
**
Gerhana seperti seorang yang frustasi dengan keadaan yang menimpanya saat ini.
Gadis itu masih belum bangun juga, entah apa yang harus aku lakukan agar gadis itu kembali bangun dan ceria seperti biasanya.
" Rani, maafkan aku aku gak akan pernah nyakitin kamu lagi aku berkata jujur itu hanya emosi sesaat Rani, bangunlah jangan bikin panik sayang " ucap Gerhana sambil mengusap wajah cantik Rani.
Setengah jam kemudian, Rani menggerakkan tangannya dan mulai bangun sambil memegang kepalanya.
" Kamu sadar sayang? maafkan aku Rani " ucap Gerhana sambil menunduk dan berlutut di hadapan Rani kemudian memohon maaf ala orang orang yang lagi jatuh cinta.
" Gerhana, aku ingin pulang tolong antarkan aku pulang ke rumahku Gerhana " ucap Rani sambil mencoba untuk bangun tetapi cepat di gendong oleh Gerhana.
" Jangan banyak bergerak aku akan menjamin keamanan kamu, kenyamanan kamu aku lindungi sepenuh jiwa dan ragaku Rani " ucap Gerhana begitu sangat over protective pada Rani.
**
Di sudut kota dekat hutan pohon Pinus terlihat sesosok pria bermuka tampan seperti pangeran di cerita dongeng yang tengah asyik melihat kelakuan Gerhana terhadap Rani.
Dialah Ericsson pria tampan dari masa depan yang berteleportasi masuk ke Bumi karena keinginannya.
" Pria itu sungguh kejam, berani beraninya ia menampar wajah gadis cantik yang sangat baik hati itu " gumam Ericsson sambil duduk di atas sebuah pohon Pinus besar.
**
Di rumah Rani, Andrew Sadang mondar mandir di halaman belakang rumah sambil terus berpikir keras, apa yang sudah terjadi pada adiknya sudah satu hari berlalu adiknya tak pernah memberi kabar bahkan tidak ada tanda tanda apapun sebagai bahan pencarian dirinya.
" Adek dimana kamu dek, mama sudah sangat pusing memikirkan kamu sampai jatuh sakit " Andrew bermonolog di halaman belakang rumah.
" Andrew ! " Panggil Mama Elaine yang tertidur lemas di atas ranjang.
" Iya Mam ! " sahut Andrew sambil berlalu melesat dengan kecepatan tinggi menuju kamar ibunya.
" Nak, apakah sudah ada kabar dari adikmu nak ? " ucap Mama Elaine dengan wajah murung.
__ADS_1
" Belum ada Mam, tetapi Andrew akan mencoba mencari tahu di teman teman Rani semoga saja bisa ada titik terang " ujar Andrew sambil menyelimuti ibunya.
" Nak coba cari tahu lagi nak Mama gak bisa hidup tanpa Rani adikmu, Mama bisa mati kalau gak lihat dia, tolong Mama nak ! " ujar Mama Elaine memelas.
" Mama tenang saja, Andrew janji akan segera menemukan adek ! " ucap Andrew sambil tersenyum kecut menatap wajah sedih ibunya.
Andrew pun mencoba menerawang untuk mencari tahu keberadaan adiknya.
Tetapi usahanya sia sia karena apa yang dilihatnya kabur dan benar benar membuat matanya sakit.
**
" Rani maafkan aku ! " Ucap Gerhana sambil mengusap darah segar di sudut bibir Rani.
" Kamu jahat ! kenapa kamu perlakukan aku seperti ini apa salahku ? " tanya Rani beruntun pada Gerhana.
" Aku mencintaimu Rani, aku gak mau kamu di ambil oleh siapapun karena aku terlalu sangat mencintaimu, aku harap kamu mengerti perasaanku " ucap Gerhana sambil menyeringai perlahan dan memeluk erat pinggang Rani sambil mencium wangi tubuh Rani.
" Ooo, canduku kamu membuatku gak bisa berpaling untuk mencari yang lain kamulah obatku Rani aku akan selalu berada di dekatmu menjalani hari hari di kehidupan sekarang maupun yang akan datang aku akan bereinkarnasi bersamamu lagi mengarungi bahtera cinta kita Rani " Ucap Gerhana sambil terus memeluk erat pinggang Rani.
" Kalau kamu mencintaiku sebaiknya kamu lepaskan aku Gerhana, karena semakin kamu mencintaiku semakin kamu menyakitiku " ucap Rani sambil sengaja meringis agar hati Gerhana tergerak untuk melepaskannya.
" Aku takkan pernah menyakitimu gadisku ! " ucap Gerhana seperti orang yang kerasukan setan saja.
" Lepaskan aku ! " ucap Rani melemah dan akhirnya pingsan lagi.
" Aku akan melepaskan mu Sayang jangan pingsan sayang ! sadarlah ! " ucap Gerhana sambil menggoyang goyangkan pundak Rani bahkan mengecup kening Rani begitu lama dan dalam.
" Aku harus membawanya pulang ke rumahnya agar orang tuanya tidak khawatir padanya " ucap Gerhana pada dirinya sendiri.
" Tetapi dia harus cepat sadar agar ia bisa pergi ke rumahnya " gumam Gerhana dalam hati.
**
Beberapa menit kemudian Rani sadar dari pingsannya.
__ADS_1
" Rani apakah kamu membenciku ? aku harap kamu kasih jawaban yang terbaik dan tidak menyakiti aku " ujar Gerhana masih tetap memaksakan kehendaknya pada Rani.
" Gerhana sedikitpun aku gak marah ataupun benci sama kamu aku hanya kecewa dengan kelakuanmu padaku, kamu seperti ingin membunuh aku saja " ucap Rani sambil tersenyum sedikit memaksa.
" Itu artinya kamu membenciku Rani, aku minta maaf atas sikapku yang kasar padamu , aku merasa bersalah padamu Rani, mulai detik ini aku berjanji tidak akan menyakiti kamu sedikitpun Rani, berilah aku satu kesempatan lagi untuk memperbaiki diri ini, untuk koreksi diriku yang hina ini " ucap Gerhana langsung menggendong Rani dan berkelebat dengan kecepatan tinggi menuju ke arah dimana ia menculik Rani.
" Rani maafkanlah aku, aku harap kejadian hari ini tidak membuatmu membenciku, cukup kita berdua yang tahu kejadian hari ini aku menaruh harapan ini padamu " ucap Gerhana sambil mengecup punggung tangan Rani dan langsung melesat pergi dari hadapan Rani.
Rani menghela nafasnya cepat dan panjang kemudian menutup matanya dan menghilang dari tempat dimana ia di tinggalkan Gerhana.
" Mama ! " panggil Rani pada Mama Elaine.
" Mama, Mama ! " panggil Rani lagi dan langsung masuk cepat ke dalam kamar ibunya.
Mama Elaine sementara memeluk album foto milik keluarganya dan sesekali masih meneteskan air mata beningnya lewat pipi putihnya yang sudah mulai kelihatan tanda tanda penuaan tetapi masih saja bersinar dengan kecantikannya.
" Mama, " panggil Rani dan langsung menghambur memeluk Mama Elaine.
" Mama Rani rindu " ucap Rani sambil memeluk erat ibunya itu.
" Anakku aku takut kehilanganmu aku takut nak ! jangan pernah pergi lagi dariku nak ! " ucap Mama Elaine sambil mendekap anaknya dengan erat.
" Rani disini Mam, Rani gak akan meninggalkan Mama lagi " ucap Rani sambil tersenyum dan memeluk erat Mama Elaine.
**
" Telepon kakakmu dan beritahukan kalau kamu sudah di rumah nak, kasian kakakmu sangat khawatir dengan hilangnya kamu " ujar Mama Elaine sambil melepaskan pelukannya dan mengecup kening putri bungsunya itu.
ponsel Andrew berdering nyaring bunyinya mengagetkan teman temannya yang lagi asyik tiktokan.
" Drew, ponselmu berdering coba diangkat dulu " ucap seorang teman Andrew dan pergi meninggalkan Andrew di kantin kantor itu.
" What ? ? nomor Rani menelepon aku, mungkinkah Rani baik baik saja ? " gumam Andrew sambil tersenyum tipis.
" Ku yakin adikku masih hidup dan akan segera kembali " ucap Andrew sambil tersenyum tipis dan melangkah pergi dari ruangan itu.
__ADS_1