Teleportasi Cintaku

Teleportasi Cintaku
104


__ADS_3

Jumlah orang orang yang berniat menghancurkan bumi sangat banyak,mereka membawa peralatan lengkap dan sangat canggih.


Rani masih saja berkutat dengan laptopnya,ia masih mengerjakan tugasnya yang sedikit lagi selesai.


Ia tak sadar kalau dirinya sedang di pantau oleh seseorang yang tak dikenal.


Rani merasa dirinya sedikit malas untuk bergerak dan hanya duduk duduk saja di kursi dimana ia masih mengerjakan tugas kuliahnya itu.


Rasanya seperti ada yang memandang aku tetapi ya sudahlah anggap aja aku manusia biasa yang tidak paham dengan sekitar.


Sedikit menguap ia meluruskan kedua tangannya ke atas kepala sambil menahan kantuk yang sangat merajai matanya.


Hati dan pikirannya sudah benar benar ingin merem tapi ia masih sadar kalau situasinya sekarang sedang di pantau sehingga ia pun menahan rasa kantuknya itu.


Ia pun tak sadar kalau di sampingnya telah duduk seorang pria yang sangat ia kenali,ya itu pria itu adalah Andrew sang kakak yang selalu setia menemaninya di kala sedang susah maupun senang.


"Kak,Rani heran deh sama Gerhana."Ucap Rani membuka percakapan.


"Heran kenapa Dek?"Kak Andrew balil tanya.


"Kenapa dia menghilang dan tak ada kabar?"Tanya Rani lagi.


"Dia tidak menghilang tapi dia sedang ada tugas di luar pulau yang harus dia turun tangan langsung,makanya dia belum juga pulang sampai saat ini."Ucap Kak Andrew pada Rani.


"Apakah itu sangat penting sampai sampai Rani pun tak di beri tahu."Sungut Rani merasa tidak puas dengan jawaban Kakaknya itu.


"Ya namanya juga mendadak Dek,tunggu saja nanti juga dia pulang dan menjelaskan semuanya pada kamu Dek,sabar aja ya?"Hibur Kak Andrew pada Rani lagi.


"Awas aja kalau kamu pulang!"Ancam Rani dalam hati.


****

__ADS_1


Seorang pria sedang duduk diatas awan sambil merenung.


"Siapa gadis itu?"Gumamnya lagi.


"Apa mungkin gadis itu Maharani?"


Semua pertanyaan menari nari di benaknya pria yang masih terlihat tampan itu.


"Kalau pun Maharani,kenapa dia tak mengenaliku?"Gumam pria itu lagi.


Ia pun mencoba menerawang ke masa lalu di mana ia masih bersama dengan Mama Elaine alias Maharani.


***


Flash back masa lalu...


"Dinda Maharani,aku tahu aku salah tetapi aku tak bisa menerima kalau kamu menikah dengan putra Raja Langit ke Tiga aku tak sudi melihat kebahagiaan kalian,tolong pertimbangkan lagi Maharani aku tak bisa hidup tanpamu,kalau kamu tak bisa hidup denganku aku berjanji kalau aku takkan pernah mencari wanita lain aku akan hidup menyendiri sampai kapanpun,itu adalah janjiku padamu."Sumpah Pangeran dari langit ke Dua yang merupakan Pangeran yang sangat tampan dan sangat baik hati serta bijaksana dan pokoknya terbaiklah.


"Aku minta maaf tapi aku tak bisa menolak keinginan ayahanda,mereka sudah mengikat janji akan menjodohkan kami ketika dewasa nanti dan inilah saatnya saat dimana kami telah dewasa dan harus mengikat janji setia."Ucap Maharani lagi tetapi tak di gubris oleh Pangeran langit ketiga karena ia sudah cinta mati dengan Maharani puteri Raja langit ke Tujuh.


"Aku minta maaf karena aku tak bisa menjadi bagian dari hidupmu."Ucap Maharani alias mama Elaine pada Pangran tampan itu.


"Aku bersumpah di masa depan nanti ataupun di manapun kamu hidup aku akan menemukanmu dan aku akan menjaga dan menyayangimu dan inilah sumpah dan janjiku."Ucap dang pengeran lagi dan kemudian ia pun pergi dan menghilang dari hadapan Maharani alias Elaine.


Setelah sang pangeran langit kedua pergi Mama Elaine pun mendengar sebuah suara yang berbisik "Sampai kapanpun cintaku ini hanya untukmu Maharani."


*****


Rani masih saja mengurung diri di kamarnya dan berusaha mencari tahu siapa yang akhir akhir ini memantaunya.


Ia merasakan kalau ada seseorang yang sangat intens memantau setiap kegiatannya dan bahkan ketika ia di dalam kelas juga demikian.

__ADS_1


Ada apa gerangan?


Karena bosan dan stres memikirkan hal itu ia pun berteleportasi menuju ke sungai di kaki gunung Manggis di mana ia dan teman temannya pernah berkunjung beberapa waktu lalu.


Ia tak tahu jika ada seseorang yang mengikutinya dari belakang melalui portal yang ia buat.


Ketika tiba di kaki gunung Manggis ia pun di sambut oleh semua tumbuhan yang berada di sana.


Mereka semua tampak bahagia melihat kedatangan Rani.


Beberapa bunga aster mencoba berlari mendekati Rani dan memeluk kaki Rani.


Ketika sang Pangeran melihatnya,ia sangat kaget karena ia tak menyangka gadis yang ia ikuti ternyata sangat akrab dengan semua tanaman itu.


"Aku yakin ini bukan Maharani,aku sangat yakin karena selama aku bersamanya dahulu ia tak pernah menunjukkan kemampuannya ini karena ia alergi dengan serbuk bunga."Gumam Pangeran Langit kedua sambil menatap dengan intens pemandangan di hadapannya itu.


"Hai semuanya...apa kabar kalian?"Tanya Rani sambil melambaikan tangannya pada semua tanaman di hadapannya itu.


"Kami merindukanmu Rani."Ucap salah satu pohon Manggis yang merupakan pohon terbesar dan usianya sudah mencapai Seribu tahun di kaki gunung itu.


"Aku juga merindukanmu dan kalian semuanya."Ucap Rani sambil memeluk beberapa pohon dan bunga bunga di dekatnya dan terlihat mereka semua sangat berbahagia.


"Rani,apa kamu mau memetik buahku?"Tanya Pohon salak dan pohon apel bersama sama.


"Kalau diijinkan aku mau memetik yang banyak untuk keluargaku."Jawab Rani lembut membuat pohon pohon yang memiliki banyak buah buahan sangat bersorak dan mereka semua menjatuhkan banyak buah yang akan dibawa oleh Rani.


"Cukup! Cukup,ini sudah cukup."Ucap Rani yang kewalahan melihat kelakuan paepohonan itu.


"Terima kasih Rani,lain kali kesini lagi ya bawa serta teman temanmu biar mereka juga menikmati hasil buah buahan kami."Ucap Pohon Manggis lagi.


Rani pun mengumpulkan semuanya menggunakan tenaga dalamnya sehjngga tak berapa lama kemudian semua buah buahan itu sudah terkumpul dalam sebuah karung goni yang besar dan ia pun menyimpannya di bawah pohon Manggis.

__ADS_1


Ketika ia sedang asyik bercerita dengan semua tanaman itu tiba tiba dari arah matahari terbit datanglah segerombolan hewan yang semuanya berkepala manusia mendatangi Rani dan menundukkan kepala mereka pada Rani.


"Hormat padamu Puteri yang cantik dan baik hati. "Ucap sang Kuda sambil menundukkan kepalanya sebagai tanda ia memberi hormat pada Bidadari cantik itu.


__ADS_2