
Tak lama kemudian Detrick keluar dari kamar mandi masih dengan memakai handuk yang melilit pinggang
Glek...
'tenang Fio, kau sudah sering melihat roti sobek seperti ini, walaupun tidak ada yang seseksi ini. Tenang saja' mencoba menahan hasrat 'tapi aku ingin menyentuhnya' pekiknya dalam hati
" Ada apa?." Suara barinton itu membuat Fiona kembali dari khayalan nya
" Ah!.. ti.. tidak tuan, silahkan anda memakai pakaian tuan. Ka.. kalau begitu saya permisi." Ujarnya sembari menunduk
" Hmm." 'apa dia baru tergoda dengan tubuhku. Huh! Bukannya itu sudah terlambat'
Detrick mengibas-ngibaskan tangan menyuruh Fiona keluar, Fiona mengangguk lalu keluar dari kamar.
" Eh! Pak Michael. Ada yang bisa saya bantu?." Tanya Fiona, ia tidak sengaja bertemu Michael tepat di depan pintu kamar Detrick
" Tidak. Kau bisa istirahat, nanti tuan Detrick akan memanggil mu jika di butuhkan." Titahnya dengan wajah datar
" Baik pak. Kalau begitu saya permisi." Sedikit menunduk lalu Pergi dari sana.
Fiona berlalu pergi ke paviliun untuk beristirahat. Setelah sampai ia langsung masuk kedalam Paviliun, Fiona membuang diri di kasur " Ah.. aku akan tidur di kasur yang empuk ini." Mengelus-elus kasur, setelah puas ia pun bangun dan masuk kedalam kamar mandi.
Fiona berendam di dalam bathtub menghilangkan rasa lelahnya sembari bermain ponsel, ia mendengarkan musik untuk menghilangkan suntuk
Tiba-tiba..
Ting..
Satu pesan masuk kedalam ponsel, ia segera membukanya " Hah!!." Dengan Cepat Fiona berdiri lalu keluar dari dalam bathtub.
Dibersihkan nya seluruh tubuh di bawah shower untuk menghilangkan busa yang menempel. Pesan yang masuk tadi adalah pesan dari Michael, ia menyuruh Fiona datang ke hadapan Detrick. Karena katanya Detrick sedang memanggilnya.
Setelah merasa tubuhnya cukup bersih dari busa, ia segera keluar dari kamar mandi tanpa memakai handuk. Ia berlari dengan tubuh telanjang ke arah walk closet untuk memakai pakaian.
Lantai yang ia injak menjadi basah semua. Ah! Biarlah ia sedang buru-buru sekarang, lantainya nanti di bersihkan. Pikir Fiona
" Sial! Kenapa saat aku harus mandi dia memanggil ku sih." Geurut Fiona memakai pakaian nya.
Setelah ia memakai pakaian, ia segera berlari kembali keluar dari Paviliun. Jarak dari Paviliun ke Mansion utama lumayan jauh, ia harus berlari menembus dinginnya udara malam.
__ADS_1
Rambutnya juga masih basah, ia tidak sempat mengeringkan rambut.
" Hosh.. hosh..." Berkacak pinggang, sembari sedikit menunduk. Fiona sudah sampai di depan pintu mansion, ia mengatur pernafasan terlebih dahulu
" Haahhh aku sudah siap!." Ujar nya percaya diri " Astaga! Rambutku masih sedikit basah." Menepuk jidatnya. Rambutnya sudah tidak terlalu basah karena berlari tadi
" Sudahlah, yang penting sekarang aku sudah sampai." Kembali mengambil nafas lalu masuk kedalam mansion.
Rupanya Detrick sedang ada di ruang tamu, ia terlihat duduk di sofa dengan memakai pakaian yang tadi Fiona pilihkan. Detrick sedang membaca beberapa dokumen di satu tangannya sedangkan tangan yang lain memegang secangkir kopi. Ia terlihat fokus
Dan terlihat Michael yang sedang berdiri dan membacakan laporan yang entahlah, Fiona sendiri tidak mengerti, sedangkan pak Ziel juga hanya berdiri di ujung sofa tanpa melakukan apapun
Fiona berjalan perlahan mendekat " Tu...__" kata-kata Fiona terhenti saat melihat pak Ziel yang menaruh telunjuk di atas bibir
Fiona mengatupkan mulut, ia pun kembali berjalan perlahan sampai ke samping pak Ziel.
Detrick menyadari kehadiran Fiona, ia melirik ke arah Fiona sedangkan yang di berikan lirikan tersenyum sembari menunduk sebentar. " Ada yang anda inginkan tuan?." Tanya Fiona
Lagi-lagi Detrick hanya menatap nya dengan datar lalu mengalihkan pandangan ke dokumen-dokumen yang tadi di bacakan oleh Michael " Jadi, dalam manajemen keuangan tidak ada yang salah 'kan." Ucap Detrick mengabaikan perkataan Fiona
" Tidak ada tuan." Jawab Michael, mereka kemudian melanjutkan membahas tentang pekerjaan
Fiona hanya bisa tersenyum paksa mendapati diri yang di abaikan 'woi kau yang memanggil ku kesini tadi!!' ingin sekali ia menyuarakan itu secara lantang, tapi itu tidak mungkin
Pak Ziel dan Michael juga tidak mengerti mengapa Fiona di panggil kesini. Saat Fiona datang, malah tidak ada yang di lakukan oleh tuan mudanya
Tiga puluh menit berlalu....
Fiona masih berada di sana berdiri mematung menunggu perintah dari sang bos yang sedari tadi sibuk dengan Michael membicarakan tentang pekerjaan. Sedangkan pak Ziel sudah masuk kedalam untuk mengurus beberapa hal
'heh! Kamu kira kaki ku akan kram hanya karena berdiri 30 menit seperti ini!. Ini belum seberapa dibanding saat kaki ku di pukul menggunakan besi saat kecil dulu' entah mengapa hal itu di sombongkan sekarang
Satu jam pun berlalu...
Dan Fiona masih menjadi patung di sana, ia bagaikan angin yang tak di anggap keberadaannya 'Kamu kuat Fio! Semangat' sekarang kakinya sudah mulai lelah
" Ehm.. tu.. tuan__" ia langsung menghentikan perkataan nya saat melihat Detrick memberikan tatapan tajam yang sangat menusuk membuat bulu kuduknya berdiri. Fiona segera menunduk kembali, ia tidak berani menatapnya lama-lama
" Ma..maaf.. tuan." lirih Fiona 'hiks.. semangat Fio!' batin nya
__ADS_1
Dua jam pun berlalu sejak Fiona datang, ia hanya berdiri tanpa melakukan apapun.
" Oke sampai disini dulu. Kita bahas lagi besok." Ujar Detrick sembari melihat jam ponsel
Michael sedikit menunduk " Baik tuan." Jawabnya
Detrick berdiri dan tatapan nya melihat Fiona yang sudah kusut " Kau masih disini?." Tanya Detrick tanpa rasa bersalah sedikitpun
Fiona tersenyum paksa " Iya tuan. SAYA DARI TADI DISINI." Menekankan kata-kata nya.
" Oh. Kembalilah." Titahnya lagi tanpa rasa bersalah
" A.. apa? Jadi untuk apa saya di panggil tadi tuan?." Tanyanya, ia ingin protes. Kakinya sudah pegal sedari tadi berdiri, ia juga kedinginan karena belum sempat mengeringkan rambut tadi
" Hah! Kau menentang ku!." Memberikan tatapan tajam
Fiona gelagapan, ia langsung menunduk " Ti.. tidak tuan, saya yang salah. Maafkan saya."
" Bodoh!." Ketus Detrick lalu pergi meninggalkan Fiona dan Michael
" Kalau begitu saya permisi nona." Pamit Michael, dan Fiona mengangguk.
Fiona mematung melihat dirinya yang kini tinggal sendiri di ruang tamu. Dengan pikiran yang kosong ia keluar dari mansion lalu menuju ke samping mansion. Fiona terus berjalan sampai ke gerbang belakang mansion, ia pun keluar.
Saat keluar ada tembok besar serta beberapa pecahan kaca disana. Fiona menghirup nafas dalam-dalam " Arggghhh sialan!!." Ia berteriak mengeluarkan unek-uneknya yang dari tadi ia simpan
" Huaaa dasar bos sialan!!. Dia pasti sengaja." Berteriak, ia bahkan menendang-nendang tembok di depannya
" Hosh... Hosh..." Berkacak pinggang sambil melihat ke langit, ia sudah lelah mengeluarkan unek-uneknya.
" Oke Fio! Selama 364 hari lagi kamu akan merasakan hal yang sama. Tidak apa-apa, asalkan aku dapat tempat tinggal dan makanan gratis akan aku lakukan." Serunya tiba-tiba bersemangat.
" Asalkan Gratis akan aku lakukan apapun."
Setelah itu ia pun menuju ke Paviliun untuk benar-benar mengistirahatkan tubuh
.
.
__ADS_1
TBC
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️