," ucap Serigala jantan pada serigala betina itu.
"Iya sabar sayang," ujar serigala betina sambil duduk dan mulai membuka balutan luka serigala jantan dan benar ternyata luka mereka berdua sungguh sungguh sudah sembuh total.
"Istriku lihatlah ini adalah keajaiban!" seru serigala jantan sambil memeluk serigala betina.
"Aku masih berpikir soal serbuk ini, karena yang bisa meracik serbuk ini hanyalah peri maupun bidadari langit ketujuh, apa mungkin mereka masih hidup?" ujar sang serigala betina lagi.
"Kalaupun mereka masih hidup aku ingin sekali membalas kebaikan mereka, karena mereka telah menyelamatkan keturunan kita saat kejadian berabad abad silam itu," ucap Serigala jantan sambil memeluk erat tubuh Serigala betina.
"Istriku akhirnya kita menemukan orang yang menyelamatkan keturunan kita pada zaman dahulu kala itu istrimu," ujar sang serigala jantan itu.
"Puji Syukur pada Tuhan, karena sudah berabad abad lamanya kita mencari akhirnya hari ini kita pun di restui untuk menemukan turunan Bidadari langit ketujuh," ucap Si pria serigala sambil berlutut dan menyembah langit.
**
Rani pun mengayuh sepedanya menuju ke rumahnya.
Ketika tiba depan rumah ia melihat banyak sekali orang orang dengan wajah asing seperti monster berjalan jalan disekitar rumahnya.
"Apa yang terjadi?" ucap Rani pada dirinya sendiri.
Ia pun menutup matanya dan melihat sekelilingnya dan berusaha fokus tetapi tidak bisa karena memang itu belum saatnya ia untuk melihat hak itu.
Dengan sekuat tenaga akhirnya ia berteleportasi menuju kerumahnya dan melihat langsung dimana Mama Elaine sementara diikat oleh orang orang bertopeng dan mereka semua berusaha untuk membawa Mama Elaine pergi tetapi tidak bisa.
Dengan sekuat tenaga Rani pun mengeluarkan cahaya panas dari dalam telapak tangannya dan berhasil melindungi Mama Elaine sehingga api itu melahap habis orang orang yang berada disekitar rumah dan sekitar Mama Elaine dan juga melahap habis semua yang berbentuk seperti monster itu.
**
"Tenaga apa yang dimiliki oleh wanita itu sehingga bisa membuat karya seni tanganku terbakar habis tanpa menyisakan apapun?" ujar seorang wanita berambut panjang keriwil.
"Masa menghancurkan perempuan itu saja susah sekali?" ujar seorang monster lagi yang tanduknya sangat besar seperti banteng.
"Maaf Boss, saya melihat dari jauh dan mereka dihancurkan oleh gumpalan asap yang berubah menjadi api dan menggulung serta membakar habis semua hasil karya tanganmu Boss," ucap monster berkepala kepiting itu lagi.
"Baiklah aku akan turun secara langsung dan aku akan menghancurkan semua yang perempuan itu punya," ucap Boss dari monster itu.
Ternyata monster itu dari masa depan, mereka adalah musuh bebuyutan dari keluarganya Ericsson.
"Eric dimana dirimu?" ucap Rani sambil fokus pada sebuah titik yang pernah di lukis oleh Eric pada tangannya.
"Aku segera tiba," ucap sebuah suara yang hanya di dengar oleh Rani.
Ketika hendak berdiri dari duduknya ia di kejutkan oleh suara Mama Elaine.
"Nak, terimakasih kamu datang tepat pada waktunya kalau tidak bagaimana nasib Mama?" ucap Mama Elaine pada putri bungsunya dan memeluk erat tubuh kecil itu.
__ADS_1
"Mama tenang aja selagi Rani disisi Mama gak akan Rani biarkan siapapun mengganggu Mama sedikitpun, jangankan manusia semut pun Rani cari sampai ke lubang lubang di sudut sudut bumi ini," ucap Rani sambil tersenyum dan memeluk erat Mama Elaine.
** Next **